Tiga Hari di Utara

Malam itu saya lanjutkan kembali perjalanan menuju Semarang. Naik kereta kelas ekonomi rasa premium.

Jadi dalam sehari sudah tiga tempat yang saya kunjungi sekaligus. Berangkat pukul 20.35 WIB dari Stasiun Tegal. Sedangkan teman saya start dari Stasiun Pekalongan. Sekitar 2 jam untuk sampai dari Tegal ke Semarang.

Pukul 22.45 WIB saya sampai di Stasiun Semarangponcol.

Belum dapat penginapan. Bingung ingin bermalam dimana. Akhirnya buka Traveloka, disekitar stasiun ada penginapan sementara.

Sleep & Sleep Capsule Semarang. Satu gedung dengan UNAKI (Universitas AKI). Nggak tahu AKI nya singkatan dari apa. Pokoknya ini universitas kristen. Biasanya untuk tempat inap sementara penumpang yang akan naik kereta.

Yang saya bayangkan tempat tidurnya seperti obat capsule, ternyata bukan. Bentuknya seperti kontainer, hanya perlu diberi sekat, tambahkan kasur, bantal, lampu dan tirai penutup. Permalam hanya dikenakan biaya Rp79.000. Dengan catatan tempat tidur berada di bagian bawah. Kalau yang lebih murah atau beda Rp10.000 tempat tidurnya ada di bagian atas. Hanya perlu berjuang, naik tangga dulu baru bisa tidur.

Sudah pagi, waktunya melanjutkan perjalanan. Cari sarapan dulu. Di Semarang itu kalau pagi, warung makan pinggir jalan belum banyak yang buka. Paling-paling di area tempat wisata. Karena yang terdekat dari tempat penginapan adalah Masjid Agung Semarang. Jadi saya memutuskan untuk cari sarapan disana.

Sebenarnya itu juga saran abang gojek sih. Sarapan yang murah dan enak itu ya nasi ayam. Selain harganya terjangkau, gorengan tempenya juga sangat murah. Rp500 bisa dapat dua. Es teh manis, atau bahasa kerennya sweet iced tea itu hanya Rp2.000/gelas. Sangat cocok dikantong para karyawan, ditanggal tua seperti saat ini.

Masjid Agung Semarang

Sudah kenyang, saya masuk mengunjungi Masjid terbesar di Jawa Tengah itu. Yang punya payung Ikonik, mirip payung yang ada di Masjid Nabawi. Luas sekali. Karena ini masih pagi, jadi belum banyak yang datang kesini. Ada sih beberapa rombongan bis, datang kesana. Untuk menyaksikan saudaranya akad nikah, hahašŸ˜

Melihat payung-payung itu saya jadi membayangkan, kalau saya ke Madinah. Ke Masjid Nabawi. Menyaksikan payung-payung itu terbuka, sholat dan ibadah disana. Saya akan lebih excited dan terharu. Untuk selanjutnya saya akan kesana (Baca :Ā Masjid Nabawi)

Note : Silakan beri komentar “Aamiin” pada kolom komentar dibawah postingan ini

Kota Lama

Melanjutkan perjalan ke Kota Lama. Mirip Kota Tua yang ada di Jakarta, hanya saja tidak seramai Kota Tua. Bangunannya yang tua dan kusam itu menjadi daya tarik wisatawan. Bangunan zaman Belanda. Dari Masjid Agung Semarang, saya putuskan naik angkutan umum atau koasi. Dirasa-rasa kalau liburan, dan ingin jalan-jalan kesetiap tempat wisata naik ojek online, mahal juga.

Nah karena dari kunjungan ini juga, saya jadi tahu. Bahwa saya tidak perlu mengeluarkan uang mahal-mahal untuk kunjungan ke berbagai tempat wisata. Di Semarang itu kan ada juga Trans Semarang seperti di Jakarta. Tarifnya juga lebih murah 2x lipat.

Lawang Sewu

Tempat wisata yang identik dengan cerita horornya. Biasanya lokasi ini jadi tempat uji nyali, seperti yang ada di acara-acara TV yang ditayangkan ditengah malam. Lawang sewu tempat sejarahnya perkeretaapian Indonesia.

Sejak SD saya ingin sekali mengunjungi tempat ini. Ternyata baru bisa kesampaian di usia 19 tahun ini. Dan biasa-biasa saja. Tidak seram. Karena saya kesana siang hari. Numpang ngadem, diluar terik sekali.

Sam Poo Kong

Hari pertama liburan ke Semarang, hari terakhir juga karena langsung pulang. Yang terakhir ini mengunjungi Sam Poo Kong.

Disini tempat wisata yang ceritanya adalah bekas persinggahanĀ dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Zheng He/Cheng Ho.

Mie Kopyok

Melepas lelah, perut terasa lapar. Sedari di Bekasi, saya penasaran dengan makanan khas Semarang, Mie Kopyok. Dari namanya sepertinya cara buatnya dioyok-oyok. Isian lontong, mie kuning, dengan kuah mirip sop bening, ditambah tahu segitiga yang diiris, ditaburi irisan daun seledri dan diatasnya diberi remukan krupuk gendar. Ditambah sambal terasi, rasanya enak.

Tapi ada yang saya sayangkan, yaitu banyak batu dipotongan lontongnya. Mengurangi kenikmatan makan saya.

Sudah sore, saya harus kembali ke Stasiun. Meninggalkan Kota Semarang. Saya harus kembali melanjutkan perjalanan ke Pekalongan, daerah yang memiliki julukan Kota Batik itu.

Pekalongan

Tidak sepanjang cerita saya di Kota Semarang, karena disana pun tempat wisata itu jarang. Paling-paling pantai, tapi sepi pengunjung. Hanya saja di Kota Batik ini ada beberapa kebiasaan yang unik. Semisal, jarang minum air mineral.

Mungkin hampir semua orang yang tinggal di Pekalongan itu tidak suka minum air mineral, air bening, air rebusan, atau air yang tidak berwarna lah. Karena sewaktu saya disana, hampir setiap pagi, siang dan sore sehabis makan itu pasti minumnya teh manis. Anehnya semua gigi orang-orang disana kuat-kuat dan bersih, putih. Sayangnya banyak sampah plastik bekas teh manis kemasan disetiap pekarangan rumah warga.

Kemudian disetiap rumah, pasti selalu ada tulisan “Mohon Do’a Restu” yang dipajang. Baik diatas pintu masuk, atau diruang tamu. Tulisan ini memberikan tanda. Bahwa dirumah tersebut, pernah mengadakan suatu acara. Entah itu pernikahan, sunatan, atau kelahiran anak (gunting rambut).

Dan yang terakhir, kalau disini makan nasi itu harus pakai megono. Megono itu nangka muda yang dimasak dengan parutan kelapa dan irisan cabai kriting. Tapi menurut saya, dilidah saya khususnya, makanan itu terasa sangat aneh. Karena saya tidak suka daging kelapašŸ˜‚

2 thoughts on “Tiga Hari di Utara”

  1. Aaamiiin… Semoga niat ke Masjid Nabawi baik untuk umroh maupun haji bisa kesampaian…

    Makan mie kopyok dengan lontong banyak batu? Itu mungkin upaya mengurangi biaya disaat ekonomi sulit, hehehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *