Percaya Diri Pada Tempatnya

Minggu ini saya disibukan dengan kegiatan baru dikampus. UTS. Ujian Tengah Semester atau Ulangan Tengah Semester. Kakaknya Ujian Akhir Semester (UAS).

Setelah setahun, istirahat sebentar dari berbagai macam ujian. Kecuali, ujian hidup. Akhirnya saya kedapatan lagi, berhadapan dengan soal-soal yang menjadi tolak ukur, sejauh mana saya belajar dan mengerti atau paham selama sebulan belajar di kampus.

Dan ini adalah pertama kalinya saya ikutserta UTS diperkuliahan. Dari mulai datang lebih awal. Tidak seperti biasanya, dosen dulu yang masuk baru saya nyusul masuk kelas. Kemudian pakai almamater hijau toska, mirip dengan petugas rumah sakit. Dan membawa kartu ujian, seperti jaman sekolah di SD, SMP dan SMK dulu.

Karena ini pertama kalinya, ada beberapa masalah yang saya hadapi. Mungkin juga karena faktor kebiasaan.

1. Hitung Neraca Tidak Balance

Saya ada pada jurusan yang terkonsentrasi di Administrasi Perpajakan. Bicara soal perpajakan, tidak terlepas dari hitung menghitung uang orang lain, UU, atau pasal-pasal ayat sekian.

Maka dari itu, di semester awal ini saya dapat mata kuliah “Dasar-Dasar Akuntansi”.

Menghitung Jurnal Umum, kegiatan mencatat akun per transaksi. Kemudian Laba-Rugi untuk mengetahui keuntungan atau kerugian yang didapat oleh sebuah perusahaan. Neraca Saldo, Perubahan Modal, Neraca dan Rasio Ekuitas Pemilik diperlukan untuk menentukan perusahaan sehat atau tidak.

Tujuan lainnya sebagai dasar menghitung berapa pajak yang akan dibayarkan si perusahaan tersebut nantinya.

Mata kuliah ini terbilang sangat menegangkan, selain dosennya yang pelit nilai dan tegas, ini juga jadi makanan baru untuk saya yang dulu gagal jadi anak akuntansi. Akhirnya masuk dijurusan TKJ, maka outputnya atau keluarannya seperti sekarang ini. Akuntansi nggak, TKJ juga nggak.

Senin kemarin adalah pertama kalinya saya UTS mata kuliah akuntansi. Ada hal terbodoh yang saya ulangi lagi dalam ujian ini. Yaitu “tidak percaya diri akan kemampuan diri sendiri”.

Ketidakpercayaan dalam mengisi soal ujian, akan menimbulkan keinginan untuk menyontek kepada teman.

Sejak SMK dulu, saat ulangan Matematika. Guru saya selalu menempatkan saya dikursi paling depan. Dia tahu saya bisa. Tapi saya cari aman. Duduk di kursi tengah. Tapi selalu dipindah ke kursi depan.

Tapi entah kenapa, nilai ujian saya lebih bagus kalau saya duduk didepan ketimbang duduk dibelakang atau di tengah.

Nah, waktu kejadian kemarin. Karena nama saya diawali dengan huruf “F”, maka asumsi saya, saya duduk dikursi tengah. Ternyata kata dosen saya, duduk dimana saja tidak urut tidak apa-apa, yang penting kursi depan diisi.

Saya sudah aman dikursi tengah.

Belakang saya jadi kosong. Karena semuanya pindah ke depan. Saat ujian dimulai, teman saya yang lain baru masuk dan mengisi kursi belakang.

Saya sudah mulai mengerjakan soal. Sudah dinomor 3. Karena 1-3, soal teori. Masuk ke soal ke 4. Soal terakhir. Dalam bentuk soal cerita. Pertanyaannya beranak a,b,c,d, dan e. Karena waktunya terbatas, dikorting jadi a,c,d dan e saja yang dikerjakan.

Dengan percaya diri saya isi sesuai pemahaman saya. Teman sebelah saya baik depan, kanan atau belakang saya sudah mulai berisik dengan bunyi klik tombol kalkulatornya.

Sedangkan saya sendiri, masih asik memisahkan akun mana yang cocok untuk tiap-tiap transaksi dalam soal cerita tersebut.

Samping kanan saya laki-laki tapi cerewet. Dia bilang ke saya “belakang lu baru dateng, udah sampe laba rugi”.

Saya panik, kecepatan mengisi soal meningkat.

Saya menyusul, sudah sampai hitung laba rugi. Dengan hasil yang berbeda dari teman sebelah kanan dan belakang saya.

Itulah uniknya pelajaran akuntansi, soal dan nominalnya sama tapi jawaban satu sama lain, hasilnya berbeda. Tidak tahu, jawaban yang mana yang paling benar diantara saya dan kedua teman saya itu.

Kemudian masuk di laporan Neraca. Rumusnya :

Aset = Kewajiban + Ekuitas Pemilik

Salah satu akun yang termasuk Aset, adalah Kas. Saat menghitung Kas, saya kedapatan hasil, minus Rp650.000. Sedangkan kedua teman saya itu tidak ada hasil minus.

Ternyata pada akun Jurnal Umum, asuransi dibayar dimuka yang harusnya memang berada di debit, mereka ubah posisinya ada di kredit. Sehingga, bisa mengkatrol nilai Kas menjadi tidak minus. Sedangkan saya kebalikan dari mereka. Makanya hasilnya minus.

Karena saya terkecoh dan tidak percaya diri, jadilah saya ikut-ikut mereka. Akun tersebut saya balik. Supaya tidak minus. Tapi dengan hasil yang ujungnya tidak balance.

Sedangkan hasil pertama saya tadi, balance. Syarat menghitung Neraca adalah Aset dan Kewajiban harus balance.

Sialnya kertas jawaban saya sudah langsung diambil dosen. Belum sempat mengganti lagi kejawaban saya sendiri. Dosen, sudah umumkan jawaban akhirnya. Dan jawaban awal saya yang benar.

Teman saya yang lain, yang ada dikursi depan. Mereka semua balance. Mungkin karena tuntutan duduk didepan tidak bisa tengok kanan kiri. Atau mungkin memang benar-benar yakin dan bisa atas usahanya sendiri.

Intinya, yang duduk dibagian tengah dan belakang. Mereka hanya bisa bilang “Yahhhh…..”, termasuk saya.

Padahal sebelum ujian, ibu saya berpesan “Jawab sesuai kemampuanmu, kalau kamu sudah belajar dan yakin, jawaban yang paling benar ya hasil dari pemikiran kamu sendiri. Jangan ikuti jawaban orang lain. Yang selesai duluan mengisi jawaban pun, belum tentu benar. Yang selesai paling belakangan pun belum tentu pintar. Yakin sama diri sendiri.

Saya jadi berandai-andai. Seandainya, seandainya dan seandainya. Ya itu lah, penyesalan selalu datang diakhir kejadian.

2. Kartu Ujian di Laminating

Kampus saya memang tidak mau ribet. Kartu ujian diprint sendiri oleh mahasiswa. Siapa saja yang sudah bayar kuliah, tidak ada tunggakan. Pasti bisa download kartu ujiannya sendiri. Terserah mau di print atau diapakan. Yang jelas disitu sudah ada barcodenya. Tugas akademik hanya men-scan barcode tersebut.

Saya print, kemudian saya laminating. Tidak saya perhatikan begitu detail, item apa saja yang ada dalam kartu ujian tersebut. Yang saya tahu, disitu hanya tertera; ruang kelas, nama mata kuliah, dan kode dosen. Saya tidak begitu memperhatikan yang lainnya.

Dengan terlalu percaya diri. Saya merasa bahwa kartu sayalah yang nantinya tidak akan lecek, sobek atau luntur terkena air. Karena sudah dilaminating dengan rapih.

Ternyata, saat ujian berlangsung. Dosen yang mengawas keliling, dan tanda tangan di kartu ujian masing-masing mahasiswa. Yang lain santai, karena mereka kertas biasa.

Giliran saya. Dosennya bingung, katanya “Kenapa kamu laminating? Saya kan jadi susah tanda tangannya“.

Saya tidak tahu bahwa disamping kolom mata kuliah, ada kolom untuk tanda tangan dosen yang mengawas. Niat saya supaya rapih, malah menyusahkan.

Ternyata terlalu yakin dan percaya diri itu juga berbahaya.

3. Nyontek Tapi Komplain

Kebiasaan pelajar Indonesia. Sudah malas berpikir, menyontek pun sambil komplain. Kalau banyak komplain, usahalah jawab sendiri. Toh, dengan komplain ke si yang kasih contek itu pun sebenarnya kalian sudah menemukan jawaban sendiri.

Hari Selasa kemarin, waktu ujian mata kuliah Pengantar Administrasi Publik. Di soal nomor 5 itu ada pertanyaan “Jelaskan pengertian seni dalam ilmu administrasi!

Karena Administrasi Publik termasuk kedalam ilmu dan seni. Saya jawab sesuai dengan pertanyaan.

Disitu sudah jelas-jelas tertera “pengertian seni dalam ilmu….” bukan “pengertian seni dan ilmu….“.

Teman belakang saya, sudah nyontek dia komplain. Katanya seperti ini, “Itu kan jawabannya dua, seni dan ilmu. Kenapa lu cuma seni doang. Ilmunya mana?”

Saya jelaskan berkali-kali untuk bedakan kata “dan” & “dalam“. Dia tetap ngeyel. Akhirnya saya bilang, “Udahlah kalo ngeyel, tulis jawaban lu sendiri, jangan nyontek“.

Dia balas dan dia bilang, “Yaudah, pokoknya gue udah ngasih tau. Jawaban lu pasti salah“.

Dengan percaya diri, dia maju kedepan mengumpulkan kertas jawabannya. Selesai lebih dulu daripada saya. Yang nomor 5 jawaban dia pasti salah. Dan saya belum tentu benar. Hehehe­čśé

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *