Wisata Tahu Bulat

Senin sampai Rabu saya belum juga mendapatkan cerita yang menarik. Saya masih bingung apa yang mau saya tulis minggu ini. Sebenarnya saya sudah cicil kata-kata. Disusun menjadi kalimat. Kemudian disatukan dalam bentuk cerita. Tapi belum waktunya saya publish. Jadi saya coba cari cerita lain. Untungnya di minggu ini ada tanggal merah. Hari libur. Mungkin ada bahan cerita yang bisa saya tulis diminggu ini.

Awalnya keluar rumah niat mau pulangin kamera yang saya pinjam waktu liburan ke Kebumen minggu lalu, sekalian isi bensin motor. Tidak ada niat mau jalan-jalan atau berwisata. Sudah isi bensin motor, saya pulang lewat jalan biasa. Nyebrang rel kereta di bawah fly over Kranji. Dekat St. Kranji. Kalau kalian orang rawa bebek bekasi pasti tahu jalan yang saya maksud.

Karena cuaca terik sekali. Akhirnya saya coba ketempat yang lebih adem. Tidak terkena sinar matahari. Rupanya saya masuk ke wilayah parkir. Tempat orang-orang yang mau naik kereta, menitipkan motornya.

Melihat saya masuk lahan parkirnya, akhirnya tukang parkir kegirangan.
“Wah nambah customer” (katanya dalam hati).

Menghampiri saya kemudian dia tanya
“Pulang jam berapa?”

Saya bingung dari awal dia liat saya. Kok tiba-tiba ditanya kapan pulang. Saya clingak-clinguk didepan pintu masuk rumah ada tulisan “PARKIR MOTOR”. Saya salah neduh. Semenjak stasiun dibangun. Usaha parkir motor pindah. Mereka yang tinggal dekat dengan pintu masuk stasiun punya peluang usaha parkir. Dan saya baru tahu itu.

Karena saya tidak enak menolak. Akhirnya saya iyakan saja motor saya diparkir. Saya gaya-gaya jalan ke stasiun. Sudah didepan loket, panjang antrean dan saya bingung mau kemana. Saya kira kalau libur, banyak orang istirahat dirumah. Ternyata banyak orang wisata. Yang ada dipikiran saya. Saya mau ke Stasiun Jakarta Kota kemudian lanjut perjalan ke Pantai Ancol. Ya intinya saya mau jalan-jalan ke Jakarta. Rata-rata mereka yang antre beli tiket ke Jakarta. Menghindari desak-desakan di kereta saya beli tiket jurusan Bogor. Harga tiket pulang pergi Rp24.000 termasuk biaya jaminan Rp10.000 untuk pengguna THB (Tiket Harian Berjamin). Sampai bogor saya tidak tahu mau ke mana. Itu nanti saja, kalau saya sudah sampai tujuan akhir Stasiun Bogor.

Berangkat pukul 09.00 WIB sampai Stasiun Bogor 11.30 WIB. Rute perjalanannya, dari Stasiun Kranji transit di Stasiun Manggarai. Sebenernya bisa juga transut di Stasiun Jatinegara. Tapi nanti yang ada diajak muter-muter kelamaan dijalan. Lanjut, dari Stasiun Manggarai naik kereta tujuan akhir Stasiun Bogor, kereta tersedia di Jalur 6. Menguntungkan jika keretanya kosong penumpang, jadi bisa duduk tanpa harus berdiri. Disamping Stasiun Bogor, ada Taman Topi. Untuk yang punya anak kecil bisa ajak anaknya jalan-jalan kesini. Harga tiket masuknya Rp2.000/orang. Tapi saya tidak tertarik berkunjung kesana.

Akhirnya saya pergi ke Kebun Raya Bogor. Keluar Stasiun Bogor, jangan lewat JPO. Nanti kesasar. Jalan saja sampai ujung pertigaan. Nyebrang ke Istana Kepresidenan Bogor. Kemudian lanjut jalan sampai ketemu tulisan “Loket Masuk Kebun Raya Bogor”. Ciri-cirinya banyak tukang gorengan dan talas bogor didepan. Tiket masuknya Rp14.000/orang khusus untuk domestik. Kalau untuk wisatawan asing Rp25.000/orang. Bawa sepeda nambah biaya Rp5.000/sepeda. Kalau berdua sama pacar nambah Rp14.000.

Saya sarankan jika berlibur ke KRB, bawa bekal makanan dari rumah. Karena harga makanan disana dua kali lipat dari harga makanan yang dijual di Bekasi. Contohnya saya beli dua chiki, satu wafer sama dengan Rp30.000. Tapi gapapa duit saya masih banyak. Ini saya sarankan untuk yang punya duit tapi ga banyak.

Banyak juga yang liburan bawa rombongan. Kalau saya perhatikan mereka yang pergi liburan kesini, 85% hanya numpang foto dan makan dibawah pohon. Jarang ada yang kepo tentang pohon-pohon apa saja yang ditanam. Kemudian toilet disana jaraknya juga jauh. Mushola dan masjid juga jauh sekali. Saya yang pergi terlalu jauh, atau memang posisinya memang di setting jauh. Untuk sampai ke Masjid saya menyebrangi jembatan gantung.

Jembatan Gantung
Jembatan ini dijuluki jembatan putus cinta. Mitosnya seperti itu. Dibawah jembatan ini mengalir air deras, seperti sungai. Batunya besar-besar. Untuk melewati jembatan ini dibatasi maksimal 10 orang. Tapi waktu saya kesana, ada 20 orang lebih diatas jembatan. Asyik selfie. Saya yang mau lewat, mikir dua kali. Dan bertanya mau sampai kapan saya disini, nunggu jembatan sepi yang lewat hanya 9 atau 8 orang saja tidak mungkin. Karena daya tampungnya maksimal 10 orang.

Satu langkah maju, jembatannya goyang-goyang. Saya takut. Coba lagi. Goyangnya kok makin kencang. Saya coba lihat diujung jembatan sana. Ternyata ibu-ibu dengan bahagiannya dia loncat-loncat diatas jembatan. Tidak ada yang menegurnya. Padahal besi yang dijadikan sebagai lantai jembatan, sudah mulai hilang bautnya dan sedikit keropos. Bahaya jika tidak waspada. Lama menunggu saya maju 7 langkah. Dan akhirnya saya bisa selfie juga.

Pohon Kenari Babi
Sebelum ke Jembatan Gantung saya melewati pohon besar yang menarik perhatian. Namanya “Kenari Babi”. Pohon ini bisa tumbuh sampai 10m. Bentuk batangnya seperti gua. Banyak dijadikan tempat untuk spot selfie. Pohonnya memang unik. Namun sudah tua. Jadi harus tetap waspada, sewaktu-waktu bisa tumbang.

Taman Astrid
Letaknya dekat dengan pintu keluar. Nama jalannya, jalan Astrid. Karena disepanjang jalan ini ditanami bunga Astrid. Tidak mungkin orang yang berkunjung ke Kebun Raya Bogor tidak berkunjung juga ke taman yang satu ini. Tamannya luas. Hamparan rumput seperti karpet hijau. Bisa foto sambil tiduran atau tengkurap. Taman ini dekat dengan kolam teratai raksasa. Sayangnya waktu saya berkunjung kemarin teratai raksasanya sedikit kurang dari 10 tanaman.

Perjalanan pulang dari KRB sampai ke Stasiun Bogor saya tempuh dengan transportasi umum (angkot) jurusan BR Siang – Bubulak. Ongkosnya Rp5.000. Dari St. Bogor sampai St. Kranji kira-kira 2jam. Karena berangkat dari jam 14.30 WIB sampai di Bekasi jam 16.30 WIB. Wisata ini saya namakan wisata tahu bulat. Karena dadakan.

Penjelajah Gedung Tinggi

Sepulang dari liburan, saya diberi tugas untuk kunjungan ke Vendor selama dua hari. Tugas luar kantor lah nama kerennya. Bersama rekan kerja saya. Saya berangkat naik kereta jurusan Bekasi – Sudirman. Karena memang letak gedungnya ada didaerah Gatot Subroto, Jakarta.

Gedung tinggi. Jujur ini gedung tertinggi yang pernah saya kunjungi. Selama ini yang saya bayangkan adalah, hanya orang-orang sukses yang bisa masuk ke gedung tinggi. Tapi ga juga, saya yang otw sukses bisa juga masuk dan bekerja sementara disana. Dan untungnya saya sudah mahir masuk ke gedung tinggi. Jadi ga minder lagi. Bisa bergaya petantang petenteng 😀

Setelah menukar kartu identitas dengan id card visitor. Saya langsung naik lift menuju lantai 12 tempat training dan test dilaksanakan.

Seharusnya training dimulai dari pukul 09.00 – 17.00 WIB. Tapi di hari pertama, training baru dimulai pukul 10.00 WIB ngaret 1 jam. Karena banyak peserta yang datang telat termasuk saya dan rekan saya. Kami datang dari Bekasi, memperkirakan perjalanan dari Bekasi ke Gatot Subroto satu setengah jam. Ternyata diperjalanan kami banyak menemukan masalah, dari mulai tunggu kereta lama, sampai keluar stasiun naik go-car diajak muter-muter karena si pengemudi tidak cek ulang peta ketempat yang kami maksud. Yang seharusnya sudah sampai sebelum pukul 09.00 WIB kami sampai pukul 09.35 WIB.

Saya tanya-tanya digroup diskusi, “kalau terlambat gimana?”. Trus salah satu rekan saya yang stand by dikantor jawab, “kalau kemarin sih disuruh nyanyi”.

Selama perjalanan, saya mikirin mau nyanyi apa nanti kalau sudah sampai gedung telat. Saya mikirin karena saya malu. Malu karena telat dan malu kalau disuruh nyanyi beneran. Tapi itu tipuan, nada penyampaiannya saja yang serius. Ternyata sampai sana, saya malah dikasih snack pagi dan disediakan kopi.

Banyak juga peserta yang ikut event ini. Dan rata-rata pesertanya sudah diatas 25 tahun. Saya yang termuda, 18 Tahun.

Saya duduk dikursi paling depan. Kebiasaan orang indonesia, duduk paling belakang karena takut ditanya. Tapi saya santai saja, kalau ditanya tinggal dijawab.

Pemberian materi cukup lama sampai waktu zuhur tiba. Setelah itu break dan masuk kembali kemudian langsung ujian. Disesi ini saya keringet dingin, karena memang suasananya dingin. Kedinginan. ACnya kekencengan. Saya jadi sumeng. Kalau saya lebay mungkin saya ngomong keluar asap dari mulut, sayang saya ga lebay.

Sesi pertama saya gagal. Lalu coba lagi sesi kedua, gagal juga tapi nilai yg saya dapat bertambah. Sesi ketiga, saya coba lagi akhirnya lulus. Ini lulus, bukan lolos. Jawaban saya benar semua. Seneng sih, lega sedikit. Setidaknya hari ini tugas saya sudah selesai. Kami semua, peserta training foto bersama.

Dihari pertama ini saya pulang naik kereta lagi. Keluar gedung itu jam 16.00 WIB. Sampai Stasiun Sudirman sekitar pukul 16.20 WIB. Biasanya saya tunggu di peron 2 jurusan Manggarai. Saya tunggu-tunggu kereta yang bolak-balik lewat kok jurusan Bogor. Seperti inilah suasana peron 2 di Stasiun Sudirman.

Akhirnya karena terlalu lama, saya pindah ke peron 1, saya coba naik kereta jurusan Jatinegara. Saya kira kalau naik yang ke arah Jatinegara, keretanya langsung sampai. Ternyata, saya diajak muter-muter lagi. Stasiun Kampung Bandan, Tanah Abang dan Pasar Senen saya lewati. Saya nyesel sendiri. Tahu begitu saya tungguin saja sampai kereta jurusan Manggarai datang lagi.

Pukul 19.00 WIB itu saya baru sampai stasiun transit Jatinegara. Kereta jurusan Bekasi banyak, tapi sekalinya ada penuh dan sesak napas. Perjalanan pulang dari Centennial Tower Gatot Subroto sampai kerumah itu kurang lebih empat jam. Dihitung dari saya keluar gedung, dan sampai dirumah pukul 20.00 WIB.

Dihari kedua perjalanan saya. Saya lebih santai karena sudah paham titik-titik kendalanya. Yang sulit itu ujiannya. Materinya banyak, soalnya juga banyak. Tapi saya masih bisa lulus. Suasananya juga berbeda karena diawal pemberian materi saya perempuan sendiri. Ada rasa canggung juga. Kalau dinginnya ruangan mah masih sama. Sama-sama masih kedinginan.

Perjalanan ini mengajarkan saya, untuk lebih bersyukur. Dari mulai tempat kerja saya yang dekat dengan tempat tinggal. Tidak susah payah untuk dikunjungi. Tidak harus naik kereta. Berebutan dan desak-desakan. Pulang malam karena kelamaan dijalan. Mengajarkan saya untuk bisa beradaptasi dengan banyak orang. Memberikan saya pengalaman baru berkunjung ke gedung tinggi, dimana tidak semua orang berkesempatan sama seperti saya. Dan bagaimana caranya menyelesaikan masalah sendiri.

Gubuknya Gubuk Uangnya

Pagi ini saya awali dengan Bismillah. Semoga dilancarkan segala urusan hari ini. Dilancarkan perjalanan saya untuk liburan menikmati alam dan menikmati hal-hal yang tidak bisa saya lakukan di rumah sendiri.

Sebelum saya sampai di Kebumen, saya sudah request ke kakak sepupu saya. Memintanya untuk menemani saya mengisi waktu liburan saya di Kebumen. Salah satunya menyempatkan diri untuk berkunjung ke gubuk jamur dan melihat proses pembuatan gula jawa milik kakak sepupu saya.

Kakak sepupu saya ini mantan TKW Indonesia, yang diberangkatkan untuk kerja di Taiwan. Dikampung saya terbilang cukup banyak TKW, entah dikirim ke Singapura atau Taiwan. Kakak saya sudah bekerja menjadi TKW sejak tahun 2015. Dan sekarang dia pulang untuk usaha sendiri. Rumahnya cukup jauh dari rumah eyang saya. Dia tinggal bersama eyang saya. Rumahnya digunakan untuk usaha budidaya jamur dan usaha gula jawa nya.

Banyak yang saya tanyakan padanya, tentang bagaimana cara budidaya jamur tiram kesukaan saya itu. Yg saya tahu selama ini. Jamur itu tumbuh dari serbuk kayu yang dibungkus plastik hingga padat, dibolongi plastiknya lalu disemprot air, kemudian ditunggu sampai jamurnya tumbuh.

Ternyata bukan bgtu, kalau caranya memang seperti yang saya ketahui. Mungkin semua orang Indonesia punya usaha budidaya jamur ini. Mungkin. Jadi ketika saya berkunjung kesana. Ada banyak serbuk kayu didalam karung dan plastik pembungkus yang sudah diolah. Cara budidayanya cukup rumit, tapi hasilnya menguntungkan jika tidak gagal.

Langkah pertama, serbuk kayu di campur pupuk, kapur, dedeg dan air. Lima kandi (karung) serbuk kayu dicampur 1kg pupuk. Kemudian dibungkus plastik, isi hingga padat tidak boleh ada ruang sedikitpun karena bisa gagal panen.

Kemudian, serbuk kayu yang sudah dibungkus, direbus terlebih dahulu dalam tong minyak ukuran besar. Rebusnya bukan pakai kayu bakar. Pakai kompor mie ayam yang besar juga supaya ada perkiraan. Satu tong bisa diisi 200 bungkus serbuk kayu. Direbus selama 1 hari, atau sampai gas elpiji ukuran 3kg habis. Waktunya itu dari jam 06.00 – 22.00 WIB.

Setelah itu, angkat semua bungkus serbuk kayu yang sudah direbus kemudian ujungnya diberi bibit jamur.Bibit jamur ini rupanya jagung yang sudah berjamur juga.

Kemudian ditutup pakai koran. Dan baru boleh dibuka kalau serbuk kayu warnanya sudah putih seperti tempe.

Setelah satu bulan akan tumbuh jamurnya. Ukurannya kecil sekali. Kalau sudah tumbuh seperti ini baru boleh disemprot air dari jarak jauh. Dan suhu ruangan harus lembab. Tidak panas atau terlalu dingin. Makanya ruangan harus selalu basah dan becek.

Kalau berhasil, kita bisa panen jamur ini setiap hari selama satu hingga dua bulan masa panen. Jamurnya yang sudah siap panen wajib dan harus dipetik, kalau tidak jamur akan tumbuh semakin besar dan menjadi busuk. Biasanya konsumen komplain kalau ukuran jamurnya terlalu besar, karena jika ditimbang jumlahnya sedikit. Kira-kira seperti ini jamur yang boleh dipetik.

Cara panennya bukan dipotong tapi ditarik biasa hingga akarnya ikut tercabut. Satu bungkus bibit jamur ini tidak bisa sampai habis. Semakin hari, bungkus bibit jamur semakin menciut dan keriput. Dan tidak bisa produksi lagi.

Seperti itu lah kira2 prosesnya. Dan biasanya dijual Rp8.000 per kilogramnya ke tengkulak langsung. Kalau 2 rak bibit jamur bisa panen jamur sebesar kantong plastik ukuran jumbo. Dan bisa punya penghasilan Rp100.000 perhari kalau dibungkus Rp2.000 per ons ke pedangan sayur biasa atau langsung ke masyarakat. Sehari bisa panen dua kali, pagi dan sore. Kalau dijual di Bekasi bisa lebih banyak untungnya.

Ada juga usaha gula jawanya. Kebetulan dipekarangan rumah kakak saya ada banyak pohon kelapa. Jd sari bunga kelapa (air nira) bisa diambil sendiri. Panjat pohon sendiri. Satu hari bisa dapat 1 deregen, kalau pohon kelapa yg diambil niranya ada lima. Karena satu hari, biasanya 2 kali pengambilan pagi dan sore.

Kalau proses pembuatan gula jawa lebih gampang. Air nira yang sudah didapat. Direbus hingga menjadi karamel. Dan biasanya direbus pakai kayu bakar, supaya lebih wangi katanya.

Tapi prosesnya lumayan lama karena harus selalu diaduk. Kalau tidak bisa kering dan menggumpal di pinggir penggorengan nanti.

Disini dijual Rp10.000 per kilogramnya. Itu kalau dari pembuatnya langsung. Tapi kalau sudah masuk warung harganya tidak mungkin segitu.

Begitulah cerita liburan di kampung halaman ibu saya. Liburan sembari belajar lebih asyik daripada hanya sekedar pergi ke tempat wisata, menyenangkan mata setelahnya capek juga.

Sugeng Rawuh Ing Kebumen

Minggu ini saya akhiri dengan pergi berlibur ke kampung halaman. Di Kebumen, tempat lahir dan dibesarkannya ibu saya. Modal uang Rp150.000, saya bisa beli tiket kereta api pulang pergi, minggu lalu. Jurusan Pasar Senen – Kroya begitu juga sebaliknya.

Pada awalnya saya ragu. Karena saya penakut. Tidak pernah jalan-jalan jauh sendirian. Harus sama orang tua. Karena saya manja kalau pergi-pergi an naik transportasi umum. Banyak jajannya, dan bisa saja masuk angin akhirnya mabok darat. Kalau sudah bgtu, maunya di pukpuk ibu. Diolesi minyak angin, dan dipijat badannya.

Berkat tugas dadakan dikirim ke klien sendirian, akhirnya saya coba pulang kampung sendirian pula. Menurut saya, jalan-jalan sendiri itu asyik. Saya bisa melakukan apa saja. Suka-suka saya. Terserah saya. Dan lebih mawas diri. Saya jadi lebih banyak berinteraksi dengan orang lain. Banyak bertanya. Karena banyak yang saya tidak ketahui. Lebih banyak ilmu yang saya dapat. Misal dari hal kecil, waktu dikirim ke klien ga ngerti cara naik lift. Sekarang saya tahu, gimana caranya naik lift. Boss saya sering bilang “malu cukup sekali, tidak tahu cukup sekali, ditertawakan orang juga cukup sekali, tidak perlu diulang berkali-kali”.

Kalau saya punya budget lebih banyak dan waktu senggang. Saya akan menjadwalkan diri pergi ke tempat yang lebih jauh, dan lebih menarik. Sendirian.

Perjalanan dari Jakarta – Cilacap menggunakan kereta Serayu via Bandung memakan waktu 11 jam (seharusnya) ditambah keterlambatan kereta 30 menit. Jadi 11 jam 30 menit. Maklum tiket kereta murah. Kelas ekonomi. Tapi pemandangannya Masha Allah luar biasa indahnya. Saya bisa cuci mata. Liat yang ijo-ijo kalau kata orang bekasi. Bisa ya, manusia buat jalan kereta keliling pegunungan, diatas jurang. Se-ekstrem itu.

Sesampainya saya di Stasiun Kroya, banyak sekali tukang ojek. Tapi saya ga naik ojek, saya dijemput paman saya. Kereta sampai itu pukul 20.00 WIB. Sedangkan saya harus melanjutkan perjalanan ke Kebumen. Cilacap – Kebumen saya tempuh 30 menit. Naik motor jadul. Asyik banget kan. Malam, gelap, dingin, lewat sawah ga mendung ada bulan dan banyak bintang. Udara nya beda. Wangi rumput dan pohon. Bisa ngebut loh. Jalannya bagus. Ga macet pula. Kira-kira seperti ini lah pemandangannya kalau siang hari. Kalau malam hari gelap sekali, tidak ada penerangan jalan selain lampu motor orang lain yang lewat.

Ga seperti dibekasi, dipengkolan saja macet. Heran saya juga.

Akhirnya saya sampai di rumah eyang. Lewat sekolahan. Bangunannya dari jaman londo (Belanda). Ada 3 sekolahan. Ibu saya bilang, “kalau lewat sekolahan jangan pernah nengok ke belakang, jalan aja lurus kedepan, itu pesan eyang akung.” Kalimat itu selalu saya ingat sampai sekarang. Percaya ga percaya, didepan rumah eyang saya itu sekolahan angker katanya. Eyang uti saya memang bisa liat makhluk ghaib. Bahkan ular masuk kerumah saja, beliau tau. Baunya langu katanya.

Tapi saya ga mau mikirin itu. Daripada saya takut sendiri. Lebih baik saya bersih badan, lalu istirahat. Untuk persiapan besok, pergi ke gubuk jamur dan tempat pembuatan gula jawa milik kakak sepupu saya. Dan berlibur ke tempat wisata lainnya yang ada di Kebumen.

Brainstorming Excellent : Bekerja Sambil Liburan Serba Dadakan

Ini adalah brainstorming kedua kalinya buat saya setelah gabung dengan Team Excellent. Pada awalnya saya merasa ragu untuk ikut pergi, karena saya adalah perempuan satu-satunya dan kegiatan ini juga bisa dibilang dadakan. Tapi akhirnya saya memutuskan untuk ikut, karena saya yakin walaupun saya perempuan rekan-rekan saya bisa menjaga dan menghormati saya. Apalagi brainstorming kali ini pergi lumayan jauh, lumayan juga untuk sekedar menikmati pemandangan berbeda selama diperjalanan.

Brainstorming kali ini diadakan di Puncak Cisarua Bogor. Kami berangkat tanggal 15 Desember 2017, sekitar jam 09.00 WIB dari titik kumpul yang sudah ditentukan sebelumnya yaitu Markas PS dan menempuh perjalanan dengan menggunakan mobil Hiace. Semua perlengkapan dimasukkan kedalam mobil, tak lupa perlengkapan khusus untuk saya sendiri. Apa itu? Sederhana, kantong plastik hitam disisi kanan dan kiri tas saya.

 

Alhamdulillah, selama perjalanan saya nggak mabuk, dan itu jadi kebanggaan tersendiri. Kenapa? Karena biasanya saya mabuk darat, naik mobil dan melewati jalan berliku adalah tantangan. Lucunya jika sudah berada didalam mobil, siapapun yang ajak saya ngobrol pasti saya jawab seperlunya atau mungkin nggak saya jawab sama sekali. Hal itu dilakukan untuk menghindari saya owe’-owe’an dimobil.  Tapi kalau sudah turun dari mobil saya bisa seperti biasanya, ketawa, bawel, banyak cerita atau banyak bercanda.

Sampai di Villa Terus Ngapain?

Sekitar jam 11.30 WIB sampailah kami di tempat tujuan (Villa Ida) dengan selamat. Hijaunya pemandangan dan dinginnya udara disana cukup membuat mata dan hati merasa lebih adem. Begitu sampai Team Excellent (laki-laki) segera pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat Jum’at. Sementara saya menunggu sambil menjaga barang-barang.

Sebelum makan siang kami briefing untuk jadwal kegiatan selama brainstorming. Tak lupa dalam kegiatan ini yang utama adalah menampilkan presentasi dadakan dari masing-masing staff.

Akhirnya waktu makan siang yang kami tunggu-tunggu telah tiba. Menu makan siang kali ini ada ayam penyet dan sate kambing, sungguh kenikmatan yang hqq… Sayangnya kami lupa untuk sesi foto memoto, mungkin karena terlalu laper jadi lupa nggak ada yang foto :’v

Puas menyantap makan siang, kami diberi waktu luang oleh Pak Boss untuk sejenak bersantai. Sebagian dari kami mengisi waktu dengan bermain bola dan berenang.

Ada juga yang sibuk membuat presentasi untuk ditampilkan malam harinya. Dan saya termasuk kedalam yang sibuk membuat presentasi, padahal materi presentasi hanya review dan saran untuk Excellent agar lebih maju kedepannya. Jujur saya panik, karena hingga detik itu saya belum juga mendapati apa yang akan saya presentasikan.

Malam Panjang

Malam yang ditunggu tiba, brainstorming dimulai. Saya mendapat giliran presentasi kedua. Kepanikan saya semakin meningkat, semakin tidak percaya diri. Cukup lama setelah lulus dari sekolah berbicara didepan banyak orang sudah jarang saya lakukan. Tapi saya sugestikan diri bahwa “malam ini saya bisa melewati sesi presentasi, menyelesaikan tugas saya, dan besok saya bisa menikmati liburan ini” hehehe 😀

      

Presentasi yang ditampilkan beragam, saran dari para rekan unik dan bagus. Saya sangat terkesan. Dengan adanya sesi ini semua team bisa belajar bagaimana cara berbicara didepan orang banyak, cara mengekspresikannya dan mungkin saran-saran atau keluhan yang selama ini dirasakan bisa tersalurkan. Sesi presentasi dilakukan hingga larut malam, baru selesai sekitar jam 23.45 WIB.

Waktunya Pulang!

Tiga hari sudah saya menikmati bekerja sambil liburan. Tanggal 17 Desember 2017, All Excellent siap pulang ke Bekasi. Seperti biasa kami semua sarapan bersama, kemudian mereview kegiatan selama brainstorming dan membahas hal lainnya. Sekitar jam 10.00 WIB kami check out dari Villa.

Sebelum pulang sebenarnya kami sudah planning mau beli oleh-oleh dimana nantinya. Kami sepakat untuk pergi ke Cimory. Namun ada kendala lain yaitu terjebak macet, karena kami tidak tahu jadwal buka tutup jalan puncak. Akhirnya kunjungan ke Cimory dibatalkan dan beralih ke tempat oleh-oleh biasa. Perjalanan pulang cukup lama, sekitar jam 14.00 WIB kami rombongan mobil travel baru masuk jalan tol. Saya pun baru tahu soal sistem buka tutup jalan, selama ini saya hanya lihat di TV dan tidak pernah merasakan macetnya. Perjalanan pulang yang membosankan.

Catatan : Refreshing yang paling jitu adalah dengan bekerja. Jadi, kembali lagi ke rutinitas semula yaitu bekerja dengan serius dan mengembangkan diri dengan hal-hal positif. Semangat!!!