Masa Tua

Ibu saya bilang, kalau Ayah saya sudah pensiun dari pekerjaannya, mau pindah dan tinggal di Kebumen. Berkebun, ternak ayam dan pelihara ikan yang bisa dikonsumsi, sambil usaha buka agen sembako.

Ibu saya memang suka berkebun. Ayah saya senang berternak ayam dan lele untuk saat ini.

Setiap hari libur, Ayah dan Ibu membersihkan teras atas rumah. Dimana masih banyak material seperti pasir dan tanah sisa membangun rumah delapan tahun yang lalu.

Sisa material sengaja dibiarkan menumpuk seperti itu. Malah material tersebut ditanami pandan yang hasilnya malah merembet dan menjalar kemana-mana. Subur sekali.

Sebagian dari material tersebut sudah digunakan untuk membuat kolam ikan Ayah saya. Letak kolamnya ada di depan kamar tidur saya. Satu dinding dan menyatu dengan dinding kamar saya.

Jadi kalau di pagi hari buka jendela kamar, lirik kebawah saja sudah langsung lihat ikan berenang. Apalagi kalau kolamnya sedang dikuras, tetangga yang dibawah ikut heboh.

Berkebun ala Ibu saya. Memanfaatkan sampah rumah tangga, seperti bekas plastik minyak dua liter. Dikumpulkan sebagai pengganti Polybag.

Bekas bungkus minyak dibolongi, kemudian diisi tanah. Bibit tanaman yang kira-kira sudah cukup kuat bisa dipindahkan ke Polybag tersebut. Kemudian diberi kotoran kambing. Dan jangan lupa disiram air.

Sekarung kotoran kambing, bisa Ayah saya dapatkan dari tempat kerjanya dengan harga Rp10.000,- saja.

Berkebun dengan cara tersebut pada awalnya, karena setiap kali makan buah, bijinya pasti langsung dilempar ke gundukan tanah. Setelah didiamkan kok ternyata banyak bibit- bibit tanaman yang tumbuh.

Melihat itu Ibu saya berinisiatif memindahkannya, tanpa mengeluarkan biaya. Maka digunakanlah media bekas bungkus minyak tersebut.

Sedikit penjelasan dalam cerita ini, disamping rumah saya ada pohon mangga. Milik tetangga. Tapi kalau musim berbuah, buahnya pasti nyasar kerumah saya. Katanya kan kalau pohon berbuah dan masuk wilayah orang lain, berarti buahnya jadi hak milik orang itu. Hahaha?

Jadi si pemilik pohon mangga ini sering mengikhlaskan mangganya yg nyasar itu untuk saya. Rasa buahnya manis sekali. Dan banyak yang suka. Dilingkungan rumah saya biasanya disebut mangga Cina. Saya tidak tahu apa nama asli buah mangga tersebut.

Karena tetangga yang paling kenyang dibagi mangga itu keluarga saya. Banyak tetangga lain yang iri. Jadi minta dicangkokan saja pohonnya. Sayangnya tidak bisa dicangkok. Harus tanam lagi dari biji buahnya. Dan tidak semuanya berhasil, hanya beberapa saja. Ibu saya menjadi salah satu yang berhasil menanam pohon mangga itu.

Kalau ukurannya sudah tumbuh besar dan bisa dipindah ke pot yang besar juga. Biasanya Ibu menawarkan pohon itu ke tetangga. Tidak memunggut biaya. Dikasih secara cuma-cuma. Siapa yang mau silakan ambil. Tidak hanya pohon mangga. Salak, kurma, jambu biji merah, jambu bol, rambutan, jeruk, tomat, ginseng jawa, brotowali, sirih merah, pohon kelor, pare dan kacang panjang juga ada dan boleh diminta.

Kalau tidak ada yg minat, biasanya pohon-pohon tadi diangkut kakak sepupu saya. Dibawa ke Kebumen, untuk ditanam di kebun milik keluarga. Jadi kalau pulang kampung dan musim panen buah bisa untuk oleh-oleh.

Tidak hanya yang ditanam dari biji buah-buahan. Ibu biasanya iseng, habis beli kangkung akarnya tidak dibuang. Melainkan ditancapkan lagi ditanah. Nantinya akan muncul kangkung baru lagi. Sama seperti daun bawang juga seperti itu. Dan tanaman kurkuma seperti, kunyit dan kencur.

Beralih ke kegiatan Ayah. Salah satu hobi Ayah adalah memancing ikan dan piara ikan atau ayam. Ayah telaten membesarkan kedua hewan tersebut.

Ikan yang sering ada dikolamnya; ikan lele dan patin.
Kalau ayam yang biasa di pelihara hanya ayam negeri biasa.

Ayam yang dipelihara Ayah ukurannya selalu besar. Diberi makan nasi, pur ayam dan irisan daun mengkudu.

Pernah sekali, ayamnya sampai tidak bisa jalan karena terlalu gemuk. Sulit bergerak.

Kemudian beberapa teman sekolah saya datang kerumah. Melihat ayam tersebut mereka kaget. “Gede banget ayamnya”, kata mereka.

Itu dua minggu sebelum hari ulang tahun saya. Pas di hari ultah saya, ayam itu dipotong. Dimasak. Karena banyak jadi beberapa masakan, beda bumbu. Teman saya kembali lagi, main kerumah saya.

Waktu makan, kata mereka enak daging ayamnya.

Selesai makan mereka tanya, “Ayam lu yang gede banget itu kemana?”

Saya jawab, “Lah udah diperut kalian.”

Mereka semua kaget. Kasian sama ayamnya katanya. Hahaha?

Lain cerita, seminggu yang lalu tetangga saya pagi-pagi datang ke rumah saya bawa ember.

Ibu saya tanya, “Kenapa bu? Kok bawa ember?”

Tetangga saya bilang, “Disuruh bang Agus serok ikan lele ke atas bulek.”

Ibu saya bingung karena sampai jam 10, masih ada tetangga yang datang kerumah. Mau ambil ikan katanya.

Ternyata sore itu Ayah saya bilang ke beberapa tetangga, suruh panen ikan dirumah saya?

Jadi, kata mereka berdua. Kalau nanti pindah ke Kebumen. Mau berkebun, ternak ayam, pelihara ikan dan buka agen sembako. Kalau kebunnya banyak menghasilkan buah, siapa saja boleh ambil. Ayamnya tumbuh besar, dipotong, dimasak dulu baru dibagi ke tetangga. Kalau ikannya sudah besar, siapa saja juga boleh ambil dan mancing sendiri.

Kalau mau ngutang ke agen sembakonya, juga boleh. Asal jangan lupa bayar?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *