Poci

Akhir-akhir ini banyak berita tersiar tentang teror anak kobra. Baik itu dipemukiman warga ataupun dipabrik-pabrik.

Ditambah lagi hari ini sedang beredar kabar soal impeachment Presiden AS, Donald Trump.

Tapi saya tidak ingin membahas kedua berita tersebut. Biar si Panji Petualang yang jawab soal teror anak kobra itu.

Dan Pak Dahlan Iskan yang bahas lebih detail soal kasus Donald Trump tersebut. Besok, di DI’s Way. Semoga saja.

Mumpung malam Jum’at. Saya ingin bercerita sedikit horor tapi juga sedikit humor.

Bisa di bilang cara bergaul dikampus saya itu saling berkelompok. Maksudnya berkelompok ini, seperti punya geng ditiap kelas.

Kelompok yang paling banyak pesertanya ada dikubu saya. Terdiri dari lima perempuan dan delapan laki-laki. Entah siapa dulu yang mulai cara bergaul seperti ini.

Kami juga memiliki kesibukan diluar kuliah. Ya kesibukannya itu kerja.

Ada yang bekerja di RSUD Kota Bekasi dibagian administrasinya, ada yang jadi kepala gudang di pabrik aluminium. Ada yang jadi operator produksi di pabrik parfum. Ada juga yang jadi penjaga loket bioskop. Masing-masing dari mereka juga sering bekerja shift malam.

Mereka juga yang menurut saya gila.

Kenapa menurut saya mereka gila? Karena, setiap masuk kelas ada saja yang dari awal sampai selesai pelajaran pundaknya miring.

Dimiringkan supaya bisa dijadikan sandaran kesedihan. Hahaha

Bukan, bukan. Itu pundaknya miring katanya ada yang gelayutin. Dan rasanya berat. Jadi dia akting pundaknya dimiringin.

Ada juga yang bilang, “Jangan sentuh gue. Ini gue lg bawa temen kecil.”

Terus ada yang akting adegan mau muntah gitu kalau lihat ke sudut ruangan.

Saya bilang, “Lu pada gila ya!”

Dan jawaban andalan mereka begini, “Lu aja ga liat. Coba liat. Pasti mau muntah. Disini tuh rame, bukan manusia aja isinya.”

Lah kan emang Allah menciptakan bukan hanya yang kasat mata tapi juga tak kasat mata. Dan sudah punya dunianya masing-masing, jadi menurut saya kalau mereka begitu lebih cenderung seperti mengada-ada.

Setelah itu dilanjut dengan bincang-bincang horor lainnya sebelum dosen masuk kelas.

Dimulai saat teman saya bilang, “Tadi di rumah sakit, temen kerja gue kemasukan poci.”

Poci yang ada dipikiran saya…

Poci yang  dimaksud….

Disambung cerita panjang lebar. Giliran saya yang gantian bercerita. Mereka bahas soal pocong. Saya juga membahas soal pocong.

Pocong jadi-jadian di area komplek perumahan saya di Tambun. Yang misinya katanya ingin mencuri motor.

Jadi saat ini posisinya, saya tinggal di rumah peninggalan Almh. Mbah Uti. Dan rumah orang tua saya dikontrakan ke pakde saya. Jadi setiap kejadian apapun yang ada dilingkungan rumah itu, pasti dilaporkan ke ibu saya.

Ceritanya begini. Posisi rumah saya dikomplek itu ada di depan masjid. Disamping kiri masjid tempat menyimpan keranda dan ada beberapa pohon pisang.

Katanya sih pohon pisang itu rumahnya pocong.

Jam 11.00 malam, ada anak tetangga baru pulang dari kegiatannya. Kemudian langsung memasukkan motor ke dalam rumah. Setelah itu mengunci semua pintu.

Si anak lapor ke mamanya untuk mengecek kembali kondisi depan rumah. Karena dia merasa ada yang aneh.

Ibunya pun langsung mengecek lewat jendela.

Terkejut si ibu, melihat pocong ada didepan gerbangnya. Dikira hanya dia yang melihat akhirnya si ibu langsung menyuruh semua anaknya tidur dan membiarkan lampu menyala.

Ternyata bude saya juga melihat. Kebiasaan bude saya adalah tidak pernah menutup pintu rumah saat mau tidur. Posisinya saat itu bude saya sedang membungkus es mambo untuk jualan besok. Awalnya beliau kira itu pohon. Tapi kenapa pohon kok loncat-loncat. Dari pinggir ke tengah. Bude saya baru sadar itu pocong saat sudah selesai membungkus es.

Tak disangka tetangga sebelah rumah anak yang tadi juga melihat pocong dari arah pohon pisang.

Jadi, malam itu. Masing-masing dari mereka mengira bahwa yang melihat pocong itu hanya dirinya. Setelah sore-sore ngerumpi. Barulah ketahuan kalau semua yang tinggal disitu juga melihat pocong itu.

Yang jadi pertanyaan adalah kalau memang itu pocong beneran kenapa dapat dilihat banyak orang?

Bukannya makhluk ghaib sejenis setan atau jin itu butuh banyak tenaga untuk menampakkan diri? Dan mereka rugi kalau ketahuan manusia. Kita juga rugi kalau lihat dia. Karena mereka buruk rupa. Walaupun beberapa orang beranggapan, bertemu dengan sejenis makhluk itu nantinya bakal mendapat rezeki yang tak diduga-duga.

Lalu bagaimana dengan saya yang kaget tiap kali terbangun ditengah malam dengan keadaan lampu kamar dimatikan?

Lihat gambar ini

Itu adik perempuan saya. Kami berdua punya satu kamar. Digunakan sama-sama. Kasur pun satu tapi kami bagi dua. Di kamar saya itu banyak nyamuk. Dan adik perempuan saya ini paling tidak suka pakai lotion anti nyamuk.

Makanya untuk mencegah gigitan nyamuk, ia pasang selimut serapat itu. Sampai besok pagi dan setiap hari. Tinggal saya yang kaget dan hampir mau teriak memanggil ibu saya. Ketika saya belum sadar kalau itu adik saya dan lampu kamar dalam keadaan gelap.

Jadi yang sebenarnya bertemu poci jadi-jadian itu, ya saya.

Karma Buruk

Jujur saja, saya mulai suka dengan lawan jenis ketika lulus SD. Karena yang ada dipikiran saya saat itu hanya bagaimana caranya menjadi juara kelas supaya banyak teman.

Saya paling takut soal cinta-cintaan, suka-sukaan apalagi pacaran, saat masih SD dulu. Karena ibu saya galak. Dan belum waktunya juga. Mungkin, kalau suka “saja” dengan lawan jenis tidak apa-apa, itu normal. Tapi saya selalu menganggap, suka dengan laki-laki sama dengan “akan” pacaran.

Padahal beberapa teman saya sudah mulai banyak yang mengenal kata “pacaran”. Dan setiap malam minggu, saya dan beberapa teman saya yang jomblo, ikut ngapel ke danau menemani teman saya yang centil bertemu kekasihnya.

Tapi siapa sangka, biarpun saya gendut ada satu laki-laki yang menyukai saya dari kelas 4 SD. Namanya Adib. Ayahnya bekerja di pabrik makanan ringan Oreo. Tiap sebulan sekali pasti saya dikasih 1 pack produk makanan ringan tersebut. Hanya saya yang diberi dari sekian banyak perempuan di kelas. Dia termasuk anak yang pintar di kelas. Jadi saya manfaatkan dia untuk mengajarkan saya beberapa rumus matematika, karena kebetulan dia juga les di luar.

Lulus SD, masuk SMP. Sudah punya handphone sendiri. Walaupun hanya Nokia 1800. Sudah mulai berani chatting dengan laki-laki. Awalnya karena sering ketemu dengan tidak sengaja, berpas-pasan dijalan. Akhirnya saya jadi suka kakak kelas itu, yang juga tetangga belakang rumah saya. Kita beda sekolah. Dia di sekolah swasta islam terpadu sedangkan saya di sekolah negeri biasa.

Dua tahun berjalan. Ternyata kedekatan saya dengan tetangga belakang rumah, membuat saya dilabrak kakak kelas perempuan. Sebut saja Amel. Memang nama aslinya Amel. Amel Sukma Wardhani. Saking masih ingat nama facebooknya. Dan kita satu sekolah.

Si Amel datang masuk ke kelas saya dengan tiga kakak kelas lainnya. Dia bilang bahwa saya merebut pacarnya. Saya tanya balik, “Pacar yang mana?”

Yang dia maksud adalah tetangga belakang rumah saya itu. Yang dekat dengan saya. Yang memang sudah jadi pacar pertama saya🤣

Jadi kejadiannya adalah dimana saya dilabrak oleh selingkuhan doi.

Disitu pertama kalinya saya merasakan sakit hati karena diselingkuhi💔😭

Salah satu teman saya dengan bijak bilang seperti ini, “Gapapa Fit, karma pasti ada. Kalau bukan dia yang kena, masih ada ibunya, adek perempuannya, atau nanti anak perempuannya.”

Menurut saya kalimat tersebut pada jaman saya SMP dulu merupakan kalimat yang wahhhh…. luar biasa kerennya

Tapi semakin tumbuh dewasa, menurut saya kalimat tersebut hanya menjadi kalimat penenang saja. Semakin banyak masalah yang timbul ketika saya sudah berani menaruh hati pada laki-laki.

Banyak orang menanggap karma adalah suatu balasan yang buruk. Padahal karma adalah perbuatan. Dimana kalau kita berbuat baik, maka karma baik yang akan didapat. Kalau berbuat kejahatan, maka karma buruk yang akan didapat.

Jadi karma yang mungkin dimaksud teman saya pada saat itu adalah karma buruk.

Saya pun baru paham arti kata karma setelah membaca beberapa pendapat Erlangga Greschinov lewat media sosial Ask.fm, sekitar tahun 2016.

Cerita hati saya berlanjut di SMK. Saya kenal kembali dengan laki-laki berinisial B. Babi🐷 *Ehhhhhhh

Namanya sama dengan tetangga belakang rumah saya itu. Yang ini terlihat berbeda.

Kekaguman saya padanya muncul saat saya mengetahui dia bekerja sambil kuliah. Dia punya kamera mahal. Dia bisa nyetir mobil dan punya mobil. Dia bartender. Dia keren, menurut saya pada waktu itu. Dan alisnya tebal, hidungnya mancung. Walaupun lebih pendek dari saya. Satu lagi, dia orang Jawa.

Berjalan selama 3 tahun. Dengan kondisi, saya masih jadi anak sekolah dan dia tetap pada kesibukannya bekerja sambil kuliah. Karena dia ambil jurusan Administrasi Perhotelan, beberapa teman saya mengingatkan soal banyaknya perempuan cantik dilingkungan kampusnya. Apalagi dia kerja di hotel, resepsionisnya itu cantik-cantik.

Karena saya percaya, jadi saya tidak pedulikan hal itu. Toh selama ini berjalan baik-baik saja.

Hingga akhirnya saya lulus SMK dan mulai bekerja. Memiliki penghasilan sendiri.

Doi B yang saya kagumi, sempat cuti kuliah 1 semester karena banyaknya job di hotel. Banyak acara, jadi dia harus menyiapkan beberapa jamuan untuk para tamu.

Pekerjaan sebagai bartender yang dia lakoni tidak hanya di satu hotel. Tugas menetapnya di Hotel Santika Premiere Harapan Indah. Sisanya hotel-hotel ternama di Jakarta. Lumayan bagi dia yang gaya hidupnya highclass. Dia juga sering dapat uang tip dari para tamu, dan jika dikumpulkan jumlahnya sangat banyak.

Hanya cuti satu semester, akhirnya doi B melanjutkan kembali kuliahnya. Tentunya karena dia merasa saya sudah bekerja dan punya penghasilan, dia pinjam uang saya dengan alasan untuk bayar kuliah.

Awalnya dia minta dalam jumlah banyak sekaligus. Saya bilang tidak punya. Akhirnya saya beri pinjam. PINJAM lho ya.

Saya pinjamkan uang ke dia semampu saya.

Kenapa bisa? Kok mau minjemin orang?

Saya ingat pada saat saya masih sekolah. Setiap bertemu, dia yang bayar tiket bioskop. Dia yang bayarin makan. Dia yang beliin minuman. Dia yang beliin saya kado waktu saya ultah.

Yang pada dasarnya saya tidak ingin merepotkan dia apalagi sampai dicap perempuan matre. Walaupun itu adalah keharusan dia sebagai laki-laki. Yang saya takutkan satu lagi adalah ketika saya dan dia sudah tidak baik-baik saja. Apa yang sudah dikasih ke saya bakal diungkit dan diminta kembalikan. Itu yang buat saya jadi pusing seandainya terjadi.

Makanya dikesempatan ini saya jadikan meminjaminya uang sebagai rasa terima kasih saya. Walaupun hanya meminjamkan bukan memberi. Artinya, disaat dia susah saya masih bisa membantu.

Saya beri pinjam uang ke dia secara bertahap untuk bayar kuliah.

Hobinya mahal, dia suka motor klasik. Uangnya habis hanya untuk motornya.

Upss…. Bukan habis karena motornya saja. Tapi juga untuk mendapatkan perempuan pengganti saya. Yang pada saat itu statusnya masih jadi gebetannya.

Rupanya setelah saya mau meminjamkan uang ke dia. Dia semakin melunjak. Dia jadi sering pinjam uang ke saya dengan angka yang lumayan besar. Bukan ratusan melainkan jutaan.

Saya batasi. Saya tahan. Walaupun saya sayang dan takut kehilangan dia.

Dia minta uang pinjaman cair di bulan Juni, saya bilang ada di Juli. Sudah masuk bulan Juli, dia tagih saya, saya bilang baru ada dan cair di Agustus. Hingga akhirnya dia marah kepada saya, dan tidak pernah lagi menghubungi saya. Pesan saya hanya di read.

Hingga keesokan harinya, saya melihat foto profilnya sudah berubah dengan wanita lain.

Pagi itu menjadi pagi yang buruk untuk saya. Saya merasakan sakit hati untuk kedua kalinya💔

Saya marah sekali. Dan berusaha mencari tahu siapa perempuan itu. Saya ini stalker. Sebelum dia ubah foto profil itu, saya seperti sudah tahu siapa wanita itu.

Setelah saya buka instagram, ternyata benar. Wanita itu yang kemarin saya curigai waktu saya stalk doi B.

Saya begitu marah. Saya tagih hutangnya yang kemarin.

Gagal. Saya di blokir. WhatsApp, Instagram, Line, Facebook. Semuanya. Saya buntu. Saya merasa uang saya hilang. Padahal itu harapan saya untuk bisa kuliah. Dan saya sudah beri tahu itu ke dia. Padahal dia juga yang jadi penyemangat saya untuk bisa kerja sambil kuliah, mengikutinya.

Tapi saya dikhianati. Semangat saya jadi luntur.

Dalam hitungan bulan, saya bisa mengetahui. Bahwa uang yang saya pinjamkan selama ini ternyata bukan untuk bayar kuliah. Melainkan untuk modal dia membelikan bucket bunga dan coklat untuk dibawa pada saat gebetannya selesai sidang.

Jahat menurut saya. Perasaan saya waktu itu semakin tidak karuan.

Baru sebulan kemudian, pikiran saya kembali jernih. Saya sedikit lebih tenang. Ada satu harapan. Adiknya. Saya rasa perlu kontak adiknya untuk membahas mengenai masalah ini.

Saya memang dekat dengan adiknya, sangat dekat. Sampai ibunya pun akrab dengan saya. Tapi saya tidak berani bilang langsung ke ibunya. Melainkan lewat perantara adiknya. Saya jelaskan satu persatu kronologinya. Adiknya kaget dan langsung memberi tahu ibunya.

Ibunya pun kaget. Dan merasa tidak enak pada saya. Hingga akhirnya ibunya berjanji akan melunasi hutang anaknya itu. Saya merasa aman karena sudah mendapat jawaban.

Menunggu hampir setengah tahun, saya mulai ikhlas ditinggal kekasih tapi kabar soal uang saya tidak ada update lanjutan juga. Sampai akhirnya saya kepo dengan kehidupan doi B setelah perpisahan itu. Saya tanya salah satu teman satu club motornya. Temannya bilang doi B jarang kopdar. Pikir saya, kalau jarang kopdar berarti tidak punya uang. Dan tidak bisa ditagih.

Dan teman doi B yang saya maksud itu adalah doi saya saat ini.

Jadi berkat perpisahaan ini saya bisa dapat langsung penggantinya.

Hampir 10 bulan, tiba-tiba ada seorang perempuan mencoba menghubungi saya bak pahlawan kesiangan, bilang akan melunasi hutang-hutang pacarnya.

Sebut dia “L”.

L bilang akan melunasi hutang doi B. Tapi semakin kesini, pesannya semakin menghina saya. L bilang saya seperti pengemis.

Saya sempat tak terima dan curhat ke salah satu teman saya. Teman saya bilang “Jangan balas dendam”.

Karena tak kunjung selesai, ini tidak bisa hanya lewat chatting saja. Akhirnya saya datang langsung ke rumah doi B.

Saya disambut ibunya. Kami saling curhat. Posisinya saat itu doi B sedang diluar rumah. Dia kabur dari rumah sudah 3 hari tidak pulang. Karena dia minta sesuatu tapi tidak dituruti.

Ibunya curhat soal sikapnya yang berubah setelah mengenal L. Ibunya tidak suka L. Karena L selalu memaksa minta dinikahi, sedangkan L ini non muslim. Dan doi B masih kuliah dan tidak punya pekerjaan tetap. Semenjak putus dengan saya, rupanya doi B nganggur. Banyak temannya memusuhi dia karena sikapnya yang berubah.

Ibunya juga bilang, setelah kejadian itu doi B benci dan mudah marah ketika ada orang yang menyebut nama saya. Tiap kali ada panggilan pekerjaan, selalu gagal. Sudah mulai digenggam, tapi gagal lagi.

Menurut ibunya, masalah ini menutup pintu rezeki doi B karena sulit dapat pekerjaan.

Si L jadi sering menguhubungi saya, mencoba membuat saya cemburu. Perempuan itu bilang akan menikah dengan doi B dalam waktu dekat, di gedung mewah dan baru bisa melunasi hutang setelah pesta selesai.

Chatting tersebut saya screenshoot dan kirim ke ibu doi B. Ibu doi B bilang, tidak ada pernikahan diantara mereka. Itu bohong. Bagaimana bisa menikah tanpa restu orang tua, Romonya juga tidak suka dengan L.

Ini waktunya saya membalas kata-kata pedas dari L kemarin. Saya screenshoot kembali balasan dari ibunya doi B.

Hingga sebulan berlalu saya baru tahu, putusnya doi B dengan L adalah karena ulah saya kirim screenshoot pesan dari ibu doi B.

Yang pada akhirnya doi B menjomblo saat ini dan si L sudah menikah dengan laki-laki pilihannya.

L yang ingin sekali menikah di gedung mewah dengan doi B ternyata hanya mendapat kehaluannya saja.

Tidak sampai disitu, uang saya akhirnya kembali walaupun belum semua. Setidaknya uang itu cair, pas pada saat saya mau masuk kuliah.

Saya sempat tidak percaya soal hukum karma buruk yang pasti terjadi kepada siapa saja yang berbuat jahat. Dulu saya sering bertanya ke tiap teman ataupun kakak sepupu saya, “Emang orang jahat pasti ada balesannya?”

Jawabannya semua sama, “Ya ada lah.”

Sampai kalimat pertanyaan jahat saya keluar, “Tapi kenapa doi B sama L masih happy-happy aja ga kena musibah?”

Dan jawabannya tidak perlu dijawab manusia. Allah punya rencana dan sudah di set schedule kapan balasan itu sampai pada pelaku kejahatannya.

Pesan ibu saya, selingkuh itu murni dilakukan secara sadar. Kita nggak bisa menyalahkan salah satu diantara pelaku perselingkuhan tersebut. Tapi saya lebih cenderung menyalahkan si perempuan, karena saya merasa tersaingi.

Saya nggak suka ya jadi korban pelakor kaya gini.

Libur Sayur Asem

Ibu bilang, “Perempuan kalo nggak bisa bebenah, nyapu nggak bisa, nyuci baju nggak mau, gosok baju males, masak gosong mulu. Itu namanya perempuan gagal.”

Dan saya masih ada di salah satu point tersebut. Hanya satu yang saya sukai, memasak. Makanya wajar kalau saya sulit kurus. Apalagi semenjak kerja dan punya penghasilan sendiri, hari sabtu dan minggu jadi hari yang paling ditunggu. Karena Ibu saya mengizinkan dapurnya ngebul untuk digunakan praktek memasak saya.

Dulu sempat ada niat, kalau saya ditolak masuk SMK negeri, saya mau ambil jurusan perhotelan walaupun itu masuk ke sekolah swasta. Terinspirasi dari sang mantan, yang kerja part time di hotel jadi bartender nyambi kuliah jurusan administrasi perhotelan.

Kalau di beranda hotel, kerjanya meracik minuman dan buat dessert. Kalau di rumah kerjaannya tidur dan bantu mamanya masak. Kalau di kampus, kerjanya TPTP alias tebar pesona dan selingkuh.

Kapok pokoknya suka sama mantan hampir 3 tahun ujung-ujungnya diselingkuhin. HAHA

Tapi keberuntungan berpihak pada saya, karena saya diterima di SMK negeri itu, dengan jurusan TKJ yang tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan di dapur.

Justru akhirnya saya kuliah perhotelan dengan bimbingan Ibu di rumah. Misalnya menyuci pakaian dan handuk, mengganti seprai kasur, memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya yang mirip dengan pekerjaan di hotel.

Tapi lagi-lagi yang saya sukai adalah memasak. Tiap hari libur Ibu pasti menyuruh saya pergi ke pasar. Membawa catatan, barang apa saja yang harus saya beli. Sampai di rumah, sayuran dan bahan masakan lainnya dirajang dan dicuci. Kemudian iris bawang dan bumbu lainnya. Untuk selanjutnya proses memasak, ibu saya yang melanjutkan. Saya hanya melihat dan memperhatikan beliau memasak, syukur-syukur disuruh nyicipin.

Ada satu yang paling-paling membosankan. Masak dan makan sayur asem. Tiap hari libur.

Ibu saya itu hobi banget masak sayur asem untuk suaminya.

Alasan Ibu saya kenapa masak sayur asem terus, “Mumpung ayah libur. Kamu kalo nggak suka sayurnya, goreng telor aja.”

Dulu jaman sekolah, karena belum punya uang sendiri. Jadi, apa yang dimasak Ibu, ya itu yang dimakan.

Masak sayur asem sesuai mood nya. Minggu ini rasanya asin. Minggu depan agak asam. Minggu depannya lagi manis. Dan lebih banyak manis. Mungkin karena Ibu saya orang Jawa. Masak apapun jadi manis.

Saya punya teman dekat, laki-laki dan orang Betawi asli. Namanya Mahakam. Kata dia, “Lu orang Jawa ya?”

*Udah percaya diri bakal digombalin

Saya jawab, “Keturunan Jawa.”

Kata dia lagi, “Sama aja. Intinya mah yang kalo masak sayur asem rasanya manis.”

Suee… kirain beneran mau digombalin, ternyata cuma mau bilang masak sayur asem rasanya manis.

Karena terlalu sering lihat wujud sayur asem. Saya sampai kepikiran tiap kali mau makan. Kenapa bisa ya, dibuat sayur asem. Komponen sayur asem itu kan, ada melinjo, daun melinjo, labu, pepaya muda, terong, jagung, kacang panjang, nangka muda, kacang tanah, dan cabe ijo besar. Kemudian dikasih kuah yang rasanya asam. Darimana kepikiran buat sayur itu dan kenapa bisa tahu, kalau daun melinjo itu bisa dimasak?

Ah terlalu nggak penting ngurusin dari mana lahirnya sayur asem.

Siapa yang mau makan sayur asem? Besok ke rumah saya.

Tidak Akan Jadi Joker

Saya sedih, saat tahu Ayah saya dicurangi orang lain. Tapi juga kesal, karena Ayah tidak pernah mau melawan saat orang lain jahat kepadanya. Jawabannya selalu, “Sabar, gapapa dia jahat. Nanti Allah yang bales.”

Setiap hari Ayah mencari nafkah dari Bekasi – Bogor dengan mengendarai motor bekas saya sekolah dulu. Berangkat jam 05.15 WIB dan biasanya sampai rumah lagi jam 17.30 WIB.

Tapi tidak pada waktu itu. Jam 22.00 WIB, Ayah belum juga pulang. Tidak ada kabar juga untuk orang di rumah. Akhirnya android saya yang semula tidak pernah ada pulsa untuk SMS atau telepon, mendadak terisi saldo.

Nada sambung telepon berbunyi lama. Ayah belum juga mengangkat panggilan dari saya. Baru diakhir nada sambung, suara gemetar terdengar.

Saya tanya dimana beliau sekarang. Ayah bilang masih di Bogor.

Jam 10 malam. Masih di Bogor. Padahal besok harus kerja lagi.

Saya tanya kenapa masih di Bogor. Ayah bilang, motornya patah. Ayah sendirian dipinggir jalan. Menunggu temannya datang untuk membantunya mencari bengkel.

Informasinya tidak jelas. Akhirnya Ibu saya yang ganti berbicara.

Ayah menjelaskan bahwa rangka motornya patah. Terbelah dua. Karena korosi besi pada bagian tersebut.

Tapi Ayah juga salah, tidak langsung mengabari yang di rumah. Ayah bilang bahwa sudah ada temannya yang membantu. Mencarikan bengkel dan meminjamkan motor supaya Ayah bisa pulang ke Bekasi. Dan besok berangkat kerja lagi.

Motornya diinapkan di bengkel sekitar Bogor. Ayah memberi uang Rp100.000 sebagai DP kepada pemilik bengkel. Dengan harapan besok motornya langsung bisa disembuhkan, karena besok Ayah juga akan membayar lunas.

Ayah sampai di rumah dengan selamat. Hati kami sekeluarga terasa lega.

Keesokan harinya, Ayah mendatangi kembali bengkel itu. Ternyata motornya belum dikerjakan penyembuhannya.

Pikir Ayah, mungkin karena belum memberi uang lunas. Makanya belum dikerjakan juga. Akhirnya Ayah menanyakan berapa uang yang harus dibayar. Tukang bengkel itu bilang Rp200.000. Berarti sisa Rp100.000 uang yang mesti Ayah bayar.

Ayah melunasinya hari itu juga dan pulang ke rumah. Dengan harapan sama, motornya bisa langsung disembuhkan.

Selama motornya sakit, Ayah masih menggunakan motor temannya itu. Ayah saya memang jadi bahan bullyan dan bercandaan ditempat kerjanya. Terutama jadi bahan guyonan anak-anak muda. Lagi-lagi Ayah tidak pernah menegur bahwa tindakan itu salah. Ayah membiarkan saja, “biar mereka seneng pada ketawa” jawabnya.

Dari situ, kalau Ayah saya dalam kesulitan banyak juga orang yang membantu. Tidak sedikit pula orang yang mengatakan, Ayah saya baik dan tidak mudah marah.

Saya yang kesal dengan sikap Ayah yang tidak pernah melawan, sampai terpikir “Nanti kalau ada laki-laki yang mau melamar saya, apa yang akan dikatakan Ayah saya? Karena selama ini Ayah saya hanya iyaiyaiya saja. Apakah Ayah saya punya pertimbangan atau hanya OK saja”.

Sampai sebegitunya.

Melanjutkan cerita. Di hari ketiga, Ayah kembali mengunjungi bengkel tersebut. Disangka motornya sudah sembuh ternyata semuanya dibongkar, mesin-mesin diturunkan, semua kabel diputuskan. Padahal untuk penyembuhan hanya butuh pengelasan dibagian yang terpisah. Seperti ini wujud motornya.

Ayah meringis. Semuanya dibongkar. Ayah pulang dengan rasa kecewa. Dan harus pulang diantar temannya. Karena Ayah tidak mungkin membawa motor temannya lagi.

Setiap malam Ayah gelisah. Memikirkan bagaimana nasib kendaraannya untuk mencari nafkah itu.

Semenjak bekerja memang saya bisa beli motor hingga dua buah. Karena kebutuhan, adik saya yang sekolahnya jauh, Ayah saya yang tidak mungkin mengantar dan jemput anaknya dan saya sendiri yang kadang punya urusan lain. Saat dikalkulasi naik ojek online dengan cicilan motor beda tipis. Makanya saya memilih mencicil kendaraan. Tapi untuk motor yang satu lagi dibeli cash tanpa cicil. Karena waktu itu ada sedikit rezeki. Dan sebelumnya motor Ayah yang sakit ini juga sudah diservice dan diganti apa yang perlu diganti. Tujuannya agar perjalanan Ayah saya lancar dan tidak terkendala di motor.

Di hari keempat, Ayah kembali datang menjenguk motornya. Kondisinya masih sama belum diapa-apa kan motor Ayah saya itu.

Tukang bengkel itu bilang, motor Ayah tidak bisa dibetulkan, sudah terlalu parah terbelahnya. Jadi tidak bisa disambung. Coba bawa ke bengkel lain.

Karena Ayah terlalu baik dan tidak enakan, akhirnya dia memberi lagi uang Rp100.000 untuk si tukang bengkel. Menyewa mobil bak untuk mengangkut motornya yang sudah di bobrok itu.

Saya tahu Ayah saya pusing, memikirkan nasibnya besok. Apakah bisa bekerja atau tidak. Saya sebagai anak tertuanya, mencoba mengalah. Biar adik saya menggunakan motor saya. Ayah membawa motor satu lagi. Supaya semuanya berjalan dengan biasanya. Melupakan sejenak motor yang bobrok itu.

Selang dua minggu motor itu di rumah dan terbengkalai. Alhamdulillah ada sedikit rezeki untuk memperbaikinya.

Terkejut saya. Motor Ayah saya tidak bisa disembuhkan. Beberapa komponen motornya hilang, seperti AKI motor diganti dengan yang sudah mati, CDI diputus kabelnya, Kick Starter diambil, lampu tembak motor diambil. Semua itu diambil oleh bengkel pertama. Yang di Bogor itu. Yang sudah mendapatkan Rp300.000 dari Ayah saya. Saya menyebutnya uang tersebut adalah modal untuk membongkar komponen motor Ayah saya yang masih bisa dijual dengan harga tinggi.

Licik, jahat, sadis.

Ayah saya hampir tidak bisa bekerja karena ulahnya. Ibaratnya, Ayah saya datang ke bengkel itu hanya untuk mengantarkan barang untuk dimaling.

“Kalau memang niat mau benerin motor, nggak perlu semua diturunin. Nggak perlu mutusin kabel. Kalau begini jelas aja ga bisa dipasang lagi. Kalaupun di bawa ke AHAS, kalau udah begini ya ganti baru. Bengkel besar yang nggak terkenal juga bingung mau benerinnya gimana kalo udh dibobol gini”, kata si bengkel kedua.

Saya merasa sesak. Mengingat 4 tahun lalu, motor itu hadiah terindah untuk saya. Perjuangan Ibu saya untuk ikhlas dan rela kalungnya dijual supaya anaknya tidak jalan kaki sejauh 4 KM sampai ke sekolah.

Hari Rabu, setelah hujan lebat. Almarhumah nenek saya berdiri di depan rumah. Menunggu saya, supaya melihat motor itu. Supaya saya tidak usah lagi berjalan kaki setelah subuh, melewati rel kereta dan sulit menyeberang karena banyaknya motor dan mobil melintas.

Bukti bahwa orang tua saya memang benar-benar sayang.

Motor itu juga yang jadi alasan mengapa saya harus beli yang baru. Karena pernah ditilang, akibat dari lampu depan motor yang tidak menyala otomatis. Maka saya bertekat, mau beli motor yang lampu depannya menyala otomatis.

Ayah selalu berprasangka baik ke orang lain. Tidak pernah menganggap orang lain jahat. Semuanya baik dimata beliau.

Hanya satu, “Apa yang mereka tanam, nanti mereka tuai”.

Ayah bilang harus sabar. Tapi Ibu saya geregetan.

Sekarang motor itu hanya jadi rongsokan. Yang dijual hanya laku dua ratusan. Jadi saya dan adik saya menggunakan motor secara bergantian.

Hanya perlu legowo dan prihatin dengan keadaan sekarang. Semoga dibukakan pintu rezeki yang lain.

Banyak orang mengatakan, “Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti”. Seperti yang disimpulkan dari film Joker. Tapi tidak dengan Ayah saya.

Ayah saya tidak akan pernah menjadi Joker.

Kuntilchildren Jail

Sering kali jika ditanya di daerah mana saya tinggal, pasti saya sebut salah satu nama perumahan sekitar rumah saya. Alasannya ya supaya mudah dan lebih cepat menjawab.

Padahal jika dijabarkan, saya itu bukan tinggal di perumahan tersebut melainkan dibelakang perumahan itu. Lebih tepatnya di kampung-kampung. Namanya juga kampung Rawa Bebek.

Saking padatnya penduduk banyak kebun-kebun tuan haji dibangun kontrakan. Rumah saling berdempetan. Jalan saja hanya muat dua motor. Yang punya mobil, mesti sewa garasi ditempat lain. Karena jalannya gang senggol. Sepanjang gang itu hanya bisa dipenuhi tujuh rumah tiap sisi kanan dan kirinya.

Kali ini fokusnya adalah bercerita tentang hal ghaib. Cerita horor lah, yang baru- baru ini atau minggu ini terjadi di lingkungan rumah saya.

Saya belum pernah mengalami hal aneh diluar nalar seperti bertemu atau melihat makhluk ghaib, jadi jika ada orang yang bercerita bahwa ia pernah melihat setan atau yang lainnya, saya hanya bisa mendengarkan dan sedikit percaya banyak tidaknya. Tapi juga takut, kalau diceritakan wujudnya, yang katanya buruk rupa.

Selama ini sering dengar cerita dari beberapa tetangga depan rumah atau tetangga seberang gang. Yang katanya suka lihat laki-laki, rambut panjang, bertubuh besar, warnanya hitam sering duduk diatas pagar rumah saya. Atau sering melihat mbak-mbak mondar-mandir di depan rumah saya. Dengan perawakan badannya besar dan warnanya merah. Sampai-sampai saudara sebelah rumah saya bilang, kalau saya pelihara tuyul diatas rumah. Kalau malam hari suka main atau obok-obok kolam ikan lele milik ayah saya. Yang letak kolamnya di depan kamar rumah saya itu.

Saya yang alhamdulillah belum pernah melihat atau bertemu langsung hanya mengiyakan saja. Bagaimana bisa saya dibilang pelihara tuyul. Kalau saya punya tuyul, saya wegah kerja. Di rumah saja santai-santai nunggu uang setoran.

Tidak hanya satu atau dua orang saja yang sering lapor ke ibu saya. Banyak sekali. Termasuk adik saya, yang sawan lihat mbak-mbak bergamis putih dan berambut panjang duduk nangkring diatas motor saya jam 03.00 pagi.

Kamar saya itu diatas. Dibelakangnya dijadikan gudang, bekas kamar dulu. Kamar mandi dibawah. Sedangkan ibu saya itu kebiasaannya sebelum tidur, kamar mandi, ruang tamu, dan lampu dapur dimatikan lampunya. Karena posisi tangga rumah saya letaknya diluar ruangan. Jadi setiap ingin turun ke bawah, atau ke kamar mandi mesti melihat pemandangan atap-atap rumah warga.

Nah mungkin mbak-mbak yang nangkring diatas motor saya, masuk rumah saya lewat tangga tadi😁

Lanjut cerita, mungkin sebagian dari kita dulu pernah dinasihati sama orang tua untuk tidak keluar rumah disaat menjelang maghrib atau sesudah isya. Katanya kalau sampai berani keluar nanti diumpeti wewek gombel. Yang sering disebut pecinta anak-anak itu. Yang katanya juga sering muncul disela-sela pohon pisang.

Saya sendiri mengira itu bohong.

Hari minggu kemarin saya ada acara bersama teman kampus. Pulangnya malam, sekitar 21.30 WIB. Biasanya dilingkungan rumah saya itu jam 21.00 WIB semua sudah tutup pintu. Tapi kali ini tidak. Tetangga depan rumah saya itu ramai sekali. Rupanya teman kecil saya sedang sakit dan panik mau dibawa ke rumah sakit naik apa?

Sampai masuk ke rumah, saya tanya ibu saya. Di depan itu ada kejadian apa? Ibu saya heran. Karena ibu saya juga tidak tahu. Akhirnya ibu saya bergegas langsung keluar rumah.

Lebih tepatnya ibu saya kepo sih.

Sehabis keluar rumah itu, pas masuk lagi, ibu bilang ke saya “Masa kak, udah jam berapa ini. Itu anak kecil masih diluar main lari-larian.”

Saya tanya kembali ke ibu saya, “Anak kecil siapa?”

Ibu saya menjawab, “Si Berlin, anaknya tante warung madura.”

Karena sudah lelah saya tidak bertanya lebih banyak lagi.

Di rumah saya itu ada warung, sering disebut warung madura. Karena yang jaga orang madura. Setiap tiga bulan sekali mereka rolling, saling bergantian dengan yang lain. Sama-sama pendatang dari Madura.

Warung ini unik, 24 jam beroperasi. Pagi istrinya yang jaga, kalau malam suaminya yang jaga. Kebetulan saat ini yang jaga sudah punya anak. Perempuan. Lucu. Baru berumur 2 tahun. Cerewet. Pintar ngomong, semua orang disapa dan ditanya jika berpas-pasan. Padahal tidak kenal.

Anak perempuan itu yang disebut ibu saya tadi. Yang namanya Berlin.

Setelah melihat Berlin yang masih main diluar malam itu, keesokan paginya ibu saya bilang, bahwa anak kecil itu hilang semalam. Dibawa kuntilanak katanya. Ketemu disela-sela pohon pisang adzan subuh tadi.

Saya sedikit tidak percaya bagaimana bisa?

Digendong lalu terbang? Atau langsung menghilang?

Ceritanya seperti ini. Depan rumah saya itu ada tuan haji yang masih memiliki tanah lapang. Semuanya ditanam pohon pisang. Karena beliau aktif pada kegiatan di masjid, untuk keranda atau alat untuk memandikan jenazah beserta sisa kain kafan disimpan dibelakang rumahnya. Jadi bagi warga sekitar rumah saya menganggap rumah pak haji ini angker. Satu karena masih ada kebun pisang, kedua jadi tempat penyimpanan alat mengurus jenazah. Ditambah minim pencahayaan.

Posisi rumah pak haji ini ada dibelakang warung tadi. Jadi waktu mama saya bilang kalau Berlin malam-malam masih main lari-larian itu ya dia habis main sama yang penunggu kebun itu.

Singkat cerita, jam 22.00 WIB itu Berlin sudah dipaksa tidur oleh ibunya. Karena sudah malam jadi tugas bapaknya untuk jaga warung. Di malam itu puncaknya, sekitar pukul 01.00 WIB, Berlin menghilang. Padahal bapaknya saat itu sedang beres-beres barang di warung.

Bapaknya baru sadar anaknya hilang jam 01.00 pagi. Ibunya yang tadinya tidur disamping Berlin pun bingung, kenapa anaknya bisa hilang. Akhirnya pagi itu, mereka ramai sendiri cari anaknya. Beberapa tetangga saya terbangun dan ikut mencari. Menabuh beberapa peralatan rumah tangga seperti panci disetiap kebun sambil menyebut nama anak kecil itu.

Anak kecil itu baru bisa ditemukan selepas adzan subuh, disela-sela pohon pisang kebun sebelah. Bukan kebun pak haji.

Jadi ada dua kebun didekat rumah saya. Ada kebun pak haji, ada kebun pakde Bambang. Yang seram itu yang pakde Bambang. Dari jaman saya kecil, saya tidak pernah berani melewati jalan itu kalau tidak dengan ibu saya.

Dua kebun dengan dua penunggu. Jenisnya sama. Jailnya beda.

Sebelum kejadian itu, ibunya teman saya cerita bahwa malam tadi melihat wanita terbang diatas rumahnya ke arah kebun pakde Bambang. Semua tidak percaya, hanya tertawa saja jika diceritakan ulang.

Tapi nyatanya setelah kejadian ini, banyak yang mengiyakan dan percaya.

Karena si Berlin ngadu ke ibunya, setelah main dengan si kunti jail itu dia disuruh pulang sendiri. Makanya setelah adzan subuh itu dia menangis dan baru bisa ditemukan.

Ibunya mengira, sepertinya kunti itu menyamar jadi kucing. Karena sebelumnya tidak ada kucing, dua hari sebelum kejadian itu saja ada kucing selalu tunggu disitu dan kucingnya aneh. Kalau dikasih makan tidak mau, diusir malah dipelototin.

Berlin itu sering bilang ke bapaknya sambil menunjuk kesudut jalan, “Ada itu pak.”

Tapi bapaknya tidak percaya.

Dan saya yang mau jajan es krim Aice kesitu jadi takut. Apalagi kalau ibu saya menyuruh saya ke warung diatas jam 20.00 WIB saya pasti menolak😂

Kata ibu saya, “Ngapain takut, kuntilanak gendong kamu juga ga kuat.”

Tidak Ada Judul

Cerita tentang kunjungan klien rasanya sudah biasa. Bagaimana pengalaman pertama kali masuk gedung tinggi serta menceritakan tiap peristiwa yang terjadi saat melakukan perjalanan kunjungan tersebut.

Hari ini saya akan menceritakan tentang kunjungan klien juga. Tapi bukan tentang yang ada pada paragraf diatas. Melainkan menceritakan siapa yang saya dampingi selama ini saat melakukan kunjungan klien tersebut. Yang sering saya ceritakan tapi tidak saya sebutkan namanya, malah menggantinya dengan “rekan kerja saya”.

Selama mengunjungi klien, selalu dipasang-pasangkan seperti ini. Team support dengan team sales. Team support dengan team support. Team support dengan team non support (selain daripada team sales).

Tidak pernah team sales dengan team sales ditugaskan keluar bersamaan, ke tempat yang sama dan bertemu dengan klien yang sama. Artinya pergi bersama. Itu tidak terjadi, kecuali urgent. Tapi selama saya melakukan kunjungan klien pasti selalu dipasangkan dengan team support.

Macam-macam tipe orangnya. Semua yang sering saya perhatikan saat bekerja di kantor itu berbanding terbalik saat dikirim tugas keluar.

Yang pertama namanya Arif Rahman. Saya biasa panggil Mas Arif. Karena ia senior saya. Menurut penilaian saya, dia ini pendiam tidak banyak bicara. Itu sepenglihatan saya ketika bekerja di markas Excellent.

Tapi…. saat sudah sampai di klien atau keluar dari zona markas Excellent, Mas Arif ini paling jago berbicara di depan umum. Bisa merangkul orang lain untuk ikutan ngobrol santuy.

Dan saya senang ketika melihat dia menyampaikan presentasi saat pertemuan dengan klien. Cara penyampaian materinya enak didengar, mudah dipahami dan yang terpenting santai. Tidak terburu-buru.

Dan saat meeting selesai dilaksanakan, di waktu perjalanan pulang, Mas Arif ini pasti nanya ke saya, “Menurut kamu tadi mereka ini ga?” Atau “Menurut kamu mereka gimana?” Atau yang lainnya “Tadi kamu ngerti ga yang saya jelasin? Atau ada yang belum kamu pahami?”

Intinya dia pasti tanya pendapat atau penilaian saya soal pembahasan bersama dengan klien tadi. Dan dari Mas Arif juga, pengalaman pertama saya pergi ke klien pagi-pagi naik AC 05 sampai masuk angin. Dan pertama kalinya juga saya naik Bus TransJakarta.

Ada yang pernah bilang kalau Mas Arif ini bis mania. Mungkin karena keseringan pulang kampung naik bis.

Padahal saya lebih lama tinggal di Bekasi, sebelah Jakarta. Soal kendaraan umum saya paling kudet. Karena selama kunjungan klien ke Jakarta, saya selalu main aman. Naik kereta, setelah itu naik Gojek sampai dilokasi tujuan. Seperti itu saja.

Yang kedua, M. Dhenandi Putra, saya biasa panggil Kak Dhen. Kalau klien panggil dia Putra. Tapi saya agak asing kalau klien panggil Putra, karena saya kenalnya Kak Dhen😂

Dia ini tetangga jauh saya, satu RW beda RT. Ayah kami juga berteman.

Baru saja, Rabu kemarin saya dapat tugas kunjungan klien dengannya. Karena merasa sudah cukup lama kenal, kami enjoy dan sering saling curhat ditengah perjalanan menuju kantor klien.

Kak Dhen ini sama seperti Mas Arif, senior saya. Dia spesialis yang berkaitan dengan teknis. Senang menganalisa dan aktif di organisasi. Saking aktifnya dia energik orangnya. Nggak bisa diam.

Saat menyampaikan materi ke pihak klien, sama luwesnya seperti Mas Arif. Bedanya Kak Dhen tidak menanyakan seperti halnya Mas Arif. Karena mungkin dia sudah tahu, saya tidak mungkin langsung mengerti terkait teknis😁

Kejadian yang tidak saya lupa saat makan siang bersama dengan klien disalah satu rumah makan sejenis warteg. Lauk yang saya pesan itu sayur krecek dan ayam sambal ijo minumnya es teh manis. Sama dengan saya, Kak Dhen pesan sayur krecek, ayam sambal ijo dan tahu isi, minumnya teh manis hangat.

Ketika sudah selesai makan dan ingin bayar, kami antre menyebutkan menu apa saja yang tadi dimakan. Saat dikalkulasi ternyata menu makanan saya yang lebih mahal. Padahal saya tidak pakai tahu isi, kenapa saya yang lebih mahal. Tagihan Kak Dhen Rp18.000 sedangkan saya Rp22.000. Menurut saya itu aneh.

Kata Kak Dhen, namanya juga warung suka-suka. Ya total bayarnya suka-suka si penjual. Untung saya tidak bekerja di daerah situ. Bayangkan kalau setiap hari untuk makan siang tagihannya berubah-ubah padahal makan dengan lauk yang sama, bisa urusan.

Yang ketiga, ada rekan kerja saya juga namanya M. Ridwan. Biasa saya panggil Mas Ridwan. Saya pernah dikirim berdua ke salah satu Disti di Jakarta untuk mengikuti semacam training.

Padahal waktu itu dia baru saja gabung di Excellent. Pikir saya pasti garing nih, mukanya juga jutek. Karena baru pertama kali gabung dan belum terlalu membaur jadi masih agak kurang nyambung.

Tapi semakin kesini, semakin terlihat melencengnya. Jadi lebih membaur, sampai aur-auran. Mas Ridwan ini terkenal nge-gas. Ngeselin. Dan sangat-sangat santuy.

Saya sampai kepo ingin bertanya apabila ia sedang menerima telepon, apakah kliennya ngeselin atau tidak?

Kalau nada bicara Mas Ridwan dari awal terima telepon santai, berarti kliennya cincai. Tapi kalau Mas Ridwan sudah nada tinggi, bisa dapat disimpulkan klien yang dihadapi pasti lebih ngeselin dari dia.

Sepengalaman saya pergi keluar kantor selama dua hari dengan Mas Ridwan, dapat disimpulkan dia ini orangnya penyayang wanita. Itu menurut saya. Karena dia selalu ngalah, “ladies first”. Dan orangnya tidak pelit.

Kenapa saya bisa berpendapat seperti itu? Jadi waktu kunjungan ke Disti itu, karena snack dan makan siang ada dibagian luar. Jadi saya agak sungkan ambil duluan keluar. Tapi dengan inisiatifnya, Mas Ridwan ambil sekalian snack dan nasi boxnya untuk saya.

Saya merasa senang, ternyata orangnya baik. Saat naik kereta pulang ke Bekasi pun, itu kan di jam-jamnya sibuk orang pulang kerja, KRL penuh dan sumpek. Saya wanti-wanti ke dia supaya tidak jauh-jauh dari saya. Karena saya takut berdesak-desakan. Tapi dia “iya aja” tuh. Lha gimana? Kan sumpek, kereta sudah penuh. Ya nggak bisa kemana-mana. Nggak bisa jauh-jauh, orang spacenya sudah tidak muat😂

Selain dari dia suka ngajak debat, kadang humoris tapi kadang crispy juga.

Yang terakhir, ini yang spesial. Namanya Rizky Pratama. Saya biasa panggil Kak Rizky. Senior saya juga. Kesan pertamanya waktu tahu nama dia, jengkel. Karena dia ngeledek saya soal bangku baru, yang katanya kalau diduduki saya bisa jebol. Padahal posisinya waktu itu saya belum kenal dia. SKSD banget.

Pertama kali dikirim keluar berdua untuk kunjungan itu, waktu bulan puasa tahun ini. Kak Rizky ini pendiam. Diam-diam nganyut. Soal pekerjaan saya acungi jempol. Dia hebat. Mungkin orang lain bertemu dia dan melihat dia menganggap biasa-biasa saja. Seperti Not Chuck dalam seri film Cars. Nah, seperti itulah dia. Dilihat sepele padahal kerjanya cepat. Tapi itu menurut saya.

Saya kaget. Waktu itu ikut kick off meeting disalah satu klien. Disitu ada beberapa vendor lain. Mereka beramai-ramai, saya cuma berdua. Dengan satu teknisi dan satu sales. Sisa selain dari kami berdua itu bagian teknis. Dengan cepat, Kak Rizky menyiapkan Excel kemudian membuat estimasi disitu juga dan ditampilkan disitu juga. Setiap pertanyaan yang diajukan  klien dapat dijawab dengan baik.

Selain dari itu dia juga oke-oke saja orangnya. Manut. Kak Rizky juga pendengar yang baik.

Dia memang suka bully saya, tapi kadang suka gantian dia  yang dibully satu kantor🤣

Memang Tuhan itu Maha Adil.

Dia juga care lho. Waktu dinas keluar kota ke Tangerang, Banten, kami sepakat untuk naik kendaraan via Tol Bekasi Timur. Karena saya tidak ada kendaraan untuk sampai kesana, akhirnya saya bercanda memintanya untuk jemput saya.

Saya kira dia bakal nolak, ternyata tidak. Dia bilang “iya”.

Keesokan harinya, saya benar dijemput dia. Padahal rumahnya lumayan jauh. Wong kalau ke Gerbang Tol Bekasi Timur start dari rumah saya bakal lewatin rumah dia lagi.

Artinya kan walaupun dia suka bully saya, ya ada sisi baiknya dia untuk peduli ke saya. Dan saya appreciate ke dia.

Sebelum menulis bagaimana Kak Rizky diblog saya ini, saya sempat bilang ke dia. Akan menceritakan sedikit tentang dia menurut pandangan saya. Dan dia bilang, “Lu pasti mau ngomong yang jelek-jelek tentang gue ya?”

Emang dia mah, suudzon mulu ke saya😂

Takut Malam

Mumpung malam Jum’at saya ingin bercerita tentang kejadian ini. Bukan horror karena hantu tapi horror kalau tiba-tiba terserang penyakit.

Dua hari lalu saya baca berita tentang seorang aktor yang tiba-tiba terserang penyakit stroke akibat mandi di jam 23.00 malam. Di artikel itu pula, macam-macam penyakit yang timbul jika terlalu sering mandi malam dijelaskan. Saya baca hingga selesai walaupun dengan perasaan cemas.

Cemas, karena saya juga kadang menyempatkan mandi di jam malam. Mandi malam bukan karena malas, tapi karena memang pulang ke rumah atau sampai di rumah itu setelah pulang dari kampus. Paginya kerja dan langsung berangkat kuliah, jadi sore itu tidak bisa pulang dulu ke rumah untuk sekedar mandi.

Nah kebetulan, hari itu juga malamnya sekitar jam 23.30 WIB saya ke kamar mandi untuk membasuh muka, sebagian kepala, tangan dan kaki. Ya kegiatan rutin sebelum tidur itu tumben sekali saya lakukan diatas jam 10 malam.

Saat menuju kamar tidur detak jantung saya normal. Padahal kamar mandi di bawah, sedangkan kamar tidur saya di lantai 2. Mesti naik tangga dulu.

Sesampainya saya di kamar tidur, karena suhu ruangannya juga dingin, saya mulai merasa ada yang menghalangi saluran pernapasan saya. Lubang hidung saya seperti terhalang sesuatu. Bukan terhalang upil, bukan hahaha?

Maksudnya seperti orang yang sedang flu. Karena menurut saya normal. Akhirnya saya langsung menaiki kasur dan coba dengan posisi telentang dan bantal ditumpuk dua supaya lebih tinggi agar bisa bernapas lebih lega.

Ternyata tidak. Saya coba posisi miring ke kanan. Sama juga jadi sulit bernapas. Saya bangun dan duduk. Rasanya seperti melayang. Berkali-kali saya hadapkan jari di depan hidung sembari bernapas, apakah normal keluar masuk udaranya. Hasilnya normal. Tapi saya seperti merasa sulit bernapas.

Saya coba jalan, mondar-mandir. Ke belakang dapur dan kembali ke kamar tidur. Tapi malah semakin merasa saya sulit bernapas. Rasanya melayang dan tiba-tiba lemas seperti orang mau pingsan.

Saya jadi parno sendiri, tiba-tiba teringat jika besok sudah tiada bagaimana? Berkali-kali saya minum air dan mengucap istighfar. Saya kepikiran kembali kalau besok tiada bagaimana? Saya lihat satu per satu wajah ayah, ibu dan adik-adik saya.

Terus saya lakukan coba tiduran, mondar-mandi ambil air minum sambil mengucap istighfar. Sesekali memegang leher saya. Apakah masih ada detak nadi. Karena saya seperti melayang dan rasanya ingin pingsan.

Saya lihat disekeliling saya semua normal. Saya jadi sedih dan ketakutan sendiri. Karena saya satu kamar dengan adik saya. Mungkin juga adik saya merasa terganggu dengan saya yang bolak-balik naik turun kasur. Dia tanya dengan raut wajah cemas, “kenapa kak?”

Saya bilang “Susah napas”.

Saya pinjam jari adik saya, dan saya tanya, “Masih ada anginnya kan?”

Adik saya jawab, “Masih”

Saya pegang kaki saya. Kok dingin. Saya genggam tangan saya sendiri juga kok dingin. Jangan-jangan……

Ah saya jadi semakin takut.

Saya kembali naik ke kasur dengan rilex. Tidur miring ke kanan. Mengenakan selimut tebal. Lampu kamar yang semula saya matikan, jadi saya hidupkan. Perlahan suhu tubuh saya kembali normal. Kaki saya sudah hangat kembali. Tangan dan leher saya juga. Hingga saya tertidur.

Terbangun dari tidur, saya lihat masih pukul 02.00 pagi. Saya lihat lagi sekeliling saya. Dirasa cukup aman, saya kembali tertidur. Kemudian terbangun lagi, ternyata masih jam 03.30 pagi. Saya lihat lagi disekeliling saya. Masih sama. Normal dan baik-baik saja. Saya tertidur hingga adzan subuh terdengar. Saya bangun dan mengucap doa setelah bangun tidur.

Saya masih hidup. Saya masih diberi nikmat untuk bisa bernapas. Hanya karena membasuh muka dan sebagian kepala. Saya jadi ingat akan kematian. Tapi juga takut malam. Kalau besok tiada bagaimana?

Takut malam, karena malam itu waktunya kita beristirahat. Caranya ya dengan tidur itu. Sedangkan tidur itu ditengah-tengah antara hidup dan mati. Makanya ibu saya sering bilang, “Tidur itu lebih dekat dengan kematian.”

Dan tidak disarankan juga sebenarnya untuk main air di atas jam 10 malam. Apalagi membasuh sebagian kepala. Alasan kenapa saya membasuh sebagian kepala. Sebelum tidur itu saya pasti menyisir rambut, sedangkan rambut saya sulit diatur. Jadi kalau tidak dibasuh air sulit disisir. Saya kira tidak akan terjadi apa-apa jika dilakukan ditengah malam. Tapi sepertinya dengan melakukan itu bisa mengubah suhu tubuh. Jantung berdebar-debar. Dan jadi ingat dosa-dosa. Kalau esok tiada bagaimana?

Stop Body Shaming!

Gajah, badak, kerbau. Itulah nama-nama hewan bertubuh besar.

Tapi bukan itu pointnya. Itu panggilan saya waktu jaman sekolah. Heheh lucu yaaaaaa?☺️

Kalau kata Mas Tulus lewat lagunya yang berjudul “Gajah”, dengan memanggilnya gajah sama saja mendoakannya agar punya otak yang cerdas, kuat dan supaya berguna dengan saling membantu untuk sesama.

Kata-kata yang menurut saya bisa melukai hati ternyata bisa jadi lagu motivasi ditangan Mas Tulus. Lagu itu bisa hadir karena dia jadi korban dari bully fisik. Badannya yang gemuk disebut mirip gajah.

Sama seperti saya dong, pernah dipanggil gajah juga?

Hidup selama 20 tahun, saya tidak selalu berbadan gemuk. Waktu lahir ukuran saya sama dengan bayi-bayi yang lain. Berat badan 3,3 kg dan panjang 51 cm.

Ukuran badan saya normal hingga memasuki usia 3 tahun. Setelah itu baru lah mulai membesar, lebar kesamping. Sampai sekarang. Berkat vitamin apapun itu yang diberikan ayah dan ibu dulu, waktu saya masih jadi satu-satunya. Tujuannya ya…. supaya anaknya gemuk.

Sudah biasa dipanggil dengan nama hewan bertubuh besar, saya tidak terlalu mengambil hati.

Tapi semakin saya dewasa, saya semakin merasa bahwa dipanggil dengan sebutan seperti itu adalah sesuatu yang memalukan. Apalagi kalau kita sudah mulai menyukai lawan jenis.

Alasan saya menulis tentang ini karena beberapa waktu ini sering jadi korban body shaming.

Body shaming itu apa sih?

Body shaming adalah tindakan mengomentari bentuk fisik seseorang.

Contohnya apa saja?

Contohnya akan saya ceritakan berdasarkan pengalaman saya.

Wanita itu sensitif. Selain dari ingin dimengerti, wanita juga mudah bawa perasaan. Apa-apa dimasukkan ke hati. Tiba-tiba marah nggak jelas. Karena apa yang ada dihatinya sulit diungkapkan.

Walaupun saya jelaskan diatas bahwa saya tidak mengambil hati jika dipanggil hewan berbadan besar, tapi kadang perasaan saya sama seperti manusia pada umumnya. Sedih, jika dipanggil dengan sebutan yang buruk.

Mungkin tidak semua orang gemuk di dunia ini mendapat panggilan “Buto Ireng” seperti yang dicanangkan teman saya kepada teman lainnya untuk memanggil saya sewaktu SMP. Tapi dari sekian banyak orang gemuk di dunia pasti pernah jadi korban bully fisik.

Entah apa yang ada dipikiran mereka yang senang membully kami yang bertubuh besar. Memanggil dan menyamakan kami dengan hewan bertubuh besar adalah sesuatu yang lucu.

Apakah selama saya gemuk tidak ada usaha untuk kurus?

Dua tahun lalu saya menjalani diet mayo. Sebenarnya diet itu sudah ada jadwal dan menu makanan apa saja yang mesti dikonsumsi. Intinya diet ini mengurangi konsumsi garam dan gula serta tidak memakan nasi.

Yang terlintas dipikiran orang ketika mendengar kata “diet” ya berarti tidak makan. Kenapa? Karena tiap kali ada rencana diet, pasti ada satu manusia yang bilang, “Diet kok makan?”

Terus maksud kamu kalau saya diet berarti saya tidak makan? Saya minum saja, begitu?

Salah. Diet ya tetap makan tapi dikontrol konsumsinya.

Singkat cerita. Rupanya supaya dietnya berhasil mesti ada niat yang kuat.

Saya menjalani diet selama tiga minggu penuh. Dengan tidak mengkonsumsi garam dan gula sama sekali.

Hari pertama saya request ke ibu untuk merebus 2 telur ayam untuk sarapan. Siang hari makan sayur rebus dan buah. Sore hari 1 telur rebus dan buah. Batas maksimal makan sore di jam 17.00 WIB.

Padahal waktu itu hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran. Banyak godaannya. Karena semua karyawan yang pulang kampung pasti bawa oleh-oleh. Saya ingat betul waktu itu Pak Boss bawa oleh-oleh pempek Palembang. Di goreng di kantor, aromanya wangi sekali. Dilihat dari warnanya sepertinya enak. Tapi sayang saya tidak bisa mencicipinya, karena niat saya waktu itu ingin diet supaya kurus.

Melihat keseriusan saya untuk mengurangi berat badan. Ibu mendukung saya dengan membeli telur ayam 1 kg, khusus untuk saya. Tak lupa ayah saya juga ikut mendukung dengan beli pisang ambon satu sisir tiap dua hari sekali. Hanya untuk saya. Masak nasi dikurangi. Karena saya tidak makan nasi selama tiga minggu itu. Lumayan irit beras.

Baru menjalani diet mayo tiga hari, tumbuh bisul di area tertentu akibat makan telur yang berlebihan. Mungkin. Tapi tidak melunturkan niat saya untuk mengurangi berat badan.

Dalam masa diet tersebut, tiap harinya yang saya konsumsi adalah telur rebus, sayur rebus dan buah. Daging seperti dada ayam pun tidak saya konsumsi sama sekali. Nasi sebutir pun tidak saya coba sama sekali, saking niatnya. Padahal waktu itu saya diberi tugas praktek buat nasi liwet di kantor. Tapi sebutir nasi pun tidak saya cicipi. Minum teh, kopi atau air dingin saya hindari. Bangun tidur langsung minum air hangat segelas. Kalau lapar ya minum, bukan makan.

Perlahan berat badan saya menurun. Dari mana saya tahu? Saya memaksa diri untuk beli timbangan berat badan waktu itu. Walaupun uang didompet tinggal satu-satunya. Tapi saldo di kartu ATM masih banyak.

Seminggu pertama turun 7 kg. Penurunan berat badan drastis tersebut bukan hanya disebabkan karena pola makan yang ngaco. Tapi diseling olahraga juga. Seperti sehabis lari pagi di waktu libur, pulangnya cuci baju. Jadi keringat yang dihasilkan lumayan banyak.

Minggu kedua menjalani diet, muka saya terlihat semakin pucat tiap kali pulang kantor. Ibu saya marah. Memaksa saya untuk hidup normal. Makan seperti biasa. Tapi saya menolaknya. Saya semakin ambisius ingin kurus. Jumlah makanan semakin saya kurangi. Makan bersama team Excellent di tiap Jum’at saya tolak juga. Mereka semua pergi makan ke AW. Saya tetap di kantor. Bukan karena tidak diajak atau tidak dianggap. Karena saya tidak mau tergoda untuk ikut makan?

Mengira bahwa saya akan selalu baik-baik saja, ternyata pencernaan saya mulai bermasalah. Saya sulit buang air besar. Ibu bilang itu karena saya tidak makan sayur berkuah. Ibu mencoba membujuk saya untuk makan sayur bayam walaupun garamnya sedikit. Tapi saya tetap menolak. Tiap malam saya menangis, mengeluh kesakitan. Maag saya kambuh. Saya tetap kekeh tidak akan makan seperti biasanya.

Minggu kedua saya menimbang lagi. Ternyata hanya turun 3 kg. Saya merasa penurunan berat badan di minggu kedua ini kurang maksimal. Pikir saya, mungkin karena pencernaan.

Akhirnya saya mencari cara bagaimana supaya BAB saya lancar. Saya beli obat dulcolax, 2 strip. Saya konsumsi sehari sekali. Hasilnya ya lancar kembali pencernaan saya. Obat tersebut saya konsumsi setiap hari hingga diet minggu ketiga selesai. Saya simpan obat tersebut di lemari, diselipkan dibaju agar ibu saya tidak mengetahuinya. Bungkus obat pun selalu saya buang di luar. Tidak di tempat sampah rumah. Khawatir ibu saya tahu dan syok.

Tiap kali ibu melihat muka saya yang pucat. Ibu selalu bilang, saya tidak sayang diri saya sendiri. Saya menyiksa diri sendiri.

Dan saya merasa bahwa tindakan saya itu semakin aneh. Memang benar, saya semakin tersiksa dengan keinginan saya yang ingin kurus itu. Yang ingin membuktikan ke semua orang bahwa saya bisa kurus.

Dengan diet ekstrem tersebut, saya berhasil menurunkan berat badan 10 kg. Hingga baju dan celana saya terasa longgar. Pergelangan tangan mengecil. Pipi saya sedikit tirus.

Saya senang sekali waktu itu, bisa menurunkan berat badan.

Saya semakin senang ketika bisa menunjukannya ke pacar saya pada waktu itu. Berlaga seperti, “Nih gue bisa kurusin badan lho. Gue turun 10 kg”. Disangka senang karena saya kurus, ternyata dia senang karena sudah ada wanita lain pengganti saya.

Sejak itu saya merasa bahwa yang saya lakukan dengan menyiksa diri karena ingin kurus ternyata hanya terbuang sia-sia. Toh semua orang melihat saya sama seperti melihat gajah. Selalu gemuk.

Lihat gambar dibawah ini.

Gajah itu namanya Tikri. Dia ada di Sri Lanka. Usianya 70 tahun. Badannya kurus. Tapi tetap terlihat besar.

Saya sendiri baru lihat, ternyata ada ya gajah kurus.

Dengan kejadian diatas, saya merasa diri saya seperti Tikri. Sudah berusaha kurus pun tetap terlihat besar. Banyak kok yang bilang, “Untung aja lu tinggi, coba pendek. Pasti bantet”.

Saya terlalu sabar untuk mendengar kalimat seperti itu.

Body shaming bukan hanya soal kritik ukuran badan, seperti :

“Badan lu gede banget, pasti makannya banyak ya?”
“Diet makanya, jangan ngemil mulu!”
“Dia aja bisa kurus, masa lu makin gendut!”
“Gimana mau diet? Minum air aja jadi daging kalo lu mah.”

Mengomentari wajah seseorang dengan kalimat ini juga termasuk body shaming lho.

“Masa kelahiran 99 sih? Kaget aja, soalnya mukanya kaya kelahiran tahun 92.”

Maksud kamu wajah saya tua ya??

Sepertinya iya.

Sebenarnya tanpa dijelaskan kalau wajah saya terlihat tua pun siapa saja yang mendengar kalimat itu sudah bisa langsung menebak maksudnya.

Maaf, saya jelaskan sedikit disini. Jika saya menemui orang yang menurut saya lebih tua umurnya daripada saya pasti ada sebutan, Kak, Mbak, Mas, atau Om dan Tante. Kalau saya panggil dengan sebutan diatas sebelum nama. Berarti usianya lebih tua diatas saya. Makanya kadang saya menolak kalau yang lebih tua dari saya harus memanggil saya Mbak.

Saya pun hanya perlu tahu usia mu, jika lebih tua dari saya. Supaya saya tetap bisa menghormati walau hanya menambahkan Kak, Mbak, Mas atau Om dan Tante sebelum nama. Saya tidak perlu mengucap ini, “Masa kelahiran 96, mukanya mirip kelahiran tahun 85.”

Saya tidak perlu itu. Mungkin yang mengatakan itu bermaksud ingin bercanda. Tapi ketahuilah ketika kamu mengatakan itu dibanyak telinga, saya merasa malu. Percaya diri saya hilang.

Pernah kejadian juga waktu saya ingin memasukkan motor kedalam rumah karena sudah malam. Saat saya sudah selesai memasukkan motor dan ingin mengunci pagar. Tiba-tiba salah satu dari bapak-bapak yang ada di depan rumah saya nyeletuk begini, “Mbak Fitra emang ga bisa ya badannya dikecilin?”.

Jujur saya kaget. Saya tidak melakukan apa pun yang mengusik dia tapi saya mendapat pertanyaan menyakitkan seperti itu.

Saya hanya bisa menangis ke ibu saya. Tidak mungkin saya marah begitu saja. Wong orangnya lebih tua dari ayah saya. Kalaupun lebih muda juga tidak akan mungkin saya lawan. Kecuali yang sepantar atau lebih tua satu tahun dari saya. Pasti saya balas pertanyaannya.

Seperti yang saya bilang, disaat kamu mengomentari bentuk fisik saya dibanyak telinga yang mendengar. Disitu saya merasa kurang percaya diri. Saya merasa dipermalukan.

Jadi stop body shaming!

Jangan buat percaya diri seseorang hilang karena lisan kita. Jangan katakan bahwa fisik saya atau orang gemuk lainnya atau siapapun itu jelek. Tuhan menciptakan bentuk manusia dengan sempurna.

Bukan soal lebay. Saya juga tahu bukan hanya saya yang pernah mengalami. Tapi hari ini saya yang berani menuliskan tentang ini.

The Worst Parents In The World

Saya ingin berterima kasih kepada Ayah dan Ibu saya, sudah menjadi orang tua terburuk di dunia. Saya juga berterima kasih kepada Tuhan, karena kehendak-Nya saya dilahirkan untuk menjadi anak dari orang tua yang pelit dan tidak adil.

Apa yang saya rasakan saat ini adalah kesalahan orang tua saya di masa muda. Karena kesalahan merekalah saya harus menanggung bullying, merasakan susahnya mencari uang, susahnya untuk melanjutkan pendidikan dan kesulitan-kesulitan yang saya rasakan saat ini.

Ibu saya itu pelit. Sedangkan Ayah saya selalu bertindak tidak adil. Padahal saya selalu mengikuti keinginan mereka. Mungkin karena saya anak pertama, semua mesti diuji coba. Ketika adik menangis, saya yang dimarahi. Padahal bukan kesalahan saya. Adik bertengkar dengan temannya lalu menangis, Ayah bilang itu salah saya karena tidak menjaga adik dengan benar.

Dari awal menulis cerita tentang bagaimana saya dan kehidupan saya. Saya selalu bangga punya orang tua seperti mereka. Padahal yang saya rasakan adalah selalu jadi anak yang disayang kalau ada perlunya.

Ibuku yang pelit

Punya Ibu yang pelit itu cukup makan hati. Dari kecil saya selalu dididik keras oleh Ibu. Ibu bilang A, kalau saya lakukan B pasti ngomel dan ngedumel. Seharian diperlihatkan wajah cemberutnya. Sampai mau ambil makan ke dapur punya perasaan tidak enak. Sering terjadi salah paham antara saya dan Ibu. Sampai akhirnya kami tidak saling bicara. Mungkin karena sama-sama perempuan, saling keras kepala itu pasti.

Dari kecil pula saya dibiasakan tidak diberi uang ketika libur sekolah. Karena Ibu saya galak. Jadi waktu dia bilang, jangan minta uang dihari libur, saya langsung nurut. Karena takut dimarahi Ibu. Sampai akhirnya saya semakin tumbuh dewasa dan sungkan meminta sesuatu ke orang tua.

Ibu selalu memberi uang jajan dalam jumlah sedikit kepada saya. Alasannya karena saya sudah makan dari rumah. Untuk apa jajan banyak-banyak? Toh bekal minum bawa dari rumah, mestinya uang jajan tetap utuh. Tapi kan beda. Zaman Ibu sekolah dulu dengan zaman saya sekolah sekarang.

Dan Ibu selalu menjawab, “Untuk tetep bisa sekolah aja dulu mama harus jualan dulu. Disaat temen-temen mama udah masuk kelas, mama masih di warung, bantuin eyang jualan. Mestinya kamu bersyukur, mama ga suruh jualan aja kamu masih bisa jajan”.

Saya sudah tahu jawaban Ibu saya itu. Tapi karena saya anak-anak, mana bisa saya berpikir selurus itu. Yang saya rasakan, teman saya jajannya banyak kok saya sedikit. Kan kepengin juga.

Dulu waktu SD, saya punya teman sebangku. Namanya Putri. Badan kita sama. Sama-sama gendut. Dari kelas 2 SD sampai tamat SD selalu barengan. Kemana-mana pasti berdua. Sampai dikira kembar. Setiap hari dia mendapat uang jajan Rp7.000. Sedangkan saya Rp3.000. Ibunya bekerja disalah satu perusahaan Jepang dan sering dinas ke Jepang. Sampai saya tahu rasanya roti dorayaki asli Jepang itu ya karena dibawain oleh-oleh sama Ibunya. Sedangkan Ayahnya kerja disalah satu perusahaan Amerika. Dia anak semata wayang. Setiap hari harus diurus pembantunya. Seperti makan bahkan hingga peralatan sekolah. Hidupnya enak. Semua les dia ikuti. Kegiatan apapun yang berbayar pasti dia ikut.

Sedangkan saya, hanya belajar dengan dibimbing Ibu di rumah. Ibu tidak pernah mau membiayai saya les. Mahal katanya.

Masuk SMP, uang jajan saya naik Rp2.000. Jadi Rp5.000. Saya masuk ekstrakurikuler Paskibra. Ada perlengkapan yang harus dibeli, seperti celana putih dan sepatu pantofel. Ibu bilang itu hanya merepotkan saja. Dan mengeluarkan biaya. Harusnya saya ikut ekstrakurikuler PMR yang hanya modal tenaga. Di SMP ini juga saya mulai merasa kesulitan. Keinginan orang tua untuk bisa masuk ke sekolah negeri itu jadi beban untuk saya. Saya tidak diikutkan les apapun, tapi orang tua menuntut saya untuk bisa masuk ke sekolah yang mereka inginkan.

Dan ketika masa SMK, Ibu hanya memberi saya uang jajan Rp10.000. Sudah termasuk bayar uang kas dan bensin motor. Banyak yang saya butuhkan ketika duduk di SMK. Hanya disini orang tua saya tidak pernah mengeluh tentang biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan saya.

Ibu juga pelit untuk dirinya sendiri. Kadang untuk sabun cuci muka saja masih suka dikasih air kalau habis. Tidak pernah membeli baju. Selalu pakai kaos saya, yang saya sendiri sudah jarang memakainya.

Ayahku yang tak pernah adil

Sedangkan Ayah saya adalah orang tua yang tidak adil terhadap anaknya. Ayah sangat sayang kepada adik perempuan. Hal itu sering ditunjukan Ayah. Semisal menanyakan sudah makan atau belum? Ada masalah apa di sekolah? Mau minta apa? Dan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukan kalau beliau sangat sayang adik saya itu.

Sedangkan dengan saya, Ayah tidak pernah sama sekali menanyakan hal tersebut. Kami jarang sekali berbicara. Saat saya ingin pergi ke kantor. Ayah sudah lebih dulu berangkat kerja. Saat saya baru pulang dari kegiatan sehari-hari. Ayah sudah lebih dulu tidur. Dihari libur pun Ayah sibuk dengan urusannya sendiri.

Bahkan tanggal ulang tahun saya pun Ayah tidak pernah mengingatnya. Saya sering kecewa. Tidak ada yang spesial tiap kali ulang tahun saya tiba. Ya lewat begitu saja. Paling hanya Ibu yang mengucapkan doa-doa.

Padahal banyak yang bilang, anak perempuan itu biasanya dekat dengan Ayahnya. Tapi tidak dengan saya.

Jika mengingat itu kadang saya merasa kalah. Saya ingin cepat menikah. Lepas dan tinggal jauh dari orang tua. Karena saya merasa Ayah dan Ibu tidak lagi sayang kepada saya. Tidak peduli kepada saya, semenjak kedua adik saya lahir. Saya merasa mereka berdua sudah punya anak kesayangannya masing-masing. Mereka punya anak kebanggaannya masing-masing.

Jika sedang merasakan itu, biasanya saya lebih banyak diam. Saya lebih suka mencari kesenangan sendiri diluar.

Tapi semakin dicerna dengan baik. Apa yang Ayah dan Ibu saya lakukan itu adalah cara yang benar untuk mendidik.

Ibuku yang pelit. Itu tidaklah benar.
Ayahku yang tidak pernah adil. Itu juga tidak benar.

Ibu memberi uang jajan sedikit bukan karena tidak sayang. Tapi karena Ibu ingin anaknya belajar bersyukur, apapun yang didapatkan.

Saya belajar dari pernyataan teman saya yang kesal karena gaji belasan juta yang diperolehnya harus dibagi-bagi dengan harus membayar tunjangan dan memberi orang tuanya. Dia upload slip gajinya ke instagram story. Dengan nada sombong dia menyesali bahwa dia baru saja memberi orang tuanya dari hasil jeri payahnya selama sebulan penuh bekerja di pabrik. Karena memberi uang ke orang tuanya itu, gajinya hanya tinggal 7 juta dan dia tidak bisa membeli apa yang dia inginkan.

Kenapa begitu? Karena dia terbiasa menerima dan menikmati uang dalam jumlah besar. Jadi ketika dia kekurangan setengah upahnya, ada perasaan tidak cukup. Tapi beda kalau uang itu ada ditangan saya. Saya akan lebih bersyukur karena dengan gaji yang sudah terpotong itu saja saya masih bisa hidup dan bersenang-senang.

Ibu tidak pernah membiayai saya untuk ikut les diluar. Karena Ibu yakin dengan kemampuan anaknya. Belajar di rumah dengan dibimbing Ibu itu lebih baik ketimbang les dengan orang lain. Teman saya memang harus les diluar, karena orang tuanya sibuk bekerja. Buktinya yang diikutkan dalam berbagai lomba, juara 1 di kelasnya dan bisa masuk sekolah favorit itu yang belajar dengan Ibunya bukan yang les diluar. Dalam hal ini saya sendiri.

Saya akui bahwa saya sering kalah. Kelas 10 SMK saya hampir menyerah. Pusing terhadap tugas produktif yang diberikan guru. Saya mesti mengerjakan PR hingga pagi. Saya menangis dan meminta Ibu saya untuk datang ke sekolah. Saya ingin keluar dari sekolah yang menjadi almamater saya itu. Tapi Ibu mencoba meyakinkan saya. Katanya, “Jangan lihat mereka yang udah keluar sekolah, tapi lihat yang masih bertahan.”

Tiap kali saya merasa kalah, Ibu selalu meyakinkan. Hanya meyakinkan saya saja. Sama dengan setiap kali saya meminta untuk ikut les diluar. Ibu tidak punya cukup uang. Ibu hanya punya keyakinan untuk meyakinkan anaknya, bahwa anaknya “BISA”.

Ibu juga tidak sepelit yang diceritakan soal ekstrakurikuler Paskibra. Ketika saya meminta, memang keadaannya dalam kondisi kurang. Tapi Ibu berusaha, bagaimana caranya supaya anaknya tetap bisa ikut lomba. Malam hari sebelum hari H, Ibu memberi saya celana putih dan sepatu pantofel yang saya minta sebelumnya. Dan ternyata pantofel saya yang paling bagus di pleton. Dan Ibu saya tidak akan pernah sejahat itu.

Tidak hanya soal celana putih dan sepatu pantofel. Ibu memberi uang jajan sedikit, agar saya tetap bisa mengikuti kegiatan study tour ataupun acara perpisahan sekolah ke luar kota. Ibu tidak pernah membiarkan anaknya untuk tidak ikut acara atau kegiatan seperti itu. Ibu selalu mengusahakan agar semua anaknya bisa ikut belajar dan bersenang-senang bersama temannya.

Saya merasa bersalah karena pernah menanyakan tentang keseruan saat pergi perpisahan ke Jogja di masa SMP, kepada teman sekelas saya yang juga satu SMP. Ternyata saat perpisahan SMP itu dia tidak ikut. Karena alasan keuangan. Saya tidak tahu. Pikir saya kan, uang jajan dia saja lebih besar 2x lipat dari uang jajan saya. Mana mungkin tidak ikut perpisahan sekolah. Intinya saya lebih beruntung darinya, walaupun Ibu saya pelit uang jajan.

Pelit terhadap dirinya sendiri. Bukan pelit. Ibu saya itu pemegang amanah terbaik. Untuk membeli kebutuhan dirinya sendiri Ibu perlu memutar otak, agar uang yang diberikan Ayah cukup untuk kebutuhan keluarga. Ibu saya dulunya cantik sampai sekarang tetap cantik. Ibu lebih memilih anaknya tidak kelaparan ketimbang anaknya harus melihat Ibunya tampil dengan gaya modis. Pada dasarnya Ibu saya adalah menteri keuangan yang terbaik.

Untuk Ayah, walaupun tidak pernah terlihat perhatiannya. Sebenarnya Ayah itu sayang saya. Ayah sayang semua anak-anaknya. Tidak ada pengecualian. Ayah terlihat lebih cuek. Karena Ayah sadar, saya sudah tumbuh dewasa. Semua yang saya lakukan ada privasi. Tidak bisa dibeberkan semua kepada Ayah. Semisal dekat atau suka dengan siapa. Paling bisa hanya curhat ke Ibu. Nanti Ibu yang lapor ke Ayah. Ayah akting seperti tidak tahu apa-apa. Padahal Ayah tahu segalanya. Urusan makan itu kan tidak perlu ditanya. Kalau lapar ya pasti makan. Sayanya saja yang terlalu baper.

Ayah juga peduli terhadap saya. Tiap kali saya pulang kuliah, memang saya selalu melihat Ayah sudah tertidur di ruang tengah. Rupanya Ayah menunggu saya pulang kuliah hingga tertidur. Saat saya sudah tidur, Ayah baru terbangun dan menanyakan ke Ibu tentang kondisi saya. Apakah saya sudah pulang atau belum.

Ayah bilang ke Ibu, “Kasian kakak, gara-gara Ayah harus pulang malem supaya bisa kerja sambil kuliah. Coba Ayah dulu sekolah yang bener. Jadi kakak nggak usah kerja biar bisa bayar kuliah.”

Mendengar itu dari Ibu saya, dada saya seperti ditempel alat kejut. Saya kaget. Sesayang itu Ayah saya terhadap saya. Apa yang saya kira selama ini ternyata tidak seburuk itu.

Lagi pula selama ini Ayah saya tidak pernah lupa kapan saya lahir. Tanggal berapa ulang tahun saya. Ayah selalu ingat. Hanya saja, Ayah selalu berangkat lebih pagi. Jadi sebelum saya bangun tidur, setiap hari ulang tahun saya tiba, Ayah selalu menyempatkan diri mengucap doa ditelinga saya. Ayah tidak pernah lupa hari ulang tahun saya. Saya sudah besar, tidak mungkin lagi Ayah menggendong saya sambil mengucap doa. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dan tidak ada kado dari Ayah ataupun Ibu. Kebiasaan dikeluarga saya hanya membuat nasi uduk dan berkumpul bersama sebagai ucapan rasa syukur.

Saya juga bersyukur bisa merayakan ulang tahun bersama keluarga. Banyak dari teman saya yang hanya diberikan uang banyak untuk bersenang-senang bersama teman lainnya. Bukan merayakan ulang tahun bersama dengan kedua orang tuanya, yang membuatnya bisa lahir ke dunia.

Dihari libur, Ayah tidak sibuk dengan urusannya sendiri. Hari libur itu banyak panggilan pekerjaan untuk Ayah saya. Uang tambahannya diambil dari kegiatan itu. Sebelum hari libur tiba banyak pesanan dari tetangga untuk Ayah saya. Seperti diminta untuk memperbaiki listrik atau mesin air yang rusak. Semua itu dilakukan hanya untuk anak istrinya.

Ayah dan Ibu ku tidak seburuk judul diatas. Apa yang saya rasakan saat ini, itu bukan kesalahan mereka. Justru dengan dibully dan bersusah payah saya dididik untuk sabar, jika ingin mendapatkan sesuatu.

Dan pelitnya Ibu itu karena ada pertimbangan. Tidak adilnya Ayah itu hanya salah paham. Sibuknya Ayah itu karena ada yang harus dibahagiakan. Dan tidak semua yang kita inginkan itu baik untuk diwujudkan.

Brainstorming Excellent 2019 : Camping di Pangalengan

Awalnya saya khawatir, kegiatan brainstorming Excellent tahun ini diadakan bertepatan dengan pelaksanaan UAS di kampus saya. Karena tidak adanya kalender akademik di kampus, membuat saya kesulitan mengatur jadwal liburan. Seperti halnya bulan April, ketika saya ada rencana liburan ke luar negeri. Untung saja UTS waktu itu direschedule di minggu depan, jadi dilaksanakan setelah saya pulang ke Indonesia.

Dan UAS semester dua ini mestinya dilaksanakan di minggu ini. Tapi saya beruntung, setelah pulang dari kegiatan brainstorming minggu lalu, UAS saya direschedule di minggu depan. Artinya minggu ini jadi hari tenang sebelum menghadapi soal-soal ujian.

Brainstorming kali ini lumayan jauh. Lokasinya ada di Kabupaten Bandung. Tepatnya di Kampung Singkur, Pangalengan.

Seperti biasa, berangkat hari Jum’at pulangnya hari Minggu. Dan tidak biasanya untuk sampai ke lokasi, Team Excellent harus berangkat lebih pagi.

Persiapan Sebelum Berangkat

Sebelum melaksanakan kegiatan brainstorming ini, seluruh team dibriefing berkali-kali. Seperti apa saja yang mesti dibawa dan disiapkan, baik itu perlengkapan team maupun pribadi.

Agenda kegiatan juga dibacakan, seperti ada kegiatan api unggun, rafting, paintball, petik tomat, petik jeruk dan kegiatan lain yang menyenangkan.

Dari list yang dibacakan semua menarik. Dan sangat berbeda dari brainstorming sebelumnya yang pernah saya ikuti.

Tak lupa ketua panitia menyampaikan soal suhu udara di daerah sana yang katanya waktu itu bisa mencapai 10°C – 15°C. Maka perlu disiapkan jaket, kaos kaki, sarung tangan, sarung dan kalau memungkinkan selimut. Selain sarung tangan untuk penghangat dikala kedinginan, jangan lupa sarung tangan kuli untuk main rafting.

Day 1

Berangkat dari rumah pukul 05.30 WIB. Janjiannya sih 05.30 WIB itu harus sudah di kantor.

Saya nunggu gojek yang mau pickup saya. Lama sekali. Tapi juga bolak-balik saya cancel, karena harganya mahal sekali. Biasanya Rp14.000,- pagi itu Rp18.000,-. Naik Rp4.000,- ternyata. Lumayan kan untuk beli teh botol sosro original di warung depan kantor. Pikir saya kalau dicancel harga berubah. Ternyata tidak.

Sudah makin terang akhirnya saya pasrah dan berdoa, siapa saja abang gojeknya yang mau angkut saya, nanti ditambah Rp2.000,- biar genap jadi Rp20.000,-?

Akhirnya saya dapat driver gojek. Motornya bagus. PCX Honda. Mirip Nmax. Yang katanya kalau habis turun dari motor, jalannya jadi ngangkang karena joknya terlalu lebar wkwkwk?

Abangnya keren. Tapi pagi itu saya diajak muter-muter. Dan hampir ditilang polisi. Karena gojek yang antar saya sempat di hadang dan disuruh putar balik sama pak polisi.

Setelah sampai di markas PS semua sudah kumpul ternyata. Barang-barang sudah masuk ke bagasi bus. Dan laptop yang sudah saya simpan rapi didalam tas harus dikeluarkan dan ditaruh di kabin bus. Hati saya was-was selama perjalanan. Takut laptop saya itu kenapa-kenapa?

Sekitar pukul 06.30 WIB kami semua berangkat menuju lokasi tempat dilaksanakannya brainstorming.

Selama diperjalanan saya asik berbincang-bincang dan bercerita. Samping saya itu istrinya rekan kerja saya. Depan kursi saya itu Pak Boss. Diperjalanan itu tumben-tumbennya saya banyak ngomong. Biasanya kalau sudah masuk bus, saya diam. Mungkin kalau ditanya hanya menganggukan atau menggelengkan kepala. Karena saya takut mabuk darat. Jadi untuk mencegah itu, saya lebih banyak diam didalam bus.

Sebelum perjalanan ini, saya sempat cerita bahwa saya tidak bisa mencium bau ruangan mobil atau bus. Saya lebih banyak diam. Salah satu rekan kerja saya nyeletuk.

“Lu mau yang kalo di perjalanan diajak ngobrol mulu? Samping Pak Boss. Ntar lu diajak ngobrol terus dah.”

Wkwkwkwkwk? didepan saya waktu itu memang Pak Boss. Dan Pak Boss ikut nimbrung sambil bercerita waktu itu.

Saya memang ingin membiasakan diri seperti orang-orang yang betah didalam bus. Mereka bisa ketawa ketiwi didalam bus. Mereka bisa makan didalam bus selama perjalanan. Tanpa merasakan mual diperut. Dan semua saya lakukan kemarin, waktu diperjalanan menuju Kampung Singkur. Itupun hanya sampai di KM 72 saja. Setelah berhenti di rest area itu saya diberi obat anti mual. Alhasil saya terlelap hingga sampai di Bandung. Bangun-bangun lapar. Dan saya tidak merasakan mual sama sekali ketika melewati jalan berkelok. Wong saya asik tidur di bus?

Setelah sampai kita semua menggendong masing-masing barang bawaan. Seperti astronot yang baru mendarat di bulan. Kita semua berjalan sejauh LK 300m untuk sampai ke tempat penginapan.

Selama menuju penginapan itu, saya melihat aliran deras sungai Palayangan. Waktu itu sih saya belum tahu nama sungainya apa. Tapi deras sekali.

Saya ingat bahwa di agenda brainstorming kali ini ada kegiatan rafting (arung jeram). Dan mungkin akan lewat sungai ini. Nyali saya tambah kecil, jantung saya menciut. Saya kan takut air deras seperti itu. Apalagi kalau warnanya gelap. Pasti dalam. Walaupun kata orang sungainya dangkal. Dangkal menurut orang, dalam menurut saya?

Saya sampai bimbang, tetap ikut rafting atau tidak. Karena takut perahunya terbalik dan saya belum bisa berenang.

Tapi seketika saya lupa itu, setelah melihat suasana penginapan saya selama tiga hari nanti, selama berada disini. Waktunya siang, tapi udaranya malam. Dingin sekali. Banyak pohon pinus, karena memang saya berada di hutan pinus.

Di belakangnya tanaman tomat dan kopi. Saya iseng. Petik kopi lalu memakannya. Manis tapi bau langu. Enak kopi luwak kemasan lah pokoknya.

Saya coba ke kamar mandi, airnya dingin sekali. Saya coba cek saung tempat saya tidur nanti. Ternyata disediakan empat kasur, dua bantal dan satu selimut tipis saja. Saya mengira itu tidak masalah.

Seperti biasa, kita berkumpul dan bernostalgia kejadian apa saja yang pernah terjadi selama bekerja di Excellent. Saya salah satunya yang mesti cerita. Sampai terharu dan keluar air mata saya menceritakan apa saja yang saya dapat selama bekerja di Excellent.

Hingga tidak terasa malam sudah tiba. Udaranya semakin dingin. Siapa sangka, malam itu bernafas pun mengeluarkan asap.

Konyolnya, saat kumpul bersama. Ada asap didepan muka saya. Ngebul. Saya bertanya-tanya, “siapa yang merokok sih lagi ngumpul begini?”

Dan ternyata itu bukan asap rokok, tapi itu asap dari mulut saya ketika bernapas. Malam itu saya jadi nyengir sendiri. Lagi pula anak Excellent tidak ada yang merokok. Gimana bisa ada asap rokok.

Acara malam itu kumpul bersama dan api unggun. Sambil bakar-bakar jagung dan ikan tak lupa seduh minuman hangat. Mengingat besok ada kegiatan rafting dan sudah dibagi beberapa kelompok. Muncul perintah membuat yel-yel untuk team rafting. Jadi malam itu juga masing-masing kelompok harus sudah siap yel-yel. Kelompok saya terdiri dari lima orang. Dengan seadanya kita semua sepakat dengan yel-yel yang asal jadi dan asal dapat itu.

Yang penting saya bisa buru-buru pergi tidur. Karena sudah ngantuk.

Persiapan tidur. Kaos kaki dipakai, sarung tangan, jaket, sarung, selimut, koyo ditempel dihidung. Alhasil di jam 01.00 WIB saya terbangun karena kedinginan. Semua kedinginan. Terbatasnya ketersediaan selimut dan kurang persiapannya kami semua, alhasil tidur pun jadi kurang nyenyak. Disekitar jam 04.00 hidung saya terasa penuh. Tidak bisa bernapas. Saya bangun dan coba lepas koyo. Baru bisa lega. Mau minum pun, rasanya dingin semua. Tidak cocok di udara dingin minum air dingin. Tapi derasnya aliran sungai tidak menggangu tidur saya malam itu. Hanya suhu udara yang terlalu dingin saja yang membuat saya jadi kurang nyaman.

Karena pengalaman waktu di Batu, Malang. Bibir saya sampai kaku untuk berbicara saking dinginnya.

Day 2

Pintu kabin dibuka. Saya lihat masih gelap. Lama-lama terang. Saya lihat banyak rekan kerja saya yang turun dari atas bukit. Ternyata mereka semua habis berburu sunrise. Saya tidak ikut. Nggak kuat sama udaranya. Alias kebo juga.

Hari kedua ini agendanya rafting dan paintball. Semua bersiap-siap dan tidak lupa sarapan.

Kami semua menuju tempat wisata Situ Cileunca. Berbaris sesuai kelompok dan membawakan yel-yel masing-masing. Saya paling semangat. Tapi saya juga yang dipindah. Ternyata saya mesti dipindah dari kelompok yang seharusnya.

Kata kaptennya yang kecil pindah. Saya ditunjuk suruh pindah kelompok. Berarti saya kecil?

Dengan percaya diri saya pindah dan merasa kecil. Kelingkingnya.

Sebelum terjun langsung ke sungai. Kami diberi arahan bagaimana cara memakai pelampung dan helm demi keselamatan. Pelamlung yang dikenakan tidak boleh terlalu mengikat. Dan harus dikancing hingga bunyi *klek*. Helm dipakai tidak boleh terlalu mencekik. Harus ada jarak sekitar dua jari dari dagu.

Saya tiga kali ganti pelampung. Alasannya bukan tidak muat. Pengaitnya kurang 1. Ada yang nyelos juga. Jadi untuk keselamatan diri saya mesti ganti yang bagus.

Saya berubah keanggotaan. Dari Team Ombak (Om om dan mbak mbak) berubah jadi Team Ora Urup. Yang waktu itu saya sendiri tidak tahu apa artinya. Intinya kalau itu bikin semangat. Ya saya ikut teriak saja wkwkw.

Sebelum menyeberang ke aliran sungai. Kami mesti melewati danau. Kalau tidak salah namanya Dam Pulo. Disitu ada penampungan air besar. Mendengar gemericik air yang besar itu nyali saya kembali menciut.

Sebelum terjun ada sesi foto. Foto saya jelek semua. Malu lah mau upload mesti ditimpa sticker dulu hihi?

Kapten saya memberi aba-aba ketika rafting. Kalau ke kanan kita semua ke sisi kanan boat. Kalau ke kiri, kita semua ke sisi kiri boat. Jangan lupa sambil di genjot. Fungsinya untuk merubah posisi boat apabila tersangkut di batu. Kemudian aba-aba boom. Kita mesti masuk dan nyelip ditengah dudukan boat. Itu dilakukan sebelum kita melalui jeram. Agar seimbang, perahunya tidak terbalik. Perahu yang terbalik itu biasanya yang tidak mengikuti aba-aba.

Mengarungi derasnya aliran sungai. Baru mulai, saya sudah disambut jeram selamat datang. Saya mesti melakukan aba-aba boom. Dan boom. Basah lagi. Dan itu seru ternyata. Beberapa nama jeram yang masih saya ingat di Sungai Palayangan itu. Seperti jeram blender, jeram domba, jeram gadis 1, jeram romeo dan jeram cinta. Saya lupa jeram apa yang tinggi sekali itu. Yang boat saya terlihat seperti tenggelam. Seperti pada gambar dibawah ini.

Dan aliran sungainya ternyata benar melewati tempat penginapan saya. Sebenarnya sih sudah tahu, karena sebelumnya ada orang yang rafting dan lewat aliran sungai depan kabin saya. Bedanya waktu orang lain lewat situ, mereka disambut kita-kita Team Excellent. Giliran Team Excellent sendiri yang lewat situ, sepi. Tidak ada yang menyambut?

Rafting Team Ora Urup selesai sampai di titik finish. Selanjutnya kami naik mobil bak lagi menuju titik awal tadi. Karena kami semua mesti bilas badan dan ganti pakaian.

Saat bilas badan dan ganti pakaian. Saya termasuk yang paling lama. Sampai ibu-ibu diluar pintu kamar mandi sewot. Setelah selesai dengan santainya saya berjalan menuju parkiran bus untuk taruh pakaian basah. Waktu keluar dari kamar mandi itu, semua orang tiba-tiba melihat ke arah saya. Rupanya saat keluar kamar mandi tadi, mestinya saya bayar Rp5.000,- untuk uang bilas dan mandi?

Mana saya tahu kan? Tapi saya juga lupa bawa uang sih, akhirnya pinjam ke teman dulu. Dikira gratis ternyata bayar juga?

Setelah asik bermain air, kami semua makan siang di area taman wisata tersebut. Minumnya air kelapa. Saya sendiri mengakui baru itu, pertama kali minum air kelapa langsung dibuahnya. Biasanya sudah dalam bentuk es kelapa yang dicampur susu. Ternyata asik begitu.

Makan siang kali ini juga enak. Lauknya banyak. Pokoknya makmur selama itu dibiayai Excellent?

Pulang dari tempat rafting, selanjutnya main paintball. Di kegiatan ini saya tidak ikut. Saya rasa badan saya mulai tak enak rasanya. Mendengar letupan senjata, hati saya juga takut. Apalagi sudah masuk di medan perang. Saya hanya melihat mereka-mereka yang ikut main ke area perang-perangan.

Saya kalah sama Vavai, Vivian dan Sasha. Kalah sama nyali anak kecil?

Dirasa hari itu sangat melelahkan. Malam itu saya minta dibuatkan tato tulang ikan plus tempel dua buah koyo yang hot. Rasanya luar biasa sakit. Tapi malam itu lumayan bisa tidur, karena ada selimut tambahan. Berkat saling tukar dengan team yang lain. Yang selimutnya lebib tebal. Dan walaupun beberapa kali saya harus terbangun karena mules-mules. Sambil was-was takut ada ibu-ibu di kebun tomat. Hahaha. Itu sih halusinasi saja.

Day 3

Hingga akhirnya kami semua sampai di hari terakhir kegiatan brainstorming.

Saya ikut Pak Boss metik tomat. Lumayan untuk oleh-oleh ibu di rumah. Kemudian petik jeruk, yang ujungnya jadi petik jambu biji.

Dan merayakan ulang tahun Vivian yang ke – 9. Sampai saya juga dapat hadiah door prize dan bonus lemburan.

Dan yang terakhir, belanja oleh-oleh di KPBS Pangalengan. Beli berbagai macam olahan susu sapi. Kemudian pulang sampai ke Bekasi dengan selamat.

Note : Dinginnya suhu udara di Pangalengan, nggak sedingin sikap kamu ke aku akhir-akhir ini.