Que Séra Séra

Saya anak pertama. Selisih 4 tahun dengan umur anak kedua. Sebelum punya adik, saya anak yang paling dimanja. Waktu saya masih kecil sering diajak pergi ke Mal. Tiap hari Sabtu dan Minggu jika Ayah tidak lembur kerja, pasti selalu diajak jalan-jalan.

Makan fast food, McDonald’s hampir setiap minggu saya rasakan. French fries juga tidak lupa dibeli. Tidak makan ayamnya tidak apa, yang penting kentang gorengnya. Jaman saya dulu, itu makanan mewah. Karena kan memang mahal.

Dibanding dengan anak-anak didaerah tempat tinggal saya. Waktu itu memang saya yang paling sering pergi ke Mal. Masalah pakaian anak, Ibu saya juga telaten. Baju-baju saat saya masih kecil dulu belinya di Matahari Store. Sama mahalnya.

Jika baju anak kotor, Ibu langsung bergegas menggantinya dengan pakaian yang bersih. Beda dengan anak-anak yang lain. Yang kalau bajunya kotor, Ibu nya biasa saja.

Siang hari, saya dikurung. Harus tidur siang. Waktu bermain dibatasi. Keluar rumah, kalau ingin pergi kerumah Bude atau kerumah Nenek saja. Karena itu saya tidak punya teman di rumah.

Semua itu diberikan karena saya masih menjadi anak satu-satunya.

Semenjak anak kedua dan ketiga lahir. Adik-adik saya. Semua kebiasaan dulu semakin hilang. Pergi ke Mal itu hanya wacana. Dan jalan-jalan ke tempat wisata itu hanya angan-angan.

Karena Ibu saya selalu berpikir, “Besok gimana?” bukan “Gimana besok”. Jadi kalau memang gaji sebulan tidak cukup untuk budget jalan-jalan atau shoping ke Mal, ya berarti ditiadakan.

Semakin tumbuh besar, saya semakin mengerti. Ayah Ibu saya punya anak tiga. Bukan hanya saya yang perlu dibiayai tapi juga adik-adik saya. Maka saya tidak pernah menuntut bahwa orang tua harus selalu menuruti permintaan anak.

Dalam hal uang jajan sekolah. Saya tipe anak yang sungkan meminta ke orang tua. Kalau Ibu lupa kasih uang jajan, saya tidak akan meminta. Tunggu sampai Ibu saya ingat kalau dia lupa kasih uang jajan. Tapi Ibu saya tetap adil, kalau dia sudah sadar ya pasti dikasih hak saya itu.

Masa SMP, kelompok main saya adalah anak-anak elite. Yang Ayah Ibu nya kerja, mereka nya diurus Nenek/pembantunya. Dimana disaat handphone Huawei digunakan dimana-mana, mereka semua sudah pakai Android (Samsung Galaxy Young) dan Blackberry. Dan disitu saya masih pakai handphone Esia Messenger.

Kalau ikut main dengan mereka pasti mainnya kerumah teman yang punya kolam renang. Kalau mereka sudah mulai ngajak main ke Mal atau ke Cafe saya cukup beralasan tidak bisa ikut karena sesuatu.

Iya sesuatu nya itu karena saya tidak punya uang. Saya heran mereka itu kalau cerita kemarin habis main kemana dan dimana, pasti selalu main ke tempat-tempat makanan mahal. Mahal untuk kantong pelajar SMP di jaman saya. Saya sampai bingung, berapa uang jajan mereka per hari hingga bisa setiap hari kesana.

SMP kelas 8 saya sudah bisa seperti mereka. Ayah saya di PHK masal dari perusahaannya. Dapat uang pesangon. Di hari ulang tahun, Ayah memberikan dua hadiah sekaligus yaitu laptop dan Android pertama saya. Itu asal-usul kenapa saya SMK ke sekolah jalan kaki, tapi punya laptop.

Selama masa-masa Ayah saya menjadi pekerja serabutan itu saya mesti hidup prihatin. Apa yang Ibu saya masak, itu yang dimakan. Apa yang Ibu saya belikan untuk keperluan sekolah, ya itu yang dipakai. Dikasih uang jajan segitu ya diterima saja, kalau kurang bisa bawa bekal makanan.

Pernah diwaktu saya SMK, saya punya uang Rp30.000,-. Waktu itu sedang booming merk sepatu All Star. Harga aslinya 1 jutaan. Harga KW nya Rp300.000 an. Saya lihat ada sepatu merk itu tapi KW nya jauh. Harganya Rp30.000,-. Saya pikir ini pas dengan uang saya. Saya beli saja, lagi pula tidak kelihatan kalau itu sangat sangat palsu.

Kebetulan belinya samaan dengan teman sebangku saya. Tujuannya sih untuk ikut-ikutan trend dan supaya kembaran. Satu lagi, supaya bisa untuk gantian agar tidak cepat jebol dengan sepatu yang biasa dipakai.

Baru dipakai dua hari, besi bulat untuk kaitan tali sepatu lepas semua. Ayah saya mencoba mengelemnya. Tetap saja lepas juga. Memang harga tidak bisa dibohongi. Akhirnya saya terus menggunakan sepatu yang biasanya hingga jebol dan rusak.

Karena sungkan meminta ke orang tua untuk dibelikan sepatu yang baru, akhirnya minggu itu saya sengaja tidak cuci sepatu sendiri. Waktu itu Ibu saya yang mencucinya. Berharap Ibu melihat sepatu anaknya yang rusak lalu dibelikan yang baru.

Benar saja, satu hari setelahnya. Sepatu saya yang rusak itu sudah tidak ada di rak sepatu. Ibu menggantinya dengan yang baru.

Semenjak itu saya berjanji pada diri sendiri, kalau saya sudah bisa mencari uang sendiri saya akan beli makanan yang banyak. Yang saya mau. Saya akan beli apapun yang saya inginkan. Yang selama ini tertunda.

Kenyataannya setelah punya uang. Ternyata saya cukup kok makan ayam satu potong. Ingin makan ini, di restoran ini, cukup kok sekali. Saya merasa cukup punya dua pasang sepatu. Setelah ini malah berpikir, “Oiya ya untuk apa beli sesuatu yang banyak, kalau sebenarnya kita punya satu saja sudah cukup, dan tahu rasanya.”

Sekarang, lebih baik uang itu saya gunakan untuk sesuatu yang tidak semua orang bisa melakukannya. Contohnya, di bulan April nanti saya akan mencoba traveling ke luar negeri. Target saya adalah, saya pergi keluar negeri diusia saya yang masih belasan tahun.

Saya ingat teman sebangku saya semasa SMP. Dia bilang, “Siapa duluan yang keluar negeri? Lu atau gue?”

Dan tenyata dia duluan yang pergi kesana. Selepas lulus SMP dia ditarik Ibu nya untuk lanjut sekolah ke Belanda. Dia memang bisa pergi kesana, karena Ibu nya. Tapi saya ingin yang berbeda. Saya pergi keluar negeri karena usaha saya sendiri. Saya beli tiket dari tahun lalu. Menunggu setahun itu kan lumayan lama. Jadi bisa dihitung itu salah satu usahanya.

Teman-teman dikampus saya itu banyak yang kerjanya di pabrik. Sering lembur. Uangnya banyak, lebih banyak dari saya. Tapi mereka tidak punya waktu yang banyak. Jadi mereka lebih senang menghabiskan uang dengan cara jajan Richeese yang banyak.

Dalam hal menabung, saya pernah menabung dengan cara jual beli emas. Tiap gajian saya alokasikan dana untuk beli emas. Ke pasar. Tujuannya agar saya tidak banyak jajan. Masa iya jajan bayarnya pakai emas? Kan nggak mungkin.

Emas yang saya beli itu jumlahnya banyak. Sampai saya bingung ingin dipasang dimana lagi cincin-cincin emasnya. Dijari saya sudah ramai perhiasan.

Berbulan-bulan saya memelihara perhiasan itu. Ternyata menurut saya itu merugikan saya. Uang saya dipotong Rp10.000,- tiap gramnya dan tiap kali menjual.

Ujung-ujungnya saya jual semua dan digunakan untuk investasi Reksadana dan Saham lewat Indopremier. Hasilnya ternyata lebih menguntungkan. Saya cuma taruh uang disitu (Reksadana & Saham), bisa bertambah. Saya untung. Dibanding saya jual beli emas. Harga tetap, bahwa setiap penjualan selalu disertai pemotongan harga Rp10.000,- per gram.

Saya juga tidak membayangkan bagaimana bisa sekarang saya belajar main saham. Biasanya main arisan. Yang saya tahu waktu itu kan, saham hanya untuk orang-orang kaya tapi banyak ribanya.

Baru saja dosen saya bilang. Usianya makin tua, tapi masih harus terus mengajar mahasiswa. Dimana ia seharusnya sudah pensiun. Beliau katakan, “Saya menyesal tidak persiapkan masa pensiun saya sedari muda. Makanya saya sarankan kalian untuk pikirkan itu. Gimana supaya pensiun kalian tidak terlalu tua seperti saya.”

Walaupun menurut Doris Day lewat lagunya “Que Séra Séra”. Whatever will be, will be. The future’s not ours to see. Que Séra Séra.

Biarkanlah hidup ini mengalir. Intinya seperti itu. Tapi, masa depan itu tetap harus dipersiapkan.

2 thoughts on “Que Séra Séra

  • Keren ceritanya Fit. Kelihatan seperti asli. Eeh, emang asli ya. Hehehe

    Saya juga pernah dikasih uang jajan waktu masih MI/SD. 500 rupiah dibagi 3 ( kaka pertama, kedua dan saya). Kira-kira 150 rupiah. Tapi kadang dapat 200 rupiah. Yang 200 ini giliran. Hari senin kaka saya yang pertama, hari selasa kaka saya yang kedua dan hari rabu baru saya. Hari kamisnya kaka saya yang pertama dan seterusnya.

    Emang harus “Que Séra Séra”.

Leave a Reply to Ahmad Imanudin Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *