Kunjungan Klien di Bulan Puasa

Dua hari lalu saya mendapat tugas dan berkesempatan melakukan kunjungan ke salah satu klien di Jakarta. Ini adalah kedua kalinya saya pergi ke klien di hari puasa.

Kunjungan sebelumnya simple, tidak perlu ganti kendaraan untuk sampai ke tempat klien. Hanya turun di Stasiun Gondangdia, dilanjut jalan kaki.

Malam itu saya ada jam kuliah, masih belajar di kelas. Karena saya kerja sambil kuliah. Saya cek handphone. Ternyata banyak notif group. Saya baca satu per satu.

Ada pertanyaan pak Boss, soal tawaran berkunjung ke klien. Kebetulan kliennya ini pemerintahan. Terkenal lah. Apalagi yang suka dan sering keluar negeri, pasti sering berhadapan dengan tim mereka.

Waktu itu pertanyaan si Boss langsung saya jawab, “Bisa”. Karena menurut saya, boleh juga ikut kunjungan ke klien. Lumayan untuk tambah pengalaman sekaligus refreshing walaupun dalam keadaan berpuasa.

Saya itu suka kepo sama gedung-gedung tinggi yang ada di Jakarta. Gedung-gedung Kementerian atau gedung tinggi milik swasta yang logonya terkenal.

Yang saya ingin ketahui adalah bagaimana ruangan kerja mereka. Apa yang mereka kerjakan. Dan bagaimana situasi dan suasananya.

Karena menurut saya bekerja didalam gedung tinggi itu sesuatu yang wah dan terlihat elit.

Makanya saya langsung jawab, bisa. Supaya saya bisa juga berkunjung kesana.

Sekitar jam 08.30 WIB saya bersama rekan kerja start dari kantor menuju Stasiun Bekasi. Naik KRL yang sumpek, dan super padat itu untuk selanjutnya turun di Stasiun Jatinegara dan melanjutkan perjalanan dengan taxi menuju kantor klien.

Karena kami berdua sama-sama belum pernah berkunjung ke klien yang satu ini. Saat keluar dari Stasiun Jatinegara, saya agak bingung harus ke arah mana, agar bisa memberhentikan taxi yang lewat. Karena panjangnya pagar stasiun, membuat kami jadi bingung harus ke tempat yang mana.

Saya menuju ke arah jembatan penyebrangan dan menunggu dibawahnya. Beruntungnya, tidak lama kemudian taxi datang. Argo disetel. Diajaklah kita putar arah yang jauh. Sehingga harganya naik.

Sebelum naik taxi, saya buka google maps terlebih dahulu. Mencari lokasi gedungnya. Ternyata tidak jauh. Tapi karena putar arah itu, jadi merasa jauh sekali.

Akhirnya saya sampai dilokasi. Tapi masih harus mencari gedungnya. Letak gedungnya ada dipaling belakang. Dan kita kesulitan mencarinya, karena petunjuk arahnya tidak jelas. Dan lagi-lagi yang semestinya bisa mundur ke belakang, supir taxi malah kembali ketitik awal. Ya jelas, argonya bertambah dong. Ditambah parkir kita yang tanggung. Jadilah kami berdua bayar taxi dengan nominal Rp45.000,- yang semestinya sih dibawah harga itu.

Setelah sampai, saya masuk ke gedung dan menunggu di lobi. Terlihat dari luar sebelum saya masuk ada banyak petugas jaga di meja resepsionis. Wajahnya galak. Mungkin karena itu pemerintahan jadi mereka harus waspada, makanya galak.

Saya menunggu rekan kerja yang lain. Cukup lama kami menunggu, sekitar 30 menit mereka baru sampai. Tanpa menukar kartu identitas dengan kartu tamu, kami bisa masuk melewati pintu tanpa tapping dengan kartu tamu.

Yang tap itu rekan kerja saya yang lain. Hanya dengan menempelkan tangan di kedua sisi, pintu terbuka dan tidak tertutup lagi. Saya agak norak sih. Kok bisa begitu?

Dilanjut naik lift ke lantai 4, untuk melakukan meeting diruangan Direktur.

Ternyata pesertanya banyak sekali. Dan paling banyak kaum laki-laki. Saya lihat ruang kerja disana, sebelum masuk ruangan meeting. Itu keren. Mereka seperti terlihat sibuk semua.

Lebih terkejutnya saat saya tahu ruang meetingnya seperti di kursi DPR. Kursinya ditata letter U. Dikursi barisan depan dipasang Mic Conference. Kursi belakang, biasa saja.

Waktu saya baru sampai, saya dan rekan kerja saya dipersilahkan langsung duduk di depan. Karena saya tidak tahu, kami menurut saja.

Satu per satu, peserta meeting dari pihak instansi pemerintahan ini masuk dan memenuhi ruangan. Acara dimulai dengan pembukaan sambutan dari Direkturnya langsung. Dan posisi tempat duduk saya ada disampingnya.

Lho, saya baru engeh. Kursi saya ini sebenarnya paling dekat dengan atasan mereka. Pantas saja tidak ada yang mau mengisinya. Dan lebih senang duduk di kursi belakang. Tapi tidak masalah, ini jadi pengalaman saya. Karena tidak sembarang orang bisa ikut dan masuk ke dalam ruang meeting tersebut. Apalagi duduk didekat atasannya langsung kan.

Seperti ini gambar ruangannya.

Saya agak sungkan mengambil gambarnya. Saya pikir foto diruangan ini tidak boleh, ternyata sah-sah saja dan boleh-boleh saja. Karena selesai meeting, banyak peserta meeting yang lain bebas ambil gambar?

Pembahasan meeting ini lumayan lama dan panjang. Saya suka dengan pembicara keduanya. Bawahannya pak Direktur, kalau tidak salah kepala IT nya. Beliau berbicara dengan sangat terstruktur. Rapi. Dan beliau sampaikan apa adanya bagaimana kinerja masing-masing team.

Pertama beliau memuji, kemudian menyampaikan kekurangannya. Beliau juga menyinggung soal ruang kerja Team Engineer yang stand by disana. Menurutnya, kerja fokus itu berawal dari ruang kerja yang nyaman. Kalau ruang kerjanya saja sumpek dan banyak sampah bagaimana bisa kita fokus bekerja. Dari hal kecil seperti itu saja beliau mau menyampaikan.

Dan selebihnya kami membahas terkait pekerjaan. Hingga akhirnya meeting dicukupkan dan selesai. Peserta yang lain berpencar, ada yang langsung pulang ada yang masih stand by disana. Saya termasuk yang ingin langsung pulang.

Menuju ruang lobi, naik lift turun ke lantai 1. Baru sebentar kemudian pintu lift terbuka, seorang pegawai sana masuk ke lift sedangkan kami berdua reflex langsung keluar dari lift.

Saat saya lirik kanan kiri, kok beda ya ruangannya. Kok masih bisa lihat atap rumah. Berarti kan saya masih diatas. Satu orang yang masuk lift tadi bilang, “Mas mas, mau ke lantai 1 ya?”

Lalu kami jawab, “Iya”

Dia bilang lagi, “Ayo mas, ini masih lantai 3. Lantai 1 masih kebawah lagi.”

Wahhh, iya. Kita berdua kurang fokus?

Disitu juga saha baru sadar, kalau waktu masuk melewati pintu tapping kita pakai bantuan team lain. Sedangkan kita berdua sudah berpencar dengannya. Rekan kerja saya mencoba mengikuti cara sebelumnya. Cukup tempel tangan. Dan langsung bisa terbuka.

Konyol kalau sampai tidak bisa keluar dan lewat pintu tapping tersebut?

Saya duduk di lobi. Saya lihat banyak orang yang berkunjung kesana dan dijemput didepan gedungnya langsung. Walau naik taxi sekalipun. Saya pun ikutan. Beberapa kali saya pesan GoCar. Minta untuk dijemput didepan gedung langsung. Sudah menunggu lama ternyata dicancel.

Karena semakin siang dan semakin panas. Akhirnya kami berdua memutuskan untuk langsung jalan kedepan, alias keluar area. Dan menunggu taxi didekat halte.

Waduhhhh, jalan kaki kedepan itu kan lumayan juga. Bonus bulan puasa ini mah. Jalan kaki, panas-panasan.

Tapi kami langsung dapat taxi, dan perjalanan ke Stasiun Jatinegara hanya sebentar. Hanya mengeluarkan uang Rp15.000,-.

Lagi-lagi kami harus putar jauh, jalan kaki, untuk masuk ke stasiun.

Saya sudah membayangkan dikereta pulang pasti dapat tempat duduk. Ternyata, tidak juga. Saya mesti berdiri lagi. Sungguh nikmat bulan puasa sekaligus dapat pengalaman yang menarik. Yang tidak semua orang bisa merasakan?

Dibayar Lunas

Sudah satu setengah tahun saya menjadi pengguna MacBook Air. MacBook yang saya dapatkan di tahun 2017. Yang di bulan ini dan di tahun ini sudah sepenuhnya jadi milik saya.

MacBook ini saya dapatkan setelah delapan bulan bekerja. Sebelumnya saya menggunakan laptop biasa. Yang spesifikasinya jauh lebih rendah dibandingkan dengan yang sekarang saya gunakan.

Awalnya beberapa rekan kerja saya semua sudah menggunakan MacBook ini. Mereka lebih mudah dalam bekerja, sedangkan saya harus bolak-balik charge laptop supaya tetap bisa bekerja. Buka beberapa folder, loadingnya lama dan harus dimatikan secara paksa.

Saya jadi bahan bercandaan salah satu rekan kerja saya, ketika saya mencoba menggunakan laptopnya. Karena perbedaan cara penggunaanya sangat jauh dengan laptop saya. Selain ringan, MacBook juga unik. Untuk memindah tampilan ke desktop lain hanya perlu menggunakan 3 jari diusap ditouchpad yang sensitif itu.

Dan saya lagi-lagi jadi bahan tertawaan. Saya berpikir, “Kalau saya punya apa bisa gunainnya ya?”

Terlalu elit untuk saya. Apalagi setelah saya tahu harganya. “Apa bisa saya punya barang mahal kaya gtu?”

Dulu pertama kali lulus, saya punya keinginan beli produk apel kegigit. Keinginannya tidak muluk-muluk, hanya ingin iPhone 5s. Yang waktu itu harganya sudah turun di angka Rp5.000.000,-. Menurut saya itu akan lebih mudah dan terjangkau oleh saya, ketimbang beli laptop yang harganya sama dengan harga motor matic.

Setelah saya coba untuk menyisihkan uang, untuk mewujudkan keinginan itu ternyata saya ada kendala. Bukan karena uang yang ditabung kurang, tapi karena ketidak-ikhlasan kalau saya harus gunakan uang yang sudah ditabung itu untuk sekedar beli iPhone. Yang sebenarnya di tahun yang sama pun akan diterbitkan kembali produk terbarunya.

Lebih baik untuk beli Android biasa, sisa uangnya bisa untuk yang lain.

Awalnya saya tidak tahu, akan ditawarkan ganti laptop mahal itu. Beberapa rekan kerja memberikan saya clue, tiap kali melihat laptop saya yang berwarna hitam itu, mereka bilang “Besok berubah ini jadi tipis”.

Tidak lama, saya dipanggil oleh pak Boss untuk menemuinya. Saya dijelaskan terkait pengadaan laptop mahal itu *ejiyehhh

Dari mulai harganya, diperlihatkan bentuk laptop yang akan dibeli nanti, dan bagaimana cara membayarnya.

Rupanya di Excellent diberikan keringan untuk mendapatkan barang mahal ini, yang mungkin tidak bisa diperoleh di perusahaan lain.

Ketika saya mendapatkan pertanyaan penawaran laptop tersebut, saya seperti tidak percaya bahwa sebentar lagi saya punya barang mewah itu, yang mahal logonya, yang dominan dimiliki orang-orang kaya, yang harganya belasan juta, yang ringan dibawa, awet baterainya, ya pokoknya yang namanya MacBook Air.

Saya ingat betul pertama kali barang itu sampai. Kebetulan waktu itu sedang dilaksanakan training di Markas Excellent. Dan waktu itu, bukan jadwal saya. Ada pesan dari Pak Boss via telegram. Si Boss bilang, “MacBooknya sudah sampai, dan mau diambil kapan?”

Tanpa mengulur waktu, saya segera datang ke Markas Excellent. Ada dua kotak pembungkus MacBook berjajar, ada kotak yang masih bagus dan kotak yang sedikit penyok.

Pak Boss memberi saya kotak yang sedikit penyok. Padahal bukan itu yang saya mau. Tapi pak Boss memberi saya kesempatan untuk memilih, toh katanya sama saja. Akhirnya saya pilih kotak yang paling bagus.

Saya buka kotak pembungkus itu. Melihat logo apel saya masih tidak percaya. Bagaimana bisa, iPhone yang ukurannya kecil dan masih terjangkau harganya belum bisa dibeli, sedangkan saat itu saya sudah bisa bawa pulang MacBook Air.

Setelah di unboxing saya coba instal dan mempelajarinya, sebelum akhirnya saya bawa pulang ke rumah dan memperlihatkannya kepada Ayah dan Ibu saya.

Perasaan senang dan tidak menyangka itu ada, apalagi ketika Ayah saya kaget melihat tipisnya  laptop baru saya itu. Beliau heran, kenapa bisa setipis itu, sedangkan laptop yang biasa saya gunakan bisa setebal itu.

Satu minggu saya menggunakan MacBook itu, dan baru sadar adanya cacat fisik di pinggir layar laptop. Lapisan besinya seperti terbuka. Kemudian dibeberapa bagian terdapat den, seperti habis terbentur benda padat.

Saya lapor ke Pak Boss. Beliau bilang harus ditukar yang baru. Mumpung masih ada garansinya. Akhirnya saya bungkus kembali MacBook saya itu.

Dan ternyata kotak yang bagus itu isinya tidak sempurna. Sedangkan kotak yang sedikit penyok, yang sebelumnya diberikan saya itu yang isinya sempurna. Karena pikir saya waktu itu, kotaknya penyok takut isinya ikut penyok. Ternyata tidak. Kotak yang paling bagus lah yang ternyata ada cacat produksi.

Makanya jangan lihat sesuatu dari covernya.

Saya kembali menggunakan laptop yang sebelumnya. Dan menunggu penggantinya. Padahal waktu itu sudah masuk cicilan pertama saya *Eeehhhhh

Seminggu kemudian sampailah laptop pengganti saya. Laptop yang saya gunakan setiap hari. Satu bulan, dua kali ganti laptop. Kan hebat?

Dan saat ini statusnya sudah lunas. Berkat bantuan Excellent, boleh cicil sampai lunas. Kalau saya tidak nyicil itu laptop pasti sulit kebeli. Saya bisa saja menabung dan beli itu secara cash. Tapi pasti kejadiannya sama seperti ingin membeli iPhone. Sayang uangnya. Secara mahal-mahal, mengeluarkan uang belasan juta hanya untuk beli laptop.

Lagi pula seandainya saya ke iBox pun, pasti saya ditawarkan cicilan sama karyawannya?

Sarapan Mie Goreng Bersama Ayam

Pagi itu sekitar jam 09.00. Saya keluar hotel mencari tempat makan untuk sarapan. Mengingat sekitar jam 01.00 pagi saya terbangun, karena kepanasan dan kerongkongan saya kering dan kebetulan minuman gratis yang disediakan hotel juga sudah habis saya minum sejak pertama kali datang. Alhasil pagi ini saya mesti mencari air mineral untuk menghilangkan haus yang luar biasa.

Saya baru tahu kalau hotel tempat saya menginap ternyata tetanggaan dengan 7 Eleven dan KK Mart. Akhirnya saya mengunjungi salah satu toko tersebut. Saya pilih KK Mart. Kalau 7 Eleven kan juga ada di Indonesia.

KK Mart, mirip seperti Alfamart atau Indomaret yang ada di Indonesia. Selama disana kasir yang saya temui adalah orang India. Mereka berbicara dengan bahasa Inggris. Walaupun kita ajak ngobrol dengan bahasa Melayu mereka tetap tidak mengerti dan terus berbicara bahasa Inggris.

Ketika melihat botol berisi air mineral saya merasa terselamatkan. Karena kehausan semalam itu. Tidur pun jadi tak nyenyak. Makanya sekarang saya langsung ambil dua botol air mineral ukuran 1 Liter dan beberapa snack untuk camilan mengganjal perut sebelum nantinya sarapan.

Karena ini masih jam 09.00, belum banyak yang beraktivitas. Mobil yang lewat pun bisa dihitung jumlahnya. Tidak macet. Semua tertib. Kalau melanggar aturan disini, rasanya sangat malu. Karena disini saya tidak menyewa kendaraan apapun. Kemana-mana harus jalan kaki dan naik kendaraan umum. Urusan menyebrang jalan pun harus tetap tertib mengikuti aturan disini. Semisal harus lewat zebra cross.

Walaupun jarak mobil dengan kita yang akan menyebrang masih jauh. Kalau menyebrang bukan pada tempatnya. Dengan sendirinya akan merasa malu.

Sudah diganjal biskuit dan air, perut saya belum mau kenyang kalau belum makan karbohidrat.

Akhirnya saya mencari restaurant terdekat. Saya ingat rekan kerja saya yang sebelumnya lebih dulu ke KL. Dia sarapan masakan india. Saya jadi penasaran. Akhirnya saya cari di google maps untuk lokasinya.

Pertama saya kesasar. Malah masuk ke area apartemen. Karena salah membaca arah. Akhirnya saya kembali ke titik awal. Coba jalan lagi. Ketemu. Di jalan Tengkat Tong Shin. Nama tempat makannya Tg’s Nasi Kandar.

Ternyata disekitar sini banyak rumah makan. Banyak restaurant. Ada masakan Thailand, China, dan India.

Saya pilih India. Selain halal. Saya juga penasaran dengan roti canai. Awalnya.

Tapi saat saya masuk ke restaurant, saya melihat cheff nya sedang pukul-pukul adonan roti dengan tangan telanjang. Walaupun sama dengan pedagang martabak telur di Indonesia. Entah kenapa ketika melihat proses di tempat makan ini saya jadi memilih lebih baik makan yang lain hehehe?

Takut nggak kenyang. Alasan lain memilih restaurant masakan India, karena saya suka nonton sinetron India. Dan diberbagai tayangan tersebut memperlihatkan masakan India yang penuh dengan
rempah-rempah.

Banyak juga yang bilang kalau masakan India kurang cocok untuk lidah orang Indonesia. Nah, jadi saat ini saya berkesempatan untuk coba masakan itu. Ingin membuktikan benar atau tidak.

Pertama saya ambil tempat makan yang di dalam. Pelayan menghampiri saya dan memberikan list menu. Dia berbicara menggunakan bahasa Melayu, namun logatnya cepat.

Ketika melihat list menu, saya kaget dan tertawa melihat nama menu makananannya. Namanya unik “Goreng Bersama Kambing”

Jadi kalau kamu pilih nasi, jadinya “Nasi Goreng Bersama Kambing”.

Coba kalau ada yang tanya, “pagi ini sarapan apa?”

Lalu dijawab, “Sarapan Nasi Goreng Bersama Kambing”.

Kan aneh?

Tapi yasudahlah, saya lapar langsung pesan mie goreng bersama ayam dan teh tarik.

Makanannya masih lama, teh tariknya sudah diantar. Saat saya coba. Memang beda rasanya. Yang ini lebih berasa teh dan susunya. Warnanya juga oren. Dan saya sempat uring-uringan karena minum saya keburu habis, makanannya belum juga sampai di meja saya.

15 menit kemudian, makanan saya sampai.

Saya cicipi, rasanya biasa saja. Tapi sedikit aneh. Ada bau udang atau seafood. Padahal saya pesan mie goreng bersama ayam, bukan bersana udang atau cumi?

Porsinya banyak. Satu porsi mie goreng dihargai RM8.50. Sedangkan teh tariknya RM2.40. Ini termasuk murah. Ketimbang beli kebab di KL Sentral.

Porsinya juga banyak.

Disini, setiap meja makan tidak disediakan tissue. Jadi kalau bisa bawa tissue sendiri.

Saya mulai memakannya. Ketika hampir setangah habis saya merasa ada bau-bau aneh saat mengunyah makanan. Saya pikir ini normal. Akhirnya saya lanjutnya.

Di suapan berikutnya, saya lihat ada daun seperti daun kemangi yang kering. Saya pikir, pasti ini yang tadi saya makan kemudian muncul bau-bau rempah.

Saya searching. Itu adalah daun kari atau daun salam koja.

Biasanya digunakan untuk memasak daging kambing dan ayam. Agar tidak terlalu bau amis.

Seporsi ini pun, untuk daging ayamnya tidak tanggung-tanggung. Besar dan banyak dagingnya. Dagingnya juga tidak keras atau alot. Semua empuk dan pas. Walaupun gara-gara daun kari, kenikmatan saya saat makan itu berkurang.

Tapi setidaknya makanan ini cocok untuk mengisi perut sebelum jalan-jalan ke Batu Caves.

Terbang Bersama AirAsia

Terbang bersama AirAsia. Mungkin begitu judul yang tepat untuk tulisan saya saat ini.

Setelah menunggu lama di Gate 6. Pesawat saya akhirnya datang. Semua penumpang berbaris sesuai zone nya.

Baru tahu kalau masuk pesawat harus berbaris seperti itu, supaya gampang diatur tempat duduknya. Kebetulan saya ada di zone 2. Karena kursi saya di nomor 29 E & F.

Perasaan saya was-was tiap kali ingin lepas landas. Perjalanan dua jam diatas awan itu menurut saya cukup lama.

Saat pesawat berhasil mengudara dan melewati Selat Sunda. Disitu pertama kalinya saya merasakan terbang diatas lautan. Dan melihat pucuk Gunung Anak Krakatau yang mengeluarkan asap.

Selama satu jam berada diatas awan, alhamdulillah belum terjadi guncangan-guncangan akibat turbulensi ringan. Dan saya bisa melihat daratan hijau di bawah, mungkin itu pulau Sumatera. Atau malah daratan Singapura.

Pada saat ini juga pertama kalinya saya melihat pesawat lain melintas dibawah pesawat saya. Tidak disangka, secepat itu pesawat melaju diudara. Padahal jika melihat pemandangan keluar, sepertinya pesawat tetap disitu dan tidak bergerak?

Pantas saja Jakarta – Kuala Lumpur bisa ditempuh hanya dengan waktu dua jam.

Mendekati landing pesawat. 30 menit sebelumnya, pesawat saya berada di ketinggian 38.000ft. Disini terjadi turbulensi ringan. Karena pesawat yang saya tumpangi berada diatas gumpalan awan. Sebagian gumpalan awan itu ada yang cerah, dan sebagian lagi menghitam.

Pilot mengumumkan bahwa cuaca di Kuala Lumpur cerah namun berawan. Semua penumpang diharapkan tetap tenang, walaupun sesekali pesawat miring dan terjadi turbulensi ringan.

Kemudian announcement otomatis mulai terdengar, berarti sebentar lagi pesawat akan landing.

Announcement :
“Tuan-tuan dan puan-puan, sila pasangkan tali keledar. Tutup meja dihadapan Anda dan penutup tingkap dibuka. Sila kembali ke tempat duduk Anda sekarang dan penggunaan tandas ialah tidak dibenarkan pada masa ini.”

Yang saya dengar bukan tuan-tuan dan puan-puan. Tapi tun-tun dan pon-pon. Dan saya bingung sendiri, tapi di translate ke bahasa Inggris jadi ladies and gentlemen haha?. Baru sadar dan jelas mendengar kalau itu tuan-tuan dan puan-puan, ketika saya berada di penerbangan KUL-SIN.

Nah, saat landing ini juga. Semua anak kecil didalam pesawat yang saya tumpangi menangis, karena telinganya sakit. Saya pun merasakan itu. Saya sendiri khawatir, takut gendang telinganya pecah terus nanti keluar darah dari dalam telinga. Tapi sebenarnya itu dalam keadaan normal.

Setelah berhasil mendarat di KLIA 2, matahari disana ternyata masih tinggi. Beda satu jam dengan Waktu Indonesia Bagian Barat (Jakarta). Ternyata suasana jam 18.00 disana sama dengan jam 16.00 di Jakarta.

Ketika memasuki imigrasi ternyata luar biasa antre nya. Saya yakin disini tidak akan ditanya detail.

Akhirnya saya coba ke counter Tune Talk terlebih dahulu. Karena selama liburan disini saya juga butuh paket data internet.

Untuk mendapatkan kartu perdana Tune Talk, bisa dipesan di aplikasi Klook. Dengan keyword “SIM Card 4G Malaysia”. Pilih pick up di Kuala Lumpur Airport. Dan jangan lupa bayar.

Nanti tunjukan saja kode bookingnya ke petugas. Dan langsung di scan, kemudian diaktifkan oleh si petugas tersebut. Tidak perlu khawatir, walaupun petugasnya orang India tapi dia bisa bahasa Melayu juga.

Saya kembali mengantre ke imigrasi Malaysia. Tidak disangka banyak juga ya yang ingin mengunjungi Malaysia. Saya ambil jalur foreign paspor (Paspor Asing). Untuk kalian yang baru pertama kali keluar negeri, jalan lupa antre terlebih dahulu untuk meminta stemple negara Malaysia.

Kenapa saya katakan jangan lupa antre. Karena saat saya kesana jalur antrenya sangat membingungkan. Ada yang satu baris isinya bule Western semua, ada yang satu barisnya Chinese semua, ada yang satu baris India dan lokal. Nah, sedangkan saya kan wajah lokal. Jadi kalau saya antre dibarisan bule Western agak aneh. Jadi, kalau disuruh berbaris oleh petugas imigrasi sana nurut saja.

Tidak berbeda jauh dengan imigrasi Indonesia. Bedanya hanya keramahan petugas saja. Saya kedapatan petugas yang mungkin sudah terlalu lelah jadi jutek sangat. Saat saya melakukan pengecekan sidik jari. Dua kali kepala petugas geleng-geleng. Mungkin karena tidak langsung cocok hihi?

Ketika sudah cocok dan dapat stemple saya langsung dialihkan ke jalur exit. Tidak boleh menunggu teman didalam ruang imigrasi, harus langsung exit ke tempat toko oleh-oleh.

Setelah keduanya lolos. Saya kebingungan mencari jalur exit bandara kedatangan “Balai Ketibaan”. Ternyata ada pengecekan barang lagi. Semua orang yang melewati itu membawa koper. Sedangkan saya hanya tas gemblok. Dibelakang saya orang Indonesia. Dia bilang tas saya tidak perlu diperiksa. Yasudah saya nyelonong boy.

Ternyata petugas memanggil saya, tas saya juga harus diperiksa. Saya jadi malu sendiri. Tapi tidak masalah itu namanya pembelajaran.

Melakukan Tarik Tunai

Sebelum ke counter bus yang menuju KL Sentral, saya mencari mesin ATM Meps terlebih dahulu. Saya ingin merasakan tarik tunai di negara orang. Saya punya debit Muamalat. Katanya bisa untuk tarik tunai di Malaysia. Dan ternyata memang bisa. Saya tidak dikenakan biaya administrasi. Saya menarik uang tunai senilai RM250 dan itu hanya tertarik sekitar Rp855.000,- sekian.

Dan mesin ATM disini ternyata mengeluarkan pecahan mata uang yang berbeda-beda. Tidak seperti di Indonesia, hanya tersedia untuk pecahan Rp50.000,- dan Rp100.000,- saja. Disini berbeda nilai pecahan pun bisa dilakukan. Seperti saya, RM250 di mix dengan RM20 dan RM50 ada RM10 nya juga lho.

Menuju KL Sentral

Setelah melakukan tarik tunai, saya langsung menuju lantai dasar. Turun satu level kebawah. Saya menggunakan jasa Aero Bus. Rute KLIA 2 – KL Sentral.

Biayanya hanya RM12 per orang. Dan beruntung busnya sudah siap jalan menuju KL Sentral. Perjalanan di tempuh kurang lebih satu jam.

Jalan tol disana amat sepi. Sama seperti di Indonesia. Saya merasa tidak seperti di luar negeri. Saat memasuki wilayah kota, saya baru merasakan bahwa saya ada di negara orang.

Sekitar pukul 21.00 saya sampai di KL Sentral. Masuk ke terminal bus, yang juga basement. Saya bingung harus kemana saat itu. Yang aneh, masa pusat angkutan umum kaya begitu. Gimana mau naik MRT, dimana loketnya? Nggak ada.

Ternyata banyak pasangan bulan madu dari Indonesia. Mereka ke arah lift. Saat lift terbuka, saya ikut masuk. Dan kita disini sama-sama bingung. Harus ke lantai berapa. Ditekanlah lantai 2. Sampai.

Saya kaget lagi, kok malah ke mall? Tapi ada MRT diatas. Gimana cara naiknya? Teman saya kemarin naik Grab. Lalu saya harus kemana supaya sama dengan dia ke hotel naik Grab. Saya pusing. Bolak balik, naik turun eskalator. Hingga perut terasa lapar. Saya makan fastfood lagi. Dua paket ayam tanpa nasi diganti dengan french fries. Pikir saya mungkin sudah malam jadi tidak makan nasi.

Setelah makan, saya ke pusat informasi KL Sentral, saya lihat green line Monorail ke arah Stasiun Bukit Bintang. Saya mengira ini pasti transportasi umum yang tepat untuk kesana. Dan sepertinya dekat dengan tempat penginapan saya.

Saya tanya ke petugas setempat. Dia mengarahkan saya untuk naik ke lantai 2, tempat pertama kali tadi saya sampai. Ikuti petunjuk saja katanya. Saya ikuti perintahnya.

Membeli Kebab di Stuff’d

Perut saya masih terasa lapar. Akhirnya saya lihat ada kedai makanan yang menjual kebab, tacos dan burger. Karena saya takut kalau pesan yang aneh tidak halal, saya pesan kebab saja.

Ternyata cara pesannya bukan langsung bilang ke kasir. Karena disana banyak menyediakan topping, jadi setiap pembeli wajib memilih beberapa topping sesuai ketentuan. Seperti gambar dibawah ini.

Pilih topping sesuai yang diinginkan. Karena waktu itu saya tidak mengerti, akhirnya semua saya ceklis.

Waktu saya kasih ke kasir dan ingin bayar. Si kasir tepuk jidat. Kemudian dia jelaskan ke saya bahwa topping yang boleh diceklis adalah sesuai barisan, bukan semua bisa diceklis.

Waduh saya malu sekali tapi saya kan akhirnya jadi tahu. Yang konyol waktu saya memilih sauce. Yang saya centang adalah harbareno dan mayonaise. Saya juga tidak tahu kalau harbareno itu ternyata cabai meksiko yang terpedas di dunia itu. Saya mengira kalau harbareno itu hanya nama cabai di Malaysia. Ternyata bukan.

Alhasil saat saya makan, pedasnya luar biasa. Sampai saya mengeluarkan air mata. Sedih. Kok pedas sekali. Hingga rasanya jadi sangat pahit. Tapi enak. Karena keesokan harinya, saya juga pesan lagi dengan sauce yang berbeda hehe?

Untuk harga kebab ini RM8.50, sama dengan satu porsi nasi pecel disana. Karena ukurannya juga besar. Untuk porsi dua orang.

Naik Monorail ke Bukit Bintang

Setelah membeli beberapa jajanan untuk mengganjal perut. Saya melanjutkan perjalanan ke Bukit Bintang dengan Monorail.

Awalnya saya khawatir kesasar. Karena saat itu sudah pukul 22.00 waktu Malaysia. Saya khawatir tidak ada lagi kendaraan. Tapi saya yakinkan saja. Kalau tidak kesasar, bagaimana saya bisa menjadi tahu.

Saya berjalan mengikuti petunjuk yang ada di KL Sentral. Saya lihat loket pemesanan tiket sudah tutup. Hanya ada mesin tiket otomatis. Mesinnya besar. Disana bisa memasukan uang kertas dan koin.

Lho kok sama seperti mesin tiket KRL di stasiun kereta di Indonesia. Saya coba saja. Cari Monorail ke Stasiun Bukit Bintang. Biayanya RM2.80 per orang.

Ketika saya sedang menunggu tiket saya. Seorang wanita tua menghampiri saya. Dia berbicara menggunakan bahasa China.

Yang saya tangkap dari ucapannya hanya,

“….. Hang Tuah, Hang Tuah.”

Saya tidak mengerti apa yang dia katakan. Kemudian dia meninggalkan beberapa barang bawaannya. Dan saya teringat kata-kata ibu saya, “Jangan mau kalau dititipin barang sama orang.”

Saya mencoba menunggunya hingga kembali. Ternyata lama.

Dan tiket saya sudah keluar juga. Ternyata disini bukan tiket kertas atau kartu. Tapi koin plastik. Unik sekali. Ini bisa di tap dan dimasukkan kembali ketika sudah sampai di stasiun tujuan.

Lanjut ke wanita tua tadi, lantas barangnya saya pindahkan didekat mesin tiket. Karena saya tidak mau ambil resiko. Terlihat jahat. Tapi saya juga tidak mau terjadi apa-apa.

Saya segera masuk ke peron. Tidak lama kemudian kereta Monorail datang. Bentuknya unik. Dan lumayan ramai.

Saya lihat rute perjalanan, KL Sentral – Tun Sambhantan – Maharajalela – Hang Tuah – Imbi – Bukit Bintang.

Ketika melihat tulisan Hang Tuah, saya teringat nenek-nenek tadi. Saya baru paham, dia itu tadi minta tolong ke saya untuk dipesankan tiket ke Stasiun Hang Tuah. Dan saya seperti merasa bersalah. Tapi saya lihat diseberang bangku tempat saya duduk, ada nenek-nenek itu. Berarti saya tidak bersalah. Karena dia bisa pulang hehe?

Rasanya naik Monorail, panik saat belok ke kanan atau ke kiri. Karena sangat miring. Kalau kalian pernah naik roller coaster, nah seperti itulah rasa kemiringannya.

Waktu yang ditempuh KL Sentral – Bukit Bintang dengan Monorail hanya 25 menit.

Setelah keluar stasiun. Inilah pemandangan yang saya dapatkan. Ramai luar biasa. Ini baru suasana luar negeri banget. Banyak pengamen disetiap sudut, membawakan lagu-lagu Indonesia dan dikerumuni bule-bule Western. Menghibur. Menyenangkan. Padahal itu sudah jam 22.00 lewat.

Saya sampai bingung dimana letak hotel tempat saya menginap. Ternyata bukan hotel mewah yang saya bayangkan sebelumnya. Hotelnya ada didalam ruko. Lantai 2. Yang kalau pagi dijaga orang Malaysia, kalau malam hari dijaga orang India.

Yang kalau pagi petugasnya jutek, kalau malam ramah. Inilah pengalaman saya, perjalanan saya pertama kali pergi ke Malaysia. Masih banyak yang mesti saya ceritakan?

Persiapan Menuju Malaysia

Rabu, 10 April 2019. Hari yang paling saya nanti. Dengan beberapa persiapan yang saya lakukan sebelum melakukan penerbangan di tanggal tersebut.

Dari mulai melihat dan mendengar cerita beberapa teman saya yang sudah melakukan perjalanan keluar negerinya. Tukar uang untuk transaksi di negara tujuan. Dan beberapa persiapan lainnya.

Ada juga beberapa persiapan yang masih tertunda, seminggu sebelum keberangkatan saya. Seperti belum check-in penerbangan dan cuti saya yang habis.

Penerbangan saya di hari pertama ini rute CGK-KUL. Jakarta-Kuala Lumpur. Lho kok jadinya ke Malaysia? Bukannya ke Singapore?

Betul. Kedua negara tersebut nantinya akan saya kunjungi.

Merubah itinerary menjadi lebih lama liburan di Malaysia. Faktor utama perubahan tersebut adalah masalah biaya hidup.

Perbandingan nilai mata uang antara kedua negara tersebut berbeda lumayan jauh. Ringgit terhadap Rupiah, anggap saja Rp4.000,-. Sedangkan Dolar Singapore terhadap Rupiah senilai Rp10.500,-. Dari perbedaan tersebut sudah terlihat berapa uang yang mesti saya bawa agar tetap nyaman liburan di Singapore.

Menyusun itinerary, selain menyusun rencana perjalanan juga dilengkapi dengan estimasi biaya yang dikeluarkan. Sebelum merubah itu, saya sudah mencari hotel ke beberapa daerah di Singapore via Traveloka atau Agoda. Utamanya penginapan yang dekat dengan tempat wisata.

Harganya luar biasa. Per kamar dan per hari, biaya terendah dimulai dari Rp700.000,- hingga Rp1.000.000,-.

Empat hari tiga malam saya disana, kurus lah saya sampai kembali lagi ke Indonesia. Dilihat dari tempat wisata yang disediakan juga banyak yang mengenakan tarif diatas Rp500.000,- per orang untuk tiket sekali masuk. Akhirnya pergi mengunjungi Singapore saya jadwalkan diakhir liburan, seperti hanya transit saja.

Saya putuskan untuk lama berlibur di Malaysia. Alasannya, mendengar beberapa rekan kerja saya yang sudah pergi kesana. Ternyata asyik dan menarik. Saya pun jadi tertarik.

Uang yang seharusnya dialokasikan untuk penginapan selama di Singapore. Saya pindah untuk biaya tiket penerbangan CGK-KUL, KUL-SIN plus bagasi. Dan sisanya untuk biaya sewa hotel selama tiga malam.

Dan itu cukup. Karena biaya sewa hotel disana pun lebih murah, tidak sampai Rp300.000,- per malam dan per kamar.

Selesai merubah itinerary. Saya melakukan transaksi tukar uang. Tidak saya ceritakan detail, ini privasi hehehe?

Kemudian check-in penerbangan untuk mendapatkan boarding pass. Saya melakukan ini di H-1 keberangkatan. Saya baru tahu kalau check-in ini harus menggunakan paspor. Akhirnya saya harus pulang ke rumah untuk sekedar ambil paspor. Dan makan siang di rumah juga waktu itu, lumayan untuk menghemat pengeluaran sebelum liburan mahal?

Yang terakhir cuti saya yang habis. Cuti untuk liburan di bulan April ini seharusnya saya ambil tiga hari kerja, Rabu-Jum’at. Karena jatah cuti saya habis. Maka saya ajukan dua hari saja. Kemudian saya lapor ke pak HRD terkait keberangkatan saya di hari Rabu yang harus take off di jam 14.00 WIB. Pak HRD bilang, langsung izin ke pak Boss saja.

Saya izin ke Pak Boss H-3 sebelum berangkat. Saya takut tidak di approved. Ternyata responnya sangat baik. Saya di approved izin satu hari?

Beberapa teman saya juga menyarankan untuk datang lebih awal. Kalau naik angkutan umum, seperti Damri itu lama di jalan. Dan waktu itu bersamaan dengan hari dimana jalan tol macet parah.

Jadi saya izin satu hari full untuk persiapan pergi ke bandara.

Karena ini adalah pertama kalinya saya pergi keluar Pulau Jawa. Ada perasaan dimana saya takut dan khawatir ketika sampai di negara tujuan. Bukan hanya itu saja, saya juga khawatir tertinggal pesawat.

Kenapa saya harus datang lebih awal padahal tidak ada check-in bagasi? Ada bagasi atau tidak ada bagasi, memang lebih baiknya sampai disana lebih awal. Menghindari hal yang tidak terduga, hingga harus tertinggal pesawat.

Bagi saya yang memiliki budget liburan terbatas. Kalau tertinggal pesawat itu pasti perasaan saya campur aduk dan sudah pasti saya jadi marah-marah sendiri. Apalagi pesawat yang saya pilih maskapai LCC (Low-Cost Carrier). Maskapai penerbangan dengan tarif rendah. Apabila terjadi pembatalan maka tiket yang sudah dibeli tidak dapat di refund kecuali dengan alasan tertentu dan beberapa syarat yang mesti dilengkapi.

Kalau saya jujur, malas urusnya. Jadi untuk menghindari itu saya harus datang lebih awal.

Sebelum keberangkatan itu saya bertanya kepada beberapa rekan kerja saya. Dan rata-rata mereka menjelaskan bagaimana saat melewati imigrasi. Ditanya-tanya itu pasti. Tapi ada beberapa yang rese, seperti menakut-nakuti. Sampai saya jadi takut, bakal lolos imigrasi atau tidak ya??

Jadi ketakutan saya diawal perjalanan ini adalah takut ditinggal pesawat, takut ditolak imigrasi Indonesia maupun Malaysia, takut kesasar di Malaysia, takut tasnya dicopet di Malaysia padahal disitu ada paspor dan beberapa uang untuk jajan (kalau yang ini mah karena kebanyakan nonton FTV)?

Pokoknya semua yang seharusnya biasa saja jadi ditakuti. Karena ini adalah pertama kalinya saya naik pesawat lagi dengan tujuan berbeda.

Pergi ke Bandara Soekarno – Hatta

Saya belum tahu di terminal mana saya akan naik pesawat. Di kode booking hanya tertera Terminal 2. Saya pergi naik Bus Damri ke Terminal 2. Seperti biasa saya harus ke Terminal Kayuringin terlebih dahulu. Dan beruntung saat itu Bus Damri nya langsung berangkat.

Diperjalanan ini saya jengkel. Dari jam 09.00 WIB saya sudah didalam bus. Jam 11.00 WIB saya masih di tol. Saya sampai bingung. Waktu bulan Juli lalu, cepat sampai, kenapa ini diajak muter-muter.

Sampai saya bertanya-tanya, “Ini bener yang ke Soeta apa bukan sih. Apa ini yang ke Halim. Konyol kalo sampe salah naik.”

Ditambah lihat kelakuan bapak-bapak yang satu ini.

Dari awal keberangkatan Bus Damri, kursinya penuh. Dan seharusnya dia juga sharing sama penumpang lain. Disaat penumpang terakhir sibuk mencari tempat duduk kosong. Dengan santainya ia duduk seperti itu dan meletakkan tasnya dikursi sebelahnya. Padahal sama-sama bayar untuk satu kursi. Hingga akhirnya penumpang terakhir itu duduk disamping sopir.

Lama menunggu, akhirnya saya sampai. Sekitar pukul 12.00 WIB. Saya turun di Terminal 2F. Saya ke KFC dulu, beli makanan untuk dibawa masuk ke ruang tunggu bandara.

Masuk dan periksa semua barang bawaan. Sama seperti halnya penerbangan domestik. Yang membedakan adalah adanya seleksi masuk imigrasi. Tiket yang sudah dicetak dimasukkan kedalam paspor. Untuk memudahkan jangan simpan paspor dan tiket di tas pakaian yang sulit dibuka. Karena ada beberapa pengecekan yang mengharuskan paspor dan tiket selalu dipegang.

Melewati Imigrasi Indonesia

Waktu itu sudah banyak yang mengantre. Sepertinya para TKW Malaysia. Saya mengantre di belakangnya, teman saya dibelakang saya.

Saya lihat bagaimana prosesnya. Mereka tidak ditanya, langsung stemple. Mungkin di paspor mereka sudah banyak cap negara lain. Jadi terpercaya.

Giliran saya.

Petugas : “Halo, selamat siang.”
Saya : “Siang Mas.”
Petugas : “Mau pergi kemana? Boleh lihat paspor dan tiketnya.”
Saya : “Mau ke Malaysia.”
Petugas : “Nginep dimana?”
Saya : “Di Bukit Bintang.”
Petugas : “Sendirian aja? Orang tua ikut?”
Saya : “Nggak ikut. Tapi saya berdua.”
Petugas : “Berdua sama siapa?”
Saya : “Eeee…..”
Petugas : *Lihat kebelakang saya, “Ohh sama kakaknya ya?”
Saya : “Iya sama kakak saya hehe?”
Petugas : “Iya kakaknya yang dibelakangnya kan, soalnya yang mukanya mirip itu doang hehe. Udah selesai, silakan masuk. Selamat liburan.”
Saya : “Terimakasih.”

Sebaik itu petugas imigrasi Indonesia. Sudah ganteng, baik pula. Perasaan senang lolos cek imigrasi.

Ternyata benar. Mungkin saya ditanya detail karena umur saya yang masih muda. Dihitung-hitung masih 19 tahun dan baru mau menginjak 20 tahun. Ditambah ini pertama kalinya saya pergi keluar negeri.

Menuju ruang tunggu. Saya sempatkan makan terlebih dahulu. Saya lihat didalam menuju ruang tunggu bandara ada money changer. Penukaran ke Ringgit lebih murah ternyata. Dan waktu itu saya tidak pegang uang cash Rupiah. Sudah berjalan jauh, saya mundur lagi ke belakang. Cari mesin ATM terdekat. Ternyata tidak ada didalam. Saya putuskan untuk tarik tunai di KLIA 2 saja.

Kemudian pesawat saya ada di Gate 6.

Ketika melalui pengecekan terakhir. Barang bawaan saya kena cek. Diperiksa tas pakaian saya. Petugas bilang, “Coba keluarkan barang bawaan apa yang ada cairannya.”

Saya keluarkan perlengkapan wangi-wangian perempuan. Petugas bilang lagi, “Untuk cairan yang boleh dibawa kedalam kabin tidak boleh lebih dari 100ml.”

Maka ditemukan handbody lotion saya. Dikeluarkan dan dibuang. Karena isinya 200ml. Bukan dibuang sebenarnya, tapi dikumpulkan kemudian dibawa pulang petugasnya untuk istrinya hehe?

Sudah sampai ruang tunggu, perasaan saya 1/4 lega. Karena masih ada tiga step lagi yang harus saya lalui.

Keluarlah Dari Zona Nyaman

Bulan April 2019. Bulan yang saya tunggu-tunggu sejak Maret 2018. Tahun lalu.

2018. Tahun lalu itu saya pesan tiket promo maskapai penerbangan AirAsia rute CGK-SIN-CGK. Awalnya karena ikut-ikutan teman sekantor yang berburu tiket untuk keberangkatan tahun depan, yaitu 2019. Murah. Hanya dengan menjadi member dari program maskapai tersebut.

Beberapa teman saya memilih rute CGK-KUL-CGK, dengan masa liburan 4 hari, dimulai dari hari Rabu – Sabtu. Saya pun begitu. Yang membedakan adalah negara yang akan saya kunjungi.

Sebelumnya beberapa teman saya mendapat tiket pesawat seharga Rp400.000, untuk penerbangan ke Malaysia, harga tersebut sudah termasuk tiket pulang pergi. Murah kan? Makanya saya tergiur.

Berkat paspor yang saya buat di tahun 2017 itu juga, akhirnya saya ada keinginan untuk mencoba pergi keluar negeri.

Melihat peta antara Singapore dan Malaysia, saya lebih pilih Singapore. Alasannya :

1. Tiket penerbangan ke Malaysia waktu itu sudah sold out
2. Pergi ke Singapore lebih cepat sampai dibanding perjalanan ke Malaysia. Yang ada dipikiran saya, jika waktu perjalanannya sebentar berarti bisa dapat harga lebih murah dari tiket pesawat ke Malaysia yang Rp400.000,- itu.
3. Yang saya lihat Singapore itu lebih mewah, luar negeri banget. Dibanding dengan Malaysia yang seperti Indonesia. Biasa saja. Tidak menarik.

Beberapa asumsi saya keluarkan. Perbandingan antara kedua negara tersebut juga menjadi pertimbangan saya. Dan akhirnya, yang saya pilih tetap Singapore. Walaupun malam itu saya masih berharap ada tiket penerbangan ke Malaysia yang tersisa.

Kata teman saya, “Kalo lu nggak dapet tiket promo ke Malaysia, coba besok pagi aja, kali ada.”

Karena kalimat itu, akhirnya saya harus pasang alarm supaya bisa bangun di jam 00.00.

Saya cek kembali. Ternyata benar, tiket ke Malaysia sudah habis. Saya buru-buru pesan tiket ke Singapore. Saat itu masih tersisa 3 seat. Saya pesan untuk 2 orang. Untuk saya dan teman (dekat) saya itu.

Pokoknya saya beli 2 tiket untuk 2 orang, pulang pergi CGK-SIN-CGK dengan total harga keseluruhan tiket sejumlah Rp1.289.000,- . Berarti per orang dikenakan biaya sekitar Rp600.000,- untuk perjalanan pulang pergi.

Kebetulan juga waktu itu saya baru terima gaji. Jadi saya bisa langsung pesan tiket. Ditambah saya sudah punya kartu debit Jenius. Jadi bisa langsung bayar, tanpa harus pergi ke Indomaret di jam tersebut.

Setelah menerima kode booking, saya pamer ke ibu saya. Ibu saya marah dan bilang, “Ngapain beli-beli tiket mahal, segala mau keluar negeri. Emang kesana nggak butuh uang. Disana kan mahal. Nanti jadi gembel gimana? Di deportasi, nggak boleh keluar negeri lagi. Gimana?”

Saya jawab, “Kan keluar negerinya masih tahun depan, jadi bisa ngumpulin duit dulu biar nggak jadi gembel.”

Saya ingat betul kalimat Ibu saya itu. Ibu memang lebih sensitif kalau anaknya bepergian jauh. Dibanding dengan Ayah saya yang selalu mengizinkan jika saya mengunjungi tempat baru.

Ibu saya galak, tapi kalau anaknya pergi jalan-jalan jauh nggak pakai helm, Ibu juga khawatir. Ayah saya pendiam, tapi geregetan kalau lihat anaknya jadi penakut. Makanya kalau saya ingin pergi ke kota-kota besar dan dilarang Ibu. Ayah saya lah yang jadi penyelamatnya. Membujuk Ibu supaya saya diizinkan pergi jalan-jalan.

Ayah bilang, “Kalau terus melarang anak, nanti anaknya jadi penakut. Biarin aja anaknya jalan-jalan. Biar jangan takut ketemu orang. Biar dia berani nanya orang. Jangan dilarang. Nanti dia ga bisa bersosialisasi.”

Sama seperti tulisan Prof. Renald Kasali dalam bukunya “30 Paspor Di Kelas Sang Profesor”.

“… jutaan manusia Indonesia sangat takut “menjelajahi” dunia baru yang sama sekali belum dikenalnya.

Ya, kita semua telah berubah menjadi manusia yang terperangkap dalam zona nyaman masing-masing, senang mengarungi jalan yang sama, berlibur ketempat yang sama.

Tanpa kita sadari sebenernya kita terperangkap dalam kenyamanan yang sesungguhnya mencerminkan kemalasan berpikir belaka.

Bayangkan kalau Columbus tidak berani menjelajahi dunia baru dan kesasar, mungkin saja Benua Amerika baru ditemukan beberapa abad kemudian dan sejarah yang kita jalani hari ini akan berbeda sama sekali.

Bepergian ke tempat baru, dengan informasi, uang, waktu dan pengetahuan terbatas sesungguhnya bisa mengubah nasib manusia.”

Makanya diawal saya masuk ke Excellent, si Boss pernah tanya “Fitra kalau dikirim sendirian ke Jakarta, berani nggak?”

Dengan nada biasa saja, saya malah menjawab “Nggak berani Boss”.

Kemudian pak Boss jawab lagi, “Harus berani dong, nggak boleh takut ya.”

Benar saja prjalanan saya yang sendirian itu dimulai dari dikirim ke klien yang ada di Gondangdia, Jakarta Pusat. Kemudian Setia Budi, Jakarta Selatan. Dimana pada saat itu adalah pertama kalinya saya naik KRL sendiri dan pertama kali naik Gojek.

Kemudian diberikan kesempatan lagi dengan mendapat undian jalan-jalan ke Wonogiri, Malang, Klaten dan Kebumen. Disini juga pertama kalinya saya merasakan naik pesawat dan jalan-jalan kedaerah yang jauh dari planet Bekasi tanpa orang tua.

Dari perjalanan tersebut saya mendapat banyak pembelajaran dan biaya pembelajaran.

Maksudnya ketika saya tidak tahu bagaimana cara naik pesawat, berkat perjalanan tersebut saya jadi punya pembelajaran, kalau di bandara sebelum naik pesawat harus gimana. Kemudian biaya pembelajaran, saat perjalanan saya dari Malang – Batu naik ojek pangkalan dengan harga ratusan ribu. Yang padahal kalau naik gojek hanya puluhan ribu.

Dan sekarang saya harus memanfaatkan dan menggunakan paspor yang sudah dibantu buatkan dengan disubsidi Excellent untuk pergi keluar negeri.

Paspor adalah tiket untuk melihat dunia. -Prof. Renald Kasali

Dan disini juga pertama kalinya saya pergi keluar Pulau Jawa.

Semua itu berjalan mengalir. Di 2017, saya punya paspor dan debit Jenius. Di 2018, saya punya tiket keluar negeri. Serta pembelajaran yang saya dapatkan berkat perjalanan keluar kota itu, bahwa saya harus berani. Dan di 2019, tahun ini saya melakukan perjalanan yang sebenarnya sudah disiapkan dua tahun sebelumnya.

Ke Pasar Ingin Berkata Kasar

Di hari libur biasanya saya menyempatkan diri pergi berbelanja ke pasar tradisional. Kebetulan karena di minggu depan ada kegiatan pergi jalan-jalan jadi ada beberapa perlengkapan yang mesti saya beli.

Seperti biasa tetangga depan rumah saya pasti menitip beli sayuran dengan uang pas-pasan. Kali ini rinciannya beli labu siam, cabai merah dan ikan teri asin. Dikasih uang Rp10.000, ya mau nggak mau harus cukup.

Karena sudah lumayan siang, beberapa tukang sayur langganan sudah mulai habis barang dagangannya. Beli seadanya yang masih bisa dibeli. Untung sayurannya yang dituju masih ada. Dibeli lah oleh ibu saya, labu siam dan cabai merah. Total belanja Rp5.000.

Masih ada Rp5.000, cukup untuk beli ikan teri. Karena tujuan saya ke pasar kali ini bukan untuk belanja sayuran tapi belanja pakaian. Jd saya beli dulu pesanan tetangga saya itu.

Menuju tempat jual ikan asin. Di pasar dekat rumah saya itu ada 3 tempat yang menjual ikan asin. Kami datang ke salah satunya.

Yang jualan itu suami istri. Selain ikan asin mereka juga jual tahu dan tempe. Si suami biasa melayani yang beli tahu tempe. Si istri biasa melayani yang beli ikan asin dan kawan-kawan. Saya lihat barang dagangannya juga masih banyak.

Sampai-sampai ada ikan teri yang warnanya sudah sangat kuning pucat dan mulai hancur.

Ibu saya mulai bertransaksi.

Ibu saya bilang, “Pakde ikan teri yang ini (nunjuk yang bagus) lima ribu aja.”

Si penjual bilang, “Se-ons aja ya”

Kata ibu saya, “Emang se-ons nya berapa?”

“Rp8.000”, kata si penjualnya lagi

Ibu saya bilang lagi, “Nggak Pakde, ini titipan orang soalnya.”

Ibu saya kekeh mau yang ikannya bagus. Akhirnya si penjual tadi memanggil istrinya.

Istrinya datang, “Beli apa?”

Ibu saya kembali menjelaskan, “Beli ikan ini Bude lima ribu aja, sedapetnya, dikit gapapa soalnya titipan orang.”

Si suami nyeletuk sambil nunjuk ikan teri yang paling jelek, “Udah tuh kasih itu aja bu, jangan yang itu”.

Sama si istri dibungkus yang lain, yang kepalanya sudah misah-misah dan warnanya butek. Lebih jelek dari yang ditunjuk suaminya.

Sambil bungkus itu si istri bilang, “Udah ini aja.” Sambil kasih bungkusan ikan teri itu tanpa plastik pembungkus lagi dan pasang muka jutek.

Ibu saya cukup diam dan langsung pergi meninggalkan tempat itu. Menurut saya cara memperlakukan pembeli seperti itu malah membuat jengkel dan malas untuk berkunjung lagi ke tokonya.

Kalau memang tidak dapat Rp5.000. Kan harga per-ons nya saja Rp8.000. Kalau di persentasikan, seharusnya ibu saya dapat 65% nya.

Ikan teri itu kan ringan. Kalau beli 1 ons saja bisa untuk dimasak dua kali.

Sama seperti saya, kalau siang beli makan di warung nasi. Beli sayur harus Rp5.000 padahal makannya tidak seberapa, tidak banyak. Kalau beli Rp3.000 nggak boleh, nggak dikasih. Padahal sayur kangkung.

Dulu ibu saya jualan lontong + gorengan. Ayah saya yang bawa ke tempat kerja. Kan banyak karyawan yang lapar. Kadang bawa uang kadang nggak bawa uang. Tiap Ayah pulang kerja pasti setor ke Ibu. Uangnya selalu kurang. Waktu ditanya kemana uangnya. Ayah jawab, “Tadi anak-anak di kerjaan laper. Yaudah biarin aja dimakan dulu. Bayarnya besok.”

Kan nggak tau, barang kali dia kepengen makan uangnya kurang atau nggak ada kan. Kalau nggak dikasih juga kasian.

Dalam hal beli ikan teri ini, sebenarnya bisa saja ibu saya menomboki dulu untuk beli ikan teri itu. Tapi karena faktor kebiasaan ibu saya suka dititip barang belanjaan. Dan kalau ada yang uangnya kurang biasanya ibu saya tomboki dulu. Tapi hampir setiap hari juga menitip kemudian lupa bayar uang kekurangan belanjaan sebelumnya. Akhirnya ibu saya malas juga kalau begitu caranya. Jadilah beli seada-adanya.

Karena kan kalau nagih uang entah itu Rp10.000 atau Rp5.000 bakal jadi omongan tetangga nantinya.

Sudah jengkel dengan tukang ikan teri itu. Ibu saya ada keinginan ingin membuat bubur kacang ijo. Butuh santan.

Jaman sekarang banyak santan dalam bentuk kemasan. Tapi selain mahal dan kurang enak, ibu saya tetap memilih beli santan dari kelapa yang baru diparut.

Di pasar itu semua tukang kelapa parut sekarang punya mesin tambahan yaitu pemeras santan. Kalau mau langsung disantan ada uang tambahannya.

Ibu saya pesan satu buah kelapa tua, diparut kemudian minta langsung diperas jd santan.

Jawaban si penjual, “Beli satu aja males meres. Beli kemasan aja, kan banyak langsung jadi”.

Ibu saya langsung nyeletuk, “Nggak jadi disanten, parut aja.”

Saya jadi ikutan ingin bilang, “Woy emang yang meres elu, kan yang meres mesin. Lagian gue juga bayar kali, emang gue bayar jasa marut doang.”

Sambil lempar singkong yang ada di depan saya ke mulut dia yang lemes itu.

Tapi kalau dipikir-pikir penjual jenis-jenis mereka itu akan sendirinya bakal tergusur. Ya gara-gara perlakuan mereka-mereka itu ke pembeli. Entah itu barang dagangnya jadi nggak laku. Sepi pembeli. Dan sebagainya.

Beda kalau belanja di Supermarket. Ambil sana-sini bayar sesuai harga tidak ada saling jengkel.

Mengulik WhatsApp Business

Minggu ini saya kedapatan menggantikan tugas rekan kerja saya, yang kebetulan sedang dikirim keluar kota. Setiap hari saya bekerja sebagai sales. Berhubung yang tugas luar kota itu PIC training di kantor, jadi bisa di delegate ke saya karena ada keterkaitannya juga.

Di perusahaan tempat saya bekerja itu disediakan smartphone khusus untuk urusan atau kegiatan PT .

Contohnya PIC training & publishing dan Team Sales. Mereka lebih banyak berinteraksi dengan calon klien, baik itu via sosial media ataupun by phone. Dan biasanya mereka-mereka ini yang paling sering pegang handphone kantor.

Apalagi karakter setiap calon klien itu berbeda-beda. Ada yang sabar ada juga yang tidak sabar alias terburu-buru. Semisal menanyakan beberapa produk yang kami jual. Kalau calon klien yang sabar mereka akan menunggu balasan chat dari kami. Tidak langsung telepon terburu-buru minta dikirimkan penawaran.

Dalam hal ini, kami biasa dikejar-kejar calon klien via WhatsApp. Seperti buronan. Baru kirim “P”, langsung telepon.

Akhirnya untuk mengatasi itu, kita perlu menyembunyikan “last seen” atau ceklis birunya yang ada di fitur WhatsApp.

Setelah searching dan mencobanya. Ternyata ada lho WhatsApp khusus untuk Business. Kegiatan bisnis dengan format nama perusahaan. Seperti namanya kalian semua bisa mendownloadnya di play store “WA Business”.

Untuk lebih detailnya, yuk simak dan budayakan membaca.

Mendaftar Akun WhatsApp Business

Seperti halnya versi personal, WhatsApp Business juga membutuhkan nomor ponsel yang aktif. Sebagai catatan, bahwa WhatsApp Business tidak bisa menggunakan nomor yang sudah pernah atau sedang digunakan di WhatsApp standard. Jadi, jika kita ingin menggunakan nomor yang sama, kita harus memilih salah satu, tetap berada di versi standard atau beralih menjadi versi bisnis.

Pertama, unduh dahulu aplikasi WhatsApp Business dari Play Store.

Setelah terpasang, jalankan aplikasi seperti biasa dan tap Agree and Continue / Setuju dan Lanjutkan. Untuk melanjutkan ke tahapan berikutnya. Saat muncul jendela popup, tap Continue dan tap Allow beberapa kali.

Berikutnya, masukkan nomor ponsel yang ingin kita gunakan.

Biasanya, sistem akan secara otomatis mengenali kode verifikasi yang dikirimkan melalui pesan singkat.

Kemudian, isi nama bisnis sesuai dengan nama perusahaan, pastikan terisi dengan benar karena nama ini tidak akan bisa diubah di kemudian hari.

Dan selesai, akun WhatsApp Business sudah berhasil dibuat. Sudah bisa langsung digunakan untuk berinteraksi dengan konsumen.

Mengubah Profil Bisnis

Profil bisnis, seperti alamat, kategori bisnis, jam buka dan alamat web bisa diubah dan ditambahkan dengan mengakses menu Settings – Business Settings.

Dibagian pengaturan tersebut kita bisa melengkapi data perusahaan seperti lokasi kantor atau toko, kategori, foto, deskripsi dan juga situs web. Jika semua data sudah terisi dengan benar, tap tombol Save/Simpan di kanan atas untuk menyimpan perubahan.

Melihat Statistik Pesan

Panel statistik telah disiapkan untuk menampung informasi tentang berapa banyak pesan yang kita terima dan kirimkan kepada pelanggan. Caranya, masih di menu Settings, tap menu Statistic/Statistik.

Membuat Away Message/Pesan Diluar Jam Kerja

Away Message biasanya digunakan untuk membantu pelaku bisnis tetap terhubung ke konsumen ketika mereka tidak sedang di tempat atau layanan sedang tutup. Fitur ini akan memberikan jawaban otomatis ketika seorang pelanggan mengirimkan pesan.

Tap menu Settings – Business Settings – Away Message/Pesan Diluar Jam Kerja, kemudian beri tanda centang untuk mengaktifkan fitur ini, dan edit pesan default seperti yang sudah ada atau yang kalian inginkan. Setelah selesai, tap Simpan untuk menyimpan perubahan.

Cara Membuat Greeting Message/Salam

Greeting Message juga membantu pengelola bisnis untuk menjalin komunikasi yang lebih baik dengan konsumen. Fitur ini akan terkirim secara otomatis ke pelanggan yang menghubungi kita setelah 14 hari tanpa komunikasi.

Untuk mengaktifkan fitur ini, buka menu Settings – Business Settings – Greeting Message/Salam.

Posisikan tombol ke On, kemudian edit kata sambutan yang menurut kita paling ramah dan membuat pelanggan merasa dihormati. Jangan lupa tap tombol Simpan untuk menyimpan perubahan.

Cara Membuat Jawaban Cepat (Quick Replies)

Pada WhatsApp Business kita juga bisa membuat jawaban cepat yang dipicu dengan kata kunci tertentu. Dengan cara ini, kita dapat menghemat waktu karena tidak harus mengetik satu atau dua kalimat penuh dari awal.

Caranya, buka menu Settings – Business Settings – Quick Replies/Balas Cepat

Defaultnya ada satu quick replies yang sudah dibuat, yaitu /thanks yang berisi ucapan terima kasih. Kita bisa menambahkan quick replies lainnya, kita contohkan quick replies untuk permintaan maaf.

Tap ikon plus di kanan bawah, kemudian ketik pesan permintaan maaf yang paling sopan.

Terakhir tap tombol Save/Simpan.

Selanjutnya, setiap kali kita mengetikkan kata kunci /maaf, maka aplikasi akan secara otomatis mengirimkan pesan permintaan maaf versi penuh yang sudah kita ketikkan sebelumnya.

Masih banyak fitur-fitur WhatsApp Business untuk keperluan bisnis kita. Akan dibahas di postingan selanjutnya☺️

Que Séra Séra

Saya anak pertama. Selisih 4 tahun dengan umur anak kedua. Sebelum punya adik, saya anak yang paling dimanja. Waktu saya masih kecil sering diajak pergi ke Mal. Tiap hari Sabtu dan Minggu jika Ayah tidak lembur kerja, pasti selalu diajak jalan-jalan.

Makan fast food, McDonald’s hampir setiap minggu saya rasakan. French fries juga tidak lupa dibeli. Tidak makan ayamnya tidak apa, yang penting kentang gorengnya. Jaman saya dulu, itu makanan mewah. Karena kan memang mahal.

Dibanding dengan anak-anak didaerah tempat tinggal saya. Waktu itu memang saya yang paling sering pergi ke Mal. Masalah pakaian anak, Ibu saya juga telaten. Baju-baju saat saya masih kecil dulu belinya di Matahari Store. Sama mahalnya.

Jika baju anak kotor, Ibu langsung bergegas menggantinya dengan pakaian yang bersih. Beda dengan anak-anak yang lain. Yang kalau bajunya kotor, Ibu nya biasa saja.

Siang hari, saya dikurung. Harus tidur siang. Waktu bermain dibatasi. Keluar rumah, kalau ingin pergi kerumah Bude atau kerumah Nenek saja. Karena itu saya tidak punya teman di rumah.

Semua itu diberikan karena saya masih menjadi anak satu-satunya.

Semenjak anak kedua dan ketiga lahir. Adik-adik saya. Semua kebiasaan dulu semakin hilang. Pergi ke Mal itu hanya wacana. Dan jalan-jalan ke tempat wisata itu hanya angan-angan.

Karena Ibu saya selalu berpikir, “Besok gimana?” bukan “Gimana besok”. Jadi kalau memang gaji sebulan tidak cukup untuk budget jalan-jalan atau shoping ke Mal, ya berarti ditiadakan.

Semakin tumbuh besar, saya semakin mengerti. Ayah Ibu saya punya anak tiga. Bukan hanya saya yang perlu dibiayai tapi juga adik-adik saya. Maka saya tidak pernah menuntut bahwa orang tua harus selalu menuruti permintaan anak.

Dalam hal uang jajan sekolah. Saya tipe anak yang sungkan meminta ke orang tua. Kalau Ibu lupa kasih uang jajan, saya tidak akan meminta. Tunggu sampai Ibu saya ingat kalau dia lupa kasih uang jajan. Tapi Ibu saya tetap adil, kalau dia sudah sadar ya pasti dikasih hak saya itu.

Masa SMP, kelompok main saya adalah anak-anak elite. Yang Ayah Ibu nya kerja, mereka nya diurus Nenek/pembantunya. Dimana disaat handphone Huawei digunakan dimana-mana, mereka semua sudah pakai Android (Samsung Galaxy Young) dan Blackberry. Dan disitu saya masih pakai handphone Esia Messenger.

Kalau ikut main dengan mereka pasti mainnya kerumah teman yang punya kolam renang. Kalau mereka sudah mulai ngajak main ke Mal atau ke Cafe saya cukup beralasan tidak bisa ikut karena sesuatu.

Iya sesuatu nya itu karena saya tidak punya uang. Saya heran mereka itu kalau cerita kemarin habis main kemana dan dimana, pasti selalu main ke tempat-tempat makanan mahal. Mahal untuk kantong pelajar SMP di jaman saya. Saya sampai bingung, berapa uang jajan mereka per hari hingga bisa setiap hari kesana.

SMP kelas 8 saya sudah bisa seperti mereka. Ayah saya di PHK masal dari perusahaannya. Dapat uang pesangon. Di hari ulang tahun, Ayah memberikan dua hadiah sekaligus yaitu laptop dan Android pertama saya. Itu asal-usul kenapa saya SMK ke sekolah jalan kaki, tapi punya laptop.

Selama masa-masa Ayah saya menjadi pekerja serabutan itu saya mesti hidup prihatin. Apa yang Ibu saya masak, itu yang dimakan. Apa yang Ibu saya belikan untuk keperluan sekolah, ya itu yang dipakai. Dikasih uang jajan segitu ya diterima saja, kalau kurang bisa bawa bekal makanan.

Pernah diwaktu saya SMK, saya punya uang Rp30.000,-. Waktu itu sedang booming merk sepatu All Star. Harga aslinya 1 jutaan. Harga KW nya Rp300.000 an. Saya lihat ada sepatu merk itu tapi KW nya jauh. Harganya Rp30.000,-. Saya pikir ini pas dengan uang saya. Saya beli saja, lagi pula tidak kelihatan kalau itu sangat sangat palsu.

Kebetulan belinya samaan dengan teman sebangku saya. Tujuannya sih untuk ikut-ikutan trend dan supaya kembaran. Satu lagi, supaya bisa untuk gantian agar tidak cepat jebol dengan sepatu yang biasa dipakai.

Baru dipakai dua hari, besi bulat untuk kaitan tali sepatu lepas semua. Ayah saya mencoba mengelemnya. Tetap saja lepas juga. Memang harga tidak bisa dibohongi. Akhirnya saya terus menggunakan sepatu yang biasanya hingga jebol dan rusak.

Karena sungkan meminta ke orang tua untuk dibelikan sepatu yang baru, akhirnya minggu itu saya sengaja tidak cuci sepatu sendiri. Waktu itu Ibu saya yang mencucinya. Berharap Ibu melihat sepatu anaknya yang rusak lalu dibelikan yang baru.

Benar saja, satu hari setelahnya. Sepatu saya yang rusak itu sudah tidak ada di rak sepatu. Ibu menggantinya dengan yang baru.

Semenjak itu saya berjanji pada diri sendiri, kalau saya sudah bisa mencari uang sendiri saya akan beli makanan yang banyak. Yang saya mau. Saya akan beli apapun yang saya inginkan. Yang selama ini tertunda.

Kenyataannya setelah punya uang. Ternyata saya cukup kok makan ayam satu potong. Ingin makan ini, di restoran ini, cukup kok sekali. Saya merasa cukup punya dua pasang sepatu. Setelah ini malah berpikir, “Oiya ya untuk apa beli sesuatu yang banyak, kalau sebenarnya kita punya satu saja sudah cukup, dan tahu rasanya.”

Sekarang, lebih baik uang itu saya gunakan untuk sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya. Contohnya, di bulan April nanti saya akan mencoba traveling ke luar negeri. Target saya adalah, saya pergi keluar negeri diusia saya yang masih belasan tahun.

Saya ingat teman sebangku saya semasa SMP. Dia bilang, “Siapa duluan yang keluar negeri? Lu atau gue?”

Dan tenyata dia duluan yang pergi kesana. Selepas lulus SMP dia ditarik Ibu nya untuk lanjut sekolah ke Belanda. Dia memang bisa pergi kesana, karena Ibu nya. Tapi saya ingin yang berbeda. Saya pergi keluar negeri karena usaha saya sendiri. Saya beli tiket dari tahun lalu. Menunggu setahun itu kan lumayan lama. Jadi bisa dihitung itu salah satu usahanya.

Teman-teman dikampus saya itu banyak yang kerjanya di pabrik. Sering lembur. Uangnya banyak, lebih banyak dari saya. Tapi mereka tidak punya waktu yang banyak. Jadi mereka lebih senang menghabiskan uang dengan cara jajan Richeese yang banyak.

Dalam hal menabung, saya pernah menabung dengan cara jual beli emas. Tiap gajian saya alokasikan dana untuk beli emas. Ke pasar. Tujuannya agar saya tidak banyak jajan. Masa iya jajan bayarnya pakai emas? Kan nggak mungkin.

Emas yang saya beli itu jumlahnya banyak. Sampai saya bingung ingin dipasang dimana lagi cincin-cincin emasnya. Dijari saya sudah ramai perhiasan.

Berbulan-bulan saya memelihara perhiasan itu. Ternyata menurut saya itu merugikan saya. Uang saya dipotong Rp10.000,- tiap gramnya dan tiap kali menjual.

Ujung-ujungnya saya jual semua dan digunakan untuk investasi Reksadana dan Saham lewat Indopremier. Hasilnya ternyata lebih menguntungkan. Saya cuma taruh uang disitu (Reksadana & Saham), bisa bertambah. Saya untung. Dibanding saya jual beli emas. Harga tetap, bahwa setiap penjualan selalu disertai pemotongan harga Rp10.000,- per gram.

Saya juga tidak membayangkan bagaimana bisa sekarang saya belajar main saham. Biasanya main arisan. Yang saya tahu waktu itu kan, saham hanya untuk orang-orang kaya tapi banyak ribanya.

Baru saja dosen saya bilang. Usianya makin tua, tapi masih harus terus mengajar mahasiswa. Dimana ia seharusnya sudah pensiun. Beliau katakan, “Saya menyesal tidak persiapkan masa pensiun saya sedari muda. Makanya saya sarankan kalian untuk pikirkan itu. Gimana supaya pensiun kalian tidak terlalu tua seperti saya.”

Walaupun menurut Doris Day lewat lagunya “Que Séra Séra”. Whatever will be, will be. The future’s not ours to see. Que Séra Séra.

Biarkanlah hidup ini mengalir. Intinya seperti itu. Tapi, masa depan itu tetap harus dipersiapkan.

Nikah Muda

Tahun ini usia saya genap 20 tahun. Untuk jaman sekarang perempuan usia 20 tahun itu sudah cocok jadi seorang istri.

Jadi seorang ibu malah. Mengurus suami dan anak. Menunggu suami pulang kerja, sambil urus bayi dan bebenah rumah.

Nikah muda.

Beberapa teman sekolah saya sudah melaksanakan itu. Alasannya beragam. Ada yang memang permintaan orang tua untuk disegerakan. Dan ada pula yang memang keinginan dirinya sendiri.

Keinginan diri sendiri.

Saya pernah bertanya pada salah satu teman saya itu, 1 bulan sebelum hari pernikahannya.

Saya tanya, “Kenapa harus nikah muda?”

Dia bilang, “Sebentar lagi mau kiamat. Owe mau naikin pahala. Biar double-double.”

“Maksudnya double-double itu gimana?”

Dia kembali menjawab, “Ya kan kalo diliat suami, dicolek suami dapet pahala. Udah dapet jodohnya juga, terus gimana? Yaudah disegerakan.”

Dari dia jawab pertanyaan saja sudah beda jalan pemikirannya. Saya tidak teruskan bertanya. Mungkin juga saya yang kurang mengerti agama.

Kalau menurut saya, orang tua bisa menyekolahkan anak hingga tingkat SMK sederajat. Mereka pasti punya harapan lebih. Apalagi anak perempuan, sulung, yang paling tua, the number one. Contoh untuk adik-adiknya.

Kalau orang tua hanya sekolah sampai tingkat SMA sederajat. Pasti mereka juga ingin, mengharapkan anaknya bisa melanjutkan hingga tingkat yang lebih tinggi. Semisal, minimal S1.

Punya kondisi keuangan yang berbeda. Lebih makmur, lebih dari cukup. Lebih beda dari orang tuanya.

Dulu kita jajannya sedikit karena kemampuan orang tua terbatas. Berarti usaha, supaya anak kita bisa mendapatkan yang lebih baik dari yang kita dapatkan hari ini.

Karena keberhasilan meyakinkan orang tua itu, makanya bisa nikah muda. Jika saya minta nikah diusia sekarang, bisa di tempeleng saya sama ibu saya. Mahasiswi semester 2 perpajakan. Baru kuliah belum genap 1 tahun. Sudah minta “nikah ajalah”.

Bedanya kalau saat ini. Kita main atau kumpul bareng itu pasti ada yang kurang personilnya. Karena tidak diizinkan suaminya. Sekalinya ikut kumpul, disinggung soal “Jangan Pacaran, Nikah Muda Lebih Baik.”

Yang kedua, karena keinginan orang tua.

Teman kampus saya, bulan depan akan di lamar. Dan tahun depan rencananya akan menikah.

Beberapa teman saya yang lain bertanya, “Serius mau nikah tahun depan? Terus kuliahnya gimana? Lanjut atau udahan?”

Dia bilang, “Serius. Soalnya kata bokap gue, punya anak perempuan itu nyusahin. Harus dijagain mulu. Berat. Mending dinikahin kalo udah punya pacar. Kalo kuliah ya lanjut.”

“Tapi yakin? Kuat? Terus biayanya siapa yang tanggung?”

Teman saya itu kembali menjawab, “Gue sama pacar gue udah di wanti-wanti kalo nikah gue harus tetep kuliah. Kalo nggak ya disuruh pisah aja. Lagian juga kan susah ya cari kerjanya kalo cewek udah menikah.”

Saya nyeletuk, “Lhaaa kalo pisah berarti lu jadi jamur dong. Janda di bawah umur. Lhaa itu ngerti susah cari kerja.”

Saya jadi ingat cerita dosen Administrasi Negara saya. Pengalaman kuliah, dari 15 orang perempuan di kelas. Sampai di semester akhir perkuliahan sisa 4. Yang 11 pergi, untuk menikah.

Ditambah lagi waktu musim kondangan. Pasti ditanya, “Kapan nyusul?”

Giliran dipemakaman. Balik ditanya, “Kapan nyusul?”. Eh malah kesel?

Setiap orang memang punya alasan tersendiri mengapa mereka memilih nikah muda itu jadi solusi terbaik.

Ya, untuk kalian yang akan nikah muda dan sudah nikah muda. Alhamdulillah, semoga diberi kelancaran dan kebahagiaan dalam rumah tangganya.

Untuk yang suka mengajak nikah muda, jawaban saya, ” Terimakasih sarannya . Tapi biarkan saya mengejar terlebih dahulu apa yang saya inginkan dan cita-cita kan. Sebab, kalau sudah waktunya pasti kalian akan saya undang.