Ingat Utang

Hampir 1 tahun nggak nulis blog. Sampai dua kali diingatkan si Boss. Dari mulai di group sampai di japri.

Payah. Saya utang langganan domain dan hosting selama 1 tahun ini ke Excellent.

Harusnya minggu lalu saya menyambi jadi reporter. Dinas luar kota ke Klaten.

*Kalau reporter rasanya terlalu ketinggian untuk saya yang jarang nulis dan update blog (walaupun di blog pribadi) hehehe 😌

Kalau saja saya jadi ke Klaten, mungkin celengan rindu ini sudah pecah untuk mereka. Sapi dan si gembala.

Ya, dua bulan lalu Alhamdulillah tabungan saya sudah cukup untuk beli kendaraan (lagi). Tambah sapi lagi. Setelah bulan September tahun lalu saya beli sapi yang kedua, yang ukurannya lebih besar.

Dipertengahan tahun ini pun ternyata bisa tambah lagi, beli sapi yang ketiga.

Saya bilang rindu sapi, karena dari pembelian yang kedua saya belum tau tuh sapi yang asli sebesar apa. Cuma lihat dari laporan saja. Dikirimkan foto atau video sapi berjemur.

Ya pada akhirnya saya gagal ke Klaten.

Melonjaknya kasus penyebaran Covid-19 jadi faktor utamanya.

Akhirnya saya batalkan tiket perjalanan kereta api saya.

Padahal saya sudah membayangkan, melihat indahnya hamparan sawah orang lain, dilihat dari balik jendela gerbong kereta.

Membayangkan, setelah sampai di Klaten menghirup segarnya udara malam dan wangi rerumputan.

Itu karena kebetulan letak rumahnya di pedalaman hutan bambu dan masih banyak kebon juga, makanya wangi rerumputan.

Tak lupa suara jangkrik. Krik..krikk..krikkk…krikkkk…

Kemudian membayangkan jam 7 pagi sarapan gudeg.

Setiap pagi, dikasihnya sarapan gudeg.

Dan jam 10 pagi, makan lagi. Soto seger Boyolali.

Yang belum pernah, cobain deh. Enak tau.

Dan yang pada akhirnya semua itu hanya bisa dibayangkan.

Saya malah pergi ke Stasiun Bekasi untuk isi form pembatalan. Di masa pandemi ini pembatalan tiket kereta tetap di potong 25%, walaupun dengan alasan adanya PPKM. Kalau dihitung dari total tiket yang saya beli, saya rugi Rp106.000,-.

Tiket berangkat saya beli dengan harga Rp74.000,- kelas ekonomi. Dengan durasi 8 jam perjalan sampai Klaten. Dan tiket pulang Rp350.000,- kelas eksekutif. Kira-kira sama, 8 jam perjalanan berangkat dari Yogyakarta.

Beli tiket berangkat Rp74.000,- karena :

Satu, ngirit.
Kedua, cepat dan sampai Klaten pun masih ada matahari. Karena kan masih sore.
Yang ketiga, supaya bisa lihat pemandangan. Karena dilihat dari jadwal keberangkatan kereta kelas eksekutif itu berangkatnya kisaran jam 5 sore dan sampai sana tengah malam.

Bayangkan, sudah beli tiket mahal-mahal, ndak bisa lihat pemandangan. Itemmm… semua. Gelap. Rugi toh.

Sebelum saya batalkan tiket perjalanan Ibu saya bilang, “Batalin aja. Mending rugi 106 ribu, daripada bikin orang celaka. Kita kan nggak tau, mungkin kita bawa virus untuk orang lain, atau orang lain jadi bawa virus untuk kita.”

Memang dasarnya saya dableg. Bukannya langsung mengiyakan, saya malah jadi egois. Saya tetap tahan untuk tidak langsung membatalkan tiket. Saya masih berpikir, awal Juli mungkin sudah membaik. Saya bisa berangkat.

Akhirnya setiap pulang kerja, saya sempatkan isi bensin di pom seberang rel kereta dekat rumah saya. Selesai isi bensin, saya putar arah yang jauh sampai ke Stasiun Cakung, balik lagi sampai ke Stasiun Kranji. Karena kebetulan rumah saya dekat dengan kedua stasiun tersebut.

Sudah bosan, baru saya pulang ke rumah.

Di sepanjang jalan itu, ada kesenangan tersendiri untuk saya. Yakni, melihat kereta api melintas. Karena setiap kali saya rindu dengan si gembala, bukan telepon, vcall atau foto dia yang saya lihat, tapi saya lebih suka lihat rel kereta ketimbang wajahnya.

Dari hal yang seperti itu bisa mengobati rasa kangen dan malah jadi buat saya terus yakin, bahwa saya bisa berangkat jalan-jalan naik kereta.

Kenyataannya, satu per satu teman saya sakit. Banyak tetangga saya meninggal karena terinfeksi Covid-19. Setiap malam, kalau saya terbangun. Bukan suara klakson kereta lagi yang saya dengar melainkan suara sirine ambulans.

Setiap kali tetangga ramai. Telinga saya jadi peka, “siapa yang meninggal hari ini?”

Padahal mah tetangga lagi marahin anak.

Pengumuman di masjid atau mushola jadi lebih sering terdengar “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Tanpa disadari masjid di dekat rumah saya pun jadi sepi. Walaupun ada PPKM, kalau sekedar membangunkan orang untuk tahajud biasanya selalu ada. Sebelum orang yang biasanya membangunkan, meninggal dua minggu lalu.

Dua hari yang lalu salah satu rekan kerja saya update status di WhatsApp bagaimana Covid-19 bisa menyebar dengan cepat. Yang kesimpulannya kira-kira seperti ini :

Sebelum pandemi, kita sebagai makhluk sosial hidup nyampur-nyampur mirip seperti main congklak. Tapi pada saat pandemi, perilaku hidup seperti itu malah jadi kendaraan penularan yang cepat.

Jikalau ada satu orang yang terinfeksi virus Covid-19 dan dia masuk ke salah satu lingkaran. Maka bisa jadi lingkaran tersebut akan ada yang terinfeksi. Nah, setiap orang yang terinfeksi ini akan bertemu dengan lingkaran-lingkaran yang lain juga.

Yang akhirnya akan menularkan ke orang lain yang ada dilingkaran itu.

Makanya untuk mencegah penularan itu terjadi, usahakan untuk bertemu dengan lingkaran yang sama, yang paling ideal ya orang rumah. Kalaupun harus keluar dan bertemu dengan lingkaran lain, usahakan tetap menjalankan protokol kesehatan. Memakai masker dan menjaga jarak.

Karena jumlah penularan itu terjadi bukan karena penambahan, melainkan perkalian.

Dari hal tersebut saya urungkan niat untuk jalan-jalan. Tahan. Sampai keadaan sudah membaik. Jangan egois.

Dan entah kenapa saya jadi selalu ingat kematian. Terutama yang paling diingat adalah soal utang-utang. Bukan utang-piutang.

Btw, kalau utang langganan domain & hosting ke Excellent bayarnya ditransfer atau rutin nulis blog?😅

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *