Yang Saya Dapat Hari Ini

Saya terlahir dari keluarga sederhana. Ayah saya bekerja sebagai buruh pabrik, sedangkan ibu saya hanya ibu rumah tangga. Setiap hari Ayah bekerja pulang pergi dengan rute Bekasi – Bogor. Ibu mengurus rumah tangga, dari belum terbit matahari hingga terbenam matahari, itu juga masih belum berhenti aktivitas kalau semua anaknya belum tidur.

Dulu sebelum saya bekerja, untuk memenuhi kebutuhan hidup hanya dengan mengandalkan pendapatan bulanan dari Ayah.

Saya anak sulung dari tiga bersaudara. Anak pertama, yang punya dua adik.

Setelah lulus SMP, cita-cita saya ingin melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri favorit jurusan IPS, karena saya menyukai pelajaran sejarah. Saya lebih suka menghafal daripada berhitung.

Tapi Ibu saya bilang, “Jurusan IPS itu pilihan kedua, kalau nggak dapet jurusan IPA. Cuma kamu yang niat dari awal, mau masuk jurusan IPS.

Tetapi keinginan saya harus ditunda. Karena Ayah dan Ibu, meminta saya untuk coba ikut seleksi masuk SMK Negeri.

Kebetulan sekolah yang saya pilih masuk ke daftar sekolah favorit. Yang katanya setelah lulus bisa langsung dapat pekerjaan.

Dan alhamdulillah, saya bisa lolos dan lulus dalam seleksi tersebut.

Saya tahu tujuan kedua orang tua saya, supaya setelah lulus saya bisa langsung membantu perekonomian keluarga.

Jalan Kaki Berhadiah Motor

Saya ingat betul pertama kali masuk sekolah. Waktu itu saya belum punya kendaraan. Saya harus berjalan kaki untuk sampai ke sekolah. Sekitar 4 KM jarak dari rumah ke sekolah.

Berangkat lebih pagi, setelah sholat subuh. Masih gelap.

Saya masih harus menyebrangi rel kereta api. Menunggu beberapa kereta melintas. Kemudian saya juga masih harus menyebrangi jalan raya. Melangkah maju kemudian mundur lagi, karena banyak kendaraan melintas tak mau mengalah memberi jalan untuk saya. Hingga kadang saya menunggu bantuan orang lain, untuk membantu saya menyebrangi jalan besar itu.

Saya selalu menjadi siswa pertama yang sampai disekolah. Saat penjaga sekolah masih sibuk membersihkan ruang kelas, menyapu halaman sekolah, menyiram tanaman dan sebagian masih ada yang mandi.

Lokasi sekolah saya ada di dalam komplek perumahan. Dan teman-teman sekelas saya pun termasuk anak golongan elit. Biasanya mereka menyebut dirinya sendiri dengan nama “Borju”. Kelompok borjuis. Yang berangkat ke sekolah naik motor besar atau motor mahal. Jajan diatas Rp25.000,-per hari. Dan pakai sepatu logo terkenal.

Pagi itu, seperti biasanya saya berangkat ke sekolah jalan kaki. Ditengah perjalanan menuju sekolah, terdengar suara deruman motor besar berulang kali disamping saya.

Saya menengok kesamping. Ternyata itu ketua kelas saya, yang mengendarai motor ninjanya.

Pada saat pergantian jam pelajaran, ketua kelas saya itu bertanya kepada saya didepan kelas.

Fitra lu ke sekolah jalan kaki?

Saya jawab, “Iya emang kenapa? Mau boncengin?

Dia bilang, “Nggak, rajin banget pagi-pagi jalan kaki” (nadanya seperti mengejek)

Saya jadi minder karena ucapannya. Keesokannya saya berangkat dari rumah lebih pagi lagi, supaya tidak bertemu ketua kelas saya itu. Dan ternyata berjumpa lagi dijalan yang sama.

Memang tidak bisa dibohongi, jalan kaki lebih pagi dengan berangkat naik motor ninja dijam biasanya. Kecepatannya sama. Seharusnya waktu itu saya lari, bukan jalan kaki.

Kemudian, dia keraskan suara motornya ketika berpas-pasan dengan saya. Saya tidak mengerti apa maksudnya, entah dia menyapa saya atau mengejek saya.

Dan setiap pulang sekolah, saya selalu diantar sampai rumah oleh keempat teman saya.

Supaya saya irit, tidak perlu pulang naik angkot. Keempat teman saya itu memang baik sekali.

Padahal setiap pagi, ibu saya selalu menyempatkan diri untuk memasak. Agar saya bisa bawa bekal makanan. Supaya saya tidak jajan, jadi saya bisa pulang naik angkot tanpa harus jalan kaki lagi.

Kegiatan itu tidak berlangsung lama. Tiga bulan selanjutnya, saya sudah bawa motor sendiri.

Sore itu, saya lihat ada motor terparkir di teras rumah.

Saya tanya ibu saya, “Motor siapa itu bu?

Ibu saya bilang, “Motor untuk kamu. Besok pagi kamu nggak perlu jalan kaki lagi ke sekolah. Itu untuk kamu.

Saya lihat, tidak ada lagi kalung melingkar di leher ibu. Saya tahu, ibu menjual kalungnya untuk beli motor second itu. Supaya anaknya tidak capek lagi berangkat ke sekolah. Supaya anaknya tidak lagi merepotkan orang lain, untuk mengantarnya pulang ke rumah.

Tapi sekarang, saya sudah bisa beli motor sendiri. Setelah sekolah jalan kaki. Setelah lulus dan bekerja saya bisa beli itu. Dan pastinya bayar sendiri. Walaupun selama tiga bulan kedepan, bunyi klaksonya masih “dit,dit,dit” hahahašŸ˜†

Laptop Tebal Disulap Jadi Tipis

Karena saya ada dijurusan IT, media untuk belajarnya adalah laptop atau komputer.

Alhamdulillah, belum punya motor waktu itu tapi saya sudah punya laptop. Walaupun masih berat dibawa kemana-mana.

Ada satu teman saya. Laki-laki. Tapi mulutnya seperti perempuan. Waktu itu dia beli laptop baru. Laptopnya lebih ramping dari laptop saya.

Dia bilang, “Laptop lu tebel banget. Kaya orangnya.

Saya yang jengkel mendengarnya hanya menjawab santai, “Gapapa, yang penting kuat install CentOs7 di vbox. Daripada lu, laptop kurus, tapi harus pinjem komputer sekolah supaya bisa nyelesain tugas.

Jika dibandingkan dulu, melihat keadaan saya saat ini. Sekarang saya malah punya laptop yang lebih tipis dari punya teman saya itu. Barang yang mungkin tidak pernah saya bayangkan. Bisa kebeli atau tidak. Karena logonya yang terkenal mahal dan elit.

Kalau dulu saya hanya tahu, merk itu mahal. Mustahil untuk saya, bisa memilikinya. Nyatanya sekarang saya punya, entah bagaimana caranya atau jalannya bisa tercapai. Lewat bekerja di Excellent.

Bisa Kuliah Setelah Yang Lain Sarjana

Selepas SMK itu ada 4K yang utamanya harus dipilih :
1. Kerja
2. Kuliah
3. Kewirausahaan
4. Kawin

Semua teman sekolah saya sibuk membahas, “saya akan kuliah disini, disini dan disitu”.

Sewaktu saya PKL di Excellent, saya ditanya pak Boss. Setelah lulus ingin melanjutkan kemana?

Jawaban saya pasti dan selalu kerja sambil kuliah.

Padahal waktu itu saya tidak tahu, akan kuliah dimana dan kerja dimana.

Melihat keadaan orang tua. Pilihan saya jika kuliah pasti harus disertakan dengan kerja.

Teman-teman saya bilang, “Kalau gue ga keterima di negeri, pilihannya gue kuliah di Binus, atau di Telkom, atau di Guna Darma, atau di Yarsi atau di Trisakti.”

Di universitas swasta yang mahal lah pokoknya.

Saya yang mendengar itu, hanya bisa tersenyum. Yang saya pikirkan waktu itu, saya bisa kuliah setelah 3 tahun bekerja atau mungkin setelah teman-teman saya semua sudah jadi sarjana. Saya baru menyusulnya.

Tapi tidak, setahun bekerja saya sudah punya rejeki dan waktunya. Tidak perlu menunggu teman-teman saya sarjana, saya sudah bisa menyusulnya.

Saya tidak pernah menyesali keadaan orang tua saya. Saya juga tidak menyesali bahwa saya harus melanjutkan sekolah ke SMK bukan ke SMA. Seandainya saya waktu itu tetap memilih SMA. Mungkin apa yang saya dapatkan hari ini, tidak akan terwujud secepat ini.

2 thoughts on “Yang Saya Dapat Hari Ini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *