Xiăo Zhū Bonus 100 2000 Dollar

Hari ini, pukul 01.30 WIB. Masih gelap. Saya pun sebenarnya masih terlelap. Bulan juga masih tinggi. Tapi sudah pagi. Ada yang ketuk pintu kamar. Itu ibu saya. Baru pulang dari rumah ibunya. Di Kebumen. Tempat tinggal nenek saya. Dan pulang bersama adiknya. Adiknya yang minggu lalu saya ceritakan kedatangannya.

Dari Kebumen ke Bekasi bawa dua koper. Padahal waktu berangkat kesana, hanya bawa satu koper. Ya itulah anak rantau yang rindu mamaknya dikampung. Datang bawa keluhan, pulang bawa makanan dan koper tambahan. Asik sih. Kulkas jadi ramai. Saya pun senang. Karena perut tidak pernah tidak kenyang.

Seperti biasa, kami ngariung. Kumpul dulu. Sambil makan mie ayam yang keasinan itu. Sekalian sahur. Bercerita bagaimana liburan mereka disana.

Tepat hari Sabtu. Ini adalah hari terakhir adiknya ibu saya ada di Indonesia. Sebelum pulang, adiknya yang biasa saya panggil bulek itu meminta saya untuk menemani anaknya pergi keluar jalan-jalan. Sekitaran planet Bekasi. Boleh Jakarta. Boleh juga Bogor, tapi kejauhan. Sudah direncanakan, jam 08.00 WIB berangkat. Ternyata jam karet. Melar dan mengulur waktu sampai akhirnya waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB. Ingin jalan ke Jakarta, rasanya malas sekali. Panas. Apalagi anaknya biasa kedinginan. Terkena sinar matahari dia lenjeh. Cari shadow spot.

Bulek saya itu ada benar nya juga sih. Menguji saya. Test dadakan. Semacam kuis-kuis di perkuliahan. Tiba-tiba ujian.

Bulek saya bilang “kamu jalan-jalan berdua aja ya, belajar ngomong bahasa Inggris sama Kao Hsin, jangan minta temenin Bulek terus nanti kamu ga bisa-bisa ngomong bahasa asing”

Kalau saya sih “yes aja”. Kalau ga bisa bahasa Inggris, masih ada bahasa isyarat.

Keputusannya, jadi jalan-jalan tapi hanya “berdua” saja sama sepupu saya itu. Jalan-jalannya ke Mall terdekat. Itu request dia. Dia bilang ke ibunya, minta diajak main ke tempat yang ada bola basketnya. Yang langsung terpikirkan dipikiran saya adalah mengajaknya ke Timezone. Padahal saya juga belum pernah main ke tempat itu.

Saya ajak saja pergi ke Summarecon Mall Bekasi. Naik Go-Car. Kebiasaannya di Taiwan naik mobil pribadi. Kalau naik motor dia nggak mau jadi penumpang. Maunya jadi pengemudi. Saya ngeri. Cari yang aman saja. Toh ongkosnya tidak sampai Rp25.000 dan tidak perlu bayar parkir.

Sekitar 20 menit kami sampai di tujuan. Saya giring sepupu saya itu sampai masuk ke Mall. Berhubung saya baru 3 kali masuk Mall itu. Saya tidak tahu posisi dan letak Timezone ada dilantai berapa. Dua kali naik turun dari lantai paling atas sampai lantai 1. Ternyata tempat hiburan itu ada dilantai 2. Pak Boss bilang “tidak tahu cukup sekali”. Jadi saya enjoy saja, sama seperti kalau masuk gedung tinggi dicerita-cerita saya sebelumnya “pura-pura ngerti”. Jangan lupa, ekspresi wajah dan cara jalan harus dikontrol supaya tidak terlihat norak.

Biasanya kalau main ditempat seperti itu, yang ada komedi putarnya kan pakai koin. Yasudah dengan percaya diri saya bilang ke petugas tiketnya “mau beli koin”. Si petugas nyengir. Dia bilang “sekarang sudah pakai kartu mbak, jadi sebelum main harus buat kartu dulu, harganya Rp100.000 sudah termasuk saldo untuk bermain Rp200.000.” Saya mulai paham. Sudah saya dapatkan juga kartunya. Mulai mencari permainan bola basket yang dimaksud sepupu saya itu.

Masih belum tahu cara menggunakan kartunya. Saya coba tempel kartunya. Tidak mau juga. Seperti biasa, mundur dua langkah. Mata lirik kesamping, coba cari tahu gimana cara menggunakan kartunya. Ternyata kartunya digesek. Seperti belanja bayar pakai debit. Kalau sudah begini kan saya jadi tahu. Setidaknya saya sudah jadi manusia yang modern.

Pertemuan dengan Xiăo Zhū

Bosan main bola basket. Kami berdua main boneka capit. Dari mulai yg boneka paling kecil hingga boneka paling besar. Baru coba permainan ini, sudah ada boneka yang berhasil didapat. Warnanya hijau, telinga dan hidungnya berwarna merah muda. Mirip seperti babi.

Senang sekali. Sepupu saya tak hentinya tertawa. Dia bilang ” Jiejie This is for you” logat China.

Tidak banyak percakapan kami menggunakan bahasa Inggris. Tapi terlalu banyak menggunakan bahasa isyarat. Karena orang sana bingung kalau kita ajak bicara. Dialeknya berbeda. Untungnya dia langsung mengerti apa yang saya maksud kalau pakai bahasa isyarat.

Hari itu juga dia terlihat sangat lelah. Karena dari awal kedatangannya, sepupu saya itu pergi ke banyak tempat. Seharusnya Sabtu ini adalah hari istirahatnya sebelum besoknya pulang ke negaranya. Dari wajahnya juga sudah menunjukkan “not happy”. Akhirnya saya ajak pulang. Tapi dia bilang “I’m hungry”. Memang dia keseringan lapar. Makannya banyak. Disamping Timezone ada satu resto. Namanya sapo. Lihat menu bebek panggang dia minta saya untuk temani makan disitu. Saya pesan satu porsi nasi, satu porsi iga sapi, satu porsi sayur brokoli, dan satu porsi bebek panggang ukuran besar. Tugas saya lihat dia makan, lalu bayar ke kasir.

Sebanyak itu dia makan. Sendirian. Dan habis tak tersisa. Padahal kalau tidak habis, mau dibungkus. Ternyata malah habis sampai ke tulangnya pun bersih. Total harga keseluruhannya jadi Rp436.000. Saya kaget. Ini yang dibilang teman saya “kalau kamu ke Summarecon, pulang-pulang pasti miskin”. Tapi gapapa lah, toh dia disini tidak setiap hari. Besok juga sudah pulang hehehe

Sampai dirumah, saya tunjukkan oleh-oleh boneka babi tadi ke bulek saya itu.

Dia bilang “wah bawa babi”.
Saya tanya “bahasa mandarinnya babi apa bulek?”
Bulek jawab, “kalau disana namanya zhū (baca : cu), kalau itu kan kecil jadinya xiăo zhū (baca : siao cu) disingkat lagi yaocu. Artinya babi kecil.”

Makanya boneka itu saya beri nama Yaocu. Jadi kalau kangen bulek, saya bisa peluk di babi kecil itu. Karena bulek saya kan, kalau telpon setahun sekali atau kadang 2 tahun sekali. Balik ke Indonesianya bisa belasan tahun dulu baru kesini lagi.

Di hari Sabtu itu saya dapat Yaocu.

 

Pulang ke Taiwan

Sedih rasanya ditinggal lagi. Kedatangan mereka itu buat saya jadi punya cerita diminggu ini. Hari ini seharusnya saya gunakan untuk istirahat. Tapi ikut antar bulek ke Bandara Soekarno – Hatta sekaligus ingin tahu bentuk bandara kebanggaan Indonesia itu seperti apa.

Seperti biasa, sebelum bulek pulang ada pembagian angpao. Yang lain disangoni uang rupiah. Hanya saya yang diberi dollar. USD dan NTD. Walaupun jika ditukarkan ke IDR tidak seberapa. Setidaknya ada uang negara lain di dompet saya. Kata bulek, “itu untuk kamu nanti kalau jalan-jalan ke Singapore”. Memang sebelumnya saya bilang, saya baru mau terbang keluar. Tahun depan. Bulek saya bilang itu bagus. Artinya kalaupun terpaksa saya tukarkan uang itu ke Money Changer.

Saya antar bulek saya itu naik Go-Car. Tidak mungkin naik DAMRI. Mengejar waktu juga. Karena pesawat terbang sesuai jadwal. Pukul 14.10 WIB. Sekitar 1 jam dari BKS – CGK. Luar biasa. Ini kedua kalinya saya ke bandara lagi. Tenang. Tahun depan saya masuk kedalam bandara itu.

Cerita ini berakhir sementara di pintu gerbang 2 keberangkatan international. Terminal 3. Bandara Soekarno-Hatta. Bulek bilang dia akan kembali lagi tahun depan. Pakai hijab. Semoga saja.