Layanan Excellent SMTP Relay & Mail Gateway

117 juta+ total email terkirim, dengan rata-rata 200 ribu email per hari dan 1.5 juta email per minggu, itulah jumlah statistik salah satu layanan utama di Excellent yaitu layanan Excellent SMTP Relay : https://www.excellent.co.id/smtp. Meski belum sebesar jumlah statistik sendgrid, mandrill, sparkpost dan layanan sejenis diluaran, jumlah statistik pengiriman email ini terus bertambah setiap harinya.

Layanan Excellent SMTP Relay berfungsi sebagai server relay/penerus email dari klien yang ditujukan pada pihak eksternal. Layanan ini juga bisa digunakan untuk pengiriman transactional email, mail blast, customer notification, email tagihan dan lain-lain.

Pengguna layanan ini terdiri dari berbagai latar belakang, antara lain :

1. Pengguna layanan Excellent Managed Services Mail Server. Untuk meningkatkan kualitas dan performa sistem, kami memisahkan layanan SMTP routing ke eksternal termasuk layanan anti spam agar spesifikasi sistem secara penuh digunakan untuk layanan email

2. Klien yang IP public-nya terkena blacklist pihak tujuan

3. Klien yang hanya punya IP dynamic

4. Klien yang terkena limit pengiriman email oleh pihak ISP

5. Klien yang capek karena email terkadang tidak sampai ditujuan dan tidak diketahui penyebabnya

6. Klien yang sebel karena email yang dikirim malah masuk ke folder spam di pihak tujuan

7. Klien yang ingin menyembunyikan posisi server mereka atas pertimbangan keamanan sistem. Port-port yang dibuka dibatasi hanya untuk IP tertentu, misalnya port incoming hanya diperbolehkan untuk email yang berasal dari layanan anti spam Excellent, port 25 outgoing diblock dan koneksi ke server SMTP Excellent diset menggunakan port yang tidak umum

8. Klien yang ingin mengirimkan email transactional atau email blast dengan cepat, mudah dan relatif murah

Bagi yang tertarik ingin menggunakan layanan Excellent SMTP Relay untuk mengatasi kendala yang dialami diatas, silakan meluncur ke :

Excellent SMTP Relay & Mail Gateway

Tips Memilih dan Menyimpan Sayur yang Baik

Apakah kalian gemar berbelanja sayur-sayuran di pasar tradisional atau supermarket? Ada yang bilang jika sayuran di pasar tradisional lebih segar dibanding sayuran di supermarket. Pasalnya, kadang-kadang sayuran di supermarket masih tampak segar meskipun sudah dipajang berhari-hari di rak pendingin. Di mana pun kalian berbelanja, kalian harus memilih sayuran segar agar lebih nikmat dan bernutrisi saat dimasak.

Memilih sayuran yang sehat dan segar sangat penting untuk dilakukan. Ternyata beda jenis sayuran beda juga lho cara memilihnya. Yuk, simak beberapa tips memilih sayuran yang baik dan segar di pasar tradisional maupun supermarket.

1. Perhatikan warna sayuran

Ketika kalian memilih sayuran, hal pertama yang perlu kalian perhatikan adalah warna dari sayuran tersebut. Cara memilih sayuran yang baik adalah sayuran yang masih memiliki warna cerah atau warna aslinya. Sebab, sayuran yang sudah berubah warna menunjukkan bahwa sayuran tersebut sudah tidak segar lagi. Dan bisa jadi kandungan nutrisi dan vitaminnya sudah berkurang.

Sayuran yang bisa berubah warna di antaranya adalah wortel dan kentang yang memiliki warna hijau di pangkalnya. Perubahan warna menjadi hijau ini dapat menyebabkan keracunan apabila dikonsumsi. Biasanya warna hijau muncul karena sayuran terlalu sering terpapar sinar matahari. Warna hijau ini bisa disebut sebagai zat solanin (zat yang biasanya diproduksi sebagai mekanisme pertahanan kentang/wortel terhadap hama).

Kemudian jangan pilih sayur yang warna daunnya sudah mulai menguning dan batangnya layu. Cara mudah untuk mengetahui sayuran yang masih bagus atau tidak bisa dilihat dari warna dan kesegarannya. Sayuran berdaun seperti bayam, kangkung, selada, sawi, yang masih bagus biasanya memiliki tekstur yang masih keras dan warnanya yang hijau cerah dan segar. Sayuran yang masih segar biasanya baru dipanen dan tidak melalui perjalanan yang lama.

2. Sayuran yang bebas pestisida

Cara memilih sayuran yang baik ternyata bukan yang mulus dan utuh, lho!

Biasanya di dalam sayuran terdapat ulat kecil yang suka memakan daun-daun sayuran, sehingga menyebabkan daun pada sayuran tidak utuh dan sempurna lagi. Akan tetapi, hal tersebut ternyata sangat baik untuk kesehatan kalian. Karena, jika daun pada sayuran dimakan ulat, itu menandakan bahwa sayuran bebas dari pestisida.

3. Sayuran tidak keriput

Ketika kalian membeli sayuran umbi-umbian seperti bawang, kentang, wortel, ubi, bengkoang, sebaiknya hindari jika sayuran dalam kondisi keriput, lembek, memar, berlubang, bertunas, dan tidak keras.

Cara memilih sayuran yang baik, pilihlah sayuran umbi-umbian yang masih bertekstur keras dan aromanya masih segar. Misal, bawang putih yang segar adalah bawang yang memiliki warna putih dan bersih, tidak bertunas, kulit bawang tidak keriput dan tidak berwarna kekuningan.

4. Tidak lembek dan berbau

Saat memilih sayuran buah seperti tomat, terong, ketimun, dan sayuran buah lainnya, perhatikan dengan cermat.

Cara memilih sayuran yang baik cukup memerhatikan kondisinya, bila sayuran buah ini pecah, robek, lembek, berair, berjamur dan berbau, ini tandanya tidak layak untuk kalian konsumsi.

Tips menyimpan sayuran yang benar

Selain cara memilih sayuran yang baik, penting pula bagaimana cara menyimpan sayuran yang baik dan benar seperti berikut ini :

  • Sebelum disimpan dalam kulkas, bersihkan dan cuci sayuran terlebih dahulu dari akar, tanah, dan daun yang menguning. Alias disiangin.
  • Pilih wadah yang tepat untuk sayuran, seperti kertas dan plastik. Seperti menyimpan wortel dan sawi putih dalam balutan kertas agar tidak mudah busuk. Dan menyimpan jagung dalam plastik bersih agar tidak peyot dan membusuk.
  • Jangan menyimpan sayuran dan buah dalam penyimpanan yang sama. Bila dicampur, buah dapat menyebabkan sayuran hijau berubah warna
    kuning selama proses pematangan.
  • Simpan sayuran segar terpisah dari daging mentah, seperti ayam dan ikan.
  • Simpan potongan buah dan sayuran dalam kantong plastik tertutup atau rutin membersihkan wadah di kulkas.
  • Simpan sayuran umbi-umbian dan buah-buahan segar yang membutuhkan pematangan pada suhu kamar. Contohnya kentang dan bawang bombai.

Nah, setelah tahu cara memilih sayuran yang baik, tentu kalian bisa membedakan mana sayuran yang masih segar dengan yang tidak ya. Semoga bermanfaat😊

Bobobi Kopong – Bola-Bola Ubi Kopong

Masyarakat Indonesia begitu menyukai berbagai olahan dari ubi, mulai dari goreng, dikukus, dirujak, hingga dijadikan keripik. Sekarang ini orang semakin berkreasi dalam membuat camilan dengan bahan dasar ubi. Tak heran jika sekarang ini kamu bisa menikmati berbagai camilan dari ubi.

Jika kamu penggemar ubi dan bosan makan ubi yang hanya digoreng atau dikukus saja, sekarang yuk coba buat kreasi camilan enak dari ubi, dijamin bisa menjadi camilan yang begitu digemari keluarga.

Bahan-bahan :

1 buah ubi kuning (kukus)
2 sdm Tepung tapioka
2 sdm Tepung maizena
2 sdm gula halus (manis sesuai selera)
1 sdt baking powder
1/2 sdt garam

Jika semua bahan sudah disiapkan, selanjutnya ikuti langkah-langkah berikut ini :

1. Kukus ubi kuning

2. Haluskan menggunakan garpu.

3. Campurkan tepung tapioka, maizena, gula halus dan baking powder aduk rata lalu ayak. Setelah di ayak masukkan ubi kuning yang sudah dihaluskan tadi, uleni hingga tercampur rata dan kalis

4. Bulatkan adonan, masukkan ke tempat kedap udara/diwadah lalu tutup dengan plastik rapat atau kain lap meja yang bersih, kemudian masukkan ke kulkas diamkan sekitar 30 menit sampai 1 jam.

5. Setelah didiamkan, masuk ke minyak yang baru akan dipanaskan (minyak dingin yang baru mau di panaskan) gunakan api kecil saja ya, supaya bola-bola tidak meletus.

6. Goreng sambil diaduk-aduk supaya tidak lengket satu sama lain. Aduk-aduk terus supaya panas merata ke setiap permukaan bola ubi, setelah kulitnya kokoh, api boleh dibesarkan lagi sedikit (kalau sudah panas tidak usah). Lalu tekan-tekan bola ubi disemua sisi (harus disemua sisi) agar kopong.

Ketika menekan ubi, usahakan jgn kena ujung sutil/sodet, karena nanti bisa pecah. Jangan khawatir jadi kempes dan gepeng juga ketika menekan bola ubi, karena ketika terkena minyak panas bola-bola ubi akan kembali mengembang. Goreng hingga kuning kecokltatan dan kulit agak keras, lalu angkat dan tiriskan.

Selamat mencoba 😊

Bolu Kukus Oreo

Salah satu inovasi kuliner baru adalah dengan mengolah penganan kemasan yang sebetulnya sudah siap makan menjadi penganan lain. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tutorial membuat kue low budget dengan bahan dasar biskuit oreo. Tidak perlu oven apalagi mixer. Tidak perlu bahan pengembang seperti fermipan, baking soda ataupun baking powder. Cukup menggunakan panci kukus yang diisi air😁

Beberapa bahan yang perlu kalian siapkan, seperti :

  • 1 Bungkus Oreo besar ukuran 137gr
  • 1 Kotak kemasan susu cair UHT Plain 250ml
  • 1 Bungkus coklat Cadbury Dairy Milk 65gr

Kalau sudah siap semua bahan, selanjutnya adalah mengikuti langkah-langkah sebagi berikut :

1. Pertama, masukkan semua biskuit oreo ke dalam blender. Tuangkan juga setengah kotak susu cair kemasan kedalam blender agar tercampur dengan biskuit oreo tadi.

Setelah semua bahan dimasukkan, langsung diblender saja hingga hancur dan adonan rata.

2. Kemudian jika adonan bolu kukus dari oreo ini sudah rata, tuangkan pada  cetakan cup cake seperti gambar di bawah ini.

Jangan lupa masukan potongan coklat Cadbury Diary Milknya sebagai isian.

3. Langkah berikutnya adalah masukkan adonan yang telah dituangkan pada cetakan kue tadi ke panci kukusan yang telah panas. Maksudnya kukusan yang telah disiapkan sebelumnya dan air telah mendidih sehingga mengeluarkan uap air.

Jangan lupa tutup dengan penutup panci yang telah di beri bungkusan serbet, dan kukus cup cake oreo ini selama kurang lebih 20 menit.

4. Setelah 20 menit dikukus sampai matang, selanjutnya tinggal diangkat saja dari kukusan dan diamkan sampai dingin terlebih dulu agar mudah dikeluarkan dari cetakan.

Maka hasilnya adalah seperti ini.

Kalau menurut kalian kurang manis, bisa ditabur dengan gula halus sekaligus sebenernya untuk garnish atau hiasannya hehe😁

Tertarik untuk mencoba? Oiya untuk modalnya sendiri, kurang lebih sekitar Rp28.000,- karena mahal di harga coklatnya😁

Mengubah Tema Pada Android Xiaomi

Pernah di bully gara-gara pakai Android Xiaomi? Kalau pernah, berarti kita sama😁

Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya ditunggu kehadirannya oleh teman sekelas di kampus yang kedinginan di dalam kelas. Karena apa? Karena Android Xiaomi saya dan kebetulan Android mereka bukan Xiaomi dan tidak ada aplikasi Mi Remote. Tau kan kalau Android Xiaomi bisa untuk matikan AC dan nyalakan TV?

Jadi mereka menunggu saya karena ingin meminta saya untuk mengurangi suhu AC di dalam kelas, menggunakan aplikasi bawaan Xiaomi yaitu Mi Remote tadi.

Kalau dibandingkan dengan Android lain, Xiaomi memang lebih terjangkau harganya. Selain itu mereka juga menyediakan beberapa tampilan tema yang bagus dan bisa didownload untuk sesekali digunakan para pengguna Xiaomi agar tidak bosan dengan isi layar yang begitu-gitu saja😁

Tema bisa kalian download pada aplikasi Themes yang tersedia pada Android Xiaomi kalian. Pilih tema yang cocok sesuai dengan keinginan kalian.

Jangan lupa setelah didownload, langsung diapply ya. Supaya bisa langsung digunakan.

Untuk tema yang saya pilih setelah diapply, menghasilkan tampilan layar seperti gambar berikut.

Untuk tampilannya jika dilihat memang agak membingungkan, karena tema ini lebih dominan menggunakan warna pink untuk semua warna icon. Jadi kita cukup sulit untuk menemukan aplikasi yang ingin kita buka.

Tapi tidak perlu khawatir karena beberapa tema yang tersedia bisa dipadukan dengan tema yang lainnya. Misal untuk tema dasar menggunakan tema 1, untuk tampilan icon menggunakan tema 2 dan untuk tampilan layar kunci menggunakan tema 3. Markicob!

Mari kita coba mengubah tampilan icon agar tidak membingungkan.

 

Pertama kamu harus membuka aplikasi Themes. Kemudian pilih Account > Customize theme.

Kemudian pilih Icons. Disini banyak pilihannya dan kalian bisa coba satu-satu. Kalian bisa mengubah tampilan kunci layar, status bar, tampilan pesan dan memadukannya dari tema lain.

Selanjutnya adalah menentukan icon mana yang ingin kalian gunakan. Silakan pilih sesuai dengan tema yang sudah kalian download sebelumnya.

Jangan lupa harus didownload terlebih dahulu ya….

Disini saya menggunakan icon pada tema Foggy NY V10. Karena iconnya bisa lebih mudah dipahami.

Kemudian pilih apply. Sehingga bisa terpasang dan menghasilkan tampilan seperti gambar berikut.

Selanjutnya kalian hanya perlu mengubah wallpaper yang sesuai dengan tampilan dari tema dan icon yang sudah kalian ubah sebelumnya. Selain itu beberapa tema yang disediakan juga bisa menembus dan mengubah tampilan WhatsApp lho…

Cara Agar Tidak Dimasukkan ke Group WhatsApp Tanpa Persetujuan

Membatasi admin group WhatsApp agar tidak seenaknya menambahkan orang ke dalam sebuah group yang ia ciptakan, dapat dengan mudah dilakukan dengan memanfaatkan fitur yang ada pada WhatsApp. Fitur tersebut memungkinkan untuk membatasi siapa saja yang dapat diundang ke dalam sebuah group tersebut.

Dengan kata lain, pengguna WhatsApp memiliki kontrol lebih besar dan hak untuk menolak dimasukkan ke dalam sebuah group tertentu.

Adapun cara agar tidak dimasukkan ke dalam sebuah group tanpa persetujuan yakni dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pilih menu Setelan (Settings) > Akun (Account) > Privasi (Privacy)

2. Kemudian pilih Grup (Groups)

Yang nantinya kita akan ditemukan dengan tiga opsi, yakni :

Everyone” atau semua orang bisa memasukkan Anda ke dalam grup (sama seperti selama ini)

My contacts” artinya hanya orang yang ada di kontak Anda yang bisa memasukkan Anda ke grup.

Dan yang terakhir adalah “My contacts except…” berarti semua kontak bisa memasukkan Anda ke grup, kecuali beberapa orang yang Anda tentukan.

Pilihan “My contacts except…” sebenarnya adalah pengganti opsi sebelumnya, yaitu “Nobody“. Pada pilihan “Nobody” ini, semua orang tidak boleh memasukkan Anda ke dalam group WhatsApp tanpa persetujuan Anda. Namun pilihan “Nobody” ini sudah dihapus.

Kalaupun Anda memang benar-benar membatasi orang untuk tidak memasukkan Anda ke sembarang group, Anda tetap bisa mendapatkan pilihan “Nobody” ini dengan cara pilih “My contacts except…” dan Select All semua kontak Anda.

3. Pada point 3 ini saya memilih “My contacts except…” agar dapat menyaring orang-orang yang berpotensi atau sering memasukkan saya ke dalam group secara sembarangan.

Pada bagian ini kita dapat menentukan atau menyaring orang yang memungkinkan bisa memasukkan kita ke dalam group sembarangan tersebut tanpa persetujuan.

4. Jika sudah melakukan filtering pada kontak Anda, maka orang yang ditentukan tadi tidak dapat menambahkan Anda ke dalam sebuah group tanpa persetujuan.

Beberapa dari mereka ketika mencoba memasukkan Anda ke dalam sebuah group, akan mendapatkan pop-up message berupa notifikasi tidak bisa menambahkan Anda ke dalam grup, serta pilihan untuk mengirimkan undangan pribadi untuk bergabung ke dalam group.

Undangan pribadi ini nantinya akan hangus atau expired dalam tiga hari.

Combro dan Misro

Selama masa karantina di rumah masing-masing, saya jadi sering bolak-balik buka kulkas. Sedangkan didalam kulkas hanya ada bahan mentah yang belum diolah. Maka mesti digunakan kreativitas untuk mengolah bahan mentah tersebut menjadi makanan yang enak.

Untungnya Ayah saya setiap pulang kerja selalu dengan bawa-bawaan seperti pisang uli, pisang nangka, ubi ungu dan singkong. Karena memang beliau bekerja di pabrik sebagai operator, jadi tidak ada WFH. Dan kebetulan juga karena beliau bekerja di Bogor untuk mendapatkan pisang, ubi dan singkong bisa lebih murah dan lebih mudah ditemui.

Saya itu suka nyemil dan suka lihat video tutorial masak. Jadi kalau ada bahan masakan yang belum diolah suka gemes mau eksperimen dan acak-acak dapur.

Karena bahan masakan yang saya punya hanya 1 kg singkong, margarin dan gula jawa, yang ada dipikiran saya “Wah berarti bisa dibuat combro dan misro nih”.

Maka saya meminta Ibu saya untuk membeli beberapa bahan tambahan, seperti kelapa parut, oncom, cabai dan bawang.

Cara membuatnya sebagai berikut :

1. Kupas singkong, lalu cuci dan bersihkan. Kemudian parut singkong tersebut.

2. Kemudian peras singkong yang sudah diparut. Agar tidak terlalu lembek dan agar mudah dibentuk nantinya.

Disini saya baru tahu, kalau air perasan singkong parut tersebut adalah sagu atau tepung tapioka yang biasa digunakan untuk membuat cilok.

Air perasan tersebut bisa diendapkan terlebih dahulu. Kemudian dibuang sisa air diatasnya. Dijemur dan jika sudah kering bisa diayak untuk mendapatkan tepung tapiokanya.

Hati-hati juga dalam mengolah dan mengonsumsi singkong. Karena singkong mengandung sianida yang dapat membahayakan tubuh kita. Pada umumnya singkong aman dikonsumsi selama cara mengolah dan memasaknya benar, serta dikonsumsi dalam porsi yang wajar.

Untuk menghindari adanya zat sianida, mengupas kulit singkong harus dengan cara yang benar. Karena kulit singkong mengandung zat sianida paling tinggi. Rendam singkong setidaknya dua hari sebelum dimasak. Dan pastikan memasaknya dengan benar sampai matang.

Saya sempat bertanya dengan Ibu saya, “Bagaimana cara mengetahui adanya sianida didalam singkong?”

Jawab Ibu saya, “Ya kalau singkong rasanya pahit jangan dimakan.”

Saya tanya lagi, “Emang kenapa Bu?”

Ibu saya jawab lagi, “Ya emang udah tau dari kecil, kalo singkong pahit ya jangan dimakan. Berarti singkongnya beracun”.

Mungkin bisa diantisipasi dengan “Singkong Pahit” tersebut, untuk mengetahui adanya racun sianida hehehe….

Langkah selanjutnya

3. Singkong parut yang sudah diperas tadi dicampur dengan kelapa parut. Diaduk rata menggunakan tangan saja.

4. Tambahkan margarin 1 sendok makan, dan garam 1 sendok teh penuh. Kalau memang suka asin, bisa ditambah lagi garamnya sesuai selera.

5. Jika sudah diaduk rata, bisa dibentuk dan diisi sesuai dengan namanya. Kalau isi gula jawa namanya “misro” kalau isi oncom namanya “combro”.

Dari bentuk dapat dibedakan, kalau bulat itu isi gula jawa namanya “misro”. Kalau bentuknya lonjong, itu isi oncom namanya “combro”.

6. Jika sudah selesai dibentuk. Bisa langsung digoreng. Untuk minyaknya jangan terlalu panas, supaya tidak gosong diluar tapi belum matang didalam.

7. Goreng hingga kecoklatan.

Jika sudah matang, tiriskan terlebih dahulu agar minyaknya turun. Kemudian bisa langsung disantap bersama keluarga.

KDR (Kerja Diatap Rumah)

Sejak hari Jum’at, 20 Maret 2020. Seluruh team Excellent mulai menerapkan WFH (Work From Home) atau KDR (Kerja Dari Rumah).

Sebenarnya bukan sekali ini saja kami melakukan kerja dari rumah. Kerja di PT. Excellent Infotama Kreasindo itu tidak harus pergi ke kantor. Bisa di perpustakaan, coworking space atau di Food Hall Mall. Intinya tempat manapun diluar kantor yang buat kita nyaman dengan suasana yang berbeda. (Baca : Bekerja Tidak Harus dan Selalu di Kantor)

Beruntung saya mendapatkan pekerjaan yang bisa dibawa pulang. Bekerja dimanapun bisa dilakukan, asal ada internet, laptop dan stop kontak.

Selama masa karantina di rumah masing-masing, sebagai bentuk pencegahan dan memutus rantai penularan virus Covid-19. Kerja dari rumah memiliki sensasi rasa tersendiri. Setiap pagi saya mesti mencari tempat disudut rumah saya yang OK untuk melakukan meeting online. Mungkin backgroundnya mendukung, tapi sinyal internetnya tidak mendukung. Maka saya harus mencari tempat lain yang bagus untuk melakukan meeting online.

Saya suka membaca dan melihat tulisan atasan saya di Facebook, bagaimana dia bekerja diatas balkon rumahnya. Melihat pemandangan dari ketinggian. Walaupun hanya atap-atap rumah tetangganya yang tersaji dihadapannya.

Waktu itu saya pikir, “Itu mah biasa saja”. Wong setiap hari juga yang saya lihat atap rumah tetangga.

Tapi selama masa bekerja dari rumah yang sedang berlangsung saat ini dan kemudian pohon mangga besar disebelah rumah saya juga di tebang. Lihat gambar ini.

Terlihat atap-atap rumah tetangga saya kan?

Ternyata memang beda ya rasanya. Cuacanya yang mendukung tidak terik dan sedikit mendung, angin sumilir, pohon jambu biji disebelah saya yang ranting dan daunnya saling bertepukan. Jadi suasana yang berbeda.

Saya baru tahu, “Oh seperti ini ya rasanya bekerja dibalkon rumah.”

Saya juga punya kolam ikan, walaupun isinya hanya ikan patin, ikan lele dan ikan gurame.

Di kantor tempat saya bekerja itu ada saung yang dibawahnya terdapat kolam ikan. Yang ditengahnya dibuat jalan dan kanan kirinya banyak tanaman.

Saya memang sempat kepikiran, kalau punya rumah nanti mau minta dibuatkan taman dan saung yang seperti itu.

Dari kecil saya itu suka sekali kobok-kobok air yang ada ikannya. Dulu kalau mandi itu pasti sama ikan. Ibu saya sering beli ikan koi yang masih kecil, hanya untuk ditaruh bak untuk mancing saya supaya mau mandi.

Tapi karena saya nakal, ikan-ikan itu umurnya tidak panjang. Kadang karena terlalu gemas, ikan tersebut saya tangkap dan saya pencet sampai tewas.

Dan gemas terhadap ikan yang berenang itu sampai sekarang masih terbawa. Apalagi ikan milik Pak Boss yang disaung itu kan ikan patin yang sudah besar-besar. Yang enak untuk dimasak dijadikan sop *Ehh bukan

Maksudnya ikannya itu gemesin, soalnya mirip hiu pasir. Jadi sesekali saya memberi pakan ikan ke kolam itu, rasanya seru-seru gimana gitu. Karena kan kolamnya jadi berisik. Ikan-ikan berebut makanan.

Nah, berhubung saya punya juga kolam ikan di rumah. Kemarin sesekali saya tebar juga pelet pakan ikan. Mumpung Ayah saya tidak di rumah.

Dan itu rasanya memang beda, pikiran itu jadi fresh dan tidak terlalu stres.

Dan setelah saya pikir-pikir, mungkin di Excellent dibuatkan taman yang demikian untuk mengurangi tingkat stres karena klien yang ngeselin. Mungkin. Karena klien yang bawel dan ngeyel. Mungkin juga.

Dan selama bekerja di rumah ini, Ibu saya jadi lebih perhatian. Buktinya setiap pagi sudah ada sabu untuk saya.

Saya menyebutnya KDR (Kerja Diatap Rumah). Ya mau gimana? Kamar saya dilantai dua yang merupakan atap dari lantai satu.

Oh iya ada satu lagi enaknya kerja dari rumah. Saya bisa tengkurap sambil bekerja. Nomaden atau pindah-pindah tempat. Dari ruang tamu, pindah ke balkon, pindah lagi ke kamar. Sampai pukul 16.30.

Walaupun kerja dari rumah, jangan lupa mandi ya.

Investasi Modal Sayang

Mewabahnya Virus Corona tidak hanya berdampak pada investasi saham yang saya punya, tetapi berdampak juga pada investasi hewan ternak yang saya jalani saat ini.

Berawal dari tragedi kecelakaan yang dialami pacar saya, mengharuskan dia resign dari pekerjaannya di Bekasi dan pulang ke kampung halamannya di Klaten.

Tidak banyak kegiatan yang dia lakukan selain dari membantu mengurus usaha orang tuanya dan melakukan beberapa pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh adik perempuannya. Karena saat ini kedua adik perempuannya sudah ada yang menikah dan merantau di Jakarta. Artinya sudah tidak ada yang bisa membantu, kecuali pacar saya sendiri yang membereskan rumah.

Tiga bulan pertama, pekerjaannya masih belum jelas. Luntang-lantung kesana kemari. Hanya mengandalkan keahliannya menjual beberapa sparepart motor tua, karena memang hobinya yang suka mengoleksi motor tua. Dan tentunya dengan bantuan jaringan temannya dibeberapa daerah, dia bisa menghasilkan uang.

Tapi karena usianya yang semakin bertambah juga, jika hanya mengandalkan pendapatan dari kegiatan itu menurut saya tidak akan tercapai niat baiknya dia untuk mengajak saya ke jenjang yang lebih serius. Karena tidak menutup kemungkinan, restu orang tua akan berubah hanya karena status pekerjaan dan pendapatan yang dihasilkan. Walaupun untuk urusan rezeki, Allah sudah mengaturnya.

Akhirnya dicari usaha apa yang bisa dijalani dengan memanfaatkan beberapa aset orang tuanya. Seperti lahan rumah yang luas, kebun bambu yang rimbun dan kebun lainnya yang dia punya.

Saya berpikir selama ini dia hanya mengandalkan sapi nya untuk meyakinkan saya bahwa dia punya modal banyak. Tapi ibu saya bilang, “Kalau dia belum punya 1000 sapi, jangan harap dapat restu”.

Saya kan tidak mungkin menyampaikan itu ke dia.

Saya suruh dia belajar budidaya ikan lele. Dia mau belajar, dia juga mau prakteknya. Dia tau butuh banyak modal. Saya suruh dia belajar ikan lele, karena melihat ayah saya yang biasa pelihara ikan dengan mudah dan cepat besar. Jadi pikir saya, siapa tahu dia bisa dapat untung banyak dan punya kegiatan. Jadi nggak nganggur-nganggur amat😁

Dia belajar bagaimana membuat kolam, air yang bagus untuk ikan lele, pakannya, semuanya dia pelajari termasuk adanya racun yang mungkin dirasakan ikan lele.

Awal pembelian 1000 ekor. Tambah 1500 ekor. Jadi punya 2500 ekor ikan lele.

Untuk pemasarannya dia sudah punya chanel. Jadi tidak perlu khawatir. Niatnya keuntungan penjualan ikan lele itu akan diputar untuk tambahan modal pembelian anak sapi.

Termasuk saya, saat ini ikut membantunya menyisihkan uang untuk usahanya itu. Dan in shaa Allah di akhir Juni nanti akan membeli 1 lagi anak sapi.

Tapi karena saat ini banyak yang mewabah Virus Corona, untuk pakan sapi itu ikut berimbas. Biasanya dengan uang Rp35.000 sudah dapat segelundungan, bisa untuk pakan empat sapi dalam sehari. Bisa juga diberi pakan jerami, padi-padi sisa hasil panen itu. Kalau jerami itu gratis, kita sendiri yang babatin. Tapi harus nunggu orang yang punya sawah selesai panen😂

Sebulan lalu, sapi yang dibeli pertama kali, paling besar sendiri, tidak mau makan. Karena lidahnya sariawan. Badannya kurus. Saya sendiri jadi khawatir. Kalau mati, bisa rugi saya. Harusnya kalau dijual dengan ukuran sekarang bisa dapat Rp12.000.000. Kalau mati, rugi Rp12.000.000, walaupun modal awalnya Rp7.000.000.

Akhirnya dipanggil lah dokter hewan ke rumahnya. Gratis. Disuntik pantatnya 3x. Sembuh. Mau makan lagi.

Tapi kekhawatiran yang dialami saat ini bukan sariawannya sapi. Justru pakan sapinya. Virus Corona itu buat orang jadi mengambil kesempatan untuk menaikan harga-harga yang tidak ada semestinya. Saat ini si sapi diberi pakan rumput-rumput liar yang ada di kebun doi.

Sambil paralel dia tanam rumput kolonjono. Supaya lebih hemat. Dan tetap dapat untung.

Jadi tujuan investasi bantu pacar itu, supaya dia lebih banyak kegiatan, modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Dan pastinya karena modal sayang, jadi biaya pakan sapi tuh tidak terhitung🤣

Kesel Aja Gua

Minggu lalu kantor tempat saya bekerja, kedatangan tamu dari salah satu badan pemerintahan. Bukan hanya bertamu melainkan membahas terkait kerjasama yang akan dilakukan di pertengahan bulan depan. Artinya jika dihitung sampai dengan tanggal pelaksanaan, tidak sampai satu bulan waktu yang diberikan untuk menyiapkan semua kebutuhan.

Kebutuhan yang dimaksud disini misalnya soal berkas administrasi yang nantinya dilampirkan. Karena biasanya di beberapa kegiatan terkait kerjasama dengan badan pemerintahan, pasti dibutuhkan banyak lampiran dokumen legal atau surat-surat pernyataan resmi dari pihak tertentu.

Benar saja. Untuk berkas penagihan mereka meminta beberapa dokumen legal dan tambahan surat resmi yaitu Surat Referensi Bank.

Pikir saya itu mudah, tidak sampai dua hari untuk bisa menyiapkan itu semua. Untuk Surat Referensi Bank saya bisa minta langsung ke Bank, yang mestinya tidak akan memakan waktu lama karena hanya butuh satu lembar saja surat berisi pernyataan. Lagi pula rekan kerja saya juga pernah beberapa kali pergi ke Bank untuk urus surat tersebut. Jadi saya bisa tanya langsung apa saja persyaratannya dan lampiran apa yang mesti disiapkan disisi saya agar nantinya tidak ada kendala saat akan diproses oleh pihak Bank.

Syaratnya saya hanya perlu buat Surat Permohonan Pembuatan Referensi Bank dan Surat Kuasa. Karena sempat ada miskomunikasi dengan rekan kerja saya dan diseling beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Akhirnya surat persyaratan tersebut molor hingga keesokan harinya baru selesai saya buat.

Dilema, karena kalau pergi ke Bank lewat dari jam 12 siang, pasti suasana pelayanannya berbeda dibanding pagi hari yang masih fresh. Akhirnya saya putuskan besok paginya saja pergi ke Bank tersebut.

Saya tahu besok akan pergi ke Bank apa. Bank yang beberapa kali punya pengalaman ngeselin dengan saya.

Saya pernah ditolak saat akan melakukan pembukaan rekening. Karena saya belum punya KTP waktu itu. Usia saya masih 15 tahun. Akhirnya saya bawa Ibu saya ke Bank tersebut, ternyata bisa dan langsung jadi.

Yang kedua waktu saya buka rekening kembali di usia 17 tahun, sudah buat KTP, tapi kartunya sudah 6 bulan lebih tidak ada wujudnya. Hanya kertas selembar berbentuk resi. Dengan percaya diri saya membuka rekening kembali menggunakan resi KTP tersebut. Pembukaan rekening berhasil dilakukan. Hanya saja, saya tidak diberi kartu ATM. Jadi selama KTP saya belum jadi, saldo yang masuk ke rekening saya itu menumpuk. Tidak bisa diambil lewat mesin ATM. Mesti ke Bank.

Nah, agar tidak terjadi kendala lagi, makanya sebelum besok pergi ke Bank itu, saya mesti menyiapkan sedetail mungkin.

Jum’at, 21 Februari 2020. Sekitar jam 08.00 WIB, saya berangkat ke Bank tersebut. Karena saya beberapa kali pernah pergi kesana. Dari rumah hawanya percaya diri saja.

Sekitar 10 menit saya sudah sampai Bank, berangkat dari kantor. Karena memang jaraknya dekat sekali. Tapi, saat akan memasuki parkiran, “Lho kok mobil semua yang kelihatan parkir. Apa kalau bawa motor parkirnya ditempat lain?”

Perasaan saya waktu itu sama saat pertama kali saya disuruh melakukan pembukaan rekening. Masuk ke area Bank itu ada perasaan minder. Serasa semua orang itu pandangan matanya tertuju kepada saya. Padahal nggak. Nggak ada yang mau merhatiin juga🤣

Karena sudah terlanjur masuk lorong parkir, saya modal pede saja deh.

“Ngueeennnggggg, bablas blas!” Saking percaya dirinya ngebut dilorong parkir.

Eh dikejar dan diteriaki Satpam.

Saya berhenti.

Kata dia, “Mbaknya karyawan atau nasabah?”

Saya jawab, “Saya nasabah.”

Dia bilang lagi, “Oh yaudah, parkirnya kesana lagi Mbak. Nanti disebelah kanan ada motor-motor ya.”

Sebelum berhenti dikejar Satpam, sebenarnya mata saya sudah melirik parkiran motor disebelah kiri. Saya kira parkiran motornya pindah. Ternyata yang disebelah kiri itu untuk karyawan Bank. Untung dikejar Satpam. Saya jadi nggak malu kan kalau sampai salah parkir😁

Jalan sedikit menuju ruangannya, kemudian disambut Satpam lain. Suasanya masih sejuk ya, karena diruangan AC dan masih pagi juga. Para customer service belum semuanya siap di meja masing-masing. Baru pada beberes lah, siap-siap. Karena masih pagi sekali.

Saya ditanya Satpam, mau ngapain. Ya, saya bilang mau minta Surat Referensi Bank atas nama perusahaan.

Dia tanya lagi, “Jenis rekening ibu, giro atau tabungan?”

Saya jawab saja, “Tabungan”

Sambil mikir-mikir, “Lhaaa kok ditanyain gituan sih”. Kata rekan kerja saya malah cukup kasih berkas ke Pak Satpam. Nanti dikasih tau sehari setelahnya suruh balik lagi.

Pak Satpam tanya lagi, “Ibu bawa buku rekeningnya?”

Saya jawab, “Saya cuma mau minta Surat Referensi Bank pak. Infonya cuma butuh Surat Permohonan dan Surat Kuasa aja.”

Kemudian disuruh tunggu dan saya dikasih nomor antrian. Kebetulan karena masih pagi saya dapat antrian nomor urut 003.

Giliran saya maju ke CS nomor 2. Ya seperti biasa disambut jabat tangan. Ditanya apa yang bisa dibantu. Saya jawab sama seperti, Pak Satpam tanya tadi.

Berkas yang saya bawa mulai di cek. Satu per satu.

Si CS tanya KTP asli saya dan minta copyan KTP Boss saya.

Saya kasih KTP saya, tapi saya bilang kalau copyan KTP Boss saya tidak saya bawa.

Si CS debat saya, “Harusnya dibawa Mbak copyannya. Soalnya nanti dibutuhkan. Kan pak Masim memberikan kuasanya ke Mbak Fitra untuk membuat surat ini.”

Saya jawab, “Sebenarnya perusahaan kami sering minta surat ini Mbak. Dan berkasnya cukup ini saja. Nggak perlu copyan KTP atasan saya.”

Dia bilang, “Coba saya tanya ke bagian kantor dulu, kira-kira bisa atau tidak ya.”

Padahal dalam hati deg-degan dan ngedumel, “Perasaan gua kalo kesini ada aja yang dimasalahin.”

Tidak lama kemudian, Mbak CSnya keluar dari ruangan bagian surat menyurat. Mimik mukanya flat. Saya sudah mengira-ngira, “Pasti salah lagi aja nih gua, segala copyan KTP ga dilampirin”. Sudah pasrah saja bawaannya, pasti bolak balik lagi.

Eh tapi nggak deh. Ternyata kata CSnya untuk suratnya bisa diproses dan saya disuruh ambil di hari Senin atau Selasa.

Ya, OK lah.

Karena saya minta dibuatkan di Jum’at pagi, mestinya hari Senin sudah bisa diambil. Toh itu kan hanya satu lembar surat saja. Lagi pula kepotong libur hari Sabtu dan Minggu.

Saya yakin sih, kalaupun Senin saya ambil pasti belum selesai dibuat. Akhirnya saya kasih untuk spare waktu mereka. Senin tidak saya ambil dan kebetulan di hari Selasa nya ada musibah banjir. Jadi akses jalan menuju Bank ditutup. Saya sendiri bingung mau ke Bank lewat jalan mana. Sehingga saya putuskan ambil surat tersebut di hari Rabu saja.

Rabu, 26 Februari 2020. Saya santai sekali, mengaggap semua lancar. Merasa surat saya sudah selesai dibuat, hanya perlu diambil. Saya set untuk ambil surat tersebut di jam 09.00 WIB saja, saya masih bisa stand by. Balas beberapa email terlebih dahulu.

Jam 09.10 WIB saya sampai di Bank itu kembali. Sebelum Pak Satpam tanya apa keperluan saya, saya sudah lebih dulu bilang kalau saya mau ambil surat referensi tersebut. Yang dijanjikan bisa diambil hari Senin itu.

Ini soal tingkatan emosi. Eaaaa~

Saya kecewa sebenarnya. Karena menunggu terlalu lama hanya untuk ambil surat yang sudah saya submit di Jum’at pagi, pada minggu sebelumnya dan ternyata baru dibuat di hari pada saat saya mau ambil surat tersebut.

Di 30 menit pertama emosi saya masih semata kaki. Kaki saya tidak bisa diam. Rasanya mau buru-buru ke parkiran. Ambil motor balik ke kantor. Karena saya kan izinnya ambil surat. Masa lama banget.

Sudah lewat 1 jam menunggu, emosi saya naik sepinggang. Saya sudah tidak nyaman duduk. Saya tanya lagi ke Pak Satpam soal surat saya itu. Pak Satpam dengan nada agak jengkel juga, bilang ke saya untuk sabar menunggu. Tapi saya bilang, kalau saya sudah minta itu dari Jum’at sebelumnya, kan tinggal ambil. Masa sampai 1 jam. Hasilnya ya sama, saya suruh duduk lagi. Tetap saya tidak nyaman. Karena saya izin ke kantor itu pergi sebentar untuk ambil surat.

Ditunggu-tunggu sampai jam 12 siang. Hampir 3 jam. Emosi saya sudah naik lagi sampai ke mulut. Hanya untuk “ambil surat”. Saya agak bingung sebenarnya. Saya pulang dulu ke kantor, terus nanti balik lagi juga buang-buang waktu. Saya nunggu di Bank juga hampir jam istirahat mereka. Dan nggak ada kepastian.

Akhirnya karena sudah terlalu kesal. Saya bangun dari tempat duduk. Dan sepertinya Pak Satpam yang tadi menyuruh saya sabar menunggu, sadar kalau saya sudah kesal sekali. Ya biasa, dia bilang ke saya suruh tunggu lagi, dia mau ke ruangan tempat buat suratnya tadi.

Dan benar. Suratnya baru dibuat hari itu dan baru selesai ditandatangani.

Disebut jengkel, ya jengkel banget lah ya. Untung emosinya masih semulut. Kalau sudah diubun-ubun, bisa nangis saya. Bisa badmood banget seharian.

Nggak tau kenapa, saya selalu bermasalah kalau urus sesuatu di Bank itu😅