Libur Sayur Asem

Ibu bilang, “Perempuan kalo nggak bisa bebenah, nyapu nggak bisa, nyuci baju nggak mau, gosok baju males, masak gosong mulu. Itu namanya perempuan gagal.”

Dan saya masih ada di salah satu point tersebut. Hanya satu yang saya sukai, memasak. Makanya wajar kalau saya sulit kurus. Apalagi semenjak kerja dan punya penghasilan sendiri, hari sabtu dan minggu jadi hari yang paling ditunggu. Karena Ibu saya mengizinkan dapurnya ngebul untuk digunakan praktek memasak saya.

Dulu sempat ada niat, kalau saya ditolak masuk SMK negeri, saya mau ambil jurusan perhotelan walaupun itu masuk ke sekolah swasta. Terinspirasi dari sang mantan, yang kerja part time di hotel jadi bartender nyambi kuliah jurusan administrasi perhotelan.

Kalau di beranda hotel, kerjanya meracik minuman dan buat dessert. Kalau di rumah kerjaannya tidur dan bantu mamanya masak. Kalau di kampus, kerjanya TPTP alias tebar pesona dan selingkuh.

Kapok pokoknya suka sama mantan hampir 3 tahun ujung-ujungnya diselingkuhin. HAHA

Tapi keberuntungan berpihak pada saya, karena saya diterima di SMK negeri itu, dengan jurusan TKJ yang tidak ada sangkut pautnya dengan kegiatan di dapur.

Justru akhirnya saya kuliah perhotelan dengan bimbingan Ibu di rumah. Misalnya menyuci pakaian dan handuk, mengganti seprai kasur, memasak dan kegiatan rumah tangga lainnya yang mirip dengan pekerjaan di hotel.

Tapi lagi-lagi yang saya sukai adalah memasak. Tiap hari libur Ibu pasti menyuruh saya pergi ke pasar. Membawa catatan, barang apa saja yang harus saya beli. Sampai di rumah, sayuran dan bahan masakan lainnya dirajang dan dicuci. Kemudian iris bawang dan bumbu lainnya. Untuk selanjutnya proses memasak, ibu saya yang melanjutkan. Saya hanya melihat dan memperhatikan beliau memasak, syukur-syukur disuruh nyicipin.

Ada satu yang paling-paling membosankan. Masak dan makan sayur asem. Tiap hari libur.

Ibu saya itu hobi banget masak sayur asem untuk suaminya.

Alasan Ibu saya kenapa masak sayur asem terus, “Mumpung ayah libur. Kamu kalo nggak suka sayurnya, goreng telor aja.”

Dulu jaman sekolah, karena belum punya uang sendiri. Jadi, apa yang dimasak Ibu, ya itu yang dimakan.

Masak sayur asem sesuai mood nya. Minggu ini rasanya asin. Minggu depan agak asam. Minggu depannya lagi manis. Dan lebih banyak manis. Mungkin karena Ibu saya orang Jawa. Masak apapun jadi manis.

Saya punya teman dekat, laki-laki dan orang Betawi asli. Namanya Mahakam. Kata dia, “Lu orang Jawa ya?”

*Udah percaya diri bakal digombalin

Saya jawab, “Keturunan Jawa.”

Kata dia lagi, “Sama aja. Intinya mah yang kalo masak sayur asem rasanya manis.”

Suee… kirain beneran mau digombalin, ternyata cuma mau bilang masak sayur asem rasanya manis.

Karena terlalu sering lihat wujud sayur asem. Saya sampai kepikiran tiap kali mau makan. Kenapa bisa ya, dibuat sayur asem. Komponen sayur asem itu kan, ada melinjo, daun melinjo, labu, pepaya muda, terong, jagung, kacang panjang, nangka muda, kacang tanah, dan cabe ijo besar. Kemudian dikasih kuah yang rasanya asam. Darimana kepikiran buat sayur itu dan kenapa bisa tahu, kalau daun melinjo itu bisa dimasak?

Ah terlalu nggak penting ngurusin dari mana lahirnya sayur asem.

Siapa yang mau makan sayur asem? Besok ke rumah saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *