The Worst Parents In The World

Saya ingin berterima kasih kepada Ayah dan Ibu saya, sudah menjadi orang tua terburuk di dunia. Saya juga berterima kasih kepada Tuhan, karena kehendak-Nya saya dilahirkan untuk menjadi anak dari orang tua yang pelit dan tidak adil.

Apa yang saya rasakan saat ini adalah kesalahan orang tua saya di masa muda. Karena kesalahan merekalah saya harus menanggung bullying, merasakan susahnya mencari uang, susahnya untuk melanjutkan pendidikan dan kesulitan-kesulitan yang saya rasakan saat ini.

Ibu saya itu pelit. Sedangkan Ayah saya selalu bertindak tidak adil. Padahal saya selalu mengikuti keinginan mereka. Mungkin karena saya anak pertama, semua mesti diuji coba. Ketika adik menangis, saya yang dimarahi. Padahal bukan kesalahan saya. Adik bertengkar dengan temannya lalu menangis, Ayah bilang itu salah saya karena tidak menjaga adik dengan benar.

Dari awal menulis cerita tentang bagaimana saya dan kehidupan saya. Saya selalu bangga punya orang tua seperti mereka. Padahal yang saya rasakan adalah selalu jadi anak yang disayang kalau ada perlunya.

Ibuku yang pelit

Punya Ibu yang pelit itu cukup makan hati. Dari kecil saya selalu dididik keras oleh Ibu. Ibu bilang A, kalau saya lakukan B pasti ngomel dan ngedumel. Seharian diperlihatkan wajah cemberutnya. Sampai mau ambil makan ke dapur punya perasaan tidak enak. Sering terjadi salah paham antara saya dan Ibu. Sampai akhirnya kami tidak saling bicara. Mungkin karena sama-sama perempuan, saling keras kepala itu pasti.

Dari kecil pula saya dibiasakan tidak diberi uang ketika libur sekolah. Karena Ibu saya galak. Jadi waktu dia bilang, jangan minta uang dihari libur, saya langsung nurut. Karena takut dimarahi Ibu. Sampai akhirnya saya semakin tumbuh dewasa dan sungkan meminta sesuatu ke orang tua.

Ibu selalu memberi uang jajan dalam jumlah sedikit kepada saya. Alasannya karena saya sudah makan dari rumah. Untuk apa jajan banyak-banyak? Toh bekal minum bawa dari rumah, mestinya uang jajan tetap utuh. Tapi kan beda. Zaman Ibu sekolah dulu dengan zaman saya sekolah sekarang.

Dan Ibu selalu menjawab, “Untuk tetep bisa sekolah aja dulu mama harus jualan dulu. Disaat temen-temen mama udah masuk kelas, mama masih di warung, bantuin eyang jualan. Mestinya kamu bersyukur, mama ga suruh jualan aja kamu masih bisa jajan”.

Saya sudah tahu jawaban Ibu saya itu. Tapi karena saya anak-anak, mana bisa saya berpikir selurus itu. Yang saya rasakan, teman saya jajannya banyak kok saya sedikit. Kan kepengin juga.

Dulu waktu SD, saya punya teman sebangku. Namanya Putri. Badan kita sama. Sama-sama gendut. Dari kelas 2 SD sampai tamat SD selalu barengan. Kemana-mana pasti berdua. Sampai dikira kembar. Setiap hari dia mendapat uang jajan Rp7.000. Sedangkan saya Rp3.000. Ibunya bekerja disalah satu perusahaan Jepang dan sering dinas ke Jepang. Sampai saya tahu rasanya roti dorayaki asli Jepang itu ya karena dibawain oleh-oleh sama Ibunya. Sedangkan Ayahnya kerja disalah satu perusahaan Amerika. Dia anak semata wayang. Setiap hari harus diurus pembantunya. Seperti makan bahkan hingga peralatan sekolah. Hidupnya enak. Semua les dia ikuti. Kegiatan apapun yang berbayar pasti dia ikut.

Sedangkan saya, hanya belajar dengan dibimbing Ibu di rumah. Ibu tidak pernah mau membiayai saya les. Mahal katanya.

Masuk SMP, uang jajan saya naik Rp2.000. Jadi Rp5.000. Saya masuk ekstrakurikuler Paskibra. Ada perlengkapan yang harus dibeli, seperti celana putih dan sepatu pantofel. Ibu bilang itu hanya merepotkan saja. Dan mengeluarkan biaya. Harusnya saya ikut ekstrakurikuler PMR yang hanya modal tenaga. Di SMP ini juga saya mulai merasa kesulitan. Keinginan orang tua untuk bisa masuk ke sekolah negeri itu jadi beban untuk saya. Saya tidak diikutkan les apapun, tapi orang tua menuntut saya untuk bisa masuk ke sekolah yang mereka inginkan.

Dan ketika masa SMK, Ibu hanya memberi saya uang jajan Rp10.000. Sudah termasuk bayar uang kas dan bensin motor. Banyak yang saya butuhkan ketika duduk di SMK. Hanya disini orang tua saya tidak pernah mengeluh tentang biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan saya.

Ibu juga pelit untuk dirinya sendiri. Kadang untuk sabun cuci muka saja masih suka dikasih air kalau habis. Tidak pernah membeli baju. Selalu pakai kaos saya, yang saya sendiri sudah jarang memakainya.

Ayahku yang tak pernah adil

Sedangkan Ayah saya adalah orang tua yang tidak adil terhadap anaknya. Ayah sangat sayang kepada adik perempuan. Hal itu sering ditunjukan Ayah. Semisal menanyakan sudah makan atau belum? Ada masalah apa di sekolah? Mau minta apa? Dan pertanyaan-pertanyaan yang menunjukan kalau beliau sangat sayang adik saya itu.

Sedangkan dengan saya, Ayah tidak pernah sama sekali menanyakan hal tersebut. Kami jarang sekali berbicara. Saat saya ingin pergi ke kantor. Ayah sudah lebih dulu berangkat kerja. Saat saya baru pulang dari kegiatan sehari-hari. Ayah sudah lebih dulu tidur. Dihari libur pun Ayah sibuk dengan urusannya sendiri.

Bahkan tanggal ulang tahun saya pun Ayah tidak pernah mengingatnya. Saya sering kecewa. Tidak ada yang spesial tiap kali ulang tahun saya tiba. Ya lewat begitu saja. Paling hanya Ibu yang mengucapkan doa-doa.

Padahal banyak yang bilang, anak perempuan itu biasanya dekat dengan Ayahnya. Tapi tidak dengan saya.

Jika mengingat itu kadang saya merasa kalah. Saya ingin cepat menikah. Lepas dan tinggal jauh dari orang tua. Karena saya merasa Ayah dan Ibu tidak lagi sayang kepada saya. Tidak peduli kepada saya, semenjak kedua adik saya lahir. Saya merasa mereka berdua sudah punya anak kesayangannya masing-masing. Mereka punya anak kebanggaannya masing-masing.

Jika sedang merasakan itu, biasanya saya lebih banyak diam. Saya lebih suka mencari kesenangan sendiri diluar.

Tapi semakin dicerna dengan baik. Apa yang Ayah dan Ibu saya lakukan itu adalah cara yang benar untuk mendidik.

Ibuku yang pelit. Itu tidaklah benar.
Ayahku yang tidak pernah adil. Itu juga tidak benar.

Ibu memberi uang jajan sedikit bukan karena tidak sayang. Tapi karena Ibu ingin anaknya belajar bersyukur, apapun yang didapatkan.

Saya belajar dari pernyataan teman saya yang kesal karena gaji belasan juta yang diperolehnya harus dibagi-bagi dengan harus membayar tunjangan dan memberi orang tuanya. Dia upload slip gajinya ke instagram story. Dengan nada sombong dia menyesali bahwa dia baru saja memberi orang tuanya dari hasil jeri payahnya selama sebulan penuh bekerja di pabrik. Karena memberi uang ke orang tuanya itu, gajinya hanya tinggal 7 juta dan dia tidak bisa membeli apa yang dia inginkan.

Kenapa begitu? Karena dia terbiasa menerima dan menikmati uang dalam jumlah besar. Jadi ketika dia kekurangan setengah upahnya, ada perasaan tidak cukup. Tapi beda kalau uang itu ada ditangan saya. Saya akan lebih bersyukur karena dengan gaji yang sudah terpotong itu saja saya masih bisa hidup dan bersenang-senang.

Ibu tidak pernah membiayai saya untuk ikut les diluar. Karena Ibu yakin dengan kemampuan anaknya. Belajar di rumah dengan dibimbing Ibu itu lebih baik ketimbang les dengan orang lain. Teman saya memang harus les diluar, karena orang tuanya sibuk bekerja. Buktinya yang diikutkan dalam berbagai lomba, juara 1 di kelasnya dan bisa masuk sekolah favorit itu yang belajar dengan Ibunya bukan yang les diluar. Dalam hal ini saya sendiri.

Saya akui bahwa saya sering kalah. Kelas 10 SMK saya hampir menyerah. Pusing terhadap tugas produktif yang diberikan guru. Saya mesti mengerjakan PR hingga pagi. Saya menangis dan meminta Ibu saya untuk datang ke sekolah. Saya ingin keluar dari sekolah yang menjadi almamater saya itu. Tapi Ibu mencoba meyakinkan saya. Katanya, “Jangan lihat mereka yang udah keluar sekolah, tapi lihat yang masih bertahan.”

Tiap kali saya merasa kalah, Ibu selalu meyakinkan. Hanya meyakinkan saya saja. Sama dengan setiap kali saya meminta untuk ikut les diluar. Ibu tidak punya cukup uang. Ibu hanya punya keyakinan untuk meyakinkan anaknya, bahwa anaknya “BISA”.

Ibu juga tidak sepelit yang diceritakan soal ekstrakurikuler Paskibra. Ketika saya meminta, memang keadaannya dalam kondisi kurang. Tapi Ibu berusaha, bagaimana caranya supaya anaknya tetap bisa ikut lomba. Malam hari sebelum hari H, Ibu memberi saya celana putih dan sepatu pantofel yang saya minta sebelumnya. Dan ternyata pantofel saya yang paling bagus di pleton. Dan Ibu saya tidak akan pernah sejahat itu.

Tidak hanya soal celana putih dan sepatu pantofel. Ibu memberi uang jajan sedikit, agar saya tetap bisa mengikuti kegiatan study tour ataupun acara perpisahan sekolah ke luar kota. Ibu tidak pernah membiarkan anaknya untuk tidak ikut acara atau kegiatan seperti itu. Ibu selalu mengusahakan agar semua anaknya bisa ikut belajar dan bersenang-senang bersama temannya.

Saya merasa bersalah karena pernah menanyakan tentang keseruan saat pergi perpisahan ke Jogja di masa SMP, kepada teman sekelas saya yang juga satu SMP. Ternyata saat perpisahan SMP itu dia tidak ikut. Karena alasan keuangan. Saya tidak tahu. Pikir saya kan, uang jajan dia saja lebih besar 2x lipat dari uang jajan saya. Mana mungkin tidak ikut perpisahan sekolah. Intinya saya lebih beruntung darinya, walaupun Ibu saya pelit uang jajan.

Pelit terhadap dirinya sendiri. Bukan pelit. Ibu saya itu pemegang amanah terbaik. Untuk membeli kebutuhan dirinya sendiri Ibu perlu memutar otak, agar uang yang diberikan Ayah cukup untuk kebutuhan keluarga. Ibu saya dulunya cantik sampai sekarang tetap cantik. Ibu lebih memilih anaknya tidak kelaparan ketimbang anaknya harus melihat Ibunya tampil dengan gaya modis. Pada dasarnya Ibu saya adalah menteri keuangan yang terbaik.

Untuk Ayah, walaupun tidak pernah terlihat perhatiannya. Sebenarnya Ayah itu sayang saya. Ayah sayang semua anak-anaknya. Tidak ada pengecualian. Ayah terlihat lebih cuek. Karena Ayah sadar, saya sudah tumbuh dewasa. Semua yang saya lakukan ada privasi. Tidak bisa dibeberkan semua kepada Ayah. Semisal dekat atau suka dengan siapa. Paling bisa hanya curhat ke Ibu. Nanti Ibu yang lapor ke Ayah. Ayah akting seperti tidak tahu apa-apa. Padahal Ayah tahu segalanya. Urusan makan itu kan tidak perlu ditanya. Kalau lapar ya pasti makan. Sayanya saja yang terlalu baper.

Ayah juga peduli terhadap saya. Tiap kali saya pulang kuliah, memang saya selalu melihat Ayah sudah tertidur di ruang tengah. Rupanya Ayah menunggu saya pulang kuliah hingga tertidur. Saat saya sudah tidur, Ayah baru terbangun dan menanyakan ke Ibu tentang kondisi saya. Apakah saya sudah pulang atau belum.

Ayah bilang ke Ibu, “Kasian kakak, gara-gara Ayah harus pulang malem supaya bisa kerja sambil kuliah. Coba Ayah dulu sekolah yang bener. Jadi kakak nggak usah kerja biar bisa bayar kuliah.”

Mendengar itu dari Ibu saya, dada saya seperti ditempel alat kejut. Saya kaget. Sesayang itu Ayah saya terhadap saya. Apa yang saya kira selama ini ternyata tidak seburuk itu.

Lagi pula selama ini Ayah saya tidak pernah lupa kapan saya lahir. Tanggal berapa ulang tahun saya. Ayah selalu ingat. Hanya saja, Ayah selalu berangkat lebih pagi. Jadi sebelum saya bangun tidur, setiap hari ulang tahun saya tiba, Ayah selalu menyempatkan diri mengucap doa ditelinga saya. Ayah tidak pernah lupa hari ulang tahun saya. Saya sudah besar, tidak mungkin lagi Ayah menggendong saya sambil mengucap doa. Hanya itu yang bisa dia lakukan. Dan tidak ada kado dari Ayah ataupun Ibu. Kebiasaan dikeluarga saya hanya membuat nasi uduk dan berkumpul bersama sebagai ucapan rasa syukur.

Saya juga bersyukur bisa merayakan ulang tahun bersama keluarga. Banyak dari teman saya yang hanya diberikan uang banyak untuk bersenang-senang bersama teman lainnya. Bukan merayakan ulang tahun bersama dengan kedua orang tuanya, yang membuatnya bisa lahir ke dunia.

Dihari libur, Ayah tidak sibuk dengan urusannya sendiri. Hari libur itu banyak panggilan pekerjaan untuk Ayah saya. Uang tambahannya diambil dari kegiatan itu. Sebelum hari libur tiba banyak pesanan dari tetangga untuk Ayah saya. Seperti diminta untuk memperbaiki listrik atau mesin air yang rusak. Semua itu dilakukan hanya untuk anak istrinya.

Ayah dan Ibu ku tidak seburuk judul diatas. Apa yang saya rasakan saat ini, itu bukan kesalahan mereka. Justru dengan dibully dan bersusah payah saya dididik untuk sabar, jika ingin mendapatkan sesuatu.

Dan pelitnya Ibu itu karena ada pertimbangan. Tidak adilnya Ayah itu hanya salah paham. Sibuknya Ayah itu karena ada yang harus dibahagiakan. Dan tidak semua yang kita inginkan itu baik untuk diwujudkan.

One thought on “The Worst Parents In The World

  • Haris

    Great article and nice share… Keep post yaa…
    Saya pikir pun diluar sana hampir semua mungkin berpikiran jelek tetang orang tua nya sewaktu kecil… (termasuk saya hehehe)
    Dan setelah dewasa baru mengerti dan sadar kenapa orang tua kita dulu memperlakukan kita seperti itu …
    Malah sebenarnya dari orangtua lah kita bisa banyak belajar tentang arti keikhlasan…agar kelak kitapun bisa menjadi orangtua yang baik dalam membimbing anak2 nya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *