Aku? Sudah Jadi Mahasiswi?

Sejak hari Senin kemarin, saya sudah memulai perkuliahan di institut tercinta. STIAMI. Saya seperti jilat ludah sendiri. Pasalnya saya pernah mengatakan “tidak mau kuliah disana”. Nyatanya sekarang saya jadi salah satu mahasiswa nya.

Hari pertama kuliah. Semangat itu pasti, terlalu semangat juga mungkin. Di jadwal perkuliahan saya itu tertera jam masuk pukul 17.00 WIB hingga 22.00 WIB. Cukup lama, lima jam belajar untuk mengejar 19 SKS dalam satu semester ini.

Sekitar 16.30 WIB lebih sedikit saya sudah keluar kantor, menuju kampus. Untungnya kampus saya dekat dengan tempat kerja. Paling-paling kalau telat pasti karena macet dihadang palang pintu rel kereta, menunggu 2 sampai 3 kereta melintas secara bergantian.

Nama saya terdaftar di Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) STIAMI. Jurusan Ilmu Administrasi Publik/Negara. Terkonsentrasi di Administrasi Perpajakan. Bukan basic saya dalam hal hitung menghitung. Di SMK dulu, selama 3 tahun saya belajar ilmu IT. Hanya saja pernah pengalaman satu tahun bekerja dibagian Finance & Accounting, kemudian tertarik dengan perpajakan. Karena alasan tertentu.

Di hari pertama ini, selain saya datang ontime ternyata saya juga dapat dosen pengajar yang tidak suka buang-buang time. Artinya, dia manfaatkan waktu untuk semaksimal mungkin mengejar materi. Dalam mata kuliah dasar-dasar akuntansi.

Dengan segala kedisplinannya, dibuatlah peraturan seperti ini :

1. Mahasiswa harus datang tepat waktu, apabila datang terlambat dengan alasan apapun maka dianggap tidak hadir.

2. Tidak diperkenankan membunyikan dan membuka handphone ketika kegiatan belajar sedang berlangsung. Yang diatas meja hanya buku note dan pulpen.

3. Menghitung menggunakan kalkulator atau alat hitung lainnya. Tidak boleh kalkulator hp atau laptop.

4. Pengumpulan tugas sesuai deadline, apabila lewat dari batas pengumpulan tugas maka dianggap tidak mengerjakan.

5. Kuis tidak menggunakan kertas atau alat catat lainnya, harus maju satu persatu tulis langsung di papan tulis.

6. Ketika UTS atau UAS wajib menggunakan pensil 2B.

Serasa seperti waktu SMP dulu.

Yang semula saya kira masih masa-masa perkenalan dan mungkin tidak belajar ternyata malah belajar dan dapat tugas. Masih dasar lho ya, tapi sudah lumayan buat otak seperti kelebihan kapasitas.

Ketika pelajaran ini berlangsung, mata saya seperti dipaksa untuk bangun. Terus memperhatikan dosen itu, kekanan atau kekiri. Terus saya ikuti, hingga jam pelajarannya berakhir. Pelajaran yang disampaikan beliau, ternyata ada semua di aplikasi Zoho. Aplikasi keuangan di kantor saya. Jadi saya masih bisa santai.

Masuk ke mata kuliah kedua. Bahasa Inggris I. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Semangat mulai kendor. Ngantuk. Padahal di mata kuliah ini hanya belajar cara perkenalan diri formal/informal. Mudah tapi malu dipraktekkan.

Dari awal hingga akhir pelajaran, dosen saya yang dahi dan sebagian kepalanya selalu bersinar itu berbicara dalam bahasa inggris. Alhamdulillah saya paham dan mengerti. Yang kasihan itu teman depan dan kanan kiri saya.

Teman depan saya tinggal di Rawa Kuning, teman kanan saya tinggal di Rawa Lumbu, dan teman kiri saya tinggal di Kp. Bulu daerah Tambun. Mereka semua orang betawi asli. Nyablak beud. Mereka protes ke dosennya. Minta jangan ngomong pakai bahasa Inggris terus. Nggak ngerti.

Di sesi motivasi.

Kata teman kiri saya dengan logatnya, “Liat dah, mata dosennya ngondoi ya, udah botak separo, suaranya mirip, pas banget lagi motivasiin orang. Mirip siapa dah? Mirip Mario Teguh kaga pake kacamata

Rumpi. Gara-gara ucapan itu barisan sejajar saya tertawa. Dosen bahasa Inggris saya itu sadar. Kemudian dia jelaskan. Three problems of listening (tiga masalah dalam belajar)

1. False Listening (Salah Mendengarkan)
2. Distraction (Gangguan)
3. Critical Listening (Mengkritik Pelajaran)

Sambil matanya selalu ke arah barisan sejajar kami. Mungkin itu singgungan untuk saya dan teman-teman saya.

Lagi pula sudah malam. Kelas saya yang terakhir keluar. Belajar bahasa Inggris itu salah jadwal, alhasil jawabnya “yes yes yes” saja biar cepat pulang. Sudah gelisah, melihat kelas lain sudah dipulangkan. Tapi kata dosen saya itu termasuk kedalam “masalah gangguan”, yang ada di nomor dua. Jadi kami meneruskan pelajaran hingga jam 21.45 WIB. Sampai kampus mulai gelap.

Sungguh kesan kuliah pertama yang melelahkan. Seperti ini rasanya kuliah selepas bekerja.

Tapi saya appreciate juga kepada teman-teman seperjuangan yang sudah berkeluarga atau buruh pabrik menjelang habis kontrak, yang masih mau belajar. Cari ilmu. Untuk masa depan. Ada keinginan kuliah, dan berani menjalani saja itu sudah punya nilai tambah. Bonusnya nanti kalau sudah lulus, ada gelar S.AP dibelakang nama kami semua yang saat ini sedang mengejar reward tersebut. In Shaa Allah.

Mengejar, Menyelesaikan, Mendapatkan

Bulan ini adalah bulan pertama saya masuk kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Bekasi. Walaupun baru dimulai minggu depan. Tapi tidak masalah, yang penting saya bisa kuliah tahun ini.

Saya lulus dari SMK pada bulan Mei tahun 2017. Mulai bekerja di Excellent sekitar bulan April 2017, selang satu hari setelah UN dilaksanakan. Belum mau kuliah. Karena melihat keadaan waktu itu. Belum ada biaya dari diri sendiri. Itu salah satu cita-cita saya. Kuliah dengan biaya sendiri. Tujuannya supaya lebih menghargai uang dan waktu.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mencari uang terlebih dahulu. Nabung setahun. Besyukur, karena Boss saya juga mendukung setiap karyawannya yang ingin melanjutkan pendidikan hingga dapat gelar Sarjana.

Perjuangan untuk bisa kuliah di tahun ini, tidak mudah. Dari mulai menahan diri untuk menabung, hingga kesulitan untuk bisa diakui sebagai mahasiswa baru.

Baru-baru ini, sekitar seminggu yang lalu. Ada kejadian dimana saya belum bisa juga validasi data sebagai mahasiswa baru. Saya panik, karena perkuliahan akan dimulai dua minggu lagi.

Teman-teman satu kantor pun sudah mulai bertanya “kapan masuk kuliah?“.

Saya cuma bisa jawab “Nanti tanggal 17, Senin depan“.

Padahal saya belum tahu lebih lanjut soal data diri saya yang sulit divalidasi.

Waktu itu saya ke kampus untuk ambil buku rekening mahasiswa. Karena saya bayar lebih awal sebelum perkuliahan di mulai, seharusnya saya dapat souvenir dari kampus. Tapi sampai saat itu saya belum juga dapat souvenir. Saya minta ke bagian Accounting, dan jawabannya adalah saya tidak bisa ambil souvenir karena keterangan di data mereka saya belum bayar kuliah.

Saya kaget. Bagian Accounting bilang untuk tanya ke bagian Marketing. Saya konfirmasi bukti bayar kepada kedua bagian tersebut. Hasilnya, tetap sama.

Saya dioper kesana kemari. Tiap kali saya reminder ke bagian Marketingnya via Whatsapp jawabannya, “Santai, nanti juga bisa kok. Ini kesalahan di kami bukan mahasiswa“.

Tapi faktanya, sampai di minggu-minggu selanjutnya belum ada update informasi terkait hal tersebut. Sampai akhirnya, di hari Jumat minggu lalu. Saya asik cerita kepada rekan kerja tentang permasalahan bayar kuliah yang belum rampung. Yang sampai terdengar oleh si Boss.

Sontak si Boss tanya kenapa-kenapa nya. Saya gugup untuk jawabnya. Akhirnya saya jelaskan dari awal, sampai si Boss mengerti maksud saya.

Pak Boss bilang, bahwa kejadian seperti itu “harus segera diselesaikan, dikejar sampai dapat“. Kalau perlu bawa pihak berwajib, katanya. Karena saya seperti dipermainkan. Padahal niat saya mau belajar.

Dipikir-pikir benar juga. Saya sudah beberapa kali bolak-balik ke kampus dengan hasil nihil dan alasan yang sama. Padahal untuk masalah sekecil itu bisa diselesaikan dengan cepat. “Jika saya lebih tegas“.

Berhubung saya termasuk orang yang selalu merasa “tidak enak” bicara dengan maksud tegas ke orang lain. Akhirnya malah saya yang seperti dipermainkan.

Sore itu juga, si Boss mengizinkan saya pulang lebih awal untuk pergi ke kampus. Menyelesaikan permasalahan tersebut. Bersama dengan rekan kerja saya, yang berperan aktif menemani saya layaknya kakak.

Dan. Ketika saya sampai kampus, belum sempat saya bicara. Marketingnya bilang bahwa validasi NPM saya sudah berhasil. Saya curiga dia bisa telepati. Jadi dia bisa mendengar omongan Boss saya. Hehe?

*Nggk, itu khayalan tingkat tinggi saya saja.

Hari itu juga si Marketing instruksikan saya ke ruangan 105. Ambil baju, untuk dipakai besok, karena ada event penutupan ospek mahasiswa baru. Saya pura-pura tidak tahu soal event itu.

Yang saya tahu, bahwa saya “tidak diundang” atau “lupa diundang”?

Di hari Sabtu saya datang, untuk peresmian mahasiswa baru. Sudah bisa pakai almamater. Sudah resmi. Ada sekitar 3.000 mahasiswa baru yang datang ke event tersebut. Dan saya menyadari, bahwa saya adalah salah satu dari 3.000 mahasiswa baru yang tidak/lupa diundang ke acara tersebut.

Miris.

Yang penting saya sudah dapat jadwal kuliah. Dan siap kerja sambil kuliah hingga 4 tahun kedepan. Menunda kuliah saat ini, sama dengan menunda menikah selama setahun.

Jadi intinya, kalau ada sesuatu yang diinginkan semaksimal mungkin harus diusahakan, dikejar sampai dapat. Kata si Boss, “Kalau suka perempuan, coba kejar sampai dia bilang ‘iya’ dan mau sama kamu.

Nah saya juga sama, “Kalau kamu suka aku, kejar aku, sampai aku bilang iya”.

Iyaiyaiya?

Belajar Renang Sampai ke Tepian

Pekan lalu Excellent mengadakan kegiatan olahraga bersama. Saya menjadi salah satu peserta barunya. Kegiatan ini sudah berlangsung sejak bulan Juli lalu, dimana saya baru pulang liburan jalan-jalan seminggu.

Sebelum kegiatan ini dilaksanakan, kami sudah votting untuk tiap olahraga yang akan diikuti. Team laki-laki biasanya main futsal, team perempuan main badminton. Tapi kali ini berbeda, semua sama rata ikut olahraga main air. Berenang. Awalnya saya tidak ingin berenang. Berhubung lapangan badminton di hari Minggu khusus untuk member sport club disana, akhirnya saya harus ikut berenang.

Semua team diwajibkan datang dan kumpul di sport club jam 08.00 WIB.

Karena diawal kegiatan ini (bulan lalu) saya tidak ikut serta, jadi saya tidak tahu tempat olahraganya dimana. Diskusi di group. Kami team perempuan punya group sendiri, membernya hanya 3 orang saja termasuk saya sendiri. Janjian untuk kumpul sementara dan start dari Markas Excellent ke Sport Club Hafana.

Kesepakatan kumpul pukul 07.00 WIB. Karena saya merasa rumah saya yang paling jauh, akhirnya sebelum jam 07.00 saya sudah stay di Markas. Buru-buru. Sampai lupa jam biologis. Upload tiap pagi. Saya sudah mengira bahwa ini bakal jadi urusan. Tapi karena saya takut mereka berdua yang sampai lebih dulu dan mencak-mencak, akhirnya biar saya yang tunggu mereka.

Yang ditunggu-tunggu belum datang juga. Dua rekan saya itu. Ternyata mereka masih di rumah. Saya belum kesal. Masih biasa-biasa saja. Saya lihat di group sudah ada yang respon pertanyaan saya yang menanyakan keberadaan mereka. Salah satu dari mereka berdua, yang juga pemimpin barisan berangkat ke Hafana bilang “OTW”. Saya senang membacanya.

Jarak rumahnya ke Markas Excellent mungkin setengah dari jarak rumah saya ke Markas Excellent. Masih ada banyak waktu, saya putuskan isi bensin sebentar.

Saya cek kembali isi chat di group. Ternyata yang tadi bilang “OTW”, pulang lagi ke rumahnya. Upload dulu katanya. Kok saya mulai kesal ya. Untunglah yang satu lagi respon, kalau dia sedang siap-siap. Kemudian dia bilang “OTW”. Tidak lama kemudian, dia juga sama. Harus balik lagi ke rumahnya karena ingin upload.

Jadilah saya. Ikutan mules. Mereka berdua enak bisa pulang lagi. Lah saya? Harus nunggu mereka dulu, sampai di Hafana baru bisa ke toilet. Parah. Padahal pagi itu saya harus melewati kebiasaan saya. Upload kemudian sarapan. Kalau upload saya belum terlaksana, mana bisa saya sarapan.

Sekitar jam 07.30 WIB kami bertiga baru kumpul di Markas, dari janjinya yang sepakat “Jam 7 ya“.

Iyaiyaiya. Jam 7 lebih 30 menit.

Kami berangkat menuju Sport Club Hafana, dipimpin oleh Mbak Rahmi dan dipandu oleh Alifa. Tidak sampai setengah jam kami sampai ditujuan. Dan kami bertiga lah yang sampai duluan. Kesempatan saya untuk ke toilet sebentar. Biar tas saya mereka berdua yang jaga. Gantian.

Keluar dari toilet ternyata team yang lain juga sudah mulai kumpul. Satu per satu semua dibagikan tiket masuk ke kolam renang.

Salah satu alasan saya tidak ingin ikut berenang, karena malu belum bisa berenang. Main di air bisa. Berenang belum bisa.

Tapi ibu saya bilang, “kalo malu terus, dan nggak ada usaha untuk coba berenang sampe kapanpun juga nggak bisa-bisa. Ikut nyebur aja ke kolem, dipinggiran juga gapapa. Berendem dipojokan sampe melar.” Kira-kira seperti itulah bahasa Bekasi nya.

Ibu saya ini atlet renang dari Kebumen. Dulu setiap bagi raport kenaikan kelas, jika juara kelas. Ibu saya dan kakak-kakaknya langsung nyemplung ke kolam ikan milik nenek saya. Makanya ibu saya bisa bilang seketus itu?

Benar saja belum sampai masuk ke kolam renang. Saya bilang ke salah satu rekan saya. Seperti ini bunyinya, “Mbak Rahmi saya belum bisa berenang, ajarin ya?”

Ada anak kecil nyaut, “Hah?…. masa udah gede nggak bisa berenang“.

Terus langsung lari, pergi lagi ke kolam renang karena saya menengok ke arahnya. Mungkin juga dia takut.

Duh, makin-makin saja saya ingin bisa berenang. Sebelum berenang, saya tanya kolam yang paling dalam. Khawatir saya salah nyebur, nanti tenggelam. Atau air kolamnya keluar semua? Mustahil sih, saya ga seberat itu. Hehehe?

Dulu saya belum bisa sama sekali yang namanya gaya meluncur. Waktu ikut brainstorming di Pejaten, yang kebetulan ada kolam renangnya. Saya mulai diajarkan teknik meluncur. Oleh Boss saya. Berdua dengan Kak Rizky.

Kak Rizky, yang gaya renangnya sudah lebih baik dibanding saya. Buktinya dia mulai berani ke kolam yang tingginya 1,5 m. Sudah dijadikan gif juga gaya renangnya. Sedangkan saya dan team perempuan masih perkenalan dengan air kolam renang yang tingginya masih 1,2 m. Selamat untuk Kak Rizky?

Sudah sejam lebih saya di dalam kolam. Coba pindah ke kolam yang 1,5 m itu. Disana saya diajarkan teknik bernafas dalam air. Oleh Om Akoy (Adiknya si Boss). Mula-mula saya mencoba menahan nafas didalam air, hingga tubuh saya terangkat dan mengambang di permukaan air. Kemudian coba keluarkan gelembung udara dari hidung secara perlahan sambil gerakan kaki dan tangan untuk mengayuh maju kedepan hingga ke tepian. Dengan begitu jangkauan berenang saya bisa lebih jauh dari sebelumnya. Mungkin juga jika sebulan ini saya rutin berenang. Di bulan depan sudah bisa berenang dengan gaya lainnya.

Puas bermain air, kami semua Team Excellent makan siang bersama di Rumah Makan Bebek Slamet. Ini cara kami refreshing di akhir bulan. Tidak mewah namun tetap menyenangkan☺

Jejak Si Fathul

Seperti biasanya kegiatan rutin menulis blog ditiap minggu, dengan deadline di hari Kamis. Syarat supaya bisa makan siang bersama di hari Jum’at. Itu tujuan utamanya. Tujuan bersama rekan kerja sih, bukan tujuan saya saja. Hehehe?

Sebenarnya kegiatan makan bersama dihari Jum’at sudah ada sejak lama. Dari saya baru mengenal Excellent pun sudah ada. Tapi di masa sekarang ini ada ketentuan baru “Jika semua staff sudah menulis blog, maka makan siang di hari Jum’at diadakan. Kalau salah satu diantara kami ada yang belum tulis cerita di blog, maka makan siang di hari Jum’at ditiadakan.”

Tujuan yang sebenarnya itu supaya blog kami semua update dengan cerita-cerita yang baru. Membiasakan diri untuk menulis agar pandai merangkai kata?

Kadang saya bingung, minggu ini mau tulis cerita apa? Siapa yang akan saya ceritakan? Bingung seperti saat ini. Tapi di minggu ini ada saja cerita yang saya temukan, satu topik yang mungkin terbilang ‘gabut’.

Si Fathul. Saya biasa panggil dia Mas Fathul, karena dari usia pun lebih tua dia daripada saya. Walau saya mulai masuk kerja lebih dulu daripada dia, jadi hitungannya saya adalah seniornya.

Mas Fathul ini yang biasa bantu kami semua mengurus kebutuhan rumah tangga di Excellent. Teman berantem saya. Juga, teman berkebun si Boss di taman belakang Excellent.

Sering kali si Boss perintah dia untuk beli ini itu, contohnya seperti media berkebun dan bibit tanaman. Tapi kadang si Boss suka lupa kalau Mas Fathul sedang keluar kantor beli kebutuhan yang diperintahnya.

Si Boss suka tanya ke saya “Fit, si Fathul kemana?’

Saya sendiri pun suka tiba-tiba gagap jawab pertanyaan itu. Karena saya juga tidak perhatikan keluar masuk nya Mas Fathul ke kantor.

Kenapa saya yang ditanya? Karena posisi tempat kerja saya ada dibagian depan. Di meja resepsionis. Lalu lalang orang yang keluar atau masuk kantor itu pasti saya duluan yang tahu.

Berawal dari situ akhirnya saya coba bilang ke Mas Fathul “Kalau mau keluar bilang ke saya atau Mbak Rahmi (teman semeja saat bekerja), supaya kalau si Boss nyariin saya bisa jawab.”

Tapi Mas Fathul terbiasa menghilang begitu saja, ndak pamit bilang mau kemana. Sampai akhirnya saya bingung kalau si Boss tanya “Fathul kemana?”. Dan akhirnya mulai minggu ini, saya catat dibuku kemanapun Mas Fathul mau pergi.

Catat daftar perjalanan dia setiap hari. Dinas luar kantor. Itu juga kalau saya ingat, kalau tidak ingat ya terlewat. Tapi tetap saya usahakan catat, tanya siapa yang tahu dia pergi kemana untuk antisipasi si Boss tanya lagi ke saya “Si Fathul kemana?”. Tapi semenjak saya tulis, sepertinya Mas Fathul mulai sadar bahwa semestinya dia lapor ke saya. Jadi saya nggak perlu repot-repot nulis, macam sekretarisnya saja.

Pergabutan di minggu ini menambah satu cerita saya di blog. Mengumpulkan jejak kaki orang lain.

Senja di Puncak Kabupaten Wonogiri

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “Senja”. Matahari terbenam? Sore menjelang malam? Suasana romantis? Atau langit memerah?

Senja itu indah. Ia selalu datang, kemudian pergi kembali. Begitu seterusnya.

Sabtu, 21 Juli 2018. Satu bulan yang lalu. Dimana saya pergi liburan mengunjungi Wonogiri. Kangen Wonogiri kalau kata anak perantauan.

Ada hal yang membuat saya ingin menuliskan cerita lagi, dimana ada nama daerah yang sering menjadi label mie ayam atau bakso didalamnya. Bukan tentang liburan, bukan juga info wisata yang saya kunjungi. Yang mungkin belum saya masukkan dalam cerita sebelumnya.

Ini tentang seseorang. Seseorang yang saya takuti karena kedisiplinannya terhadap waktu. Disiplin terhadap agama atau kebiasaan lainnya. Hidupnya terbiasa rapih. Baca buku itu wajib baginya. Dan yang pasti dia ceria, membuat setiap orang yang berada didekatnya merasa bahagia.

Kesempatan yang diberikan bulan lalu oleh perusahaan tempat saya bekerja, mengantarkan saya untuk mengunjunginya.

Bahagia sekali. Mendengar kemenakannya datang jauh-jauh dari Bekasi. Saya disambut dengan baik, layaknya Putri Raja. Sampai saya bingung harus bagaimana? Karena diperlakukan terlalu istimewa. Katanya, “Kan nggak sering-sering, nggak setiap hari juga. Jadi dinikmati saja. Nggak usah sungkan.”

Dia selalu bertanya kepada saya, “Nduk kapan kamu mulai kuliah?”

Dan disambung dengan wejangannya. Yang sampai sekarang masih selalu terngiyang.

Katanya lagi, “Kuliah itu tidak wajib, tapi penting. Walaupun tidak semua orang yang punya gelar Sarjana itu sukses. Tergantung dari manusianya juga, dia mau merubah nasibnya atau tidak. Apalagi kamu anak pertama. Contoh bagi adik-adikmu. Kesuksesanmu adalah bila adik-adikmu juga sukses.”

Puncak Seper, Jatipurno, Kabupaten Wonogiri

Di puncak Kabupaten Wonogiri itu. Di waktu senja kala itu. Dia katakan kepada saya. Saya yang sibuk foto selfie. Dan ternyata itu menjadi nasehat terakhir dari nya untuk saya.

Tiga hari yang lalu. Waktu Subuh. Saya mendapat kabar duka. Kematian. Kehilangan orang yang kenyataannya membuat air mata saya jatuh tiap kali mengingatnya. Kaget. Tidak sakit tidak apa. Tapi Tuhan ambil dia. Memintanya untuk pulang.

Merasa kehilangan pasti. Apalagi saya baru bertemu dengannya satu bulan lalu. Diantar dan ikut menunggu keberangkatan kereta di Stasiun Solobalapan, hingga larut malam. Memastikan bahwa saya aman berada di Solo dan Wonogiri sebelum dilepas ke Malang.

Kematian itu pasti datang. Tidak mungkin kembali. Hanya satu arah yaitu pergi. Kematian itu hilang karena kehabisan waktu. Sedang, senja hilang atas perintah waktu.

Sempat berpikir, malam tadi Bude saya masih tidur dirumah. Tapi hari ini dia tidur di kuburan. Sendirian.

Biasa Diluar Hingga Luar Biasa (Part I)

Awal pertemuan saya dengan keluarga Excellent bermula saat saya sedang keliru mencari tempat PKL. Ya, awalnya dari pilihan mencari PKL. Karena saya SMK ada masa dimana siswa perlu belajar dan praktek di lapangan. Kepanjangan PKL sendiri bukan “Pedagang Kaki Lima” tapi “Praktek Kerja Lapangan”.

Waktu itu seluruh murid dikelas saya diharuskan mencari tempat latihan kerja yang sesuai dengan jurusan. Berhubung saya ada di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, rasanya sangat sulit jika harus cari tempat PKL yang sesuai dengan jurusan yang saya pelajari. Apalagi saya perempuan, dikasih tugas banyak bukannya dikerja-in malah ditangis-in.

Seperti orang melamar pekerjaan, loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Ada yang menerima dengan tugas sebagai tukang fotocopy. Ada juga yang menolak, karena alasan sekolah saya tidak kerjasama dengan perusahaan itu.

Masih bingung ingin cari dimana lagi dan yang seperti apalagi. Paling-paling terpaksa jadi tukang fotocopy sambil bikin kopi.

Mencari PKL masih berlanjut, sekolah pun masih terus disuruh masuk. Kebetulan waktu itu masuk jam pelajaran bu Nikmah. Guru produktif sekaligus kepala program yang katanya ‘galak’. Emang galak sih. Galak banget, kalau ketahuan ga ngumpulin tugas hehe?

Dia kasih nasehat pagi itu soal persiapan menjalankan praktek kerja, dia menyarankan kami semua (kelas TKJ A) ke salah satu perusahaan IT untuk coba PKL disana. Karena kakak kelas juga banyak yang PKL disana. Dengan syarat harus pintar, nurut, berani dan ga bikin malu. Bunda (panggilan kesayangan) bilang, “Coba kalian kesana, tempatnya pak Vavai nama PT nya Excellent. Dia itu orangnya tegas, kalau kalian ga nurut dimaki-maki nanti sama dia.”

Mendengar kalimat itu, semua murid di kelas saya jadi merasa takut. Dari 32 siswa yang terdiri dari 22 laki-laki dan 10 perempuan, belum ada yang berani untuk pergi melamar PKL ke Excellent.

Dua hari setelah itu, akhirnya salah satu teman saya mengajak untuk coba tanya-tanya soal PKL ke Excellent. Nama dan logo Excellent sendiri ternyata sudah sering saya lihat. Di tas kakak kelas saya itu. Namanya Trisha. Kalau berangkat sekolah sering kali dia didepan saya. Jalan dari parkiran motor ke sekolah. Tas yang ia bawa untuk sekolah disponsori oleh Excellent. Mantan anak PKL Excellent ternyata.

Total pelamar saat itu masih tiga. Mega, Erni dan saya. Singkat cerita, kami bertiga konsultasi ke Bunda. Bunda bilang email langsung ke pak Vavai. Karena Mega sering dijadikan bahan percobaan. Akhirnya si Mega yang disuruh email *yahketahuandeh. Pak Vavai bilang hari kamis dia ada di kantor. Padahal di hari kamis kami bertiga ada pengarahan di sekolah. Izin sekolah, pergi menemui pak Vavai.

Wah bakal ketemu big boss nih. Yang saya bayangkan waktu : Big. Yang badannya besar, kulitnya hitam, suaranya berat dan tatapannya seperti harimau mau menerkam. Sama seperti yang dibilang Bunda, “salah-salah kamu bakal dihina”.

Setelah bertemu ternyata jauh berbeda. Ga seram. Ngomongnya lembut. Ga ada niat menghina. Paling suka keceplosan ngatain hehehe?. Sempat berfikir boss nya ‘China’. Ternyata nggak. Dia orang tambun. Makin tercengang saya.

Pak Vavai minta dua anak PKL, yang datang tiga (perintah Bunda). Beliau disuruh pilih dua diantara kami bertiga. Karena tidak tega, akhirnya dia terima kami semua.

Selama tiga bulan, PKL saya lancar jaya. Tidak ada dihina, tidak ada dimaki. Kami bertiga merasa sangat disayangi. Setiap Jum’at selepas makan siang bersama, tidak pernah lepas nasehat dari pak Boss (pak Vavai). Perkataan Bunda hanya menguji soal keberanian kami. Ini foto di hari terakhir saya dan teman saya PKL.

 

Yang baju merah itu namanya Bu Nikmah, kalau di sebelah kanannya bu Nikmah itu saya. Jangan terbalik. Disini masih unyu-unyu muka nya. Diambil dari 2 tahun lalu.

Ada juga tulisan pak Boss di Facebook yang saya screenshoot, tentang kesan-kesan beliau selama kami PKL diperusahaannya.

 

 

Bukan Jalan-Jalan Biasa

Liburan saya selanjutnya adalah pergi ke Kota Batu. Semenjak saya tahu kalau jalan-jalan sendiri itu asyik, Kota Batu menjadi pilihan daerah yang pasti akan saya kunjungi.

Dikesempatan liburan kali ini, saya manfaatkan untuk mengunjungi Kota Batu. Awalnya perjalanan saya ke Batu tidak diizinkan oleh ibu. Karena saya perempuan, pergi sendirian, dan jalan-jalan jauh hingga ke pulau Jawa bagian Timur. Tidak ada sanak saudara atau orang yang dikenal disana. Membuat ibu saya takut, anak perempuannya luntang lantung disana hehehe?

Atau mungkin ibu saya membayangkan bahwa Batu adalah gunung yang tinggi sekali, yang banyak jurangnya dan hutan-hutan. Saya jelaskan ke ibu saya, bahwa disana ada banyak wisata, dan tidak perlu khawatir karena saya sudah pesan hotel untuk beristirahat. Akhirnya ibu saya “mengiyakan”.

Perjalanan saya mulai dari Stasiun Solobalapan menuju Stasiun Malang (Kota Baru). Berangkat pukul 21.49 WIB sampai Malang pukul 03.45 WIB.

Banyak yang tanya ke saya, “Ngapain liburan ke Malang dan Batu sendirian? Dihari-hari biasa lagi. Bukannya kerja?”

Saya jawab, “Ada tugas kantor, disuruh pak Boss jauh-jauh ke Malang untuk metik apel.”

Ini istimewanya tempat saya bekerja. Karyawannya diizinkan jalan-jalan seminggu untuk refresh otak bebas dari pekerjaan. Diongkosi pula.

 

Wisata Petik Apel

Kalau jalan-jalan sendiri ke daerah Batu atau Malang dan sekitarnya, wisata yang cocok dan murah ya petik apel. Kalau ke Bromo mesti sewa travel, kalau sendirian biayanya bisa bikin kesel. Menghindari saya kesel, akhirnya petik apel.

Tempat wisata petik apel yang saya kunjungi, ada di daerah selecta. Arah ke tempat pemandian air panas Cangar. Yang disetiap sisi jalan, pasti banyak yang jual apel, atau kebun apel untuk wisata, dan rumah penduduk yang masing-masing punya pohon apel. Atau lebih tepatnya masuk ke Desa Punten.

Ada dua jenis apel yang ditanam dan boleh dipetik. Ada apel merah dan apel manalagi. Apel yang kulitnya ada warna merah, rasanya asam manis.

Kalau apel yang bewarna putih kekuning-kuningan itu sudah pasti rasanya manis walaupun ukurannya kecil. Tapi kalau masih pentil tetap asam ya gaes…

Untuk biayanya, ada beberapa rincian. Biaya masuk Rp25.000 per orang. Makan sepuasnya dan petik apel sepuasnya. Kalau sudah, coba keluar kebun apel dan timbang berat apel yang sudah kalian petik. Kemudian silakan bayar Rp30.000 per kg?

Kok mahal sih?
Iya jelas mahal. Karena kalau petik apel sendiri itu sensasinya berbeda. Suasana kebun yang adem dan pemandangan hamparan pohon apel. Bisa lari kesana kemari terserah mau petik apel yang mana. Misalnya juga kejedot pohon apel yang pendek pohonnya, rimbun daunnya dan lebat buahnya itu. Kalau beli yang sudah dijajakan dijalan kan tidak bisa merasakan kejadian kejedot pohon. Pokoknya dibuat geregetan ingin petik apel sebanyak-banyaknya. Tidak usah khawatir uangnya habis. Ada solusinya supaya tetap bisa bawa pulang apel. Disana banyak yang jual keripik apel. Beli saja keripiknya, rasanya pun sama. Harganya juga lebih murah.

 

 

Museum Angkut

Sudah puas dan tahu bentuk pohon apel serta sensasi petik apel sendiri. Saya lanjutkan perjalanan ke Museum Angkut yang hits dikalangan remaja yang suka jalan-jalan berburu foto untuk diupload ke instagram.

Disana ada apa sih?
Disana banyak kendaraan antik. Kalau kalian suka automotif ya pasti senang berlama-lama disana. Kalau seperti saya yang hanya ingin tahu, dan meninggalkan jejak kaki disana pasti bosan.

Museumnya bagus, penataannya keren sekali. Ada guidenya juga disetiap stand, jadi bisa bantu kita yang jalan-jalan sendirian untuk ambil gambar.

Untuk biaya masuknya berapa? Karena saya datang di hari biasa jadi ada potongan harga, dari yang seharusnya Rp100.000 menjadi Rp70.000 saja. Dibuka mulai dari jam 12.00 WIB hingga 17.00 WIB saja. Kalau berkunjung ke Museum Angkut jangan lupa foto di Gangster Town ya… Biar kekinian.

 

Batu Night Spectacular

Sebelum berangkat liburan ke Malang. Pak Boss selalu menyarankan saya untuk datang ke BNS (Batu Night Spectacular). Kebetulan sekali hotel saya letaknya ada disamping BNS ini. Jadi sehabis cari makan malam bisa mampir sebentar. Kalau siang, tampilannya seperti pasar malam. Ketika malam, bentuk dan tampilannya berubah seperti pasar malam juga tapi kelas elit. Dufan KW 1 lah. Tiket reguler masuknya murah, hanya Rp30.000 untuk tiket terusan Rp99.000 untuk beberapa permainan tanpa beli tiket lagi. Jam operasional dibuka dari 15.00 WIB – 24.00 WIB.

 

Makan Es Krim Mahal

Kalau ke Malang jangan lupa juga mampir ke Toko Oen. Toko ini bernuansa tempo dulu. Daftar menu pakai bahasa Belanda. Saat ini Toko Oen hanya tersedia di dua tempat saja, Semarang dan Malang. Awalnya toko ini hanya menjual beberapa kue dan es krim. Saat ini mereka juga menjual masakan Belanda, Indonesia dan Cina.

Waktu saya berkunjung kesana, saya coba lihat beberapa menu makanan. Harganya di atas Rp10.000 semua. Karena Toko Oen terkenal dengan es krimnya, akhirnya saya pesan es krim seharga Rp25.000 dan hotdog seharga Rp35.000.

Sudah menunggu cukup lama. Ternyata hotdog yang saya pesan tidak ada. Akhirnya hanya es krim saja yang saya pesan saat itu. Tetapi ekspetasi dan realitanya berbeda jauh.

Ini ekspetasi saya, es krim yang saya bayangkan yang akan diantar ke meja saya.

Realitanya, hanya semangkuk kecil es krim rasa vanila yang diantar ke meja saya.

Saya terus tertawa sendirian. Sambil geleng-geleng kepala. Datang penuh khayalan bisa menikmati es krim selucu dan sebanyak yang ada di google. Yang sampai ke meja saya ternyata es krim biasa. Ini menjadi es krim termahal yang pernah saya beli. Rasa susunya terasa sekali. Apalagi menikmatinya satu ruangan bersama dengan sekumpulan wisatawan dari manca negara. Itu yang buat es krim ini terasa beda dari yang lain.

 

Kampung Tridi

Tak mau berlama-lama di Toko Oen. Akhirnya saya pulang ke Kampung Tridi. Pemukiman warga yang dijadikan tempat wisata itu. Yang isinya lukisan-lukisan ditiap dinding dan atap rumah warga.

Biaya masuknya Rp3.000. Kalau hanya sekedar mampir dan ingin tahu bentuknya tidak masalah merogoh kocek segitu.

Dari Toko Oen ke Kampung Tridi saya naik ojek online. Karena saya bawa koper, si driver tanya asal saya dari daerah mana.

Saya bilang, saya dari Bekasi. Si driver tanya lagi, “Mbak nya jauh-jauh dari Bekasi ke Malang cuma mau ke Kampung Tridi?”

Dalam hati “Haha يكل bang”

Dan dari sekian banyak tempat wisata yang saya kunjungi dalam seminggu ini hanya Batu dan Malang yang bisa buat saya jadi galau serta harus membayar biaya pembelajaran yang mahal. Diawal perjalanan saya ke Kota Batu, saya harus mengeluarkan uang sebesar Rp300.000 hanya untuk membayar ojek dari Stasiun Malang ke hotel yang kebetulan letaknya ada di Kota Batu. Ini diluar dari yang saya bayangkan. Dari kejadian itu, saya sarankan untuk kalian yang bepergian sendirian seperti saya untuk lebih baik naik kendaraan lain daripada naik ojek.

Dan yang terakhir ini sih galau karena baper sendirian. Jadi waktu masih di Kota Batu. Malam hari di hotel sendirian, terus handphone sepi gitu nggak ada yang chat. Sinyal suka hilang entah kemana. Jadi nangis deh karena ngerasa sendirian?ditambah udara yang sangat-sangat dingin jadi malas keluar, padahal tempat wisata dekat dengan hotel. Sekian cerita dan curhat saya, terimakasih?

Menikmati Liburan di Kampung Orang

Senin, 23 Juli 2018. Menjadi hari terakhir liburan saya di Wonogiri. Saya sudah planing bahwa saya akan pergi lebih awal menuju Solo. Karena perjalanan dari Wonogiri ke Solo jika menggunakan kendaraan umum memakan waktu banyak sekali.

Awalnya tujuan saya mengunjungi Wonogiri, karena memang ingin wisata ke Waduk Gajah Mungkur yang terkenal itu. Tapi kan waktu awal kedatangan saya, malah digunakan untuk mencari ilmu-ilmu usaha. Jadi untuk wisata kesana saya rasa tidak mungkin.

Dan saya juga tidak mengira bahwa kakak sepupu saya itu akan mengantar saya sampai dengan Stasiun Solobalapan. Dia bilang sepulangnya dari toko, akan mengantar saya ke Solo mampir dulu ke Waduk Gajah Mungkur. Lho… ini rejeki namanya. Sudah pernah di list, sudah dicoret, kemudian ditulis ulang.

Sekitar jam 14.00 WIB baru berangkat menuju Solo. Sebelumnya saya gunakan waktu untuk siap-siap packing semua barang, sambil ngemong ponakan dan tulis cerita.

 

Waduk Gajah Mungkur

Perjalanan dari Jatisrono menuju Waduk Gajah Mungkur kurang lebih 45 menit. Karena memang letaknya yang ada ditengah-tengah pegunungan. Jadi medan yang dilalui pun naik turun gunung. Tidak ada kendaraan umum untuk sampai ke Waduk Gajah Mungkur. Kalau nggak naik motor ya naik mobil pribadi.

Untuk harga tiket masuknya Rp10.000 per orang. Sama seperti tempat wisata lainnya, disetiap sisi jalan banyak warung dibuka. Tapi rata-rata disini jual ikan asin, bukan jual popmie atau kopi.

Waktu berkunjung kesana saya kira bentuk waduk adalah bendungan yang sangat-sangat besar, airnya hijau atau coklat pekat sama seperti bendungan-bendungan di Bekasi. Ternyata tidak, rupanya seperti laut. Banyak perahu menepi. Airnya biru, bergelombang tertiup angin.

Sayangnya waktu saya kesini, semua wahana sudah tutup. Jadi nggak bisa foto bersama gajah. Adanya ketek (monyet). Dan harus naik lagi ke atas.

Jadi saya berkunjung kesini dengan alasan “intinya saya pernah kesini, sudah tahu bentuknya”. Ini karena gagal wisata ke Waduk Gajah Mungkur waktu kunjungan ke Solo dua minggu lalu. Jadi saya mendahului rekan-rekan kerja saya yang mungkin belum pernah kesini. Hehe…

 

Mie Ayam Asli Wonogiri

Ibu saya bilang, selama di Wonogiri jangan lupa makan bakso dan mie ayam khas daerah ini. Di cerita sebelumnya saya sudah coba bakso asli sini. Dan memang rasanya beda. Sekarang di ajak makan mie ayam. Mie ayam disini jauh beda dari yang ada di Bekasi. Mie nya lebih tebal, daging ayamnya lebih coklat, pakai acar, dan isinya lebih banyak. Untuk harga sama hanya Rp8.000 belum termasuk minum?

Kalau ke Waduk Gajah Mungkur jangan lupa mampir makan Mie Ayam Pak Tukang disamping Hotel Dafian dekat plang daerah Wonokerto. Mie ayamnya enak dan selalu ramai.

 

Jalan-jalan ke Mall

Sebagai bonus kunjungan ke Wonogiri, sorenya saya pergi ke Mall Solo Paragon sambil menunggu waktu keberangkatan kereta dari Solobalapan – Malang.

Peternakan Batako

Kebiasaan bangun pagi, mungkin biasa dilakukan di tiap-tiap daerah baik di kampung ataupun di kota. Saat ini saya ada di kampung. Bangun jam 04.00 WIB itu bisa dibilang telat bangun.

Kalau di Bekasi biasanya berangkat ke pasar itu jam 06.00 atau jam 07.00 tapi disini jam segitu para pedagang sudah mulai beberes dan pulang kerumah.

Aktivitas pasar dimulai jam 02.00 pagi. Apalagi tidak setiap hari pasar buka. Dihari-hari tertentu saja. Kalau disini namanya Wage-an. Pasarnya buka dihari Wage saja dalam kalender Jawa. Karena telat melihat aktivitas pasar, akhirnya saya diajak ke peternakan batako milik kakak sepupu saya.

Dicerita sebelumnya saya pernah menjelaskan tentang budidaya jamur tiram milik kakak sepupu saya juga. Kali ini saya akan menceritakan bagaimana proses pembuatan batako dan gorong-gorong (bis). Ya, kali ini cerita saya tentang bahan bangunan.

 

KENAPA USAHA BATAKO?

Usaha ini dimulai ketika kakak sepupu saya yang dulunya bekerja sebagai pegawai bank. Bosan dengan posisinya sebagai manager yang hanya diam, dan kerja sambil duduk seharian. Akhirnya dia resign. Resign, dengan bekal ilmu membuat bahan bangunan. Berkat tanya menanya juga pada temannya. Kini dia melakoni usahanya yang sudah berjalan 1,5 tahun. Awalnya dia bingung ingin usaha apa? Karena sudah punya agen sembako. Akhirnya, dia memutuskan untuk usaha yang tidak ada masa expired nya.

Tempat usahanya ada di daerah Jatipurno. Didaerah sana banyak usaha-usaha pembuatan batu bata, batako, dan gorong-gorong (bis). Cengkeh pun juga ada hanya saja harus naik ke puncak gunung sana.

 

PEMBUATAN BATAKO

Saya coba tanya-tanya ke karyawan kakak saya itu. Untuk pembuatan batako, dari proses awal hingga siap dijual.

Ada tiga pekerja tetap pembuat batako disini. Satu orang dalam 2 jam bisa menghasilkan 70 batako. Dengan takaran :

  1. Pasir Tras halus lima angkong,
  2. ‌1 Sak semen seberat 40kg,
  3. Dan air secukupnya tidak sampai encer, hanya supaya tercampur saja semua bahannya. Kira-kira 3 kali disiram ukuran ember cat besar.

Kemudian bahan-bahan yang sudah dicampur, diaduk merata. Pasir-pasir yang digunakan, sebelumnya sudah disaring. Tujuannya supaya tidak ada batu kerikil yang ikut tercampur.

Selanjutnya pasir yang sudah diaduk, dicetak satu persatu, diisi hingga padat. Sambil dipukul-pukul. Seperti yang ada dalam video dibawah ini.

Jika sudah terbentuk, didiamkan selama 3 hari. Dan baru bisa dijual. Harga persatu batako dijual Rp3.200. Kecuali jika si pembeli, angkut lebih dari 1000 batako. Ada diskon Rp200 perbatakonya. Untuk pekerja biasanya diberi upah 500 per batako.

Pekerja disini rata-rata adalah mereka yang bingung ingin kerja apa. Jadi selain untuk mencari nafkah keluarga kakak sepupu saya. Sebenarnya usaha ini didirikan juga untuk membuka lapangan pekerjaan untuk mereka yang tidak punya pekerjaan tetap atau tidak punya lahan.

Jika waktu panen tiba, mereka yang biasa bekerja membuat batako pergi ke sawah tetangga untuk bantu-bantu panen padi. Kalau masuk musim tanam padi hingga padi menguning, mereka kembali membuat batako. Dan biasanya anak-anak sekolah SMA pun, ikut membuat batako sebagai pencari uang jajan tambahan. Di hari libur, mereka datang ramai-ramai membuat batako. Mereka catat sendiri, berapa batako yang mereka buat. Dan upahnya bisa dicairkan kapanpun. Misalnya mereka mau beli handphone, mereka akan rajin datang membuat batako dan sesekali bilang ke Boss nya yang tak lain kakak sepupu saya itu. Kredit handphone dibayar pakai batako. Hehehe…

Keuntungan bersih yang didapat kakak saya, per 1000 batako adalah Rp800.000. Dan usaha bahan bangunan disini dibilang sangat menguntungkan, apalagi musim-musim lebaran. Mereka akan merenovasi rumahnya. Makanya nggak heran rumah-rumah di Jawa itu luas dan bagus-bagus.

 

LIMBAH BATAKO

Lalu kalau batako yang gagal dijual karena cacat dikemanakan? Dibuang begitu saja?

Nggak dong. Batako yang gagal dijual, atau bentuknya cacat. Bisa digunakan kembali untuk pembuatan gorong-gorong.

Caranya gimana?

Caranya batako yang gagal dijual, dihancurkan kembali. Maka akan menjadi butiran-butiran pasir. Kemudian dicampurkan bersama dengan kerikil, pasir tras, dan semen. Kemudian diberi air hingga encer.

Ada alat cetak khususnya juga. Dan ada masing-masing ukurannya. Sebelum dicetak, alat pencetak gorong-gorong diberi oli terlebih dahulu. Kemudian bawahnya diberi plastik. Tujuannya supaya gorong-gorong yang basah tidak menyentuh tanah. Kalau menyentuh tanah, jika sudah kering pasti susah dicabutnya. Makanya harus dilapisi plastik.

Kemudian bahan yang sudah tercampur, dimasukkan kedalam alat pencetak. Sama seperti batako, didiamkan selama 3 hari. Harga jual per gorong-gorong ukuran 150 cm adalah Rp150.000. Dengan upah pekerja Rp15.000. Ukuran 20 cm, diberi upah Rp5.000.

Seperti ini kira-kira proses penaikan gorong-gorong ke armada, kalau ada yang beli. Mesti gayeng (pasti senang). Karena berat, jadi harus ramai-ramai gotong masuk ke mobil bak sambil bersorak.

Itulah ilmu yang saya dapat dihari kedua perjalanan liburan saya di Jatisrono. Ditutup dengan makan bakso asli Wonogiri.

Dan mengunjungi wisata Hutan Pinus, dipuncak Seper. Masuknya gratis, karena sudah tutup, terlalu kesorean.

Serta makan malam rumahan, ayam panggang + sayur tempe mlanding (tempe dari lamtoro) sing wuenak, dan ga ada di Bekasi.

Solo – Wonogiri

Setelah sampai Bandara Adi Soemarmo, hati saya rasanya senang sekali. Dulu saya mengkhayalkan saja rasanya naik pesawat. Tidak kepikiran diusia saya yang masih belasan ini, saya sudah bisa naik pesawat sendiri. Tidak bersama orang tua, atau ditemani keluarga. Sewaktu kecil jika pesawat lewat, saya teriak “Pesawat minta duit!!!”. Sekarang saya tahu, kalau pesawat bawa orang-orang ber-duit.” Iya dong berduit, kan tiketnya saja mahal.

Sudah cukup cerita soal pesawat. Saya lanjutkan perjalanan menuju Jatisrono. Saya kesana kemari menanyakan, “Adakah DAMRI yang bisa saya tumpangi untuk sampai di Terminal Tirtonadi?”. Mereka bilang, “Ada! Silakan tunggu didepan sana. Lah itu mobilnya sudah ada.” (sambil menunjuk mobil travel yang supirnya sedang sibuk memasukan barang bawaan penumpang masuk bagasi)

Saya hampiri mobil itu, pak supir tanya “Mbaknya mau kemana?”.

Saya bilang “Terminal Tirtonadi pak.”

Pak supir bilang lagi, “Oh bisa mbak, kopernya ta’ masukin bagasi. Mbaknya duduk didepan dekat supir.”

Ongkos nya murah. Rp25.000 saja. Tapi lamanya perjalanan itu satu jam dari bandara ke terminal.

Sampai di terminal, sudah banyak kuli panggul koper-koper penumpang. Saya berasa jadi seleb, dikejar-kejar gitu.

Katanya, “Sama saya saja mbak, sama saya. Saya antar sampai depan rumah.”

Saya ingin jawab tuh, “Jangan Mas, saya sudah punya patjar. Nanti cemburu.” Yeeee… wkwkwk

Terminalnya luas sekali, bikin bingung. Untunglah saya ada barengannya. Bis yang saya tumpangi sampai ke Jatisrono adalah bis jurusan Purwantoro-Wonogiri-Solo. Bisnya semacam metromini gitu kalau di Jakarta.

Solo – Jatisrono itu kalau pakai kendaraan pribadi, hanya 1,5 jam. Karena ini angkutan umum. Tiap menit berhenti cari penumpang, Solo – Jatisrono itu bisa ditempuh 3 jam perjalanan. Dua kali lipatnya. Kalau kalian mabuk darat, jangan lupa sedia kantong plastik, selain bisnya tidak AC jalannya juga berliku. Karena memang daerah gunung.

Selama diperjalanan, saya menikmati tiap pemandangan yang ada disisi kanan dan kiri jalan. Jurang dan sawah berundak. Tarif menggunakan bis ini adalah Rp20.000.

Jika minggu-minggu lalu saya sampai di dekat perbatasan Pacitan. Sekarang saya melakukan perjalanan lewat jalur menuju Ponorogo dan Surabaya. Sayangnya saya tidak ada jadwal menuju kesana.

Sekitar jam 18.00 WIB saya sampai di Terminal Jatisrono. Tidak ada bis yang singgah di sana. Dan rupanya saya sudah dijemput kakak sepupu saya. Rumahnya ada dibelakang terminal. Jadi dekat sekali. Makanya saya tidak dijemput ke Solo. Melainkan harus jalan sendiri ke sampai ke Terminal Jatisrono.

Liburan saya akan dimulai besok. Ingin tahu saya melakukan apa saja di Kabupaten Wonogiri? Lihat postingan saya selanjutnya ya…