Bolu Kukus Oreo

Salah satu inovasi kuliner baru adalah dengan mengolah penganan kemasan yang sebetulnya sudah siap makan menjadi penganan lain. Pada kesempatan kali ini, saya akan berbagi tutorial membuat kue low budget dengan bahan dasar biskuit oreo. Tidak perlu oven apalagi mixer. Tidak perlu bahan pengembang seperti fermipan, baking soda ataupun baking powder. Cukup menggunakan panci kukus yang diisi air😁

Beberapa bahan yang perlu kalian siapkan, seperti :

  • 1 Bungkus Oreo besar ukuran 137gr
  • 1 Kotak kemasan susu cair UHT Plain 250ml
  • 1 Bungkus coklat Cadbury Dairy Milk 65gr

Kalau sudah siap semua bahan, selanjutnya adalah mengikuti langkah-langkah sebagi berikut :

1. Pertama, masukkan semua biskuit oreo ke dalam blender. Tuangkan juga setengah kotak susu cair kemasan kedalam blender agar tercampur dengan biskuit oreo tadi.

Setelah semua bahan dimasukkan, langsung diblender saja hingga hancur dan adonan rata.

2. Kemudian jika adonan bolu kukus dari oreo ini sudah rata, tuangkan pada  cetakan cup cake seperti gambar di bawah ini.

Jangan lupa masukan potongan coklat Cadbury Diary Milknya sebagai isian.

3. Langkah berikutnya adalah masukkan adonan yang telah dituangkan pada cetakan kue tadi ke panci kukusan yang telah panas. Maksudnya kukusan yang telah disiapkan sebelumnya dan air telah mendidih sehingga mengeluarkan uap air.

Jangan lupa tutup dengan penutup panci yang telah di beri bungkusan serbet, dan kukus cup cake oreo ini selama kurang lebih 20 menit.

4. Setelah 20 menit dikukus sampai matang, selanjutnya tinggal diangkat saja dari kukusan dan diamkan sampai dingin terlebih dulu agar mudah dikeluarkan dari cetakan.

Maka hasilnya adalah seperti ini.

Kalau menurut kalian kurang manis, bisa ditabur dengan gula halus sekaligus sebenernya untuk garnish atau hiasannya hehe😁

Tertarik untuk mencoba? Oiya untuk modalnya sendiri, kurang lebih sekitar Rp28.000,- karena mahal di harga coklatnya😁

Mengubah Tema Pada Android Xiaomi

Pernah di bully gara-gara pakai Android Xiaomi? Kalau pernah, berarti kita sama😁

Saya juga pernah merasakan bagaimana rasanya ditunggu kehadirannya oleh teman sekelas di kampus yang kedinginan di dalam kelas. Karena apa? Karena Android Xiaomi saya dan kebetulan Android mereka bukan Xiaomi dan tidak ada aplikasi Mi Remote. Tau kan kalau Android Xiaomi bisa untuk matikan AC dan nyalakan TV?

Jadi mereka menunggu saya karena ingin meminta saya untuk mengurangi suhu AC di dalam kelas, menggunakan aplikasi bawaan Xiaomi yaitu Mi Remote tadi.

Kalau dibandingkan dengan Android lain, Xiaomi memang lebih terjangkau harganya. Selain itu mereka juga menyediakan beberapa tampilan tema yang bagus dan bisa didownload untuk sesekali digunakan para pengguna Xiaomi agar tidak bosan dengan isi layar yang begitu-gitu saja😁

Tema bisa kalian download pada aplikasi Themes yang tersedia pada Android Xiaomi kalian. Pilih tema yang cocok sesuai dengan keinginan kalian.

Jangan lupa setelah didownload, langsung diapply ya. Supaya bisa langsung digunakan.

Untuk tema yang saya pilih setelah diapply, menghasilkan tampilan layar seperti gambar berikut.

Untuk tampilannya jika dilihat memang agak membingungkan, karena tema ini lebih dominan menggunakan warna pink untuk semua warna icon. Jadi kita cukup sulit untuk menemukan aplikasi yang ingin kita buka.

Tapi tidak perlu khawatir karena beberapa tema yang tersedia bisa dipadukan dengan tema yang lainnya. Misal untuk tema dasar menggunakan tema 1, untuk tampilan icon menggunakan tema 2 dan untuk tampilan layar kunci menggunakan tema 3. Markicob!

Mari kita coba mengubah tampilan icon agar tidak membingungkan.

 

Pertama kamu harus membuka aplikasi Themes. Kemudian pilih Account > Customize theme.

Kemudian pilih Icons. Disini banyak pilihannya dan kalian bisa coba satu-satu. Kalian bisa mengubah tampilan kunci layar, status bar, tampilan pesan dan memadukannya dari tema lain.

Selanjutnya adalah menentukan icon mana yang ingin kalian gunakan. Silakan pilih sesuai dengan tema yang sudah kalian download sebelumnya.

Jangan lupa harus didownload terlebih dahulu ya….

Disini saya menggunakan icon pada tema Foggy NY V10. Karena iconnya bisa lebih mudah dipahami.

Kemudian pilih apply. Sehingga bisa terpasang dan menghasilkan tampilan seperti gambar berikut.

Selanjutnya kalian hanya perlu mengubah wallpaper yang sesuai dengan tampilan dari tema dan icon yang sudah kalian ubah sebelumnya. Selain itu beberapa tema yang disediakan juga bisa menembus dan mengubah tampilan WhatsApp lho…

Cara Agar Tidak Dimasukkan ke Group WhatsApp Tanpa Persetujuan

Membatasi admin group WhatsApp agar tidak seenaknya menambahkan orang ke dalam sebuah group yang ia ciptakan, dapat dengan mudah dilakukan dengan memanfaatkan fitur yang ada pada WhatsApp. Fitur tersebut memungkinkan untuk membatasi siapa saja yang dapat diundang ke dalam sebuah group tersebut.

Dengan kata lain, pengguna WhatsApp memiliki kontrol lebih besar dan hak untuk menolak dimasukkan ke dalam sebuah group tertentu.

Adapun cara agar tidak dimasukkan ke dalam sebuah group tanpa persetujuan yakni dengan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1. Pilih menu Setelan (Settings) > Akun (Account) > Privasi (Privacy)

2. Kemudian pilih Grup (Groups)

Yang nantinya kita akan ditemukan dengan tiga opsi, yakni :

Everyone” atau semua orang bisa memasukkan Anda ke dalam grup (sama seperti selama ini)

My contacts” artinya hanya orang yang ada di kontak Anda yang bisa memasukkan Anda ke grup.

