Dari Rambutan Hingga Duku

Rabu, 30 Januari 2019. Hari terakhir pelaksanaan Training Reguler Zimbra Mail Server di Excellent. Dimana kegiatan tersebut sudah berlangsung sejak hari Sabtu kemarin.

Mempersiapkan kelengkapan training, salah satunya dalam hal konsumsi. Kami selalu menyiapkan beberapa jamuan sebelum makan siang. Seperti teh, kopi, susu, snack, dan buah-buahan.

Kebetulan sekali kemarin saya ditugaskan membeli buah untuk persiapan training di hari terakhir. Mengingat training ini sudah dilaksanakan sejak hari Sabtu, setiap hari buah yang kami sediakan diganti dengan jenis buah yang berbeda.

Supaya peserta training yang ingin memakannya dan yang ditugaskan untuk membeli buahnya tidak merasa bosan.

Buah yang kami siapkan biasanya yang tidak perlu dikupas dengan pisau. Jadi lebih memudahkan siapa saja yang ingin memakannya.

Beberapa buah yang familiar seperti pisang, jeruk dan anggur sudah pernah disuguhkan selama training ini berlangsung.

Maka dari itu saya harus mencari buah yang jarang ditemui. Semisal ada, tapi hanya diwaktu musim panen saja.

Contohnya yang lagi banyak dijual hingga dipinggir jalan seperti durian, manggis, duku dan rambutan.

Kalau durian tidak mungkin. Karena mesti dibelah dengan pisau. Manggis dan duku juga sudah pernah disuguhkan. Tinggal si rambutan yang belum pernah disediakan selama training ini.

Kemudian saya keingat rambutan rapiah. Si kecil yang manis itu. Menurut saya OK, rambutan tidak masalah. Asal rasanya manis dan enak dimakan.

Kemudian saya bilang ke team PIC training dan petugas pengamanan uang operasional kantor, kalau saya akan beli buah rambutan.

Mbak Ami selaku petugas pengamanan uang operasional kantor, tanya ke saya sebelum memberi budget.

“Beli buah rambutan rapiah. Emang tau kaya gimana? Jangan sampe salah Fit. Kan banyak yang curang. Kadang rambutnya dipotongin.”

*Anak sekolah kena razia kali rambut dipotonginšŸ˜‚

Saya jawab, “Tau lah mbak, ga mungkin salah. Menurut saya ciri-cirinya tuh warnanya ijo, rambutnya pendek, jarang-jarang terus ada belahannya.”

Mendengar kata belahan dia langsung ketawa dan langsung di approved.

Kemudian saya diberi uang warna merah gambar Soekarno-Hatta.

Sepulang kerja, saya sudah mengingat-ingat tukang rambutan mana saja yang menjual rambutan jenis itu. Saya cari dipinggir kali tidak ada. Saya cari muter-muter sampai dapat.

Ada. Tapi sudah mulai layu. Satu ikat, buahnya jarang-jarang seperti rontok.

Dibelakangnya ada beberapa pedagang sedang menghitung dan menurunkan rambutan yang baru, dari dalam mobil bak.

Dalam transaksi jual beli ini, si pedagang semangat menawarkan saya untuk membeli buah yang sudah layu itu.

Saya menolak. Karena saya sudah lihat yang bagus. Saya minta yang baru diturunkan dari mobil saja.

Pedagang bilang, “Belum bisa ambil yang itu karena masih dihitung jumlahnya.”

Dia tetap bersikeras menawarkan yang layu, seperti memaksa.

Posisi saya sebagai pembeli, “Kenapa repot-repot tunggu selesai dihitung. Dia tinggal ambil dua ikat untuk saya. Kemudian saya bayar. Nanti dia tinggal hitung saja rambutan yang sudah saya bawa tadi. Kan tidak masalah.”

Bagi si pedagang, “Kalau saya kasih yang baru. Yang layu ini ada kemungkinan tidak laku terjual.”

Karena si pedagang tahu saya butuh rambutan itu.

Akhirnya saya putuskan untuk kembali nanti lagi setelah semuanya selesai dihitung, sambil mencari tukang rambutan yang lain. Barangkali ada yang lebih bagus.

