Bukan Jalan-Jalan Biasa

Liburan saya selanjutnya adalah pergi ke Kota Batu. Semenjak saya tahu kalau jalan-jalan sendiri itu asyik, Kota Batu menjadi pilihan daerah yang pasti akan saya kunjungi.

Dikesempatan liburan kali ini, saya manfaatkan untuk mengunjungi Kota Batu. Awalnya perjalanan saya ke Batu tidak diizinkan oleh ibu. Karena saya perempuan, pergi sendirian, dan jalan-jalan jauh hingga ke pulau Jawa bagian Timur. Tidak ada sanak saudara atau orang yang dikenal disana. Membuat ibu saya takut, anak perempuannya luntang lantung disana hehehe?

Atau mungkin ibu saya membayangkan bahwa Batu adalah gunung yang tinggi sekali, yang banyak jurangnya dan hutan-hutan. Saya jelaskan ke ibu saya, bahwa disana ada banyak wisata, dan tidak perlu khawatir karena saya sudah pesan hotel untuk beristirahat. Akhirnya ibu saya “mengiyakan”.

Perjalanan saya mulai dari Stasiun Solobalapan menuju Stasiun Malang (Kota Baru). Berangkat pukul 21.49 WIB sampai Malang pukul 03.45 WIB.

Banyak yang tanya ke saya, “Ngapain liburan ke Malang dan Batu sendirian? Dihari-hari biasa lagi. Bukannya kerja?”

Saya jawab, “Ada tugas kantor, disuruh pak Boss jauh-jauh ke Malang untuk metik apel.”

Ini istimewanya tempat saya bekerja. Karyawannya diizinkan jalan-jalan seminggu untuk refresh otak bebas dari pekerjaan. Diongkosi pula.

 

Wisata Petik Apel

Kalau jalan-jalan sendiri ke daerah Batu atau Malang dan sekitarnya, wisata yang cocok dan murah ya petik apel. Kalau ke Bromo mesti sewa travel, kalau sendirian biayanya bisa bikin kesel. Menghindari saya kesel, akhirnya petik apel.

Tempat wisata petik apel yang saya kunjungi, ada di daerah selecta. Arah ke tempat pemandian air panas Cangar. Yang disetiap sisi jalan, pasti banyak yang jual apel, atau kebun apel untuk wisata, dan rumah penduduk yang masing-masing punya pohon apel. Atau lebih tepatnya masuk ke Desa Punten.

Ada dua jenis apel yang ditanam dan boleh dipetik. Ada apel merah dan apel manalagi. Apel yang kulitnya ada warna merah, rasanya asam manis.

Kalau apel yang bewarna putih kekuning-kuningan itu sudah pasti rasanya manis walaupun ukurannya kecil. Tapi kalau masih pentil tetap asam ya gaes…

Untuk biayanya, ada beberapa rincian. Biaya masuk Rp25.000 per orang. Makan sepuasnya dan petik apel sepuasnya. Kalau sudah, coba keluar kebun apel dan timbang berat apel yang sudah kalian petik. Kemudian silakan bayar Rp30.000 per kg?

Kok mahal sih?
Iya jelas mahal. Karena kalau petik apel sendiri itu sensasinya berbeda. Suasana kebun yang adem dan pemandangan hamparan pohon apel. Bisa lari kesana kemari terserah mau petik apel yang mana. Misalnya juga kejedot pohon apel yang pendek pohonnya, rimbun daunnya dan lebat buahnya itu. Kalau beli yang sudah dijajakan dijalan kan tidak bisa merasakan kejadian kejedot pohon. Pokoknya dibuat geregetan ingin petik apel sebanyak-banyaknya. Tidak usah khawatir uangnya habis. Ada solusinya supaya tetap bisa bawa pulang apel. Disana banyak yang jual keripik apel. Beli saja keripiknya, rasanya pun sama. Harganya juga lebih murah.

 

 

Museum Angkut

Sudah puas dan tahu bentuk pohon apel serta sensasi petik apel sendiri. Saya lanjutkan perjalanan ke Museum Angkut yang hits dikalangan remaja yang suka jalan-jalan berburu foto untuk diupload ke instagram.

Disana ada apa sih?
Disana banyak kendaraan antik. Kalau kalian suka automotif ya pasti senang berlama-lama disana. Kalau seperti saya yang hanya ingin tahu, dan meninggalkan jejak kaki disana pasti bosan.

Museumnya bagus, penataannya keren sekali. Ada guidenya juga disetiap stand, jadi bisa bantu kita yang jalan-jalan sendirian untuk ambil gambar.

Untuk biaya masuknya berapa? Karena saya datang di hari biasa jadi ada potongan harga, dari yang seharusnya Rp100.000 menjadi Rp70.000 saja. Dibuka mulai dari jam 12.00 WIB hingga 17.00 WIB saja. Kalau berkunjung ke Museum Angkut jangan lupa foto di Gangster Town ya… Biar kekinian.

 

Batu Night Spectacular

Sebelum berangkat liburan ke Malang. Pak Boss selalu menyarankan saya untuk datang ke BNS (Batu Night Spectacular). Kebetulan sekali hotel saya letaknya ada disamping BNS ini. Jadi sehabis cari makan malam bisa mampir sebentar. Kalau siang, tampilannya seperti pasar malam. Ketika malam, bentuk dan tampilannya berubah seperti pasar malam juga tapi kelas elit. Dufan KW 1 lah. Tiket reguler masuknya murah, hanya Rp30.000 untuk tiket terusan Rp99.000 untuk beberapa permainan tanpa beli tiket lagi. Jam operasional dibuka dari 15.00 WIB – 24.00 WIB.

 

Makan Es Krim Mahal

Kalau ke Malang jangan lupa juga mampir ke Toko Oen. Toko ini bernuansa tempo dulu. Daftar menu pakai bahasa Belanda. Saat ini Toko Oen hanya tersedia di dua tempat saja, Semarang dan Malang. Awalnya toko ini hanya menjual beberapa kue dan es krim. Saat ini mereka juga menjual masakan Belanda, Indonesia dan Cina.

Waktu saya berkunjung kesana, saya coba lihat beberapa menu makanan. Harganya di atas Rp10.000 semua. Karena Toko Oen terkenal dengan es krimnya, akhirnya saya pesan es krim seharga Rp25.000 dan hotdog seharga Rp35.000.

Sudah menunggu cukup lama. Ternyata hotdog yang saya pesan tidak ada. Akhirnya hanya es krim saja yang saya pesan saat itu. Tetapi ekspetasi dan realitanya berbeda jauh.

Ini ekspetasi saya, es krim yang saya bayangkan yang akan diantar ke meja saya.

Realitanya, hanya semangkuk kecil es krim rasa vanila yang diantar ke meja saya.

Saya terus tertawa sendirian. Sambil geleng-geleng kepala. Datang penuh khayalan bisa menikmati es krim selucu dan sebanyak yang ada di google. Yang sampai ke meja saya ternyata es krim biasa. Ini menjadi es krim termahal yang pernah saya beli. Rasa susunya terasa sekali. Apalagi menikmatinya satu ruangan bersama dengan sekumpulan wisatawan dari manca negara. Itu yang buat es krim ini terasa beda dari yang lain.

 

Kampung Tridi

Tak mau berlama-lama di Toko Oen. Akhirnya saya pulang ke Kampung Tridi. Pemukiman warga yang dijadikan tempat wisata itu. Yang isinya lukisan-lukisan ditiap dinding dan atap rumah warga.

Biaya masuknya Rp3.000. Kalau hanya sekedar mampir dan ingin tahu bentuknya tidak masalah merogoh kocek segitu.

Dari Toko Oen ke Kampung Tridi saya naik ojek online. Karena saya bawa koper, si driver tanya asal saya dari daerah mana.

Saya bilang, saya dari Bekasi. Si driver tanya lagi, “Mbak nya jauh-jauh dari Bekasi ke Malang cuma mau ke Kampung Tridi?”

Dalam hati “Haha يكل bang”

Dan dari sekian banyak tempat wisata yang saya kunjungi dalam seminggu ini hanya Batu dan Malang yang bisa buat saya jadi galau serta harus membayar biaya pembelajaran yang mahal. Diawal perjalanan saya ke Kota Batu, saya harus mengeluarkan uang sebesar Rp300.000 hanya untuk membayar ojek dari Stasiun Malang ke hotel yang kebetulan letaknya ada di Kota Batu. Ini diluar dari yang saya bayangkan. Dari kejadian itu, saya sarankan untuk kalian yang bepergian sendirian seperti saya untuk lebih baik naik kendaraan lain daripada naik ojek.

Dan yang terakhir ini sih galau karena baper sendirian. Jadi waktu masih di Kota Batu. Malam hari di hotel sendirian, terus handphone sepi gitu nggak ada yang chat. Sinyal suka hilang entah kemana. Jadi nangis deh karena ngerasa sendirian?ditambah udara yang sangat-sangat dingin jadi malas keluar, padahal tempat wisata dekat dengan hotel. Sekian cerita dan curhat saya, terimakasih?

Menikmati Liburan di Kampung Orang

Senin, 23 Juli 2018. Menjadi hari terakhir liburan saya di Wonogiri. Saya sudah planing bahwa saya akan pergi lebih awal menuju Solo. Karena perjalanan dari Wonogiri ke Solo jika menggunakan kendaraan umum memakan waktu banyak sekali.

Awalnya tujuan saya mengunjungi Wonogiri, karena memang ingin wisata ke Waduk Gajah Mungkur yang terkenal itu. Tapi kan waktu awal kedatangan saya, malah digunakan untuk mencari ilmu-ilmu usaha. Jadi untuk wisata kesana saya rasa tidak mungkin.

Dan saya juga tidak mengira bahwa kakak sepupu saya itu akan mengantar saya sampai dengan Stasiun Solobalapan. Dia bilang sepulangnya dari toko, akan mengantar saya ke Solo mampir dulu ke Waduk Gajah Mungkur. Lho… ini rejeki namanya. Sudah pernah di list, sudah dicoret, kemudian ditulis ulang.

Sekitar jam 14.00 WIB baru berangkat menuju Solo. Sebelumnya saya gunakan waktu untuk siap-siap packing semua barang, sambil ngemong ponakan dan tulis cerita.

 

Waduk Gajah Mungkur

Perjalanan dari Jatisrono menuju Waduk Gajah Mungkur kurang lebih 45 menit. Karena memang letaknya yang ada ditengah-tengah pegunungan. Jadi medan yang dilalui pun naik turun gunung. Tidak ada kendaraan umum untuk sampai ke Waduk Gajah Mungkur. Kalau nggak naik motor ya naik mobil pribadi.

Untuk harga tiket masuknya Rp10.000 per orang. Sama seperti tempat wisata lainnya, disetiap sisi jalan banyak warung dibuka. Tapi rata-rata disini jual ikan asin, bukan jual popmie atau kopi.

Waktu berkunjung kesana saya kira bentuk waduk adalah bendungan yang sangat-sangat besar, airnya hijau atau coklat pekat sama seperti bendungan-bendungan di Bekasi. Ternyata tidak, rupanya seperti laut. Banyak perahu menepi. Airnya biru, bergelombang tertiup angin.

Sayangnya waktu saya kesini, semua wahana sudah tutup. Jadi nggak bisa foto bersama gajah. Adanya ketek (monyet). Dan harus naik lagi ke atas.