Dan yang terakhir adalah “My contacts except…” berarti semua kontak bisa memasukkan Anda ke grup, kecuali beberapa orang yang Anda tentukan.

Pilihan “My contacts except…” sebenarnya adalah pengganti opsi sebelumnya, yaitu “Nobody“. Pada pilihan “Nobody” ini, semua orang tidak boleh memasukkan Anda ke dalam group WhatsApp tanpa persetujuan Anda. Namun pilihan “Nobody” ini sudah dihapus.

Kalaupun Anda memang benar-benar membatasi orang untuk tidak memasukkan Anda ke sembarang group, Anda tetap bisa mendapatkan pilihan “Nobody” ini dengan cara pilih “My contacts except…” dan Select All semua kontak Anda.

3. Pada point 3 ini saya memilih “My contacts except…” agar dapat menyaring orang-orang yang berpotensi atau sering memasukkan saya ke dalam group secara sembarangan.

Pada bagian ini kita dapat menentukan atau menyaring orang yang memungkinkan bisa memasukkan kita ke dalam group sembarangan tersebut tanpa persetujuan.

4. Jika sudah melakukan filtering pada kontak Anda, maka orang yang ditentukan tadi tidak dapat menambahkan Anda ke dalam sebuah group tanpa persetujuan.

Beberapa dari mereka ketika mencoba memasukkan Anda ke dalam sebuah group, akan mendapatkan pop-up message berupa notifikasi tidak bisa menambahkan Anda ke dalam grup, serta pilihan untuk mengirimkan undangan pribadi untuk bergabung ke dalam group.

Undangan pribadi ini nantinya akan hangus atau expired dalam tiga hari.

Combro dan Misro

Selama masa karantina di rumah masing-masing, saya jadi sering bolak-balik buka kulkas. Sedangkan didalam kulkas hanya ada bahan mentah yang belum diolah. Maka mesti digunakan kreativitas untuk mengolah bahan mentah tersebut menjadi makanan yang enak.

Untungnya Ayah saya setiap pulang kerja selalu dengan bawa-bawaan seperti pisang uli, pisang nangka, ubi ungu dan singkong. Karena memang beliau bekerja di pabrik sebagai operator, jadi tidak ada WFH. Dan kebetulan juga karena beliau bekerja di Bogor untuk mendapatkan pisang, ubi dan singkong bisa lebih murah dan lebih mudah ditemui.

Saya itu suka nyemil dan suka lihat video tutorial masak. Jadi kalau ada bahan masakan yang belum diolah suka gemes mau eksperimen dan acak-acak dapur.

Karena bahan masakan yang saya punya hanya 1 kg singkong, margarin dan gula jawa, yang ada dipikiran saya “Wah berarti bisa dibuat combro dan misro nih”.

Maka saya meminta Ibu saya untuk membeli beberapa bahan tambahan, seperti kelapa parut, oncom, cabai dan bawang.

Cara membuatnya sebagai berikut :

1. Kupas singkong, lalu cuci dan bersihkan. Kemudian parut singkong tersebut.

2. Kemudian peras singkong yang sudah diparut. Agar tidak terlalu lembek dan agar mudah dibentuk nantinya.

Disini saya baru tahu, kalau air perasan singkong parut tersebut adalah sagu atau tepung tapioka yang biasa digunakan untuk membuat cilok.

Air perasan tersebut bisa diendapkan terlebih dahulu. Kemudian dibuang sisa air diatasnya. Dijemur dan jika sudah kering bisa diayak untuk mendapatkan tepung tapiokanya.

Hati-hati juga dalam mengolah dan mengonsumsi singkong. Karena singkong mengandung sianida yang dapat membahayakan tubuh kita. Pada umumnya singkong aman dikonsumsi selama cara mengolah dan memasaknya benar, serta dikonsumsi dalam porsi yang wajar.

Untuk menghindari adanya zat sianida, mengupas kulit singkong harus dengan cara yang benar. Karena kulit singkong mengandung zat sianida paling tinggi. Rendam singkong setidaknya dua hari sebelum dimasak. Dan pastikan memasaknya dengan benar sampai matang.

Saya sempat bertanya dengan Ibu saya, “Bagaimana cara mengetahui adanya sianida didalam singkong?”

Jawab Ibu saya, “Ya kalau singkong rasanya pahit jangan dimakan.”

Saya tanya lagi, “Emang kenapa Bu?”

Ibu saya jawab lagi, “Ya emang udah tau dari kecil, kalo singkong pahit ya jangan dimakan. Berarti singkongnya beracun”.

Mungkin bisa diantisipasi dengan “Singkong Pahit” tersebut, untuk mengetahui adanya racun sianida hehehe….

Langkah selanjutnya

3. Singkong parut yang sudah diperas tadi dicampur dengan kelapa parut. Diaduk rata menggunakan tangan saja.

4. Tambahkan margarin 1 sendok makan, dan garam 1 sendok teh penuh. Kalau memang suka asin, bisa ditambah lagi garamnya sesuai selera.

5. Jika sudah diaduk rata, bisa dibentuk dan diisi sesuai dengan namanya. Kalau isi gula jawa namanya “misro” kalau isi oncom namanya “combro”.

Dari bentuk dapat dibedakan, kalau bulat itu isi gula jawa namanya “misro”. Kalau bentuknya lonjong, itu isi oncom namanya “combro”.

6. Jika sudah selesai dibentuk. Bisa langsung digoreng. Untuk minyaknya jangan terlalu panas, supaya tidak gosong diluar tapi belum matang didalam.

7. Goreng hingga kecoklatan.

Jika sudah matang, tiriskan terlebih dahulu agar minyaknya turun. Kemudian bisa langsung disantap bersama keluarga.

KDR (Kerja Diatap Rumah)

Sejak hari Jum’at, 20 Maret 2020. Seluruh team Excellent mulai menerapkan WFH (Work From Home) atau KDR (Kerja Dari Rumah).

Sebenarnya bukan sekali ini saja kami melakukan kerja dari rumah. Kerja di PT. Excellent Infotama Kreasindo itu tidak harus pergi ke kantor. Bisa di perpustakaan, coworking space atau di Food Hall Mall. Intinya tempat manapun diluar kantor yang buat kita nyaman dengan suasana yang berbeda. (Baca : Bekerja Tidak Harus dan Selalu di Kantor)

Beruntung saya mendapatkan pekerjaan yang bisa dibawa pulang. Bekerja dimanapun bisa dilakukan, asal ada internet, laptop dan stop kontak.

Selama masa karantina di rumah masing-masing, sebagai bentuk pencegahan dan memutus rantai penularan virus Covid-19. Kerja dari rumah memiliki sensasi rasa tersendiri. Setiap pagi saya mesti mencari tempat disudut rumah saya yang OK untuk melakukan meeting online. Mungkin backgroundnya mendukung, tapi sinyal internetnya tidak mendukung. Maka saya harus mencari tempat lain yang bagus untuk melakukan meeting online.

Saya suka membaca dan melihat tulisan atasan saya di Facebook, bagaimana dia bekerja diatas balkon rumahnya. Melihat pemandangan dari ketinggian. Walaupun hanya atap-atap rumah tetangganya yang tersaji dihadapannya.

Waktu itu saya pikir, “Itu mah biasa saja”. Wong setiap hari juga yang saya lihat atap rumah tetangga.

Tapi selama masa bekerja dari rumah yang sedang berlangsung saat ini dan kemudian pohon mangga besar disebelah rumah saya juga di tebang. Lihat gambar ini.

Terlihat atap-atap rumah tetangga saya kan?

Ternyata memang beda ya rasanya. Cuacanya yang mendukung tidak terik dan sedikit mendung, angin sumilir, pohon jambu biji disebelah saya yang ranting dan daunnya saling bertepukan. Jadi suasana yang berbeda.

Saya baru tahu, “Oh seperti ini ya rasanya bekerja dibalkon rumah.”

Saya juga punya kolam ikan, walaupun isinya hanya ikan patin, ikan lele dan ikan gurame.

Di kantor tempat saya bekerja itu ada saung yang dibawahnya terdapat kolam ikan. Yang ditengahnya dibuat jalan dan kanan kirinya banyak tanaman.

Saya memang sempat kepikiran, kalau punya rumah nanti mau minta dibuatkan taman dan saung yang seperti itu.

Dari kecil saya itu suka sekali kobok-kobok air yang ada ikannya. Dulu kalau mandi itu pasti sama ikan. Ibu saya sering beli ikan koi yang masih kecil, hanya untuk ditaruh bak untuk mancing saya supaya mau mandi.

Tapi karena saya nakal, ikan-ikan itu umurnya tidak panjang. Kadang karena terlalu gemas, ikan tersebut saya tangkap dan saya pencet sampai tewas.

Dan gemas terhadap ikan yang berenang itu sampai sekarang masih terbawa. Apalagi ikan milik Pak Boss yang disaung itu kan ikan patin yang sudah besar-besar. Yang enak untuk dimasak dijadikan sop *Ehh bukan

Maksudnya ikannya itu gemesin, soalnya mirip hiu pasir. Jadi sesekali saya memberi pakan ikan ke kolam itu, rasanya seru-seru gimana gitu. Karena kan kolamnya jadi berisik. Ikan-ikan berebut makanan.

Nah, berhubung saya punya juga kolam ikan di rumah. Kemarin sesekali saya tebar juga pelet pakan ikan. Mumpung Ayah saya tidak di rumah.

Dan itu rasanya memang beda, pikiran itu jadi fresh dan tidak terlalu stres.

Dan setelah saya pikir-pikir, mungkin di Excellent dibuatkan taman yang demikian untuk mengurangi tingkat stres karena klien yang ngeselin. Mungkin. Karena klien yang bawel dan ngeyel. Mungkin juga.

Dan selama bekerja di rumah ini, Ibu saya jadi lebih perhatian. Buktinya setiap pagi sudah ada sabu untuk saya.

Saya menyebutnya KDR (Kerja Diatap Rumah). Ya mau gimana? Kamar saya dilantai dua yang merupakan atap dari lantai satu.

Oh iya ada satu lagi enaknya kerja dari rumah. Saya bisa tengkurap sambil bekerja. Nomaden atau pindah-pindah tempat. Dari ruang tamu, pindah ke balkon, pindah lagi ke kamar. Sampai pukul 16.30.

Walaupun kerja dari rumah, jangan lupa mandi ya.

Investasi Modal Sayang

Mewabahnya Virus Corona tidak hanya berdampak pada investasi saham yang saya punya, tetapi berdampak juga pada investasi hewan ternak yang saya jalani saat ini.

Berawal dari tragedi kecelakaan yang dialami pacar saya, mengharuskan dia resign dari pekerjaannya di Bekasi dan pulang ke kampung halamannya di Klaten.

Tidak banyak kegiatan yang dia lakukan selain dari membantu mengurus usaha orang tuanya dan melakukan beberapa pekerjaan rumah yang biasanya dilakukan oleh adik perempuannya. Karena saat ini kedua adik perempuannya sudah ada yang menikah dan merantau di Jakarta. Artinya sudah tidak ada yang bisa membantu, kecuali pacar saya sendiri yang membereskan rumah.

Tiga bulan pertama, pekerjaannya masih belum jelas. Luntang-lantung kesana kemari. Hanya mengandalkan keahliannya menjual beberapa sparepart motor tua, karena memang hobinya yang suka mengoleksi motor tua. Dan tentunya dengan bantuan jaringan temannya dibeberapa daerah, dia bisa menghasilkan uang.

Tapi karena usianya yang semakin bertambah juga, jika hanya mengandalkan pendapatan dari kegiatan itu menurut saya tidak akan tercapai niat baiknya dia untuk mengajak saya ke jenjang yang lebih serius. Karena tidak menutup kemungkinan, restu orang tua akan berubah hanya karena status pekerjaan dan pendapatan yang dihasilkan. Walaupun untuk urusan rezeki, Allah sudah mengaturnya.

Akhirnya dicari usaha apa yang bisa dijalani dengan memanfaatkan beberapa aset orang tuanya. Seperti lahan rumah yang luas, kebun bambu yang rimbun dan kebun lainnya yang dia punya.

Saya berpikir selama ini dia hanya mengandalkan sapi nya untuk meyakinkan saya bahwa dia punya modal banyak. Tapi ibu saya bilang, “Kalau dia belum punya 1000 sapi, jangan harap dapat restu”.

Saya kan tidak mungkin menyampaikan itu ke dia.

Saya suruh dia belajar budidaya ikan lele. Dia mau belajar, dia juga mau prakteknya. Dia tau butuh banyak modal. Saya suruh dia belajar ikan lele, karena melihat ayah saya yang biasa pelihara ikan dengan mudah dan cepat besar. Jadi pikir saya, siapa tahu dia bisa dapat untung banyak dan punya kegiatan. Jadi nggak nganggur-nganggur amat😁

Dia belajar bagaimana membuat kolam, air yang bagus untuk ikan lele, pakannya, semuanya dia pelajari termasuk adanya racun yang mungkin dirasakan ikan lele.

Awal pembelian 1000 ekor. Tambah 1500 ekor. Jadi punya 2500 ekor ikan lele.

Untuk pemasarannya dia sudah punya chanel. Jadi tidak perlu khawatir. Niatnya keuntungan penjualan ikan lele itu akan diputar untuk tambahan modal pembelian anak sapi.

Termasuk saya, saat ini ikut membantunya menyisihkan uang untuk usahanya itu. Dan in shaa Allah di akhir Juni nanti akan membeli 1 lagi anak sapi.

Tapi karena saat ini banyak yang mewabah Virus Corona, untuk pakan sapi itu ikut berimbas. Biasanya dengan uang Rp35.000 sudah dapat segelundungan, bisa untuk pakan empat sapi dalam sehari. Bisa juga diberi pakan jerami, padi-padi sisa hasil panen itu. Kalau jerami itu gratis, kita sendiri yang babatin. Tapi harus nunggu orang yang punya sawah selesai panen😂

Sebulan lalu, sapi yang dibeli pertama kali, paling besar sendiri, tidak mau makan. Karena lidahnya sariawan. Badannya kurus. Saya sendiri jadi khawatir. Kalau mati, bisa rugi saya. Harusnya kalau dijual dengan ukuran sekarang bisa dapat Rp12.000.000. Kalau mati, rugi Rp12.000.000, walaupun modal awalnya Rp7.000.000.

Akhirnya dipanggil lah dokter hewan ke rumahnya. Gratis. Disuntik pantatnya 3x. Sembuh. Mau makan lagi.

Tapi kekhawatiran yang dialami saat ini bukan sariawannya sapi. Justru pakan sapinya. Virus Corona itu buat orang jadi mengambil kesempatan untuk menaikan harga-harga yang tidak ada semestinya. Saat ini si sapi diberi pakan rumput-rumput liar yang ada di kebun doi.

Sambil paralel dia tanam rumput kolonjono. Supaya lebih hemat. Dan tetap dapat untung.

Jadi tujuan investasi bantu pacar itu, supaya dia lebih banyak kegiatan, modal yang dikeluarkan tidak terlalu besar. Dan pastinya karena modal sayang, jadi biaya pakan sapi tuh tidak terhitung🤣

Kesel Aja Gua

Minggu lalu kantor tempat saya bekerja, kedatangan tamu dari salah satu badan pemerintahan. Bukan hanya bertamu melainkan membahas terkait kerjasama yang akan dilakukan di pertengahan bulan depan. Artinya jika dihitung sampai dengan tanggal pelaksanaan, tidak sampai satu bulan waktu yang diberikan untuk menyiapkan semua kebutuhan.

Kebutuhan yang dimaksud disini misalnya soal berkas administrasi yang nantinya dilampirkan. Karena biasanya di beberapa kegiatan terkait kerjasama dengan badan pemerintahan, pasti dibutuhkan banyak lampiran dokumen legal atau surat-surat pernyataan resmi dari pihak tertentu.

Benar saja. Untuk berkas penagihan mereka meminta beberapa dokumen legal dan tambahan surat resmi yaitu Surat Referensi Bank.

Pikir saya itu mudah, tidak sampai dua hari untuk bisa menyiapkan itu semua. Untuk Surat Referensi Bank saya bisa minta langsung ke Bank, yang mestinya tidak akan memakan waktu lama karena hanya butuh satu lembar saja surat berisi pernyataan. Lagi pula rekan kerja saya juga pernah beberapa kali pergi ke Bank untuk urus surat tersebut. Jadi saya bisa tanya langsung apa saja persyaratannya dan lampiran apa yang mesti disiapkan disisi saya agar nantinya tidak ada kendala saat akan diproses oleh pihak Bank.

Syaratnya saya hanya perlu buat Surat Permohonan Pembuatan Referensi Bank dan Surat Kuasa. Karena sempat ada miskomunikasi dengan rekan kerja saya dan diseling beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan. Akhirnya surat persyaratan tersebut molor hingga keesokan harinya baru selesai saya buat.

Dilema, karena kalau pergi ke Bank lewat dari jam 12 siang, pasti suasana pelayanannya berbeda dibanding pagi hari yang masih fresh. Akhirnya saya putuskan besok paginya saja pergi ke Bank tersebut.

Saya tahu besok akan pergi ke Bank apa. Bank yang beberapa kali punya pengalaman ngeselin dengan saya.

Saya pernah ditolak saat akan melakukan pembukaan rekening. Karena saya belum punya KTP waktu itu. Usia saya masih 15 tahun. Akhirnya saya bawa Ibu saya ke Bank tersebut, ternyata bisa dan langsung jadi.

Yang kedua waktu saya buka rekening kembali di usia 17 tahun, sudah buat KTP, tapi kartunya sudah 6 bulan lebih tidak ada wujudnya. Hanya kertas selembar berbentuk resi. Dengan percaya diri saya membuka rekening kembali menggunakan resi KTP tersebut. Pembukaan rekening berhasil dilakukan. Hanya saja, saya tidak diberi kartu ATM. Jadi selama KTP saya belum jadi, saldo yang masuk ke rekening saya itu menumpuk. Tidak bisa diambil lewat mesin ATM. Mesti ke Bank.

Nah, agar tidak terjadi kendala lagi, makanya sebelum besok pergi ke Bank itu, saya mesti menyiapkan sedetail mungkin.

Jum’at, 21 Februari 2020. Sekitar jam 08.00 WIB, saya berangkat ke Bank tersebut. Karena saya beberapa kali pernah pergi kesana. Dari rumah hawanya percaya diri saja.

Sekitar 10 menit saya sudah sampai Bank, berangkat dari kantor. Karena memang jaraknya dekat sekali. Tapi, saat akan memasuki parkiran, “Lho kok mobil semua yang kelihatan parkir. Apa kalau bawa motor parkirnya ditempat lain?”

Perasaan saya waktu itu sama saat pertama kali saya disuruh melakukan pembukaan rekening. Masuk ke area Bank itu ada perasaan minder. Serasa semua orang itu pandangan matanya tertuju kepada saya. Padahal nggak. Nggak ada yang mau merhatiin juga🤣

Karena sudah terlanjur masuk lorong parkir, saya modal pede saja deh.

“Ngueeennnggggg, bablas blas!” Saking percaya dirinya ngebut dilorong parkir.

Eh dikejar dan diteriaki Satpam.

Saya berhenti.

Kata dia, “Mbaknya karyawan atau nasabah?”

Saya jawab, “Saya nasabah.”

Dia bilang lagi, “Oh yaudah, parkirnya kesana lagi Mbak. Nanti disebelah kanan ada motor-motor ya.”

Sebelum berhenti dikejar Satpam, sebenarnya mata saya sudah melirik parkiran motor disebelah kiri. Saya kira parkiran motornya pindah. Ternyata yang disebelah kiri itu untuk karyawan Bank. Untung dikejar Satpam. Saya jadi nggak malu kan kalau sampai salah parkir😁

Jalan sedikit menuju ruangannya, kemudian disambut Satpam lain. Suasanya masih sejuk ya, karena diruangan AC dan masih pagi juga. Para customer service belum semuanya siap di meja masing-masing. Baru pada beberes lah, siap-siap. Karena masih pagi sekali.

Saya ditanya Satpam, mau ngapain. Ya, saya bilang mau minta Surat Referensi Bank atas nama perusahaan.

Dia tanya lagi, “Jenis rekening ibu, giro atau tabungan?”

Saya jawab saja, “Tabungan”

Sambil mikir-mikir, “Lhaaa kok ditanyain gituan sih”. Kata rekan kerja saya malah cukup kasih berkas ke Pak Satpam. Nanti dikasih tau sehari setelahnya suruh balik lagi.

Pak Satpam tanya lagi, “Ibu bawa buku rekeningnya?”

Saya jawab, “Saya cuma mau minta Surat Referensi Bank pak. Infonya cuma butuh Surat Permohonan dan Surat Kuasa aja.”

Kemudian disuruh tunggu dan saya dikasih nomor antrian. Kebetulan karena masih pagi saya dapat antrian nomor urut 003.

Giliran saya maju ke CS nomor 2. Ya seperti biasa disambut jabat tangan. Ditanya apa yang bisa dibantu. Saya jawab sama seperti, Pak Satpam tanya tadi.

Berkas yang saya bawa mulai di cek. Satu per satu.

Si CS tanya KTP asli saya dan minta copyan KTP Boss saya.

Saya kasih KTP saya, tapi saya bilang kalau copyan KTP Boss saya tidak saya bawa.

Si CS debat saya, “Harusnya dibawa Mbak copyannya. Soalnya nanti dibutuhkan. Kan pak Masim memberikan kuasanya ke Mbak Fitra untuk membuat surat ini.”

Saya jawab, “Sebenarnya perusahaan kami sering minta surat ini Mbak. Dan berkasnya cukup ini saja. Nggak perlu copyan KTP atasan saya.”

Dia bilang, “Coba saya tanya ke bagian kantor dulu, kira-kira bisa atau tidak ya.”

Padahal dalam hati deg-degan dan ngedumel, “Perasaan gua kalo kesini ada aja yang dimasalahin.”

Tidak lama kemudian, Mbak CSnya keluar dari ruangan bagian surat menyurat. Mimik mukanya flat. Saya sudah mengira-ngira, “Pasti salah lagi aja nih gua, segala copyan KTP ga dilampirin”. Sudah pasrah saja bawaannya, pasti bolak balik lagi.

Eh tapi nggak deh. Ternyata kata CSnya untuk suratnya bisa diproses dan saya disuruh ambil di hari Senin atau Selasa.

Ya, OK lah.

Karena saya minta dibuatkan di Jum’at pagi, mestinya hari Senin sudah bisa diambil. Toh itu kan hanya satu lembar surat saja. Lagi pula kepotong libur hari Sabtu dan Minggu.

Saya yakin sih, kalaupun Senin saya ambil pasti belum selesai dibuat. Akhirnya saya kasih untuk spare waktu mereka. Senin tidak saya ambil dan kebetulan di hari Selasa nya ada musibah banjir. Jadi akses jalan menuju Bank ditutup. Saya sendiri bingung mau ke Bank lewat jalan mana. Sehingga saya putuskan ambil surat tersebut di hari Rabu saja.

Rabu, 26 Februari 2020. Saya santai sekali, mengaggap semua lancar. Merasa surat saya sudah selesai dibuat, hanya perlu diambil. Saya set untuk ambil surat tersebut di jam 09.00 WIB saja, saya masih bisa stand by. Balas beberapa email terlebih dahulu.

Jam 09.10 WIB saya sampai di Bank itu kembali. Sebelum Pak Satpam tanya apa keperluan saya, saya sudah lebih dulu bilang kalau saya mau ambil surat referensi tersebut. Yang dijanjikan bisa diambil hari Senin itu.

Ini soal tingkatan emosi. Eaaaa~

Saya kecewa sebenarnya. Karena menunggu terlalu lama hanya untuk ambil surat yang sudah saya submit di Jum’at pagi, pada minggu sebelumnya dan ternyata baru dibuat di hari pada saat saya mau ambil surat tersebut.

Di 30 menit pertama emosi saya masih semata kaki. Kaki saya tidak bisa diam. Rasanya mau buru-buru ke parkiran. Ambil motor balik ke kantor. Karena saya kan izinnya ambil surat. Masa lama banget.

Sudah lewat 1 jam menunggu, emosi saya naik sepinggang. Saya sudah tidak nyaman duduk. Saya tanya lagi ke Pak Satpam soal surat saya itu. Pak Satpam dengan nada agak jengkel juga, bilang ke saya untuk sabar menunggu. Tapi saya bilang, kalau saya sudah minta itu dari Jum’at sebelumnya, kan tinggal ambil. Masa sampai 1 jam. Hasilnya ya sama, saya suruh duduk lagi. Tetap saya tidak nyaman. Karena saya izin ke kantor itu pergi sebentar untuk ambil surat.

Ditunggu-tunggu sampai jam 12 siang. Hampir 3 jam. Emosi saya sudah naik lagi sampai ke mulut. Hanya untuk “ambil surat”. Saya agak bingung sebenarnya. Saya pulang dulu ke kantor, terus nanti balik lagi juga buang-buang waktu. Saya nunggu di Bank juga hampir jam istirahat mereka. Dan nggak ada kepastian.

Akhirnya karena sudah terlalu kesal. Saya bangun dari tempat duduk. Dan sepertinya Pak Satpam yang tadi menyuruh saya sabar menunggu, sadar kalau saya sudah kesal sekali. Ya biasa, dia bilang ke saya suruh tunggu lagi, dia mau ke ruangan tempat buat suratnya tadi.

Dan benar. Suratnya baru dibuat hari itu dan baru selesai ditandatangani.

Disebut jengkel, ya jengkel banget lah ya. Untung emosinya masih semulut. Kalau sudah diubun-ubun, bisa nangis saya. Bisa badmood banget seharian.

Nggak tau kenapa, saya selalu bermasalah kalau urus sesuatu di Bank itu😅

Cara Format Flashdisk di MacBook

Sebagai pengguna baru dalam mengoperasikan MacBook, rupanya tidak semua dapat dilakukan secara instan. Mungkin beberapa pekerjaan dapat dijalankan secara cepat dan mudah. Namun dalam hal sepele, misalnya memformat flashdisk, ternyata tidak dapat dilakukan hanya dengan tap dua jari lalu pilih option “Format”.

Lalu bagaimana caranya memformat flashdisk di MacBook? Kalian bisa mengikuti langkah-langkah berikut ini :

1. Sambungkan flashdisk pada MacBook

2. Buka folder Applications dan klik “Utilities

3. Klik “Disk Utility“. Jendela Disk Utility akan muncul di layar

4. Klik nama flashdisk Anda pada bagian kiri di Disk Utility

5. Klik tab “Erase” yang tampil di bagian atas jendela Disk Utility

6. Klik menu yang ada di sebelah “Format

Pada bagian format ada berbagai macam opsi yang bisa kalian pilih. Perlu diperhatikan dari tiap-tiap opsi yang dipilih. Kalian harus tahu perbedaannya. Berikut penjelasannya :

  • Mac OS Extended (Journaled), ini adalah format file system untuk Mac, yaitu HFS Plus Journaled. Jika kalian pilih opsi ini, maka flashdisk hanya dapat dilihat datanya apabila disambungkan ke MacBook saja. Flashdisk juga tidak akan terbaca apabila disambungkan ke komputer dengan sistem operasi Windows.
  • Mac OS Extended (Case-sensitive, Journaled), partisi akan dibuat case-sensitive, artinya folder LAPORAN (huruf besar), akan dianggap berbeda dengan folder laporan (huruf kecil).
  • Mac OS Extended (Case-sensitive, Journaled, Encrypted), umumnya sama dengan opsi yang dijelaskan sebelumnya. Namun ada penambahkan password dan enkripsi di partisi case-sensitive journaled.

Kemudian ada ExFAT dan MS-DOS (FAT). Keduanya merupakan file system untuk volume Windows, artinya jika kalian mencari nama flashdisk di Mac agar terbaca juga di Windows, maka kalian bisa pilih opsi dua file system ini.

Lalu apa beda diantara keduanya?

  • MS-DOS (FAT), ini merupakan file system universal yang bisa diakses di Mac ataupun PC dengan sistem operasi Windows, support berbagai versi sistem operasi lawas, namun punya kelemahan mendasar yaitu tidak bisa berurusan dengan file berukuran lebih dari 4GB.
  • ExFAT, lebih baru dari MS-DOS (FAT), mendukung file diatas 8GB, dan bisa kalian gunakan di volume dengan ukuran lebih dari 32GB. Hanya saja karena lebih baru, ExFAT ini tidak support Mac OS X lawas dibawah versi 10.6.5 dan juga Windows versi lawas dibawah XP SP2.

7. Pilih format yang Anda sukai. Dapat dipertimbangkan dengan penjelasan yang sebelumnya sudah disampaikan.

8. Ketik nama Anda pada bagian “Name”. Ini bisa dilakukan apabila kalian perlu mengganti nama flashdisk. Jika tidak ingin mengubahnya, opsi tersebut bisa di lewatkan.

9. Klik opsi “Erase” yang terletak di pojok bawah kanan Disk Utility. Tunggu hingga proses format selesai dilakukan.

10. Silakan klik “Done”. Proses format flashdisk sudah berhasil dilakukan.

Selamat mencoba 😊

Investasi Pendidikan

Sudah satu setengah tahun saya menjadi mahasiswi. Pagi sampai petang jadi karyawati. Malam jadi mahasiswi. Tak terasa jika tahun ini saya akan duduk di semester 4 dan 5. Dimana banyak yang bilang, semester inilah para mahasiswa merasakan stres luar biasa.

Saya memang menunda kuliah selama satu tahun. Selain karena alasan financial, juga karena waktunya yang terburu-buru.

Dalam setahun itu ternyata bisa saya gunakan untuk menabung dan membeli beberapa kepentingan lainnya sebagai penunjang kerja saya. Saya sebut terburu-buru karena pada dasarnya saya ingin menggunakan waktu setahun itu untuk menikmati hasil keringat saya sebelum nantinya akan bertambah kegiatan baru yaitu kuliah.

Saya itu sebenarnya butuh me time. Butuh liburan.

Karena setelah ujian nasional selesai dilaksanakan, esoknya saya sudah langsung bekerja. Tidak ada jeda sehari pun. Tanggal 3 – 6 April 2017 dilaksanakan ujian nasional. Tanggal 7 April 2017, saya sudah mulai masuk kerja.

Setidaknya hal itu bisa saya ceritakan ke anak saya nanti.

Sulitnya menabung untuk modal kuliah sangat saya rasakan. Me time cuma jadi kadang-kadang bukan malah keseringan. Karena saya harus menunda kesenangan.

Kurangnya informasi terkait biaya pendaftaran dan biaya tiap semester menjadikan saya tidak punya patokan untuk menyisihkan uang tiap bulannya. Apalagi jurusan yang paling mahal bayarannya ternyata jurusan yang saya ambil, yaitu Administrasi Publik yang konsentrasinya pada Administrasi Perpajakan.

Selain karena banyak peminatnya, jurusan yang saya ambil rupanya juga bisa sampai pada pendidikan S1. Karena untuk perpajakan sendiri di Universitas lain rata-rata hanya bisa diikuti sampai dengan D3 saja.

Mengapa saya memilih mengenyam pendidikan S1 di jurusan Administrasi Perpajakan, sedangkan basic saya adalah IT?

Berawal dari pengalaman kerja saya selama satu tahun pertama yang diposisikan sebagai accounting. Sehingga sering dihadapkan dengan angka-angka, yang tidak lepas dari akuntansi dan perpajakan, membuat saya ingin mengetahui lebih jauh tentang ilmu tersebut.

Alasan lainnya muncul saat ada konsultan pajak yang membantu pelaporan pajak di perusahaan tempat saya bekerja. Yang ternyata dia itu rumahnya tidak jauh dari rumah saya.

Beberapa berkas untuk diaudit biasanya beliau minta. Dan untuk sampai ke beliau biasanya dititipkan ke saya.

Kami selalu janjian untuk bertemu jam 07.00 pagi di pertengahan antara rumah saya dan dia, sebelum saya pergi ke kantor.

Saat bertemu biasanya dia ditemani oleh ibunya dan anaknya sambil membawa belanjaan sayuran.

Pikir saya, “Enak juga ya, pagi-pagi masih bisa belanja sayur, sambil momong anak, terus bisa punya duit sendiri. Kerjanya tidak terikat di satu perusahaan saja. Hanya hitungan bulan bisa menghasilkan uang banyak. Ternyata enak kerja jadi konsultan pajak.”

Hal itulah yang akhirnya mengantarkan saya untuk terjun di jurusan Administrasi Perpajakan.

Semester 1 agak kaget karena mesti belajar dasar akuntansi 1. Dimana uang keluar harus dicatat dengan penjurnalan.

Semester 2, sama. Khawatir soal nilai yang berpengaruh untuk bisa naik semester. Pada semester ini saya hampir kalah. Namun kembali lagi dengan tujuan awal untuk melanjutkan pendidikan, karena saya memang ingin kuliah.

Semester 3, yang saat ini sedang berjalan. Semakin terasa sulitnya. Dari segi mata kuliah yang dipelajari hingga dosen-dosen yang semakin tidak jelas ketika menerangkan.

Mungkin bukan tidak jelas dalam menerangkan, bisa jadi karena saya sudah ngantuk dan rasanya ingin pulang ke rumah.

Tantangan tersulit menjadi mahasiswa reguler malam adalah menahan rasa ngantuk dan tetap fokus.

Maka ketika tantangan sulit itu datang, sangat diperlukan dosen yang baru ngajar sebentar ngajakinnya pulang terus. Hehehe😁

Saya kira jurusan pajak yang saya ambil benar-benar fokus pada pembahasan pajak saja. Ternyata tidak, semisal kita harus bisa menyusun laporan keuangan, purchasing, belajar ilmu politik, organisasi hingga administrasi publik yang berkaitan dengan pelayanan publik juga dipelajari.

Bukan hanya mata kuliah yang dirasa semakin sulit. Biaya kuliah yang mesti dibayarkan juga semakin banyak. Hehehe😁

Karena dari SD sampai SMK masuk sekolah negeri. Jadi tidak begitu banyak mengeluarkan uang.

Semenjak masuk kuliah di Institut swasta, sangat terasa kalau uang itu cepat habis. Karena biaya yang keluar tidak sedikit😂

Apalagi menjelang ujian, sudah ada alarm peringatan, saldo di rekening bakal habis banyak.

Pernah nggak sih, waktu mau bayar kuliah atau bayar sesuatu dengan jumlah besar merasa kalau uang kita seperti hilang blasss…. begitu saja? Padahal tanpa disadari, apa yang kita keluarkan hari ini dapat menunjang kita atau tabungan kita untuk masa depan?

Kalau iya. Berarti kita sama.

Kalimat yang sering terucap oleh saya ketika melakukan pelunasan biaya kuliah adalah, “Yahhh… duit gue ilang deh”

Seketika lemes, terus kepikiran.

Tapi ada satu rekan kerja saya. Mbak Indah. Yang selalu meyakinkan, bahwa uang yang saya keluarkan hari ini adalah untuk investasi pendidikan. Yang mungkin setelah lulus kuliah nanti, uang yang keluar banyak saat ini bisa kembali. Atau mungkin bisa jadi tabungan ilmu untuk anak-anak kita nanti.

Mbak Indah bisa bilang seperti itu, karena dia sudah melewati apa yang sedang saya jalani hari ini.

Dipikir-pikir benar juga. Penghasilan yang saya dapatkan selama bekerja rupanya tidak sepenuhnya habis untuk mengisi perut saja. Ternyata sebagian besar uang yang keluar itu sudah digunakan untuk membeli barang yang mungkin dulu mustahil bisa saya dapatkan. Uang yang keluar itu rupanya diinvestasikan. Bukan hanya investasi saham tapi juga pendidikan.

Banyak kakak sepupu saya yang lebih menyarankan saya untuk menikah muda. Menurutnya, kuliah itu percuma. Saya perempuan, kalau sudah nikah pasti di rumah. Mengurus anak, mengurus suami intinya mengurus rumah tangga. Jadi kuliah itu tidak diperlukan karena hanya buang-buang uang. Cukup cari suami yang punya pekerjaan tetap, punya rumah dan mobil.

Pemikiran seperti itu menurut saya sangat sempit.

Lagi pula memangnya laki-laki yang punya semua itu bisa menyukai kita hanya karena atas dasar rasa cinta? Tidak ada faktor lain? Mungkin saja iya, mungkin juga tidak.

Kemungkinan besar karena faktor lain. Entah itu dilihat dari tingkat pendidikan atau bisa cari uang sendiri.

Pengalaman jaman SMP dulu, mendekati ujian nasional biasanya diberi form tentang data diri. Mengisi dua pertanyaan tentang pendidikan akhir orang tua. Saya termasuk yang biasa saja. Karena kedua orang tua saya masih sampai di pendidikan SMA sederajat.

Tapi lihat teman yang pendidikan orang tuanya hanya sampai tamat SD. Pasti mereka malu, dan lebih memilih untuk diam. Apalagi yang pendidikan orang tuanya sampai ke tingkat S1 dan S2. Mereka bisa membusungkan dadanya.

Saya kuliah, berkat dorongan ibu saya yang gagal ingin kuliah dan lebih memilih menikah dengan ayah saya. Walaupun kadang merasa berat mengeluarkan uang yang sebegitu banyaknya, siapa sangka tahun ini saya akan naik ke semester 4 dan 5.

Toh dengan kuliah juga, pacar saya jadi merasa semakin takut kehilangan saya.

Cara ke Merlion Park Singapore

Jalan-jalan ke Singapore rupanya belum lengkap kalau belum mengunjungi Merlion Park.

Beberapa icon yang dapat kita jadikan background untuk berfoto, sebagai bukti bahwa kita pernah pergi keluar negeri khususnya ke Singapore.

Icon-icon tersebut diantaranya, Merlion Statue dan uniknya bangunan Marina Bay Sands yang berbentuk sebuah kapal diatas tiga gedung mewah.

Lalu bagaimana caranya supaya kita bisa sampai di Merlion Park?

Untuk kalian yang ingin wisata ke Merlion Park, khususnya yang memang sedang liburan di Singapore atau transit lama di Singapore. Kalian bisa dengan mudah mengunjungi Merlion Park dengan mengikuti langkah-langkah berikut :

1. Pastikan kalau kalian sudah sampai di Bandara Udara International Changi Singapore (Changi Airport).

Pengalaman saya setelah terbang 1 jam dari Malaysia, saya sampai di Changi Airport T4. Pintu exit bandara tidak susah dicari. Karena setelah pengambilan bagasi, kalian bisa langsung bertemu pintu keluar dan ruang tunggu penjemputan Shuttle Bus.

2. Kemudian melakukan perjalanan ke Changi Airport T2.

Hebatnya di Changi itu disediakan Shuttle Bus yang bisa mengantarkan kalian ke Bandara T2 tanpa bayar alias gratis. Di T2 ada tempat wisata terkenalnya Singapore juga, namanya Jewel Changi Airport. Untuk kalian yang ingin mampir dulu bisa langsung kesana dengan mengikuti papan petunjuk. Dari T2 itu kalian dapat berjalan kaki menuju Jewel sekitar 5 hingga 10 menit melalui jembatan penghubung dari Area Keberangkatan di Lantai 2.

3. Mengikuti papan petunjuk masuk ke stasiun MRT Changi.

Untuk kalian pemegang uang cash dan baru pertama kali ke Singapore, sudah pasti kalian bingung bagaimana cara membeli tiket MRT.

Disana memang disediakan Commuter Vending Machine. Tapi tidak ada petugas yang berjaga ataupun memberi tahu tata cara pembelian harus kemana dan seperti apa?

Kalian harus banyak bertanya dan melihat bagaimana orang lain menggunakan mesin cetak tiket tersebut. Mesin cetak tiket disana sama seperti halnya pembelian tiket KRL diIndonesia. Kita hanya perlu jeli dalam melihat peta dan rute perjalanan MRT. Jangan lupa pembelian tiket lebih baik langsung pulang-pergi ya….

Supaya bisa sampai ke Merlion Park dari stasiun MRT Changi, pilih MRT jurusan stasiun Raffles Place.

Bagi pengguna Jenius saya sarankan tidak perlu membeli tiket. Tinggal tap saja debit card kalian. Itu akan lebih mudah dan lebih menghemat waktu. Stasiun MRT Changi terbilang sangat ramai. Jadi tidak susah mestinya jika kita kesulitan dan bertanya. Dan ternyata petugas disana kebanyakan keturunan India tapi bisa berbahasa Melayu. Mestinya tidak sulit untuk komunikasi dengan kita yang bahasa Inggrisnya minus😂

4. Naik MRT Green Line (East West Line) jurusan Tanah Merah dan turun di stasiun Tanah Merah.

Turun di stasiun Tanah Merah untuk melakuan transit pindah ke jalur sebelahnya. Karena jalurnya hanya ada dua. Jadi kalau tadi di kanan sekarang kita ke peron sebelah kiri.

Pemandangan diperjalanan menuju Merlion Park ini adalah rumah-rumah yang tersusun rapi. Disana ternyata ada petugas pembersih dinding rumah. Jadi tidak ada rumah yang cat temboknya kusam.

5. Setelah transit, kalian naik MRT Green Line jurusan Joo Koon dan turun di stasiun Raffles Place.

Pertama kali keluar stasiun ini saya kebingungan, ternyata stasiunnya tidak semewah bandaranya. Untungnya saya bertemu dengan ibu-ibu yang baik hati, mengarahkan saya keluar dari stasiun untuk bisa sampai ke Merlion Park.

6. Keluar stasiun melalui exit B dan jalan menuju Singapore River.

Ketika kalian keluar stasiun, kalian akan disuguhkan dengan pemandangan gedung-gedung tinggi nan mewah. Disana tidak ada petunjuk mesti kemana. Intinya kalau sudah melihat jalan raya, dan melihat icon Marina Bay Sands, tandanya sudah tidak jauh lagi Merlion Park itu.

7. Setelah keluar stasiun, kemudian belok kanan dan jalan hingga menemui Cavanagh Bridge dan Hotel Fullerton.

8. Selanjutnya kalian tinggal menyeberang ke Merlion Park untuk bertemu dengan Merlion Statue.

Memang mudah jika kita pernah kesana dan sudah pernah melakukan perjalanannya. Tapi sangat sulit dan diikuti perasaan takut tersasar karena belum melakukan perjalanan kesana.

Yang perlu kalian jaga adalah ketika berada disana jangan sampai membuang sampah sembarangan. Karena di Singapore selama berjalan kaki, tidak ada satupun sampah yang terlihat disana. Negara itu sangat amat bersih. Dan jangan khawatir kehausan atau kelaparan. Di Merlion Park ada 7Eleven yang jual Aqua botol produk Indonesia dan beberapa makanan halal.

Tapi petugasnya berbicara dalam bahasa Inggris, kalau dia menyebutkan jumlah tagihan yang harus dibayar dengan bahasa Inggris dan kalian kesulitan menerjemahnya. Lihat saja layar tagihannya.

Satu lagi, kalau ke Merlion Park jangan siang-siang ya. Panas mataharinya sama menyengatnya dengan Jakarta.