Jejak Si Fathul

Seperti biasanya kegiatan rutin menulis blog ditiap minggu, dengan deadline di hari Kamis. Syarat supaya bisa makan siang bersama di hari Jum’at. Itu tujuan utamanya. Tujuan bersama rekan kerja sih, bukan tujuan saya saja. Hehehe😁

Sebenarnya kegiatan makan bersama dihari Jum’at sudah ada sejak lama. Dari saya baru mengenal Excellent pun sudah ada. Tapi di masa sekarang ini ada ketentuan baru “Jika semua staff sudah menulis blog, maka makan siang di hari Jum’at diadakan. Kalau salah satu diantara kami ada yang belum tulis cerita di blog, maka makan siang di hari Jum’at ditiadakan.”

Tujuan yang sebenarnya itu supaya blog kami semua update dengan cerita-cerita yang baru. Membiasakan diri untuk menulis agar pandai merangkai kata💃

Kadang saya bingung, minggu ini mau tulis cerita apa? Siapa yang akan saya ceritakan? Bingung seperti saat ini. Tapi di minggu ini ada saja cerita yang saya temukan, satu topik yang mungkin terbilang ‘gabut’.

Si Fathul. Saya biasa panggil dia Mas Fathul, karena dari usia pun lebih tua dia daripada saya. Walau saya mulai masuk kerja lebih dulu daripada dia, jadi hitungannya saya adalah seniornya.

Mas Fathul ini yang biasa bantu kami semua mengurus kebutuhan rumah tangga di Excellent. Teman berantem saya. Juga, teman berkebun si Boss di taman belakang Excellent.

Sering kali si Boss perintah dia untuk beli ini itu, contohnya seperti media berkebun dan bibit tanaman. Tapi kadang si Boss suka lupa kalau Mas Fathul sedang keluar kantor beli kebutuhan yang diperintahnya.

Si Boss suka tanya ke saya “Fit, si Fathul kemana?’

Saya sendiri pun suka tiba-tiba gagap jawab pertanyaan itu. Karena saya juga tidak perhatikan keluar masuk nya Mas Fathul ke kantor.

Kenapa saya yang ditanya? Karena posisi tempat kerja saya ada dibagian depan. Di meja resepsionis. Lalu lalang orang yang keluar atau masuk kantor itu pasti saya duluan yang tahu.

Berawal dari situ akhirnya saya coba bilang ke Mas Fathul “Kalau mau keluar bilang ke saya atau Mbak Rahmi (teman semeja saat bekerja), supaya kalau si Boss nyariin saya bisa jawab.”

Tapi Mas Fathul terbiasa menghilang begitu saja, ndak pamit bilang mau kemana. Sampai akhirnya saya bingung kalau si Boss tanya “Fathul kemana?”. Dan akhirnya mulai minggu ini, saya catat dibuku kemanapun Mas Fathul mau pergi.

Catat daftar perjalanan dia setiap hari. Dinas luar kantor. Itu juga kalau saya ingat, kalau tidak ingat ya terlewat. Tapi tetap saya usahakan catat, tanya siapa yang tahu dia pergi kemana untuk antisipasi si Boss tanya lagi ke saya “Si Fathul kemana?”. Tapi semenjak saya tulis, sepertinya Mas Fathul mulai sadar bahwa semestinya dia lapor ke saya. Jadi saya nggak perlu repot-repot nulis, macam sekretarisnya saja.

Pergabutan di minggu ini menambah satu cerita saya di blog. Mengumpulkan jejak kaki orang lain.

Senja di Puncak Kabupaten Wonogiri

Apa yang terlintas di benak kita ketika mendengar kata “Senja”. Matahari terbenam? Sore menjelang malam? Suasana romantis? Atau langit memerah?

Senja itu indah. Ia selalu datang, kemudian pergi kembali. Begitu seterusnya.

Sabtu, 21 Juli 2018. Satu bulan yang lalu. Dimana saya pergi liburan mengunjungi Wonogiri. Kangen Wonogiri kalau kata anak perantauan.

Ada hal yang membuat saya ingin menuliskan cerita lagi, dimana ada nama daerah yang sering menjadi label mie ayam atau bakso didalamnya. Bukan tentang liburan, bukan juga info wisata yang saya kunjungi. Yang mungkin belum saya masukkan dalam cerita sebelumnya.

Ini tentang seseorang. Seseorang yang saya takuti karena kedisiplinannya terhadap waktu. Disiplin terhadap agama atau kebiasaan lainnya. Hidupnya terbiasa rapih. Baca buku itu wajib baginya. Dan yang pasti dia ceria, membuat setiap orang yang berada didekatnya merasa bahagia.

Kesempatan yang diberikan bulan lalu oleh perusahaan tempat saya bekerja, mengantarkan saya untuk mengunjunginya.

Bahagia sekali. Mendengar kemenakannya datang jauh-jauh dari Bekasi. Saya disambut dengan baik, layaknya Putri Raja. Sampai saya bingung harus bagaimana? Karena diperlakukan terlalu istimewa. Katanya, “Kan nggak sering-sering, nggak setiap hari juga. Jadi dinikmati saja. Nggak usah sungkan.”

Dia selalu bertanya kepada saya, “Nduk kapan kamu mulai kuliah?”

Dan disambung dengan wejangannya. Yang sampai sekarang masih selalu terngiyang.

Katanya lagi, “Kuliah itu tidak wajib, tapi penting. Walaupun tidak semua orang yang punya gelar Sarjana itu sukses. Tergantung dari manusianya juga, dia mau merubah nasibnya atau tidak. Apalagi kamu anak pertama. Contoh bagi adik-adikmu. Kesuksesanmu adalah bila adik-adikmu juga sukses.”

Puncak Seper, Jatipurno, Kabupaten Wonogiri

Di puncak Kabupaten Wonogiri itu. Di waktu senja kala itu. Dia katakan kepada saya. Saya yang sibuk foto selfie. Dan ternyata itu menjadi nasehat terakhir dari nya untuk saya.

Tiga hari yang lalu. Waktu Subuh. Saya mendapat kabar duka. Kematian. Kehilangan orang yang kenyataannya membuat air mata saya jatuh tiap kali mengingatnya. Kaget. Tidak sakit tidak apa. Tapi Tuhan ambil dia. Memintanya untuk pulang.

Merasa kehilangan pasti. Apalagi saya baru bertemu dengannya satu bulan lalu. Diantar dan ikut menunggu keberangkatan kereta di Stasiun Solobalapan, hingga larut malam. Memastikan bahwa saya aman berada di Solo dan Wonogiri sebelum dilepas ke Malang.

Kematian itu pasti datang. Tidak mungkin kembali. Hanya satu arah yaitu pergi. Kematian itu hilang karena kehabisan waktu. Sedang, senja hilang atas perintah waktu.

Sempat berpikir, malam tadi Bude saya masih tidur dirumah. Tapi hari ini dia tidur di kuburan. Sendirian.

Biasa Diluar Hingga Luar Biasa (Part I)

Awal pertemuan saya dengan keluarga Excellent bermula saat saya sedang keliru mencari tempat PKL. Ya, awalnya dari pilihan mencari PKL. Karena saya SMK ada masa dimana siswa perlu belajar dan praktek di lapangan. Kepanjangan PKL sendiri bukan “Pedagang Kaki Lima” tapi “Praktek Kerja Lapangan”.

Waktu itu seluruh murid dikelas saya diharuskan mencari tempat latihan kerja yang sesuai dengan jurusan. Berhubung saya ada di jurusan Teknik Komputer dan Jaringan, rasanya sangat sulit jika harus cari tempat PKL yang sesuai dengan jurusan yang saya pelajari. Apalagi saya perempuan, dikasih tugas banyak bukannya dikerja-in malah ditangis-in.

Seperti orang melamar pekerjaan, loncat dari satu perusahaan ke perusahaan lain. Ada yang menerima dengan tugas sebagai tukang fotocopy. Ada juga yang menolak, karena alasan sekolah saya tidak kerjasama dengan perusahaan itu.

Masih bingung ingin cari dimana lagi dan yang seperti apalagi. Paling-paling terpaksa jadi tukang fotocopy sambil bikin kopi.

Mencari PKL masih berlanjut, sekolah pun masih terus disuruh masuk. Kebetulan waktu itu masuk jam pelajaran bu Nikmah. Guru produktif sekaligus kepala program yang katanya ‘galak’. Emang galak sih. Galak banget, kalau ketahuan ga ngumpulin tugas hehe😁

Dia kasih nasehat pagi itu soal persiapan menjalankan praktek kerja, dia menyarankan kami semua (kelas TKJ A) ke salah satu perusahaan IT untuk coba PKL disana. Karena kakak kelas juga banyak yang PKL disana. Dengan syarat harus pintar, nurut, berani dan ga bikin malu. Bunda (panggilan kesayangan) bilang, “Coba kalian kesana, tempatnya pak Vavai nama PT nya Excellent. Dia itu orangnya tegas, kalau kalian ga nurut dimaki-maki nanti sama dia.”

Mendengar kalimat itu, semua murid di kelas saya jadi merasa takut. Dari 32 siswa yang terdiri dari 22 laki-laki dan 10 perempuan, belum ada yang berani untuk pergi melamar PKL ke Excellent.

Dua hari setelah itu, akhirnya salah satu teman saya mengajak untuk coba tanya-tanya soal PKL ke Excellent. Nama dan logo Excellent sendiri ternyata sudah sering saya lihat. Di tas kakak kelas saya itu. Namanya Trisha. Kalau berangkat sekolah sering kali dia didepan saya. Jalan dari parkiran motor ke sekolah. Tas yang ia bawa untuk sekolah disponsori oleh Excellent. Mantan anak PKL Excellent ternyata.

Total pelamar saat itu masih tiga. Mega, Erni dan saya. Singkat cerita, kami bertiga konsultasi ke Bunda. Bunda bilang email langsung ke pak Vavai. Karena Mega sering dijadikan bahan percobaan. Akhirnya si Mega yang disuruh email *yahketahuandeh. Pak Vavai bilang hari kamis dia ada di kantor. Padahal di hari kamis kami bertiga ada pengarahan di sekolah. Izin sekolah, pergi menemui pak Vavai.

Wah bakal ketemu big boss nih. Yang saya bayangkan waktu : Big. Yang badannya besar, kulitnya hitam, suaranya berat dan tatapannya seperti harimau mau menerkam. Sama seperti yang dibilang Bunda, “salah-salah kamu bakal dihina”.

Setelah bertemu ternyata jauh berbeda. Ga seram. Ngomongnya lembut. Ga ada niat menghina. Paling suka keceplosan ngatain hehehe😄. Sempat berfikir boss nya ‘China’. Ternyata nggak. Dia orang tambun. Makin tercengang saya.

Pak Vavai minta dua anak PKL, yang datang tiga (perintah Bunda). Beliau disuruh pilih dua diantara kami bertiga. Karena tidak tega, akhirnya dia terima kami semua.

Selama tiga bulan, PKL saya lancar jaya. Tidak ada dihina, tidak ada dimaki. Kami bertiga merasa sangat disayangi. Setiap Jum’at selepas makan siang bersama, tidak pernah lepas nasehat dari pak Boss (pak Vavai). Perkataan Bunda hanya menguji soal keberanian kami. Ini foto di hari terakhir saya dan teman saya PKL.

 

Yang baju merah itu namanya Bu Nikmah, kalau di sebelah kanannya bu Nikmah itu saya. Jangan terbalik. Disini masih unyu-unyu muka nya. Diambil dari 2 tahun lalu.

Ada juga tulisan pak Boss di Facebook yang saya screenshoot, tentang kesan-kesan beliau selama kami PKL diperusahaannya.