Jadi saya berkunjung kesini dengan alasan “intinya saya pernah kesini, sudah tahu bentuknya”. Ini karena gagal wisata ke Waduk Gajah Mungkur waktu kunjungan ke Solo dua minggu lalu. Jadi saya mendahului rekan-rekan kerja saya yang mungkin belum pernah kesini. Hehe…

 

Mie Ayam Asli Wonogiri

Ibu saya bilang, selama di Wonogiri jangan lupa makan bakso dan mie ayam khas daerah ini. Di cerita sebelumnya saya sudah coba bakso asli sini. Dan memang rasanya beda. Sekarang di ajak makan mie ayam. Mie ayam disini jauh beda dari yang ada di Bekasi. Mie nya lebih tebal, daging ayamnya lebih coklat, pakai acar, dan isinya lebih banyak. Untuk harga sama hanya Rp8.000 belum termasuk minum?

Kalau ke Waduk Gajah Mungkur jangan lupa mampir makan Mie Ayam Pak Tukang disamping Hotel Dafian dekat plang daerah Wonokerto. Mie ayamnya enak dan selalu ramai.

 

Jalan-jalan ke Mall

Sebagai bonus kunjungan ke Wonogiri, sorenya saya pergi ke Mall Solo Paragon sambil menunggu waktu keberangkatan kereta dari Solobalapan – Malang.

Peternakan Batako

Kebiasaan bangun pagi, mungkin biasa dilakukan di tiap-tiap daerah baik di kampung ataupun di kota. Saat ini saya ada di kampung. Bangun jam 04.00 WIB itu bisa dibilang telat bangun.

Kalau di Bekasi biasanya berangkat ke pasar itu jam 06.00 atau jam 07.00 tapi disini jam segitu para pedagang sudah mulai beberes dan pulang kerumah.

Aktivitas pasar dimulai jam 02.00 pagi. Apalagi tidak setiap hari pasar buka. Dihari-hari tertentu saja. Kalau disini namanya Wage-an. Pasarnya buka dihari Wage saja dalam kalender Jawa. Karena telat melihat aktivitas pasar, akhirnya saya diajak ke peternakan batako milik kakak sepupu saya.

Dicerita sebelumnya saya pernah menjelaskan tentang budidaya jamur tiram milik kakak sepupu saya juga. Kali ini saya akan menceritakan bagaimana proses pembuatan batako dan gorong-gorong (bis). Ya, kali ini cerita saya tentang bahan bangunan.

 

KENAPA USAHA BATAKO?

Usaha ini dimulai ketika kakak sepupu saya yang dulunya bekerja sebagai pegawai bank. Bosan dengan posisinya sebagai manager yang hanya diam, dan kerja sambil duduk seharian. Akhirnya dia resign. Resign, dengan bekal ilmu membuat bahan bangunan. Berkat tanya menanya juga pada temannya. Kini dia melakoni usahanya yang sudah berjalan 1,5 tahun. Awalnya dia bingung ingin usaha apa? Karena sudah punya agen sembako. Akhirnya, dia memutuskan untuk usaha yang tidak ada masa expired nya.

Tempat usahanya ada di daerah Jatipurno. Didaerah sana banyak usaha-usaha pembuatan batu bata, batako, dan gorong-gorong (bis). Cengkeh pun juga ada hanya saja harus naik ke puncak gunung sana.

 

PEMBUATAN BATAKO

Saya coba tanya-tanya ke karyawan kakak saya itu. Untuk pembuatan batako, dari proses awal hingga siap dijual.

Ada tiga pekerja tetap pembuat batako disini. Satu orang dalam 2 jam bisa menghasilkan 70 batako. Dengan takaran :

  1. Pasir Tras halus lima angkong,
  2. ‌1 Sak semen seberat 40kg,
  3. Dan air secukupnya tidak sampai encer, hanya supaya tercampur saja semua bahannya. Kira-kira 3 kali disiram ukuran ember cat besar.

Kemudian bahan-bahan yang sudah dicampur, diaduk merata. Pasir-pasir yang digunakan, sebelumnya sudah disaring. Tujuannya supaya tidak ada batu kerikil yang ikut tercampur.

Selanjutnya pasir yang sudah diaduk, dicetak satu persatu, diisi hingga padat. Sambil dipukul-pukul. Seperti yang ada dalam video dibawah ini.

Jika sudah terbentuk, didiamkan selama 3 hari. Dan baru bisa dijual. Harga persatu batako dijual Rp3.200. Kecuali jika si pembeli, angkut lebih dari 1000 batako. Ada diskon Rp200 perbatakonya. Untuk pekerja biasanya diberi upah 500 per batako.

Pekerja disini rata-rata adalah mereka yang bingung ingin kerja apa. Jadi selain untuk mencari nafkah keluarga kakak sepupu saya. Sebenarnya usaha ini didirikan juga untuk membuka lapangan pekerjaan untuk mereka yang tidak punya pekerjaan tetap atau tidak punya lahan.

Jika waktu panen tiba, mereka yang biasa bekerja membuat batako pergi ke sawah tetangga untuk bantu-bantu panen padi. Kalau masuk musim tanam padi hingga padi menguning, mereka kembali membuat batako. Dan biasanya anak-anak sekolah SMA pun, ikut membuat batako sebagai pencari uang jajan tambahan. Di hari libur, mereka datang ramai-ramai membuat batako. Mereka catat sendiri, berapa batako yang mereka buat. Dan upahnya bisa dicairkan kapanpun. Misalnya mereka mau beli handphone, mereka akan rajin datang membuat batako dan sesekali bilang ke Boss nya yang tak lain kakak sepupu saya itu. Kredit handphone dibayar pakai batako. Hehehe…

Keuntungan bersih yang didapat kakak saya, per 1000 batako adalah Rp800.000. Dan usaha bahan bangunan disini dibilang sangat menguntungkan, apalagi musim-musim lebaran. Mereka akan merenovasi rumahnya. Makanya nggak heran rumah-rumah di Jawa itu luas dan bagus-bagus.

 

LIMBAH BATAKO

Lalu kalau batako yang gagal dijual karena cacat dikemanakan? Dibuang begitu saja?

Nggak dong. Batako yang gagal dijual, atau bentuknya cacat. Bisa digunakan kembali untuk pembuatan gorong-gorong.

Caranya gimana?

Caranya batako yang gagal dijual, dihancurkan kembali. Maka akan menjadi butiran-butiran pasir. Kemudian dicampurkan bersama dengan kerikil, pasir tras, dan semen. Kemudian diberi air hingga encer.

Ada alat cetak khususnya juga. Dan ada masing-masing ukurannya. Sebelum dicetak, alat pencetak gorong-gorong diberi oli terlebih dahulu. Kemudian bawahnya diberi plastik. Tujuannya supaya gorong-gorong yang basah tidak menyentuh tanah. Kalau menyentuh tanah, jika sudah kering pasti susah dicabutnya. Makanya harus dilapisi plastik.

Kemudian bahan yang sudah tercampur, dimasukkan kedalam alat pencetak. Sama seperti batako, didiamkan selama 3 hari. Harga jual per gorong-gorong ukuran 150 cm adalah Rp150.000. Dengan upah pekerja Rp15.000. Ukuran 20 cm, diberi upah Rp5.000.

Seperti ini kira-kira proses penaikan gorong-gorong ke armada, kalau ada yang beli. Mesti gayeng (pasti senang). Karena berat, jadi harus ramai-ramai gotong masuk ke mobil bak sambil bersorak.

Itulah ilmu yang saya dapat dihari kedua perjalanan liburan saya di Jatisrono. Ditutup dengan makan bakso asli Wonogiri.

Dan mengunjungi wisata Hutan Pinus, dipuncak Seper. Masuknya gratis, karena sudah tutup, terlalu kesorean.

Serta makan malam rumahan, ayam panggang + sayur tempe mlanding (tempe dari lamtoro) sing wuenak, dan ga ada di Bekasi.

Solo – Wonogiri

Setelah sampai Bandara Adi Soemarmo, hati saya rasanya senang sekali. Dulu saya mengkhayalkan saja rasanya naik pesawat. Tidak kepikiran diusia saya yang masih belasan ini, saya sudah bisa naik pesawat sendiri. Tidak bersama orang tua, atau ditemani keluarga. Sewaktu kecil jika pesawat lewat, saya teriak “Pesawat minta duit!!!”. Sekarang saya tahu, kalau pesawat bawa orang-orang ber-duit.” Iya dong berduit, kan tiketnya saja mahal.

Sudah cukup cerita soal pesawat. Saya lanjutkan perjalanan menuju Jatisrono. Saya kesana kemari menanyakan, “Adakah DAMRI yang bisa saya tumpangi untuk sampai di Terminal Tirtonadi?”. Mereka bilang, “Ada! Silakan tunggu didepan sana. Lah itu mobilnya sudah ada.” (sambil menunjuk mobil travel yang supirnya sedang sibuk memasukan barang bawaan penumpang masuk bagasi)

Saya hampiri mobil itu, pak supir tanya “Mbaknya mau kemana?”.

Saya bilang “Terminal Tirtonadi pak.”

Pak supir bilang lagi, “Oh bisa mbak, kopernya ta’ masukin bagasi. Mbaknya duduk didepan dekat supir.”

Ongkos nya murah. Rp25.000 saja. Tapi lamanya perjalanan itu satu jam dari bandara ke terminal.

Sampai di terminal, sudah banyak kuli panggul koper-koper penumpang. Saya berasa jadi seleb, dikejar-kejar gitu.

Katanya, “Sama saya saja mbak, sama saya. Saya antar sampai depan rumah.”

Saya ingin jawab tuh, “Jangan Mas, saya sudah punya patjar. Nanti cemburu.” Yeeee… wkwkwk

Terminalnya luas sekali, bikin bingung. Untunglah saya ada barengannya. Bis yang saya tumpangi sampai ke Jatisrono adalah bis jurusan Purwantoro-Wonogiri-Solo. Bisnya semacam metromini gitu kalau di Jakarta.

Solo – Jatisrono itu kalau pakai kendaraan pribadi, hanya 1,5 jam. Karena ini angkutan umum. Tiap menit berhenti cari penumpang, Solo – Jatisrono itu bisa ditempuh 3 jam perjalanan. Dua kali lipatnya. Kalau kalian mabuk darat, jangan lupa sedia kantong plastik, selain bisnya tidak AC jalannya juga berliku. Karena memang daerah gunung.

Selama diperjalanan, saya menikmati tiap pemandangan yang ada disisi kanan dan kiri jalan. Jurang dan sawah berundak. Tarif menggunakan bis ini adalah Rp20.000.

Jika minggu-minggu lalu saya sampai di dekat perbatasan Pacitan. Sekarang saya melakukan perjalanan lewat jalur menuju Ponorogo dan Surabaya. Sayangnya saya tidak ada jadwal menuju kesana.

Sekitar jam 18.00 WIB saya sampai di Terminal Jatisrono. Tidak ada bis yang singgah di sana. Dan rupanya saya sudah dijemput kakak sepupu saya. Rumahnya ada dibelakang terminal. Jadi dekat sekali. Makanya saya tidak dijemput ke Solo. Melainkan harus jalan sendiri ke sampai ke Terminal Jatisrono.

Liburan saya akan dimulai besok. Ingin tahu saya melakukan apa saja di Kabupaten Wonogiri? Lihat postingan saya selanjutnya ya…

Burung Dara Numpak Singa Terbang

Sabtu, 21 Juli 2018. Perjalanan liburan saya dimulai. Berkat kesempatan yang di berikan pak Boss kepada saya dan rekan-rekan kerja di PT Excellent Infotama Kreasindo yang bersedia menghandle pekerjaan saya, akhirnya saya bisa pergi jalan-jalan jauh dari planet Bekasi.

Keberangkatan saya kali ini berbeda, biasanya naik transportasi darat. Dikesempatan kali ini saya putuskan untuk naik transportasi udara. Pesawat terbang. Yang saya pesan tiketnya tiga minggu sebelum tanggal liburan dimulai.

Mungkin bagi sebagian orang yang sering bepergian jauh, naik pesawat adalah hal yang biasa. Tapi tidak bagi saya. Ini adalah pertama kalinya saya terbang. Saat ini saya masih menjadi burung dara, yang suka loncat dari gedung satu ke gedung yang lain. Makanya naik pesawat. Belajar terbang, sebelum menjadi Rajawali. Terbang ke seluruh penjuru dunia. Iyaiyaiya….

Untuk sampai di Bandara Adi Soemarmo (Solo) saya menggunakan maskapai Lion Air. Singa terbang. Sempat mikir aneh-aneh. Takut pesawatnya jatuh lah, ini lah, itu lah. Pokoknya karena ditakut-takutin juga hampir dicancel. Nggak jadi naik pesawat. Tapi saya lawan kalimat “yang katanya, kalau naik Lion Air nanti gini loh” dengan memberanikan diri, “Yo wis mangkat sik, nek montor mabur mu ujug-ujug mudun, tibo neng laut yo wis… wasallam”.

Dengan semangat ’45, berangkat dari rumah jam 05.00 WIB ke Terminal Kayuringin. Kemudian naik DAMRI harga tiket Rp45.000, yang siap antar ke tiap-tiap terminal yang ada di bandara Soekarno-Hatta. Sampai di bandara sekitar jam 07.30 WIB. Dan saya kepagian. Padahal take off jam 11.45 WIB. Awalnya berangkat terlalu pagi untuk menghindari macet, ternyata jalan menuju bandara sepi syekali. Jadi tidak apa-apa sampai lebih pagi, lagi pula saya kan belum tahu cara naik pesawat. Jadi waktu menunggu sampai take off, yang masih tersisa banyak bisa digunakan untuk berbingung-bingung ria mencari tempat cetak tiket dan check in bagasi.

Waktu itu karena memang belum tahu semuanya, pas baru turun dari bis sambil bawa koper, bingung mau ngapain. Ada mesin pembelian tiket. Karena takut salah akhirnya tanya ke satpam. Lalu saya diarahkan ke tempat mesin pembelian tiket itu. Saya tanya ke petugas yang ada disitu. Dia bilang kalau sudah ada boarding pass bisa langsung masuk pintu check in.

Akhirnya saya coba masuk, dan menunjukkan boarding pass yang ada di handphone saya. Saya pikir boarding pass wajib di print, sama seperti naik kereta. Ternyata tidak, cukup tunjukkan saja boarding pass yang sudah dikirimkan via email.

Kemudian melakukan pemeriksaan barang. Barang yang saya bawa untuk liburan adalah satu koper dan satu tas ransel. Isi koper hanya pakaian saja. Sedangkan tas ransel berisi laptop, beberapa perlengkapan mandi, mangga, dan kue bolu. Kalau saya lewat metal detektor. Koper saya lolos, saya juga lolos. Saya lihat tas ransel saya itu tidak kunjung keluar dari mesin pemeriksaan barang. Saya khawatir mangga dan kue bolu itu yg jadi penghambat. Beberapa petugas melihat ke arah saya. Saya juga bingung. Saya mendengar salah satu dari mereka bilang, “emang boleh bawa gituan?”. Saya rasa itu lagi ngomongin isi tas saya. Hehe… Kan nggak lucu diamankan gara-gara bawa mangga sama kue bolu. Tapi saya cuek saja, dan nggak lama kemudian tas ransel saya lolos. Yeayyyy….

Sudah lolos, saya bingung lagi harus kemana. Saya tanya ke petugas berbaju putih itu yang sedari tadi teriak, “Check in bagasi atau tidak check in bagasi tujuan Solo bisa ke loket 14.” Saya cari saja loket yang kosong. Dan beruntung, atau mungkin si petugas perempuan itu juga tahu saya baru pertama kali naik pesawat. Saya serahkan boarding pass dihandphone saya dan kartu identitas (KTP). Jantung saya dag-dig-dug, saat koper mulai ditimbang. Karena jatah bagasi saya hanya 20kg. Sebelum ke bandara, sudah saya timbang dirumah pakai timbangan badan. Beratnya itu 10kg. Sampai di bandara, ternyata beratnya 9.8kg. Bersyukur saya nggak perlu tambah biaya untuk bagasi saja.

Tentengan saya berkurang satu. Take off juga masih lama. Perut saya juga sudah bunyi. Saya beli roti saja. Harga Rp37.000 include minum. Habis makan rasanya nyesel gitu. Tapi gapapa, besok-besok sangu sego.

Berjam-jam saya tunggu sampai diperolehkan masuk pesawat. Dua kali bolak-balik kamar mandi juga karena dingin.

Sekitar jam 11.30 WIB diizinkan masuk pesawat.

Biasa saja. Tempat duduknya lebih sempit dari kereta. Dibagi jadi dua sisi, dan masing-masing tiga tempat duduk. Posisi saya ada di 17F. Dekat sayap. Tapi karena ada ibu-ibu salah kursi. Jadi saya duduk di 17A.

Sebelum pramugari memperagakan cara menggunakan alat keselamatan, saya sudah lebih dulu pakai sabuk pengaman. Waktu pramugari memperagakan fungsi masker oksigen, disitu ada penjelasan bahwa masker tersebut akan turun secara otomatis dari kabin pesawat saat tekanan udara di kabin berkurang. Baru mendengar itu saja, dada saya jadi terasa sesak. Mungkin karena nervous juga mendengar mesin pesawat mulai terdengar kencang.

Pesawat siap lepas landas. Kecepatan bertambah. Saya keringat dingin. Belum sampai diatas awan. Telinga saya rasanya budeg. Salahnya saya tidak pakai earphone atau headset. Sedangkan saya lihat disebelah kanan saya, mereka semua pakai alat penutup telinga.

Pesawat mulai menembus awan. Kali ini saya benar-benar merasakan guncangannya. Dan bukan katanya-katanya lagi. “Katanya kalau naik pesawat lewat awan itu gujlak-gujlak kayak naik bis lewat bebatuan”. Dan saya bisa merasakannya sendiri. Sempat khawatir, dan tidak bisa tenang. Guncangannya makin terasa. Padahal itu kondisi normal, berarti pesawat aman tidak ada celah atau lubang di badan pesawat.

Dan baru kali ini melihat pemandangan yang berbeda. Oh seperti ini pemandangan diatas awan. Terasa sangat lama, rasanya pesawat yang saya tumpangi diam disitu saja tidak melaju kedepan. Baru tidur 15 menit. Sudah ada pengumuman bahwa pesawat sebentar lagi mendarat di bandara tujuan. Cepat sekali. Telinga saya terasa sakit. Saya ceritakan kepada Boss saya dan ibu saya. Boss saya bilang, itu normal. Ibu saya bilang, sebentar lagi rasa sakitnya juga hilang.

 

Yang terakhir, pengambilan bagasi. Diatas sudah ada papan penunjuk arah. Pengambilan bagasi ada dibawah. Semua orang sudah mengantre. Tak lama koper saya keluar. Selesai sudah urusan saya di bandara. Saya sudah bisa keluar dengan perasaan bangga pada diri sendiri.

Perjalanan saya belum berhenti begitu saja di Bandara Adi Soemarmo. Saya masih harus melanjutkan perjalanan ke Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Dan jaraknya itu lumayan bikin pusing kepala.

Seperti itulah cerita saya pertama kalinya naik pesawat. Kalau ditanya, “Mau nggak naik pesawat lagi?”. Jawabannya adalah, “Mau! Sekalian ajak adik-adik saya supaya tahu rasanya terbang diatas awan.”