Yang Saya Dapat Hari Ini

Saya terlahir dari keluarga sederhana. Ayah saya bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ibu saya hanya ibu rumah tangga. Setiap hari Ayah bekerja pulang pergi dengan rute Bekasi – Bogor. Ibu mengurus rumah tangga, dari belum terbit matahari hingga terbenam matahari, itu juga masih belum berhenti aktivitas kalau semua anaknya belum tidur.

Dulu sebelum saya bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidup hanya dengan mengandalkan pendapatan bulanan dari Ayah.

Saya anak sulung dari tiga bersaudara. Anak pertama, yang punya dua adik.

Setelah lulus SMP, cita-cita saya ingin melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri favorit jurusan IPS, karena saya menyukai pelajaran sejarah. Saya lebih suka menghafal daripada berhitung.

Tapi Ibu saya bilang, “Jurusan IPS itu pilihan kedua, kalau nggak dapet jurusan IPA. Cuma kamu yang niat dari awal, mau masuk jurusan IPS.

Tetapi keinginan saya harus ditunda. Karena Ayah dan Ibu, meminta saya untuk coba ikut seleksi masuk SMK Negeri.

Kebetulan sekolah yang saya pilih masuk ke daftar sekolah favorit. Yang katanya setelah lulus bisa langsung dapat pekerjaan.

Dan alhamdulillah, saya bisa lolos dan lulus dalam seleksi tersebut.

Saya tahu tujuan kedua orang tua saya, supaya setelah lulus saya bisa langsung membantu perekonomian keluarga.

Jalan Kaki Berhadiah Motor

Saya ingat betul pertama kali masuk sekolah. Waktu itu saya belum punya kendaraan. Saya harus berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Sekitar 4 KM jarak dari rumah ke sekolah.

Berangkat lebih pagi, setelah sholat subuh. Masih gelap.

Saya masih harus menyebrangi rel kereta api. Menunggu beberapa kereta melintas. Kemudian saya juga masih harus menyebrangi jalan raya. Melangkah maju kemudian mundur lagi, karena banyak kendaraan melintas tak mau mengalah memberi jalan untuk saya. Hingga kadang saya menunggu bantuan orang lain, untuk membantu saya menyebrangi jalan besar itu.

Saya selalu menjadi siswa pertama yang sampai disekolah. Saat penjaga sekolah masih sibuk membersihkan ruang kelas, menyapu halaman sekolah, menyiram tanaman dan sebagian masih ada yang mandi.

Lokasi sekolah saya ada di dalam komplek perumahan. Dan teman-teman sekelas saya pun termasuk anak golongan elit. Biasanya mereka menyebut dirinya sendiri dengan nama “Borju”. Kelompok borjuis. Yang berangkat ke sekolah naik motor besar atau motor mahal. Jajan diatas Rp25.000,-per hari. Dan pakai sepatu logo terkenal.

Pagi itu, seperti biasanya saya berangkat ke sekolah jalan kaki. Ditengah perjalanan menuju sekolah, terdengar suara deruman motor besar berulang kali disamping saya.

Saya menengok kesamping. Ternyata itu ketua kelas saya, yang mengendarai motor ninjanya.

Pada saat pergantian jam pelajaran, ketua kelas saya itu bertanya kepada saya didepan kelas.

Fitra lu ke sekolah jalan kaki?

Saya jawab, “Iya emang kenapa? Mau boncengin?

Dia bilang, “Nggak, rajin banget pagi-pagi jalan kaki” (nadanya seperti mengejek)

Saya jadi minder karena ucapannya. Keesokannya saya berangkat dari rumah lebih pagi lagi, supaya tidak bertemu ketua kelas saya itu. Dan ternyata berjumpa lagi dijalan yang sama.

Memang tidak bisa dibohongi, jalan kaki lebih pagi dengan berangkat naik motor ninja dijam biasanya. Kecepatannya sama. Seharusnya waktu itu saya lari, bukan jalan kaki.

Kemudian, dia keraskan suara motornya ketika berpas-pasan dengan saya. Saya tidak mengerti apa maksudnya, entah dia menyapa saya atau mengejek saya.

Dan setiap pulang sekolah, saya selalu diantar sampai rumah oleh keempat teman saya.

Supaya saya irit, tidak perlu pulang naik angkot. Keempat teman saya itu memang baik sekali.

Padahal setiap pagi, ibu saya selalu menyempatkan diri untuk memasak. Agar saya bisa bawa bekal makanan. Supaya saya tidak jajan, jadi saya bisa pulang naik angkot tanpa harus jalan kaki lagi.

Kegiatan itu tidak berlangsung lama. Tiga bulan selanjutnya, saya sudah bawa motor sendiri.

Sore itu, saya lihat ada motor terparkir di teras rumah.

Saya tanya ibu saya, “Motor siapa itu bu?

Ibu saya bilang, “Motor untuk kamu. Besok pagi kamu nggak perlu jalan kaki lagi ke sekolah. Itu untuk kamu.

Saya lihat, tidak ada lagi kalung melingkar di leher ibu. Saya tahu, ibu menjual kalungnya untuk beli motor second itu. Supaya anaknya tidak capek lagi berangkat ke sekolah. Supaya anaknya tidak lagi merepotkan orang lain, untuk mengantarnya pulang ke rumah.

Tapi sekarang, saya sudah bisa beli motor sendiri. Setelah sekolah jalan kaki. Setelah lulus dan bekerja saya bisa beli itu. Dan pastinya bayar sendiri. Walaupun selama tiga bulan kedepan, bunyi klaksonya masih “dit,dit,dit” hahaha😆

Laptop Tebal Disulap Jadi Tipis

Karena saya ada dijurusan IT, media untuk belajarnya adalah laptop atau komputer.

Alhamdulillah, belum punya motor waktu itu tapi saya sudah punya laptop. Walaupun masih berat dibawa kemana-mana.

Ada satu teman saya. Laki-laki. Tapi mulutnya seperti perempuan. Waktu itu dia beli laptop baru. Laptopnya lebih ramping dari laptop saya.

Dia bilang, “Laptop lu tebel banget. Kaya orangnya.

Saya yang jengkel mendengarnya hanya menjawab santai, “Gapapa, yang penting kuat install CentOs7 di vbox. Daripada lu, laptop kurus, tapi harus pinjem komputer sekolah supaya bisa nyelesain tugas.

Jika dibandingkan dulu, melihat keadaan saya saat ini. Sekarang saya malah punya laptop yang lebih tipis dari punya teman saya itu. Barang yang mungkin tidak pernah saya bayangkan. Bisa kebeli atau tidak. Karena logonya yang terkenal mahal dan elit.

Kalau dulu saya hanya tahu, merk itu mahal. Mustahil untuk saya, bisa memilikinya. Nyatanya sekarang saya punya, entah bagaimana caranya atau jalannya bisa tercapai. Lewat bekerja di Excellent.

Bisa Kuliah Setelah Yang Lain Sarjana

Selepas SMK itu ada 4K yang utamanya harus dipilih :
1. Kerja
2. Kuliah
3. Kewirausahaan
4. Kawin

Semua teman sekolah saya sibuk membahas, “saya akan kuliah disini, disini dan disitu”.

Sewaktu saya PKL di Excellent, saya ditanya pak Boss. Setelah lulus ingin melanjutkan kemana?

Jawaban saya pasti dan selalu kerja sambil kuliah.

Padahal waktu itu saya tidak tahu, akan kuliah dimana dan kerja dimana.

Melihat keadaan orang tua. Pilihan saya jika kuliah pasti harus disertakan dengan kerja.

Teman-teman saya bilang, “Kalau gue ga keterima di negeri, pilihannya gue kuliah di Binus, atau di Telkom, atau di Guna Darma, atau di Yarsi atau di Trisakti.”

Di universitas swasta yang mahal lah pokoknya.

Saya yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum. Yang saya pikirkan waktu itu, saya bisa kuliah setelah 3 tahun bekerja atau mungkin setelah teman-teman saya semua sudah jadi sarjana. Saya baru menyusulnya.

Tapi tidak, setahun bekerja saya sudah punya rejeki dan waktunya. Tidak perlu menunggu teman-teman saya sarjana, saya sudah bisa menyusulnya.

Saya tidak pernah menyesali keadaan orang tua saya. Saya juga tidak menyesali bahwa saya harus melanjutkan sekolah ke SMK bukan ke SMA. Seandainya saya waktu itu tetap memilih SMA. Mungkin apa yang saya dapatkan hari ini, tidak akan terwujud secepat ini.

Jika Diremehkan, Maka Buktikan

Lingkungan baru yang hampir dua bulan ini saya jalani (perkuliahan), menjadikan saya bertemu dengan berbagai macam jenis sifat dan karakter manusia.

Ada yang susah melihat orang lain senang, ada yang senang melihat orang lain susah.

Lho… sama saja ya? Itu biasanya sifat manusia yang namanya iri.

Maka dari itu, jadilah manusia yang memiliki sifat : Bahagia melihat orang lain senang. Senang melihat orang lain bahagia.

Positif to positif, bukan negatif to positif atau sebaliknya.

Baru-baru ini yang saya alami adalah ketika kemampuan saya diremehkan oleh orang lain. Underestimate. Memandang saya seolah-olah “memangnya kamu bisa apa?“.

Kejadian ini saya sadari saat saya ingin jilid tugas laporan perpajakan. Saya lihat banyak teman sekelas, yang juga nimbrung dan kumpul didepan tempat fotocopy, tempat saya ingin menjilid tugas laporan tersebut.

Saya tanya salah satu dari mereka. Sedang apa berkumpul disini. Dia bilang “fotocopy jawaban dari kelas pagi” (karena memang bertepatan dengan UTS).

Kemudian dia tanya lagi ke saya, “Lu ga ikut fotocopy?

Saya bilang, “Nggk, gue udah belajar, paling nanti dibaca-baca lagi slide yang udah dikasih.

Kemudian jawab dia ketus, “Belajar? Sombong banget. Emang lu bisa? Kan banyak materinya?

Dan lirikan matanya terhadap saya juga menunjukkan, “gue aja ga bisa apalagi elu“.

Kemudian saya hanya menjawab, “bisa“. Dan pergi menuju ruang kelas.

Ketika ujian sudah mulai belangsung, satu per satu mahasiswa diberi kertas soal ujian. Soalnya hanya berupa ilustrasi gambar dan penjelasan sedikit mengenai fungsi pajak. Tugas kami menyampaikan, apa hubungannya gambar tersebut dengan fungsi pajak. Dan dijelaskan menurut pendapat masing-masing.

Otomatis kertas fotocopyan yang tadi teman-teman saya copy, tidak ada manfaatnya.

Karena teman saya yang ketus tadi, posisi duduknya ada disebelah kiri saya. Akhirnya mau tidak mau, dia tanya juga ke saya. Jawaban apa yang harusnya dia berikan. Dia minta clue ke saya. Karena pada dasarnya fungsi dari pajak saja dia tidak mengerti. Bagaimana bisa menjelaskan apa hubungannya dengan gambar tersebut.

Saya kasihan, akhirnya saya jelaskan sedikit jawaban untuknya, supaya dia bisa terbantu.

Sebelum-sebelumnya pun saya pernah kurang dihargai dia. Oleh orang yang sama. Ketika saya presentasi didepan tentang sejarah lahirnya pancasila.

Karena tampilan slide presentasi saya sedikit isinya, hanya point-pointnya saja. Dan ceritanya semua ada diucapan saya. Akhirnya semua audiens (teman-teman saya) diharuskan mendengarkan saya.

Sebenarnya itu trik supaya ketika maju kedepan, tampil presentasi, semua mata bisa tertuju padaku. Hehe

Cara menarik perhatian orang lain lah intinya.

Ketika selesai presentasi, semua tepuk tangan kecuali teman saya yang rese itu.

Saya kembali ketempat duduk saya, dan bukannya memberi kesan yang baik.

Ucapannya malah seperti ini, “Fitra, lu berapa minggu cuma buat ngapalin sejarah gituan? Sampe apal banget

Dalam hati, “Sialan banget”.

Tadinya saya ingin jawab ketus juga, tapi saya ingat tulisan Pak Boss yang judulnya “Tak Usah Marah Ketika Orang Lain Underestimate Pada Kita

Lewat tulisan itu saya tahu dan banyak referensi bacaan bagus, tentang bagaimana sikap kita ketika orang lain menganggap remeh.

Justru ketika orang lain underestimate kepada kemampuan kita, itu bisa dijadikan motivasi untuk membuktikan bahwa kita sebenarnya lebih unggul dari mereka yang suka meremehkan.

Percaya Diri Pada Tempatnya

Minggu ini saya disibukan dengan kegiatan baru dikampus. UTS. Ujian Tengah Semester atau Ulangan Tengah Semester. Kakaknya Ujian Akhir Semester (UAS).

Setelah setahun, istirahat sebentar dari berbagai macam ujian. Kecuali, ujian hidup. Akhirnya saya kedapatan lagi, berhadapan dengan soal-soal yang menjadi tolak ukur, sejauh mana saya belajar dan mengerti atau paham selama sebulan belajar di kampus.

Dan ini adalah pertama kalinya saya ikutserta UTS diperkuliahan. Dari mulai datang lebih awal. Tidak seperti biasanya, dosen dulu yang masuk baru saya nyusul masuk kelas. Kemudian pakai almamater hijau toska, mirip dengan petugas rumah sakit. Dan membawa kartu ujian, seperti jaman sekolah di SD, SMP dan SMK dulu.

Karena ini pertama kalinya, ada beberapa masalah yang saya hadapi. Mungkin juga karena faktor kebiasaan.

1. Hitung Neraca Tidak Balance

Saya ada pada jurusan yang terkonsentrasi di Administrasi Perpajakan. Bicara soal perpajakan, tidak terlepas dari hitung menghitung uang orang lain, UU, atau pasal-pasal ayat sekian.

Maka dari itu, di semester awal ini saya dapat mata kuliah “Dasar-Dasar Akuntansi”.

Menghitung Jurnal Umum, kegiatan mencatat akun per transaksi. Kemudian Laba-Rugi untuk mengetahui keuntungan atau kerugian yang didapat oleh sebuah perusahaan. Neraca Saldo, Perubahan Modal, Neraca dan Rasio Ekuitas Pemilik diperlukan untuk menentukan perusahaan sehat atau tidak.

Tujuan lainnya sebagai dasar menghitung berapa pajak yang akan dibayarkan si perusahaan tersebut nantinya.

Mata kuliah ini terbilang sangat menegangkan, selain dosennya yang pelit nilai dan tegas, ini juga jadi makanan baru untuk saya yang dulu gagal jadi anak akuntansi. Akhirnya masuk dijurusan TKJ, maka outputnya atau keluarannya seperti sekarang ini. Akuntansi nggak, TKJ juga nggak.

Senin kemarin adalah pertama kalinya saya UTS mata kuliah akuntansi. Ada hal terbodoh yang saya ulangi lagi dalam ujian ini. Yaitu “tidak percaya diri akan kemampuan diri sendiri”.

Ketidakpercayaan dalam mengisi soal ujian, akan menimbulkan keinginan untuk menyontek kepada teman.

Sejak SMK dulu, saat ulangan Matematika. Guru saya selalu menempatkan saya dikursi paling depan. Dia tahu saya bisa. Tapi saya cari aman. Duduk di kursi tengah. Tapi selalu dipindah ke kursi depan.

Tapi entah kenapa, nilai ujian saya lebih bagus kalau saya duduk didepan ketimbang duduk dibelakang atau di tengah.

Nah, waktu kejadian kemarin. Karena nama saya diawali dengan huruf “F”, maka asumsi saya, saya duduk dikursi tengah. Ternyata kata dosen saya, duduk dimana saja tidak urut tidak apa-apa, yang penting kursi depan diisi.

Saya sudah aman dikursi tengah.

Belakang saya jadi kosong. Karena semuanya pindah ke depan. Saat ujian dimulai, teman saya yang lain baru masuk dan mengisi kursi belakang.

Saya sudah mulai mengerjakan soal. Sudah dinomor 3. Karena 1-3, soal teori. Masuk ke soal ke 4. Soal terakhir. Dalam bentuk soal cerita. Pertanyaannya beranak a,b,c,d, dan e. Karena waktunya terbatas, dikorting jadi a,c,d dan e saja yang dikerjakan.

Dengan percaya diri saya isi sesuai pemahaman saya. Teman sebelah saya baik depan, kanan atau belakang saya sudah mulai berisik dengan bunyi klik tombol kalkulatornya.

Sedangkan saya sendiri, masih asik memisahkan akun mana yang cocok untuk tiap-tiap transaksi dalam soal cerita tersebut.

Samping kanan saya laki-laki tapi cerewet. Dia bilang ke saya “belakang lu baru dateng, udah sampe laba rugi”.

Saya panik, kecepatan mengisi soal meningkat.

Saya menyusul, sudah sampai hitung laba rugi. Dengan hasil yang berbeda dari teman sebelah kanan dan belakang saya.

Itulah uniknya pelajaran akuntansi, soal dan nominalnya sama tapi jawaban satu sama lain, hasilnya berbeda. Tidak tahu, jawaban yang mana yang paling benar diantara saya dan kedua teman saya itu.

Kemudian masuk di laporan Neraca. Rumusnya :

Aset = Kewajiban + Ekuitas Pemilik

Salah satu akun yang termasuk Aset, adalah Kas. Saat menghitung Kas, saya kedapatan hasil, minus Rp650.000. Sedangkan kedua teman saya itu tidak ada hasil minus.

Ternyata pada akun Jurnal Umum, asuransi dibayar dimuka yang harusnya memang berada di debit, mereka ubah posisinya ada di kredit. Sehingga, bisa mengkatrol nilai Kas menjadi tidak minus. Sedangkan saya kebalikan dari mereka. Makanya hasilnya minus.

Karena saya terkecoh dan tidak percaya diri, jadilah saya ikut-ikut mereka. Akun tersebut saya balik. Supaya tidak minus. Tapi dengan hasil yang ujungnya tidak balance.

Sedangkan hasil pertama saya tadi, balance. Syarat menghitung Neraca adalah Aset dan Kewajiban harus balance.

Sialnya kertas jawaban saya sudah langsung diambil dosen. Belum sempat mengganti lagi kejawaban saya sendiri. Dosen, sudah umumkan jawaban akhirnya. Dan jawaban awal saya yang benar.

Teman saya yang lain, yang ada dikursi depan. Mereka semua balance. Mungkin karena tuntutan duduk didepan tidak bisa tengok kanan kiri. Atau mungkin memang benar-benar yakin dan bisa atas usahanya sendiri.

Intinya, yang duduk dibagian tengah dan belakang. Mereka hanya bisa bilang “Yahhhh…..”, termasuk saya.

Padahal sebelum ujian, ibu saya berpesan “Jawab sesuai kemampuanmu, kalau kamu sudah belajar dan yakin, jawaban yang paling benar ya hasil dari pemikiran kamu sendiri. Jangan ikuti jawaban orang lain. Yang selesai duluan mengisi jawaban pun, belum tentu benar. Yang selesai paling belakangan pun belum tentu pintar. Yakin sama diri sendiri.

Saya jadi berandai-andai. Seandainya, seandainya dan seandainya. Ya itu lah, penyesalan selalu datang diakhir kejadian.

2. Kartu Ujian di Laminating

Kampus saya memang tidak mau ribet. Kartu ujian diprint sendiri oleh mahasiswa. Siapa saja yang sudah bayar kuliah, tidak ada tunggakan. Pasti bisa download kartu ujiannya sendiri. Terserah mau di print atau diapakan. Yang jelas disitu sudah ada barcodenya. Tugas akademik hanya men-scan barcode tersebut.

Saya print, kemudian saya laminating. Tidak saya perhatikan begitu detail, item apa saja yang ada dalam kartu ujian tersebut. Yang saya tahu, disitu hanya tertera; ruang kelas, nama mata kuliah, dan kode dosen. Saya tidak begitu memperhatikan yang lainnya.

Dengan terlalu percaya diri. Saya merasa bahwa kartu sayalah yang nantinya tidak akan lecek, sobek atau luntur terkena air. Karena sudah dilaminating dengan rapih.

Ternyata, saat ujian berlangsung. Dosen yang mengawas keliling, dan tanda tangan di kartu ujian masing-masing mahasiswa. Yang lain santai, karena mereka kertas biasa.

Giliran saya. Dosennya bingung, katanya “Kenapa kamu laminating? Saya kan jadi susah tanda tangannya“.

Saya tidak tahu bahwa disamping kolom mata kuliah, ada kolom untuk tanda tangan dosen yang mengawas. Niat saya supaya rapih, malah menyusahkan.

Ternyata terlalu yakin dan percaya diri itu juga berbahaya.

3. Nyontek Tapi Komplain

Kebiasaan pelajar Indonesia. Sudah malas berpikir, menyontek pun sambil komplain. Kalau banyak komplain, usahalah jawab sendiri. Toh, dengan komplain ke si yang kasih contek itu pun sebenarnya kalian sudah menemukan jawaban sendiri.

Hari Selasa kemarin, waktu ujian mata kuliah Pengantar Administrasi Publik. Di soal nomor 5 itu ada pertanyaan “Jelaskan pengertian seni dalam ilmu administrasi!

Karena Administrasi Publik termasuk kedalam ilmu dan seni. Saya jawab sesuai dengan pertanyaan.

Disitu sudah jelas-jelas tertera “pengertian seni dalam ilmu….” bukan “pengertian seni dan ilmu….“.

Teman belakang saya, sudah nyontek dia komplain. Katanya seperti ini, “Itu kan jawabannya dua, seni dan ilmu. Kenapa lu cuma seni doang. Ilmunya mana?”

Saya jelaskan berkali-kali untuk bedakan kata “dan” & “dalam“. Dia tetap ngeyel. Akhirnya saya bilang, “Udahlah kalo ngeyel, tulis jawaban lu sendiri, jangan nyontek“.

Dia balas dan dia bilang, “Yaudah, pokoknya gue udah ngasih tau. Jawaban lu pasti salah“.

Dengan percaya diri, dia maju kedepan mengumpulkan kertas jawabannya. Selesai lebih dulu daripada saya. Yang nomor 5 jawaban dia pasti salah. Dan saya belum tentu benar. Hehehe😂

Tiga Hari di Utara

Malam itu saya lanjutkan kembali perjalanan menuju Semarang. Naik kereta kelas ekonomi rasa premium.

Jadi dalam sehari sudah tiga tempat yang saya kunjungi sekaligus. Berangkat pukul 20.35 WIB dari Stasiun Tegal. Sedangkan teman saya start dari Stasiun Pekalongan. Sekitar 2 jam untuk sampai dari Tegal ke Semarang.

Pukul 22.45 WIB saya sampai di Stasiun Semarangponcol.

Belum dapat penginapan. Bingung ingin bermalam dimana. Akhirnya buka Traveloka, disekitar stasiun ada penginapan sementara.

Sleep & Sleep Capsule Semarang. Satu gedung dengan UNAKI (Universitas AKI). Nggak tahu AKI nya singkatan dari apa. Pokoknya ini universitas kristen. Biasanya untuk tempat inap sementara penumpang yang akan naik kereta.

Yang saya bayangkan tempat tidurnya seperti obat capsule, ternyata bukan. Bentuknya seperti kontainer, hanya perlu diberi sekat, tambahkan kasur, bantal, lampu dan tirai penutup. Permalam hanya dikenakan biaya Rp79.000. Dengan catatan tempat tidur berada di bagian bawah. Kalau yang lebih murah atau beda Rp10.000 tempat tidurnya ada di bagian atas. Hanya perlu berjuang, naik tangga dulu baru bisa tidur.

Sudah pagi, waktunya melanjutkan perjalanan. Cari sarapan dulu. Di Semarang itu kalau pagi, warung makan pinggir jalan belum banyak yang buka. Paling-paling di area tempat wisata. Karena yang terdekat dari tempat penginapan adalah Masjid Agung Semarang. Jadi saya memutuskan untuk cari sarapan disana.

Sebenarnya itu juga saran abang gojek sih. Sarapan yang murah dan enak itu ya nasi ayam. Selain harganya terjangkau, gorengan tempenya juga sangat murah. Rp500 bisa dapat dua. Es teh manis, atau bahasa kerennya sweet iced tea itu hanya Rp2.000/gelas. Sangat cocok dikantong para karyawan, ditanggal tua seperti saat ini.

Masjid Agung Semarang

Sudah kenyang, saya masuk mengunjungi Masjid terbesar di Jawa Tengah itu. Yang punya payung Ikonik, mirip payung yang ada di Masjid Nabawi. Luas sekali. Karena ini masih pagi, jadi belum banyak yang datang kesini. Ada sih beberapa rombongan bis, datang kesana. Untuk menyaksikan saudaranya akad nikah, haha😁

Melihat payung-payung itu saya jadi membayangkan, kalau saya ke Madinah. Ke Masjid Nabawi. Menyaksikan payung-payung itu terbuka, sholat dan ibadah disana. Saya akan lebih excited dan terharu. Untuk selanjutnya saya akan kesana (Baca : Masjid Nabawi)

Note : Silakan beri komentar “Aamiin” pada kolom komentar dibawah postingan ini

Kota Lama

Melanjutkan perjalan ke Kota Lama. Mirip Kota Tua yang ada di Jakarta, hanya saja tidak seramai Kota Tua. Bangunannya yang tua dan kusam itu menjadi daya tarik wisatawan. Bangunan zaman Belanda. Dari Masjid Agung Semarang, saya putuskan naik angkutan umum atau koasi. Dirasa-rasa kalau liburan, dan ingin jalan-jalan kesetiap tempat wisata naik ojek online, mahal juga.

Nah karena dari kunjungan ini juga, saya jadi tahu. Bahwa saya tidak perlu mengeluarkan uang mahal-mahal untuk kunjungan ke berbagai tempat wisata. Di Semarang itu kan ada juga Trans Semarang seperti di Jakarta. Tarifnya juga lebih murah 2x lipat.

Lawang Sewu

Tempat wisata yang identik dengan cerita horornya. Biasanya lokasi ini jadi tempat uji nyali, seperti yang ada di acara-acara TV yang ditayangkan ditengah malam. Lawang sewu tempat sejarahnya perkeretaapian Indonesia.

Sejak SD saya ingin sekali mengunjungi tempat ini. Ternyata baru bisa kesampaian di usia 19 tahun ini. Dan biasa-biasa saja. Tidak seram. Karena saya kesana siang hari. Numpang ngadem, diluar terik sekali.

Sam Poo Kong

Hari pertama liburan ke Semarang, hari terakhir juga karena langsung pulang. Yang terakhir ini mengunjungi Sam Poo Kong.

Disini tempat wisata yang ceritanya adalah bekas persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He/Cheng Ho.

Mie Kopyok

Melepas lelah, perut terasa lapar. Sedari di Bekasi, saya penasaran dengan makanan khas Semarang, Mie Kopyok. Dari namanya sepertinya cara buatnya dioyok-oyok. Isian lontong, mie kuning, dengan kuah mirip sop bening, ditambah tahu segitiga yang diiris, ditaburi irisan daun seledri dan diatasnya diberi remukan krupuk gendar. Ditambah sambal terasi, rasanya enak.

Tapi ada yang saya sayangkan, yaitu banyak batu dipotongan lontongnya. Mengurangi kenikmatan makan saya.

Sudah sore, saya harus kembali ke Stasiun. Meninggalkan Kota Semarang. Saya harus kembali melanjutkan perjalanan ke Pekalongan, daerah yang memiliki julukan Kota Batik itu.

Pekalongan

Tidak sepanjang cerita saya di Kota Semarang, karena disana pun tempat wisata itu jarang. Paling-paling pantai, tapi sepi pengunjung. Hanya saja di Kota Batik ini ada beberapa kebiasaan yang unik. Semisal, jarang minum air mineral.

Mungkin hampir semua orang yang tinggal di Pekalongan itu tidak suka minum air mineral, air bening, air rebusan, atau air yang tidak berwarna lah. Karena sewaktu saya disana, hampir setiap pagi, siang dan sore sehabis makan itu pasti minumnya teh manis. Anehnya semua gigi orang-orang disana kuat-kuat dan bersih, putih. Sayangnya banyak sampah plastik bekas teh manis kemasan disetiap pekarangan rumah warga.

Kemudian disetiap rumah, pasti selalu ada tulisan “Mohon Do’a Restu” yang dipajang. Baik diatas pintu masuk, atau diruang tamu. Tulisan ini memberikan tanda. Bahwa dirumah tersebut, pernah mengadakan suatu acara. Entah itu pernikahan, sunatan, atau kelahiran anak (gunting rambut).

Dan yang terakhir, kalau disini makan nasi itu harus pakai megono. Megono itu nangka muda yang dimasak dengan parutan kelapa dan irisan cabai kriting. Tapi menurut saya, dilidah saya khususnya, makanan itu terasa sangat aneh. Karena saya tidak suka daging kelapa😂

Aku Si Anak Bandel

Cerita ini sebenarnya sudah lama saya tuliskan, tapi masih tersimpan di draft. Karena hari ini adalah deadline menulis blog dan bingung ingin menceritakan sesuatu tentang apa. Akhirnya cerita yang sudah ada dirangkum kembali.

Bagi yang menyimak cerita-cerita saya sebelumnya pasti sudah tahu tentang keberanian saya menjelajah kota-kota yang ada di Pulau Jawa. Tapi sebelum cerita itu ada, sebenarnya saya adalah orang yang penakut. Takut bertanya, takut nyasar, takut pergi ke tempat jauh sendirian.

Karena sifat penakut itu, saya putuskan untuk pergi ke Semarang, ikut teman saya. Bertepatan juga dengan H+3 lebaran, saya langsung berburu tiket untuk bisa sampai ke Semarang.

Bolak-balik refresh situs resmi PT Kereta Api Indonesia. Hasilnya nihil. Saya kehabisan tiket. Keduluan. Gagal liburan.

Tapi karena saya niat. Saya buka peta Pulau Jawa yang ada rute perjalanan kereta apinya.

Untuk menghemat biaya, saya memilih untuk transit di beberapa stasiun. Tetapi dengan pertimbangan jadwal kereta yang akan saya tumpangi selanjutnya, untuk keberangkatannya harus lebih mundur 3 jam dari sampainya kereta pertama yang saya tumpangi.

Artinya jika saya naik KA Tegal Express dengan jam keberangkatan 07.25 WIB dari Stasiun Pasar Senen dan sampai di Stasiun Brebes pukul 11.45 WIB. Maka, kereta selanjutnya yang saya tumpangi, minimal jam keberangkatannya ada di pukul 15.00 WIB, start dari Stasiun Tegal.

Tujuannya supaya saya tidak tertinggal kereta selanjutnya, khawatir ada keterlambatan dari kereta pertama untuk sampai di stasiun transit.

Malam itu sebenarnya saya sudah menyerah, tidak mau ikut liburan. Apalagi hanya berdua saja. Perempuan dua-duanya juga. Tapi saya masih penasaran, saya cari kereta dengan tujuan Ps. Senen – Tegal.

Kenapa Tegal? Karena saya punya teman empat sekawan yang tinggal disana. Dan saya pikir satu hari boleh juga, bisa dua tempat sekaligus untuk saya kunjungi. Karena di peta, dua daerah itu satu arah.

Tapi sayang saya kehabisan tiket. Saya cari lagi. Terpikirkan oleh saya. Tetangga dekatnya Tegal itu siapa? Ternyata si Brebes. Saya paksakan cari tiket Ps. Senen – Brebes. ADA! Langsung saya pesan tiketnya. Urusan saya sampai di Brebes mau kemana itu belakangan. Yang penting saya sampai disana dulu. Jaman sekarang kan ada ojek online. Semua bisa dengan mudah dipesan secara online.

Selanjutnya saya mencari tiket untuk bisa sampai ke Semarang. Tegal – Semarangponcol. Ada. Masih banyak. Dan ternyata saya satu kereta dengan teman saya yang mengajak liburan itu. Semula dari kesepakatan bertemu di stasiun tujuan akhir Semarangponcol ternyata bertemu di kereta. Karena dia start dari Stasiun Pekalongan. Naik kereta yang sama.

Sebelum menceritakan bagaimana liburan saya di Semarang. Saya ingin menceritakan bagaimana liburan saya transit di Brebes dan Tegal.

Saya yang pada waktu itu baru pertama kali main jauh-jauh ke kampung orang, sampai di Brebes. Daerah yang identik dengan bawang merah dan telur asin. Yang biasanya dijajakan disepanjang jalan, yang disebut jalur pantura itu.

Awalnya saya juga memutuskan untuk lanjut perjalanan ke Tegal. Dengan usaha sendiri. Tetapi saya juga sudah usaha sih, untuk kabari teman yang ada di Tegal khawatir saya nyasar. Dan ternyata saya malah dijemput, di Stasiun Brebes. Oleh siapa? Oleh sepupunya Pak Boss. Kak Rani. Yang waktu itu baru pulang dari acara pernikahan temannya. Diajaklah saya ke Masjid Agung Brebes, letaknya disamping Alun-Alun Brebes, yang ada Monumen Bawang Merahnya. Dan saya baru tahu, ternyata rumah teman saya yang satu ini di Brebes saya kira semua orang Tegal. Ternyata tidak.

Kemudian mampir sekaligus lebaran kerumah tantenya si Boss. Disini saya disuguhi tahu aci. Yang harganya Rp7.000,- tapi banyak isinya. Artinya makanan ini sangat murah.

Pertemuan saya dengan ibunya Kak Rani, membuat saya tersinggung. Ibu nya bilang seperti ini ke saya.

“Oh ini, temannya yang dari Bekasi. Kamu sendirian? Wah, bandel ya bandel banget.”

Karena saya memang bandel, main jauh-jauh. Akhirnya saya cuma senyum-senyum saja. Kemudian pamit dan lanjut ke Tegal.

Kali ini kerumah Kak Winda. Disini juga saya disuguhi banyak makanan, yang tidak pernah ketinggalan. Tahu aci. Arum manis dan semua makanan yang manis-manis. Mengingat besok adalah hari lamarannya. Akhirnya kami memutuskan untuk singgah saja main sebentar di Alun-Alun Kota Tegal. Sebelum saya melanjutkan perjalanan ke Semarang.

Seperti biasa, sebelum kami sampai di alun-alun, maka harus saling samper menyamper. Yang terakhir mendatangi rumah Kak Nisa. Disini saya merasa tersingung lagi karena ucapan ibunya Kak Nisa. Sama seperti ibunya Kak Rani. Beliau bilang ini.

“Namanya siapa? Kesini sendirian. Dari Bekasi ya? Wah cewek tapi kok bandel.”

Karena saya malu, dan merasa nakal sekali. Akhirnya diperjalanan menuju alun-alun, saya memberanikan diri bertanya kepada Kak Rani.

“Kak Rani. Bandel itu kalau disini artinya apa? Nakal?”

Kak Rani bilang, “Bandel itu artinya berani, bukan nakal. Jadi kamu tuh dibilang bandel dari tadi itu bukan karena kamu nakal. Tapi berani.”

Mendengar itu saya jadi tertawa sendirian. Dan saya pikir, karena perbedaan bahasa dan arti. Saya jadi tersinggung sendiri. Padahal itu pujian. Maapkeun😂

Jadi bagaimana perjalanan anak bandel selanjutnya di kota yang punya slogan Kota ATLAS itu. Ada di postingan selanjutnya😁

Tapi besok ya….

 

Bakat Menulis Sudah Tertulis

Awal mengenal dan menulis blog itu, waktu saya masuk SMK jurusan TKJ. Dimana saya diharuskan posting tugas di blog. Belajar jadi blogger. Tapi yang paling sering saya posting adalah tutorial. Setiap seminggu sekali. Karena tugas selalu ada disetiap minggunya.

Tiap tengah malam, saya harus klik publish supaya minggu depan bisa dapat nilai.

Memposting cerita atau pengalaman hampir tidak pernah saya lakukan. Karena saya terlalu sibuk memikirkan, “memangnya kalau saya cerita dan mempostingnya siapa yang mau baca?

Tapi berbeda ketika saya sudah mulai bekerja di Excellent, setelah pulang brainstorming dari Puncak Cisarua, Bogor.

Semenjak itu juga saya sudah punya alamat website dengan nama domain sendiri, syaharani.web.id. Berasa jadi blogger sungguhan.

Berbekal pengalaman saya waktu SD, saat ikut lomba sinopsis.

Sebelumnya saya terpilih dalam seleksi lomba cerdas cermat untuk mewakilkan sekolah. Tetapi di akhir seleksi saya gagal. Dan akhirnya batal ikut lomba cerdas cermat.

Kemudian diganti dengan ikut lomba merakit perahu kecil dari bambu. Berteman dengan lem Korea. Yang kalau terkena kulit seperti terbakar.

Sudah cemong dengan lem itu, rok merah saya, sepatu saya dan baju seragam putih saya. Ternyata saya juga tidak jadi ikut lomba tersebut. Sempat jengkel. Merasa “Kok saya bodoh sekali ya, sampai nggk diikutkan lomba apa-apa”

Saya dipanggil ke ruang guru. Ternyata saya dipanggil untuk menggantikan teman saya yang ikut lomba sinopsis. Teman saya menggantikan saya untuk ikut lomba merakit perahu.

Saya sendiri tidak tahu, sinopsis itu seperti apa. Yang saya lakukan hari itu, hanya membaca satu cerita, kemudian menuliskannya kembali dengan gaya bahasa sendiri dan menggunakan huruf sambung, untuk selanjutnya menceritakan kembali kepada orang lain.

Kegiatan itu saya lakukan di ruang guru dua hari berturut-turut sebelum lomba dilaksanakan.

Di hari H, dengan nomor peserta 057. Saya maju mewakilkan sekolah. Pesertanya ada 172 siswa. Dari berbagai sekolah. Yang dipilih jadi juara nantinya hanya enam orang saja.

Selama satu setengah jam kami para peserta diberi waktu untuk membaca tiga cerita sekaligus. Kemudian diberi waktu satu setengah jam lagi untuk menuliskannya kembali. Siapa saja yang terpilih sebagai enam juara tersebut, berarti dia yang nantinya akan menceritakan kembali kepada juri. Disitu baru babak penentuannya, siapa juaranya dari yang paling juara.

Sebelum mendengar pengumuman babak final. Saya beserta team mengisi amunisi terlebih dahulu. Makan bakso dan es duren. Boleh nambah. Kalau juara. Bonusnya nanti dikasih dalam bentuk uang.

Sudah kenyang, terdengar pengumuman nomor perserta yang masuk babak final. Urutannya, 001, 038, 057 dan entah urutan tiga kebelakang saya lupa.

Intinya saya ada di antara enam orang tersebut. Saya senang juga takut. Masalahnya setelah makan, saya lupa jalan ceritanya. Saya sudah mengukur, bahwa didepan juri nanti saya pasti berhenti cerita karena lupa.

Benar saja, saya berhenti cerita. Saya lupa. Benar-benar lupa. Saya gagal menjadi juara I, II, III, Harapan I atau II. Saya hanya membawa pulang piala “Harapan III”. Juara akhirnya. Enam.

Tapi tidak apa-apa. Selain menambah pengalaman saya, ternyata itu kelebihan saya juga. Seandainya pun saya tetap ikut lomba merakit perahu, mungkin juga saya tidak membawa pulang piala. Seandainya pun teman saya yang tetap ikut lomba sinopsis, belum tentu juga dia bisa bawa pulang piala seperti saya.

Dalam arti, sebenarnya saya sudah menjadi penulis cilik zaman itu😌

Dan di tempat saya bekerja saat ini, sedang digalakkan rutin menulis blog setiap seminggu sekali.

Berkat dari pengalaman lomba sinopsis itu juga, sekarang saya bisa cerita panjang lebar disini. Melatih gaya bahasa saya, menjadi lebih baik dan orang mengerti maksud dari cerita yang saya sampaikan serta memperbanyak kosa kata.

Juga mencoret kalimat ini “memangnya kalau saya cerita dan mempostingnya siapa yang mau baca?“.

Kalau pun orang lain tidak membacanya “so what?” saya juga tidak dirugikan. Setidaknya sebelum posting ini ada ibu saya yang sudah membaca dan mengoreksi tiap-tiap kalimatnya. Hehe😁

Sugesti

Sebagian besar orang pada umumnya pasti sering mendengar kata “Sugesti”. Kata tersebut sering dikaitkan dengan hipnotis atau perbuatan yang cenderung negatif.

Sugesti adalah proses psikologis di mana seseorang membimbing pikiran, perasaan, atau perilaku orang lain atau mungkin dirinya sendiri.

Sejak mulai perkuliahan khususnya di mata kuliah pendidikan kepribadian. Saya baru menyadari. Malam ini. Alur dari cara dosen saya mengetahui sifat dan karakter setiap mahasiswanya.

Berawal dari mata kuliah tersebut, saya menyadari dan mulai mengenal karakter asli saya sendiri. Masalah kepribadian saya. Yang dominan dengan perilaku :

1. Sering merasa tertekan atau stress

2. Mencari aman untuk orang lain

3. Menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan

Ketiga masalah tersebut, sering saya alami atau mungkin sudah menjadi kebiasaan. Sering merasa tertekan atau stress, disebabkan karena saya terlalu memikirkan sesuatu yang membuat otak saya penuh dengan permasalahan. Timbul rasa selalu bersalah. Apapun yang saya lakukan adalah salah. Akhirnya sulit mencari solusi. Putus asa. Terus begitu. Tertanamlah sugesti, “kamu selalu salah”.

Stress itu sebenarnya kita sendiri yang buat. Kenapa saya bisa stress? Awalnya saya pasti menyesali setiap tindakan yang saya lakukan sebelum peristiwa tidak mengenakkan terjadi. Seperti, “Kenapa tadi begitu?”
“Kenapa tadi nggk begini saja?”
“Seharusnya saya nggak melakukan itu!”

Dan terus menyalahkan diri sendiri. Punya masalah tapi tidak punya solusi. Bercerita ke orang lain, orang lain pun sama-sama punya masalah. Lalu? Lalu saya sampaikan saja pada tulisan ini.

Itu contoh sugesti negatif yang ada pada diri saya. Tidak patut dicontoh dan sebaiknya selalu tanamkan sugesti positif.

Selanjutnya, mencari aman untuk orang lain. Mengapa saya menyebutkan seperti itu. Saya memiliki rasa “tidak enakan” terhadap orang lain. Hal ini membuat saya menjadi takut mengungkapkan isi hati dan takut menyampaikan apa yang saya rasakan.

Kadang apa yang tidak sepenuhnya saya lakukan, harus saya terima konsekuensinya sendiri. Seperti halnya melakukan sesuatu, yang sebenarnya saya hanya melanjutkan saja. Tapi karena finalnya disaya. Otomatis jika terjadi kesalahan, saya yang disalahkan. Padahal saya hanya meneruskan. Tapi kadang saya bilang pada diri sendiri, “Yaudahlah gapapa diomelin, yang penting dia jangan. Ga enak soalnya, nanti berantem.”

Begitu terus dan selalu. Alhasil, kalau dilihat akhir-akhir ini, saya sendiri yang nilainya kurang bagus. Padahal saya bisa jelaskan dan katakan, alurnya seperti apa. Saya punya alasan. Tapi balik lagi ke rasa “tidak enakan” itu. Membuat saya memendam sendirian.

Saya jadi penakut. Ini kelakuan buruk saya. Jangan ditiru. Saya pun malu sebenarnya. Dengan pertimbangan jika saya ubah itu, pasti banyak orang yang tidak suka.

Dan yang terakhir, menunjukkan kekhawatiran dan kecemasan. Saya adalah termasuk orang yang kalah sebelum berperang. Tidak percaya diri. Setiap tindakan yang tidak biasanya saya lakukan seperti presentasi di khalayak banyak atau ujian sertifikasi MTCNA contohnya, pasti membuat saya kalah diawal. Entah itu saya jadi nervous, keringat dingin, perut tiba-tiba mules atau mungkin tidak percaya diri pada jawaban sendiri dan lain sebagainya.

Biasanya saat saya ada diposisi seperti ini. Saya tunjukan dengan lompat-lompat panik dan tidak berhenti berbicara atau tanya ke diri sendiri, “nanti gimana ya aduhhhh?”. Seperti orang gila. Nanya sendiri, jawab sendiri, ketawa sendiri.

Tapi dari semua keraguan dan kekhawatiran saya, ada satu keyakinan. Di masa SMP dulu. Masih teringat saat saya mulai masuk ke kelas 9 SMP. Di semester awal. Guru agama saya Pak Syaifulloh. Beliau menjelaskan dan menerangkan tentang kekuatan Surah Al-Insyirah.

Beliau mengatakan, “Kalau kamu berada diposisi kesulitan, coba baca Surah Al-Insyirah. Sebanyak-banyaknya. Allah akan bantu, dengan meringankan beban kalian.”

Kalimat-kalimat itu menjadi sugesti positif untuk saya. Dari dulu, sekarang dan seterusnya. Setiap kali saya merasa cemas, kesulitan dan beberapa momen menegangkan. Saya selalu berhasil dan sukses. Bukan karena kalimat sugesti guru saya, tapi karena saya yakin inti sugestinya. Saya yakin, dengan saya membaca surah tersebut berkali-kali. Allah pasti mendengar dan akan kabulkan serta membantu saya. Berprasangka baik kepada Allah.

Buah dari kekhawatiran saya setelah meyakini bahwa Allah pasti bantu saya adalah lulus sertifikasi MTCNA. Bukan hanya karena beruntung tapi ini buah dari saya melawan kekhawatiran. Saya berani berperang dan ternyata saya menang.

Nggak Tahu! Karena Takut Salah Pencet

Perkembangan teknologi hingga kini semakin canggih. Dari mulai komputer tabung gendut sampai laptop dengan bentuk tipis, setipis laptop saya (baca: MacBook Air).

Kemudian pesawat telepon berkembang menjadi handphone. Yang paling terkenal waktu saya baru mulai sekolah TK, Nokia. Disebut sebagai handphone sejuta umat. Hingga saat ini muncul smartphone dari beragam tipe dan merk. Sudah layar sentuh semua.

Paling-paling handphone yang masih ada tombolnya yang kalau dipencet keras, hanya konter pulsa saja mungkin yang masih punya sampai sekarang.

Kegiatan sehari-hari pun semakin canggih. Bisa dilakukan secara online. Beli makanan online. Belanja pakaian online. Cari jodoh juga online.

Tapi, masih adakah orang yang gaptek alias gagap teknologi? Ada. Banyak sekali. Lambat mengikuti perkembangan zaman.

Akhir-akhir ini saya menemukan beberapa kejadian dimana masih banyak orang yang belum mengerti cara mengoperasikan laptop atau aplikasi.

Sebagai contoh, waktu seminggu yang lalu. Saat kuliah kelas malam. Mata kuliah Pendidikan Pancasila. Sebelum belajar, membiasakan diri menyanyikan lagu kebangsaan. Khusus mata kuliah tersebut.

Dosen saya sudah siap dengan laptopnya dan materi presentasinya. Hanya saja dosen saya tidak tahu cara mengkoneksikan antara laptop dengan projector supaya bisa menampilkan presentasi.

Saya perhatikan. Beliau kesulitan sendiri. Sudah 15 menit, beliau masih asik dan sibuk usaha bagaimana bisa menampilkan slide presentasinya dilayar projector.

Mungkin karena menyita waktu banyak, akhirnya beliau meminta tolong kepada kami semua. Anak didiknya.

Saya masih diam.

Belum ada yang maju juga untuk membantu beliau. Akhirnya saya yang maju. Menghampiri mejanya. Saya mulai atraksi mengarahkan kursor.

Pak dosen sibuk bolak-balik tanya ke saya, “Mbak bisa nggak mbak, ini nya dibikin jadi dua disebelah sini, nanti muncul disitu *sambil tunjuk layar

Saya bilang, “Bisa pak

Kata pak dosen lagi, “Tadi sebelum kesini saya dibilangin suruh pencet F5. Tapi kok begitu-begitu aja ya. Saya bingung.

Padahal saya hanya perlu membantunya klik 2x di icon slide show, di pojok kiri atas.

Akhirnya, muncul lah tampilan yang dimaksud dosen saya. Saya kembali ketempat duduk. Diiringi tepuk tangan dari teman sekelas.

Itu mudah. Bagi saya yang sudah tahu dan paham caranya. Sulit bagi mereka yang tidak tahu dan awam terkait hal tersebut.

Lalu apakah saya bisa disebut lebih keren dari mereka yang tidak mengerti? Tentu tidak. Mereka sebenarnya juga bisa. Hanya saja atau mungkin mereka takut salah pencet kemudian muncul tampilan aneh. Dan sulit mengembalikannya.

Sama seperti saya dulu, waktu saya belum mengerti apa itu softcopy dan hardcopy. Sejak kelas 7 SMP, saya sudah punya laptop dan smartphone. Sebenarnya kalau saya kritisi itu, saya kepo dan saya mau mempelajari, mungkin saya tidak perlu masuk SMK TKJ hanya untuk menghilangkan kegagapan saya terhadap teknologi.

Bahkan saya baru bisa dan mengerti cara print out kertas itu saat saya PKL di tempat bekerja saya sekarang ini. Malah setelah saya bisa melakukan hal mudah itu, jadi sering disuruh si Boss print out gambar menggunakan printer khusus. Install drivernya diatas OS Linux. Dulu. Waktu masih muda.

Yang kedua waktu saya meminta teman saya untuk saling follow instagram. Zaman sekarang siapa yang tidak kenal instagram. Hampir setiap orang punya aplikasi unggah foto bernama instagram ini.

Teman saya itu. Nurhaeni. Saya katakan seperti ini kepadanya, “Nur follow ig gue dong

Dia jawab, “Oh iya, boleh.”

Tapi dia seperti kebingungan. Kemudian menyodorkan smartphonenya kepada saya. Dia bilang, “Nih lu follow sendiri ya. Abis gue bingung kalo ditanya ig. Coba nama ig gue yang mana sih? Yang atas ini apa yang bawahnya?

Saya refleks, jadi menertawakannya. Saya jelaskan, “Nama ig lu itu yang ini nih, yang diatas foto.

Katanya lagi, “Oh yang itu. Pantesan ya kalo orang tanya nama ig gue apa, terus gue ketikin. Udah bener namanya, tapi kok fotonya bukan foto gue ya. Terus ini kok diig lu ga ada tulisan mengikuti. Adanya pesan. Ini ig lu kenapa?

Saya semakin tertawa geli karena ketidaktahuannya. Saya jelaskan lagi, “Itu udah saling follow. Makanya tulisannya berubah jadi kirim pesan. Jangan norak napa.

Dan saya lihat dilayar smartphone miliknya itu memang hanya ada dua aplikasi hasil unduhannya saja. WhatsApp dan Instagram, itupun iconnya masih versi yang lama, belum upgrade. Yang warna kameranya masih coklat.

Mungkin kalau dia juga tahu bahwa saya sama dengannya, waktu saya belum mengerti cara pesan ojek online. Dia bisa balik menertawakan saya.

Masih teringat saat saya pertama kali pesan ojek online dan langsung di accept kemudian dijemput. Saat kunjungan ke MNC Tower dan ingin melanjutkan perjalanan ke Wisma Cormic. Jakarta Pusat.

Kala itu tarifnya Rp2.000. Tarif untuk pelanggan pertama ojek online. Disitu pertama kali saya naik ojek online.

Sebelum-sebelumnya saya sudah coba memesan ojek online. Tapi tidak pernah ada yang mau pick up saya. Karena alamat rumah saya yang terpencil dipedalaman Rawa Bebek Bendungan. Mau tidak mau saya harus jalan terlebih dahulu. Ke depan. Ke jalan besar. Baru mau ada yang pick up.

Ketidaktahuan itu terpelihara selama beberapa tahun dari awal munculnya aplikasi ojek online tersebut. Karena saya takut salah pencet, saya takut abang gojek tidak menemukan alamat saya kemudian dicancel, menunggu kembali dan sebagainya. Alhasil untuk mencari tahu dan mengerti hal itu saya harus dalam keadaan benar-benar ‘ya mau gimana lagi?’ Mau nggak mau mulai saat ini saya sudah harus bisa caranya pesan ojek online, belanja online. Karena cuma itu yang bisa diandalkan di zaman yang serba online dan teknologi canggih ini.

Aku? Sudah Jadi Mahasiswi?

Sejak hari Senin kemarin, saya sudah memulai perkuliahan di institut tercinta. STIAMI. Saya seperti jilat ludah sendiri. Pasalnya saya pernah mengatakan “tidak mau kuliah disana”. Nyatanya sekarang saya jadi salah satu mahasiswa nya.

Hari pertama kuliah. Semangat itu pasti, terlalu semangat juga mungkin. Di jadwal perkuliahan saya itu tertera jam masuk pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Cukup lama, lima jam belajar untuk mengejar 19 SKS dalam satu semester ini.

Sekitar 16.30 WIB lebih sedikit saya sudah keluar kantor, menuju kampus. Untungnya kampus saya dekat dengan tempat kerja. Paling-paling kalau telat pasti karena macet dihadang palang pintu rel kereta, menunggu 2 sampai 3 kereta melintas secara bergantian.

Nama saya terdaftar di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) STIAMI. Jurusan Ilmu Administrasi Publik/Negara. Terkonsentrasi di Administrasi Perpajakan. Bukan basic saya dalam hal hitung menghitung. Di SMK dulu, selama 3 tahun saya belajar ilmu IT. Hanya saja pernah pengalaman satu tahun bekerja dibagian Finance & Accounting, kemudian tertarik dengan perpajakan. Karena alasan tertentu.

Di hari pertama ini, selain saya datang ontime ternyata saya juga dapat dosen pengajar yang tidak suka buang-buang time. Artinya, dia manfaatkan waktu untuk semaksimal mungkin mengejar materi. Dalam mata kuliah dasar-dasar akuntansi.

Dengan segala kedisplinannya, dibuatlah peraturan seperti ini :

1. Mahasiswa harus datang tepat waktu, apabila datang terlambat dengan alasan apapun maka dianggap tidak hadir.

2. Tidak diperkenankan membunyikan dan membuka handphone ketika kegiatan belajar sedang berlangsung. Yang diatas meja hanya buku note dan pulpen.

3. Menghitung menggunakan kalkulator atau alat hitung lainnya. Tidak boleh kalkulator hp atau laptop.

4. Pengumpulan tugas sesuai deadline, apabila lewat dari batas pengumpulan tugas maka dianggap tidak mengerjakan.

5. Kuis tidak menggunakan kertas atau alat catat lainnya, harus maju satu persatu tulis langsung di papan tulis.

6. Ketika UTS atau UAS wajib menggunakan pensil 2B.

Serasa seperti waktu SMP dulu.

Yang semula saya kira masih masa-masa perkenalan dan mungkin tidak belajar ternyata malah belajar dan dapat tugas. Masih dasar lho ya, tapi sudah lumayan buat otak seperti kelebihan kapasitas.

Ketika pelajaran ini berlangsung, mata saya seperti dipaksa untuk bangun. Terus memperhatikan dosen itu, kekanan atau kekiri. Terus saya ikuti, hingga jam pelajarannya berakhir. Pelajaran yang disampaikan beliau, ternyata ada semua di aplikasi Zoho. Aplikasi keuangan di kantor saya. Jadi saya masih bisa santai.

Masuk ke mata kuliah kedua. Bahasa Inggris I. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Semangat mulai kendor. Ngantuk. Padahal di mata kuliah ini hanya belajar cara perkenalan diri formal/informal. Mudah tapi malu dipraktekkan.

Dari awal hingga akhir pelajaran, dosen saya yang dahi dan sebagian kepalanya selalu bersinar itu berbicara dalam bahasa inggris. Alhamdulillah saya paham dan mengerti. Yang kasihan itu teman depan dan kanan kiri saya.

Teman depan saya tinggal di Rawa Kuning, teman kanan saya tinggal di Rawa Lumbu, dan teman kiri saya tinggal di Kp. Bulu daerah Tambun. Mereka semua orang betawi asli. Nyablak beud. Mereka protes ke dosennya. Minta jangan ngomong pakai bahasa Inggris terus. Nggak ngerti.

Di sesi motivasi.

Kata teman kiri saya dengan logatnya, “Liat dah, mata dosennya ngondoi ya, udah botak separo, suaranya mirip, pas banget lagi motivasiin orang. Mirip siapa dah? Mirip Mario Teguh kaga pake kacamata

Rumpi. Gara-gara ucapan itu barisan sejajar saya tertawa. Dosen bahasa Inggris saya itu sadar. Kemudian dia jelaskan. Three problems of listening (tiga masalah dalam belajar)

1. False Listening (Salah Mendengarkan)
2. Distraction (Gangguan)
3. Critical Listening (Mengkritik Pelajaran)

Sambil matanya selalu ke arah barisan sejajar kami. Mungkin itu singgungan untuk saya dan teman-teman saya.

Lagi pula sudah malam. Kelas saya yang terakhir keluar. Belajar bahasa Inggris itu salah jadwal, alhasil jawabnya “yes yes yes” saja biar cepat pulang. Sudah gelisah, melihat kelas lain sudah dipulangkan. Tapi kata dosen saya itu termasuk kedalam “masalah gangguan”, yang ada di nomor dua. Jadi kami meneruskan pelajaran hingga jam 21.45 WIB. Sampai kampus mulai gelap.

Sungguh kesan kuliah pertama yang melelahkan. Seperti ini rasanya kuliah selepas bekerja.

Tapi saya appreciate juga kepada teman-teman seperjuangan yang sudah berkeluarga atau buruh pabrik menjelang habis kontrak, yang masih mau belajar. Cari ilmu. Untuk masa depan. Ada keinginan kuliah, dan berani menjalani saja itu sudah punya nilai tambah. Bonusnya nanti kalau sudah lulus, ada gelar S.AP dibelakang nama kami semua yang saat ini sedang mengejar reward tersebut. In Shaa Allah.

Mengejar, Menyelesaikan, Mendapatkan

Bulan ini adalah bulan pertama saya masuk kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Bekasi. Walaupun baru dimulai minggu depan. Tapi tidak masalah, yang penting saya bisa kuliah tahun ini.

Saya lulus dari SMK pada bulan Mei tahun 2017. Mulai bekerja di Excellent sekitar bulan April 2017, selang satu hari setelah UN dilaksanakan. Belum mau kuliah. Karena melihat keadaan waktu itu. Belum ada biaya dari diri sendiri. Itu salah satu cita-cita saya. Kuliah dengan biaya sendiri. Tujuannya supaya lebih menghargai uang dan waktu.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari uang terlebih dahulu. Nabung setahun. Besyukur, karena Boss saya juga mendukung setiap karyawannya yang ingin melanjutkan pendidikan hingga dapat gelar Sarjana.

Perjuangan untuk bisa kuliah di tahun ini, tidak mudah. Dari mulai menahan diri untuk menabung, hingga kesulitan untuk bisa diakui sebagai mahasiswa baru.

Baru-baru ini, sekitar seminggu yang lalu. Ada kejadian dimana saya belum bisa juga validasi data sebagai mahasiswa baru. Saya panik, karena perkuliahan akan dimulai dua minggu lagi.

Teman-teman satu kantor pun sudah mulai bertanya “kapan masuk kuliah?“.

Saya cuma bisa jawab “Nanti tanggal 17, Senin depan“.

Padahal saya belum tahu lebih lanjut soal data diri saya yang sulit divalidasi.

Waktu itu saya ke kampus untuk ambil buku rekening mahasiswa. Karena saya bayar lebih awal sebelum perkuliahan di mulai, seharusnya saya dapat souvenir dari kampus. Tapi sampai saat itu saya belum juga dapat souvenir. Saya minta ke bagian Accounting, dan jawabannya adalah saya tidak bisa ambil souvenir karena keterangan di data mereka saya belum bayar kuliah.

Saya kaget. Bagian Accounting bilang untuk tanya ke bagian Marketing. Saya konfirmasi bukti bayar kepada kedua bagian tersebut. Hasilnya, tetap sama.

Saya dioper kesana kemari. Tiap kali saya reminder ke bagian Marketingnya via Whatsapp jawabannya, “Santai, nanti juga bisa kok. Ini kesalahan di kami bukan mahasiswa“.

Tapi faktanya, sampai di minggu-minggu selanjutnya belum ada update informasi terkait hal tersebut. Sampai akhirnya, di hari Jumat minggu lalu. Saya asik cerita kepada rekan kerja tentang permasalahan bayar kuliah yang belum rampung. Yang sampai terdengar oleh si Boss.

Sontak si Boss tanya kenapa-kenapa nya. Saya gugup untuk jawabnya. Akhirnya saya jelaskan dari awal, sampai si Boss mengerti maksud saya.

Pak Boss bilang, bahwa kejadian seperti itu “harus segera diselesaikan, dikejar sampai dapat“. Kalau perlu bawa pihak berwajib, katanya. Karena saya seperti dipermainkan. Padahal niat saya mau belajar.

Dipikir-pikir benar juga. Saya sudah beberapa kali bolak-balik ke kampus dengan hasil nihil dan alasan yang sama. Padahal untuk masalah sekecil itu bisa diselesaikan dengan cepat. “Jika saya lebih tegas“.

Berhubung saya termasuk orang yang selalu merasa “tidak enak” bicara dengan maksud tegas ke orang lain. Akhirnya malah saya yang seperti dipermainkan.

Sore itu juga, si Boss mengizinkan saya pulang lebih awal untuk pergi ke kampus. Menyelesaikan permasalahan tersebut. Bersama dengan rekan kerja saya, yang berperan aktif menemani saya layaknya kakak.

Dan. Ketika saya sampai kampus, belum sempat saya bicara. Marketingnya bilang bahwa validasi NPM saya sudah berhasil. Saya curiga dia bisa telepati. Jadi dia bisa mendengar omongan Boss saya. Hehe😁

*Nggk, itu khayalan tingkat tinggi saya saja.

Hari itu juga si Marketing instruksikan saya ke ruangan 105. Ambil baju, untuk dipakai besok, karena ada event penutupan ospek mahasiswa baru. Saya pura-pura tidak tahu soal event itu.

Yang saya tahu, bahwa saya “tidak diundang” atau “lupa diundang”?

Di hari Sabtu saya datang, untuk peresmian mahasiswa baru. Sudah bisa pakai almamater. Sudah resmi. Ada sekitar 3.000 mahasiswa baru yang datang ke event tersebut. Dan saya menyadari, bahwa saya adalah salah satu dari 3.000 mahasiswa baru yang tidak/lupa diundang ke acara tersebut.

Miris.

Yang penting saya sudah dapat jadwal kuliah. Dan siap kerja sambil kuliah hingga 4 tahun kedepan. Menunda kuliah saat ini, sama dengan menunda menikah selama setahun.

Jadi intinya, kalau ada sesuatu yang diinginkan semaksimal mungkin harus diusahakan, dikejar sampai dapat. Kata si Boss, “Kalau suka perempuan, coba kejar sampai dia bilang ‘iya’ dan mau sama kamu.

Nah saya juga sama, “Kalau kamu suka aku, kejar aku, sampai aku bilang iya”.

Iyaiyaiya🤣