Ditengah perjalanan tiba-tiba saya berkeinginan membeli buah duku. Saya baru sadar kalau hari itu baru beli satu jenis buah saja. Kalau tidak beli sekalian pasti besok paginya susah cari buah tambahan.

Saya cari kedua buah tersebut. Dipinggir jalan banyak yang jual buah duku. Buahnya kecil-kecil dan mulai menghitam.

Tapi diseberang jalan sana, ada kakek-kakek tua jual pakai gerobak, buah dukunya besar-besar dan bagus. Plus karena saya kasihan, waktu itu sudah hampir malam.

Saya menghampirinya. Saya tanya harga per kilogram. Katanya, Rp15.000,-.

Saya bilang, “Kalau gitu saya pesan 1,5kg saja.”

Mulailah dibungkus dan ditimbang. Saya lihat timbangannya baru pas 1kg.

Ditambah lagi. Baru mencapai 1,3kg. Kemudian beliau angkat dari timbangan.

Sebagai pembeli saya jelas berkomentar, “Engkong itu kan baru 1,3kg bukan 1,5kg. Kurang dong. Harusnya pas. Coba ditimbang lagi.”

Dia tidak mau. Dia bilang, “Udah pas neng, 1,5kg tadi.”

Karena saya tidak mau eyel-eyelan. Saya bayar saja. Beliau bilang total jadi Rp23.000,-.

Melihat saya mengeluarkan uang Rp35.000,- sisa uang beli bensin. Si kakek bilang, “Udah genepin aja 2kg jadi Rp30.000,- (sambil menimbang lagi)

Saya bilang, “Nggak usah engkong ini udah cukup”. Saya bayar lah itu dengan uang Rp25.000,-

Belum sempat ambil kembalian untuk saya, dia beralasan tidak ada kembalian. Genapin saja katanya jadi Rp25.000,-. Kemudian dia ambil enam buah duku tambahan dimasukkan ke kantong plastik yang belum saya ambil tadi.

Saya merasa jengkel. Menurut saya itu curang. Bukannya menarik minat pembeli. Malah buat kapok pembeli untuk datang kesitu lagi.

Ingat rambutan, saya coba kembali ketempat sebelumnya. Rambutan yang baru sudah dipajang. Tapi yang jual orangnya berbeda. Mungkin temannya si pedagang sebelumnya.

Saya tanya harganya dia bilang Rp35.000,- per ikat. Haduhhh mahal sekali. Padahal seikat biasanya Rp25.000,-. Kelewat parah naiknya.

Strategi sales, dinaikin harganya. Kalau minta diskon bilangnya best price. Kalaupun dikasih diskon bilangnya karena buat langganan. Padahal harga aslinya bukan segitu. Penjual tetap untungšŸ˜‚

Saya tawar, “Saya ambil dua ikat. Jadi Rp45.000,- ya. Si bapak yang sebelumnya bilang ini seikat Rp25.000,-.”

Kata penjual, “Beda neng yang tadi sama yang sekarang. Yang tadi mah rambutan udah dua hari yang lalu. Ini kan baru turun dari mobil. Ambil dah tuh Rp65.000,-.”

Saya tawar lagi, “Yaudh Rp50.000,-. Kan saya ambil dua bang. Kecuali ambil satu. Kalo ga dikasih yaudah saya nggak jadi beli.”

Kata si penjual, “Yaudah kalo gajadi gapapa neng. Lagi mahal soalnya.”

*Dalam hati, sial banget orang mah ditahan kek. Di kejar. Dikasih diskon gitu.

Malah keputusannya, dealnya Rp55.000,- untuk dua ikat rambutan.

Malam itu saya merasakan jadi customer yang minta diskon, dibilang sudah best price dan nggak bisa di diskonšŸ˜‚

Tetapi dalam hal ini dari segi konsumsi Excellent membiasakan diri memberikan pelayanan terbaik untuk costumernya. Bukan soal materi tapi juga kualitasnya.

One thought on “Dari Rambutan Hingga Duku

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *