Kejutan di Bulan Mei

Bulan Mei. Bulan kelahiran saya. Bulan spesial untuk saya. Apalagi di tahun ini. Banyak kejutannya.

Minggu ini saya kedatangan tamu jauh. Datang dari Taiwan. Pulau kecil yang terpisah dari daratan Tiongkok, tapi memiliki bahasa ibu yang sama. Mandarin. Ya, tamu itu adalah Tante saya. Adiknya ibu saya, anak nomor 9 dari 10 bersaudara. Namanya Kao An-ni. Dulu sebelum menjadi WNA namanya Nowo Prasetyani. Dipanggil Ani. Ia datang bersama anaknya. Kao Hsin. Membutuhkan 5 jam lebih untuk sampai di Indonesia. Naik pesawat langsung tanpa transit.

Terakhir kami bertemu, tahun 2005. Usia saya masih 6 tahun waktu itu. Sekarang usia saya sudah 19 tahun. Artinya, sudah 13 tahun tante saya baru kembali lagi. Ke tanah kelahirannya.

Banyak faktor, kenapa tante saya baru sekarang mengunjungi kami lagi di Indonesia. Waktu 2 tahun pertama menikah dengan suaminya. Tante saya terkena musibah. Suaminya kecelakaan mobil, hingga kedua kakinya lumpuh. Kalau mau kemana-kemana harus dipapah, dan dinaikan ke kursi roda. Siang malam harus dijaga. Sementara itu tante saya juga harus mengurus keluarga suaminya, dari mulai orang tuanya (mertua), sampai adik-adik suaminya (ipar) yang belum menikah.

Sebelum ke Indonesia. Jam 01.00 WIB pagi, ibu saya mendapat panggilan telepon dari luar negeri. Kode +886 (Taiwan). Ibu saya paham betul, itu pasti tante saya yang ingin cerita tentang situasi dirumahnya. Langsung saja, tante saya bilang bahwa hari Jum’at di minggu ini akan berkunjung ke Indonesia. Minta tolong dijemput di Bandara International Soekarno-Hatta. Kami semua senang, tak sabar ingin bertemu. Apalagi saya. Keponakannya yang paling dekat dengannya. Paling disayang. Paling dimanja. Pokoknya paling-paling.

Tugas menjemput ke Bandara saya serahkan ke ibu saya. Padahal tante minta saya yang jemput. Karena saya kerja, jadi saya alihkan ke ibu saya. Supaya ibu saya juga bisa jalan-jalan, tahu gimana caranya ke Bandara. Supaya nggak norak. Saya bilang ke ibu saya, kalau dari rumah ke Terminal Kayuringin dulu, setelah itu naik DAMRI. Harga tiket per orang Rp45.000. Bilang ke supirnya, turun di terminal 3 untuk kedatangan. Ibu saya oke-oke saja. Ternyata ibu saya lupa bilang ke supirnya kalau seharusnya turun di Terminal 3. Ibu saya turun di terminal 2. Panik dia. Telepon saya. Saya bilang tanya-tanya sama petugas disana. Akhirnya ibu naik kereta bandara. Lho! saya keduluan ibu naik kereta bandara. Harusnya kejadian yang ibu saya alami itu jadi cerita saya minggu ini.

Sekitar jam 16.00 WIB ibu dan tante saya sudah sampai dirumah. Melihat saya, tante mendekap saya erat. Tak henti-hentinya dia memandangi wajah saya. Rindu sekali, jelasnya. Salah satu tujuannya ke Indonesia adalah ingin membawa saya kerumahnya. Lanjut kuliah disana katanya. Karena tante saya tahu saya sudah memiliki paspor. Paspor yang saya buat tahun lalu, dapat subsidi dari kantor.

Banyak yang saya tanyakan tentang kegiatannya disana. Dan kebiasaan masyarakat sana.

Kehidupan setelah jadi WNA
Saya tanyakan bagaimana rasanya ketika sudah jadi warga negara sana. Dia bilang sama saja seperti di Indonesia. Rata-rata disana buka usaha sendiri. Rumah disana juga unik. Sampai 5 lantai. Untuk peraturan sekarang rumah-rumah baru hanya boleh membangun sampai 3 lantai saja. Untungnya tante saya sudah membangun itu sejak lama. Rumahnya 5 lantai. Lantai dasar untuk garasi mobil dan toko tempat mencari uang setiap hari. Lantai 2 untuk gudang. Lantai 3 – 5 untuk kamar tidur. Rumah saya yang hanya memiliki 2 lantai saja, kalau ada badai takut buru-buru lari turun kebawah. Apalagi sampai 5 lantai. Bingung turunnya gimana.

Karena suaminya sakit, maka tante saya yang mencari uang. Setiap hari buka toko. Jual makanan. Namanya Xiao Long Bao. Makanannya itu terbuat dari terigu yang diisi daging babi dan sayuran. Mirip dengan siomay. Setiap hari terjual 2-3 panci besar. Penghasilnya 10.000 hingga 15.000 NTD (mata uang Taiwan). Jika di ke rupiah kan maka sekitar Rp4.000.000 s/d Rp7.000.000. Terlihat besar jika uangnya dibawa ke Indonesia hehehe 😀

Tante saya juga bilang. Disana semua bekerja keras. Supaya dapat uang banyak. Kemudian uangnya digandakan. Dengan cara pasang judi. Bukan hanya remaja, ibu rumah tangga pun banyak yang ikut jadi peserta.

Jaman sekarang juga banyak pria Taiwan yang ingin menikahi wanita Indonesia. Banyak juga TKW yang diberangkatkan kesana. Orang Indonesia, dikenal rajin disana. Makanya banyak laki-laki Taiwan yang mau menikahi wanita Indonesia. Supaya, bisa mengurus orang tuanya. Mengurus mertua katanya. Bukan katanya juga, setiap malam saya tonton stasiun televisi Taiwan “Daai TV”, disaluran itu ditayangkan kisah-kisah kehidupan orang Taiwan. Memang benar, jika wanita sudah dinikahi maka kewajibannya : mengurus orang tuanya (walaupun pisah rumah), mengurus mertuanya, mengurus adik iparnya yang belum menikah dan mengurus urusan rumah tangga lainnya. Kalau saya ditanya, mau nggak nikah sama orang sana? Mungkin saya bilang “saya tidak mau”. Alasannya masih menyukai dan mencintai produk-produk Indonesia 😀

Dua hari di Indonesia
Ibu saya bilang, tante saya ingin sekali makan sayur asam. Di Taiwan ada sambal terasi, tapi tidak ada sayur asam. Sejak sampai di tanah air kemarin, yang dirindukan adalah sayur asam, sate dan bakso. Di Taiwan tidak ada yang jual. Makanya waktu saya beli bakso untuknya. Dimakan habis, lahap sekali. Di Taiwan makanan jenis apapun diberi potongan daging babi. Mie pakai daging babi. Tahu isi daging babi. Bakpao isi daging babi. Semua daging babi. Jadi kalau berkunjung kesana, coba masak sendiri saja. Jangan jajan.

Ada hal konyol. Karena keterbatasan berbahasa asing, saya agak kesulitan untuk komunikasi dengan sepupu saya. Sepupu saya ini laki-laki. Usia 15 tahun. Sudah 2 kali menghancurkan mobil pribadinya. Ditabrakkan ke mobil lain. Nakal. Tapi dia bilang kesan pertamanya bertemu lagi dengan keluarga di Indonesia adalah “Verry good”. Kekonyolan itu, waktu saya menawarkan ingin ke kamar mandi (pipis) atau tidak. Cerita ini mungkin terlihat jorok. Bisa dibayangkan, bagaimana cara saya menanyakannya dengan bahasa isyarat. Sangat memalukan. Dia bisa bahasa Inggris, saya yang kurang bisa. Jadi tidak nyambung. Akhirnya pakai bahasa isyarat, memperagakan. Bukannya mengerti, malah saya ditertawakan.

Waktu itu, saya antar sepupu saya itu beli minum di warung. Dia ambil minuman harga Rp5.000 dia bayarkan dengan uang Rp100.000. Di kembalikan Rp95.000. Sampai dirumah di hitung lagi uang kembaliannya. Dia bisa menghitung uang, tapi tidak mengerti kurs mata uang. Dia pikir nilai mata uang IDR sama dengan nilai mata uang NTD. Sepupu saya terkejut ketika tahu harga minumannya Rp5.000, dia bilang ke ibunya “Tai Gui Le” artinya mahal sekali. Mungkin di Taiwan sana, harga minuman hanya beberapa sen. Sedangkan disini minuman murah pun dibayar pakai uang yang nilainya ribuan.

Sekarang tante saya dan anaknya ada di Kebumen. Jenguk eyang disana. Saya antar mereka ke St. Pasar Senen. Sebelumnya keberangkatan mereka, tante meminta saya untuk ambil yang di ATM. Nilai uangnya lumayan banyak. Saat saya beri segepok uang itu didepan anaknya. Anaknya terkejut, ijo kalau liat duit. Matanya serasa ingin keluar. Saya bilang ke tante saya, bahwa nilai uang yang saya beri itu setengah dsri nilai uang yang kemarin. Kemarin itu pecahan uang Rp100.000. Sebelum masuk ke tas, anaknya spontan minta uang. Di beri Rp10.000, senang sekali. Mungkin menurut dia nilai uang 10.000 disini sama dengan nilai uang di negaranya.

Sementara 5 hari kedepan tante saya menghabiskan waktunya ditempat kelahirannya. Tanggal 01 Juni 2018 nanti mereka kembali ke Bekasi. Sedang tanggal 03 Juni 2018, mereka sudah harus kembali ke negaranya. Mungkin juga saya yang akan mengantarnya ke Bandara. Dan pasti ada cerita baru lagi nantinya.

Delapan Belas yang ke Sembilan Belas

Akhirnya hari ini saya tulis juga. Setelah menunggu yang ditunggu tidak datang juga. Padahal, ingin saya buat cerita. Tapi tidak apa-apa, begini ceritanya. Kemarin itu ulang tahun saya. Iya, 18 Mei tepatnya. Genap sudah 19 tahun usia saya. Masih belum terbayang sejauh ini saya sudah melangkah. Tahun depan sudah kepala dua. Menginjak usia 20. Itu artinya saya bertambah tua. Semakin berkurang jatah hidup didunia.

Saya anak tertua. Anak sulung. The Number One. Perempuan. Memiliki 2 orang adik kandung. Yang usianya terpaut lumayan jauh, empat hingga tujuh tahun.

Waktu kecil dan belum punya adik saya adalah anak kesayangan. Masih teringat, setiap minggu dikesempatan waktu. Selepas ayah pulang kerja, saya sudah didandani cantik oleh ibu mau diajak jalan-jalan pergi ke Mall. Karena saya anak pertama saat itu, jadi semuanya diberikan. Pulang jalan-jalan, beli mainan tak pernah ketinggalan. Hingga ulang tahun di usia 12 bulan pun dirayakan. Saya mendapatkan kue ulang tahun pertama itu diusia 12 bulan setelah kelahiran.

Semakin bertambah usia saya. Hingga umur empat tahun. Adik pertama saya lahir. Perempuan juga. Saya tetap jadi the number one, hanya saja bukan satu-satunya lagi. Disini orang tua saya mulai memberikan pelajaran tentang kemandirian. Dari mulai mandi sendiri, dan pakai baju sendiri. Tapi waktu itu saya belum bisa dandan sendiri. Sampai sekarang mungkin hehe 😀

Ada satu hal yang tidak pernah saya lupa. Kalau sudah masuk waktu Dzuhur, matahari sudah berada tepat diatas kepala, saya selalu dikurung ibu didalam rumah. Tujuannya supaya rutin tidur siang. Untuk tujuan lainnya, supaya saya tidak jadi anak nakal. Karena anak-anak dilingkungan saya nakal-nakal. Jadi, untuk jam main ibu selalu beri batas waktu.

Diusia empat tahun ini, saya sudah mengenal angka, huruf dan warna. Buku tulis dan pulpen jadi mainan saya. Dari halaman lembar pertama hingga halaman dipertengahan buku, isinya tulisan saya. Coret-coret membentuk rantai. Kenapa begitu? Dulu waktu ayah sakit, berobat ke klinik. Saya ikut masuk kedalam. Disana ada dokter yang tulis resep. Tulisannya jelek, tidak jelas dibaca. Jadi saya contoh itu. Kalau ayah pulang kerja, saya tunjukkan coretan itu. Saya bilang “ini tulisan dokter”. Ayah saya hanya tertawa kecil dan usap kepala saya. Mungkin juga dalam hatinya, ayah doakan saya supaya jadi dokter.

 

Taman Kanak – Kanak (TK)

Tahun 2004, usia saya menginjak 5 tahun. Sudah mulai bersekolah. Sekolah TK. Letak sekolahnya dekat dengan rumah saya. Hanya keluar gang, belok kanan lurus terus, belok kiri sedikit lagi sampai. Namanya TK IT Al-Huda. Biayanya mahal. Tapi alhamdulillah, semua anak ayah dan ibu saya bisa sekolah disana.

Satu bulan pertama, ibu selalu antar saya ke sekolah. Lama-lama saya berangkat ke sekolah sendiri. Saya memang anak yang pemberani. Pergi sekolah dan pulang sekolah jalan sendiri tanpa diantar atau dijemput. Itu kata ibu saya. Masuk sekolah itu pukul 07.00 WIB. Pulang sekolah itu pukul 09.00 WIB. Bawa bekal makanan dan minum. Makanannya nasi goreng atau nasi uduk buatan ibu. Minumnya teh manis, botol minumnya dikalungi dileher saya. Ke sekolah mau nya pakai sepatu yang alasnya ada lampu warna warni, jadi kalau diinjak sepatunya nyala kelapkelip. Tak lupa pakai tas dorong. Itu gaya anak sekolah TK paling keren dijaman saya. Kalau kalian pernah begitu, berarti kalian seangkatan dengan saya.

Jaman TK dulu, saya terbilang anak yang pintar. Selalu dapat gambar bintang. Waktu TK sistem penilaiannya bukan pakai angka, tapi pakai gambar bintang. Kalau gambar bintangnya ada lima artinya dapat nilai 100. Kalau nilainya jelek biasanya bu guru kasih gambar bulan menangis.

Pernah satu kali, sewaktu saya mewarnai bendera negara kita. Indonesia. Harusnya merah putih. Saya warnai dengan crayon menjadi putih merah. Guru saya, bu Rossi namanya. Memberi saya gambar bulan menangis. Besar sekali. Pulang sekolah, ibu periksa buku ditas saya. Ibu kaget. Saya dipanggil, terus ibu empos saya waktu itu. Diempos itu dicubit terus diputar. Bukan, ini bukan makan oreo, bukan juga kekerasan terhadap anak. Hanya saja ibu saya gemas karena kekonyolan saya.

Saya selalu ditunjuk sebagai pemimpin kelompok. Salah satunya kelompok untuk tampil lomba baca surah-surah pendek yang acaranya di laksanakan di Pantai Ancol untuk seluruh TK se-Jabodetabek. Waktu itu saya dan teman-teman saya juara 1. Setelah sempat kejadian bertengkar dengan salah satu rekan saya. Nanda namanya. Badannya lebih besar dari saya. Bu guru bilang “Ayo berbaris! yang tinggi dibelakang yang kecil didepan”. Teman saya yang gendut, tinggi dan besar itu tidak mau baris dibelakang. Saya peringati, dia marah dan saya dicubit. Yasudah saya cakar pipinya. Dia menangis, dan tidak jadi ikut tampil ke atas panggung.

Selain pintar, saya juga nakal. Saya akui itu.

 

Sekolah Dasar (SD)

Tahun 2005. Setelah lulus dari TK. Saya melanjutkan pendidikan ke tingkat SD. SDN Kota Baru IV namanya. Disini banyak hal-hal konyol yang saya alami. Saya mau sombong sedikit. Dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD saya selalu dapat peringkat 1 dikelas. Pernah jadi ketua kelas, ketua pramuka, danton paskibra, dan sekretaris di ekskul drumband. Saya aktif diberbagai kegiatan di sekolah. Selalu diikutsertakan dalam perlombaan.

Salah satunya ikut lomba sinopsis. Pada lomba ini, peserta diberi waktu satu setengah jam untuk membaca satu cerita. Peserta lomba, diberi satu buku yang didalamnya terdapat tiga cerita. Kemudian, cerita yang sudah dibaca dituliskan/dirangkum kembali pada kertas folio dengan huruf sambung. Jika sudah dirangkum, peserta lomba diwajibkan menceritakan kembali kepada dewan juri.

Waktu itu pesertanya ada 172 siswa. Yang akan dipilih untuk pemenangnya hanya 6 orang saja. Dan saya menjadi salah satunya. Masih teringat, kala itu saya diberi kartu peserta dengan nomor urut 057. Sayangnya di babak final, saya lupa semua jalan ceritanya. Mungkin karena terlalu kekenyangan makan bakso. Saya gagal menjadi juara I, II, III, Harapan I atau II. Saya hanya membawa pulang piala “Harapan III”. Sebenarnya saya sudah ditunjuk untuk lomba cerdas cermat, karena saya lemah dipelajaran IPS akhirnya saya batal diikutsertakan. Keputusannya saya dipilih untuk ikut lomba sinopsis ini. Latihan hanya 2 hari, di ruang guru. Tidak belajar bersama teman-teman dikelas. Jaman saya SD, siapa yang belajar diruang guru, berarti dia pintar.

 

Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Tahun 2011. Saya melanjutkan pendidikan ketingkat SMP. SMPN 13 Bekasi namanya. Dekat rumah saya. Bersekolah disini, bukan cita-cita saya. Bukan juga paksaan orang tua. Hanya saja terpaksa karena nilai saya yang kurang. Menjadi peringkat 1 dikelas tidak menjamin memiliki NEM besar. Cita-cita saya adalah masuk ke SMPN 172 Jakarta. Karena sudah didoktrin sejak SD bahwa anak Bekasi bersekolah di sekolah negeri di Jakarta adalah hebat. Maka saya ingin sekali bersekolah disana. Sayang, bukan rezeki saya.

Tapi disini saya buktikan, jika lulus dari sini saya bisa berlanjut ke sekolah bonafit. Bersekolah disini, saya selalu masuk ke kelas unggulan. Peringkat 4. Tidak pernah sampai ke peringkat 20. Kenapa begitu? Dalam satu kelas itu peringkat 1 bisa sampai 5 orang. Karena bersaing. Jumlah siswa dalam satu kelas ada 48 orang. Di SMP saya aktif di ekstrakurikuler Paskibra. Sering ikut lomba. Banyak menyumbang piala. Terakhir, ikut lomba baca puisi. Di SMPN 4 Bekasi. Saya gagal juara. Karena puisi yang saya bawakan bukan yang diinginkan. Kurang informasi. Mungkin juga karena pembawaan saya dalam membaca puisi kurang. Makanya saya gagal.

Saya ingat, waktu itu sudah jam pulang sekolah. Saya masih di sekolah, karena harus latihan untuk lomba baca puisi. Salah seorang guru yang terkenal cukup killer. Bu Muji namanya, dia guru IPA.

Dia tanya ke saya “Kamu kenapa belum pulang? Tunggu apa?”

Saya bilang, “Saya latihan untuk lomba bu, lomba baca puisi”.

Lalu beliau bilang, “Kamu ikut lomba baca puisi? Bagaimana bisa menang kalau muka mu saja tidak puitis”.

Kalimat-kalimat itu masih saya ingat hingga sekarang. Setidaknya saya pernah mencoba, saya sudah tahu rasanya ikut lomba tampil didepan banyak orang sendirian. Dan keuntungannya menambah pengalaman.

 

Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)

Tahun 2014. Sesudah melewati masa-masa S2 saya di SD dan SMP. Akhirnya pendidikan S3, saya lanjut di SMKN 1 Kota Bekasi. Sekolah model. Mantan RSBI. Sekolah negeri, tapi bayar SPP. Keinginan saya yang sesungguhnya ingin melanjutkan ke SMA saja, tapi orang tua tidak setuju. Bingung kalau saya sudah lulus, kuliah harus negeri supaya tidak bayar mahal. Cari kerja pun sulit, paling-paling diindomaret. Ibu saya tidak ingin saya begitu. Dan saya tidak sukses meyakinkan ibu saya. Saya turuti saja.

Saya ambil jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan). Karena dasarnya saya tidak bisa mengoperasikan komputer saat itu. Gaptek. Padahal punya laptop. Tapi tidak pernah dibuka. Saya pikir di TKJ hanya instal, instal dan bongkar pasang komputer. Ternyata TIDAK! TKJ disini beda. Lain daripada yang lain. Guru saya, Bu Nikmah dan Pak Supri sukses membuat saya menangis karena tugas-tugasnya. Karena mereka juga, sampai akhirnya saya bisa gabung di PT. Excellent Infotama Kreasindo. Di lain waktu akan saya ceritakan bagaimana saya bisa sampai sekarang ini karena mereka berdua dan Boss saya.

Di SMK saya tidak aktif berorganisasi. Sayang sekali, padahal banyak ekstrakurikuler yang disediakan. Yang akan selalu saya ingat jaman SMK, adalah “Tradisi goceng-goceng”. Tradisi ini diadakan setiap tahun. Siapa yang ulang tahun dikelas, akan diberi hadiah dan kue. Dirayakan bersama teman sekelas. Uang untuk beli hadiah dan kue, ditagih sebesar Rp5.000 (goceng) kepada setiap siswa. Kecuali yang sedang ulang tahun, itu yang tidak ditagih. Unik, tapi kadang mencekik. Kalau belum kasih uang iuran bisa-bisa dipanggil kikir.

 

Kerja sambil Kuliah

Tahun 2017. Saya lulus dari SMK dan resmi bergabung dengan Excellent. Setelah lulus UN saya langsung masuk kerja. Tidak ada kata “nganggur”. Bukan sombong. Ini namanya beruntung. Bersyukur. Alhamdulillah. Saat ini masih berjalan, dan akan disambil dengan kuliah. Tahun ini in shaa Allah saya kuliah. Menambah ilmu untuk karir juga. Karena kedua orang tua saya hanya lulusan SMA sederajat. Maka saya harus lebih maju satu tingkat, untuk saat ini. Awal masuk kerja saya ada dibagian Finance & Accounting. Saat ini saya pindah ke bagian Sales & Marketing. Jauh dari latar belakang pendidikan saya. Tapi itu menjadi nilai tambah untuk saya pribadi.

Cerita ini saya tuliskan dengan maksud mengingat apa saja pelajaran dan pengalaman hidup yang saya alami selama 19 Tahun ini. Akan ada banyak cerita nantinya. Tapi ini salah satu bagian dari cerita tersebut.

Wisata Tahu Bulat

Senin sampai Rabu saya belum juga mendapatkan cerita yang menarik. Saya masih bingung apa yang mau saya tulis minggu ini. Sebenarnya saya sudah cicil kata-kata. Disusun menjadi kalimat. Kemudian disatukan dalam bentuk cerita. Tapi belum waktunya saya publish. Jadi saya coba cari cerita lain. Untungnya di minggu ini ada tanggal merah. Hari libur. Mungkin ada bahan cerita yang bisa saya tulis diminggu ini.

Awalnya keluar rumah niat mau pulangin kamera yang saya pinjam waktu liburan ke Kebumen minggu lalu, sekalian isi bensin motor. Tidak ada niat mau jalan-jalan atau berwisata. Sudah isi bensin motor, saya pulang lewat jalan biasa. Nyebrang rel kereta di bawah fly over Kranji. Dekat St. Kranji. Kalau kalian orang rawa bebek bekasi pasti tahu jalan yang saya maksud.

Karena cuaca terik sekali. Akhirnya saya coba ketempat yang lebih adem. Tidak terkena sinar matahari. Rupanya saya masuk ke wilayah parkir. Tempat orang-orang yang mau naik kereta, menitipkan motornya.

Melihat saya masuk lahan parkirnya, akhirnya tukang parkir kegirangan.
“Wah nambah customer” (katanya dalam hati).

Menghampiri saya kemudian dia tanya
“Pulang jam berapa?”

Saya bingung dari awal dia liat saya. Kok tiba-tiba ditanya kapan pulang. Saya clingak-clinguk didepan pintu masuk rumah ada tulisan “PARKIR MOTOR”. Saya salah neduh. Semenjak stasiun dibangun. Usaha parkir motor pindah. Mereka yang tinggal dekat dengan pintu masuk stasiun punya peluang usaha parkir. Dan saya baru tahu itu.

Karena saya tidak enak menolak. Akhirnya saya iyakan saja motor saya diparkir. Saya gaya-gaya jalan ke stasiun. Sudah didepan loket, panjang antrean dan saya bingung mau kemana. Saya kira kalau libur, banyak orang istirahat dirumah. Ternyata banyak orang wisata. Yang ada dipikiran saya. Saya mau ke Stasiun Jakarta Kota kemudian lanjut perjalan ke Pantai Ancol. Ya intinya saya mau jalan-jalan ke Jakarta. Rata-rata mereka yang antre beli tiket ke Jakarta. Menghindari desak-desakan di kereta saya beli tiket jurusan Bogor. Harga tiket pulang pergi Rp24.000 termasuk biaya jaminan Rp10.000 untuk pengguna THB (Tiket Harian Berjamin). Sampai bogor saya tidak tahu mau ke mana. Itu nanti saja, kalau saya sudah sampai tujuan akhir Stasiun Bogor.

Berangkat pukul 09.00 WIB sampai Stasiun Bogor 11.30 WIB. Rute perjalanannya, dari Stasiun Kranji transit di Stasiun Manggarai. Sebenernya bisa juga transut di Stasiun Jatinegara. Tapi nanti yang ada diajak muter-muter kelamaan dijalan. Lanjut, dari Stasiun Manggarai naik kereta tujuan akhir Stasiun Bogor, kereta tersedia di Jalur 6. Menguntungkan jika keretanya kosong penumpang, jadi bisa duduk tanpa harus berdiri. Disamping Stasiun Bogor, ada Taman Topi. Untuk yang punya anak kecil bisa ajak anaknya jalan-jalan kesini. Harga tiket masuknya Rp2.000/orang. Tapi saya tidak tertarik berkunjung kesana.

Akhirnya saya pergi ke Kebun Raya Bogor. Keluar Stasiun Bogor, jangan lewat JPO. Nanti kesasar. Jalan saja sampai ujung pertigaan. Nyebrang ke Istana Kepresidenan Bogor. Kemudian lanjut jalan sampai ketemu tulisan “Loket Masuk Kebun Raya Bogor”. Ciri-cirinya banyak tukang gorengan dan talas bogor didepan. Tiket masuknya Rp14.000/orang khusus untuk domestik. Kalau untuk wisatawan asing Rp25.000/orang. Bawa sepeda nambah biaya Rp5.000/sepeda. Kalau berdua sama pacar nambah Rp14.000.

Saya sarankan jika berlibur ke KRB, bawa bekal makanan dari rumah. Karena harga makanan disana dua kali lipat dari harga makanan yang dijual di Bekasi. Contohnya saya beli dua chiki, satu wafer sama dengan Rp30.000. Tapi gapapa duit saya masih banyak. Ini saya sarankan untuk yang punya duit tapi ga banyak.

Banyak juga yang liburan bawa rombongan. Kalau saya perhatikan mereka yang pergi liburan kesini, 85% hanya numpang foto dan makan dibawah pohon. Jarang ada yang kepo tentang pohon-pohon apa saja yang ditanam. Kemudian toilet disana jaraknya juga jauh. Mushola dan masjid juga jauh sekali. Saya yang pergi terlalu jauh, atau memang posisinya memang di setting jauh. Untuk sampai ke Masjid saya menyebrangi jembatan gantung.

Jembatan Gantung
Jembatan ini dijuluki jembatan putus cinta. Mitosnya seperti itu. Dibawah jembatan ini mengalir air deras, seperti sungai. Batunya besar-besar. Untuk melewati jembatan ini dibatasi maksimal 10 orang. Tapi waktu saya kesana, ada 20 orang lebih diatas jembatan. Asyik selfie. Saya yang mau lewat, mikir dua kali. Dan bertanya mau sampai kapan saya disini, nunggu jembatan sepi yang lewat hanya 9 atau 8 orang saja tidak mungkin. Karena daya tampungnya maksimal 10 orang.

Satu langkah maju, jembatannya goyang-goyang. Saya takut. Coba lagi. Goyangnya kok makin kencang. Saya coba lihat diujung jembatan sana. Ternyata ibu-ibu dengan bahagiannya dia loncat-loncat diatas jembatan. Tidak ada yang menegurnya. Padahal besi yang dijadikan sebagai lantai jembatan, sudah mulai hilang bautnya dan sedikit keropos. Bahaya jika tidak waspada. Lama menunggu saya maju 7 langkah. Dan akhirnya saya bisa selfie juga.

Pohon Kenari Babi
Sebelum ke Jembatan Gantung saya melewati pohon besar yang menarik perhatian. Namanya “Kenari Babi”. Pohon ini bisa tumbuh sampai 10m. Bentuk batangnya seperti gua. Banyak dijadikan tempat untuk spot selfie. Pohonnya memang unik. Namun sudah tua. Jadi harus tetap waspada, sewaktu-waktu bisa tumbang.

Taman Astrid
Letaknya dekat dengan pintu keluar. Nama jalannya, jalan Astrid. Karena disepanjang jalan ini ditanami bunga Astrid. Tidak mungkin orang yang berkunjung ke Kebun Raya Bogor tidak berkunjung juga ke taman yang satu ini. Tamannya luas. Hamparan rumput seperti karpet hijau. Bisa foto sambil tiduran atau tengkurap. Taman ini dekat dengan kolam teratai raksasa. Sayangnya waktu saya berkunjung kemarin teratai raksasanya sedikit kurang dari 10 tanaman.

Perjalanan pulang dari KRB sampai ke Stasiun Bogor saya tempuh dengan transportasi umum (angkot) jurusan BR Siang – Bubulak. Ongkosnya Rp5.000. Dari St. Bogor sampai St. Kranji kira-kira 2jam. Karena berangkat dari jam 14.30 WIB sampai di Bekasi jam 16.30 WIB. Wisata ini saya namakan wisata tahu bulat. Karena dadakan.

Penjelajah Gedung Tinggi

Sepulang dari liburan, saya diberi tugas untuk kunjungan ke Vendor selama dua hari. Tugas luar kantor lah nama kerennya. Bersama rekan kerja saya. Saya berangkat naik kereta jurusan Bekasi – Sudirman. Karena memang letak gedungnya ada didaerah Gatot Subroto, Jakarta.

Gedung tinggi. Jujur ini gedung tertinggi yang pernah saya kunjungi. Selama ini yang saya bayangkan adalah, hanya orang-orang sukses yang bisa masuk ke gedung tinggi. Tapi ga juga, saya yang otw sukses bisa juga masuk dan bekerja sementara disana. Dan untungnya saya sudah mahir masuk ke gedung tinggi. Jadi ga minder lagi. Bisa bergaya petantang petenteng 😀

Setelah menukar kartu identitas dengan id card visitor. Saya langsung naik lift menuju lantai 12 tempat training dan test dilaksanakan.

Seharusnya training dimulai dari pukul 09.00 – 17.00 WIB. Tapi di hari pertama, training baru dimulai pukul 10.00 WIB ngaret 1 jam. Karena banyak peserta yang datang telat termasuk saya dan rekan saya. Kami datang dari Bekasi, memperkirakan perjalanan dari Bekasi ke Gatot Subroto satu setengah jam. Ternyata diperjalanan kami banyak menemukan masalah, dari mulai tunggu kereta lama, sampai keluar stasiun naik go-car diajak muter-muter karena si pengemudi tidak cek ulang peta ketempat yang kami maksud. Yang seharusnya sudah sampai sebelum pukul 09.00 WIB kami sampai pukul 09.35 WIB.

Saya tanya-tanya digroup diskusi, “kalau terlambat gimana?”. Trus salah satu rekan saya yang stand by dikantor jawab, “kalau kemarin sih disuruh nyanyi”.

Selama perjalanan, saya mikirin mau nyanyi apa nanti kalau sudah sampai gedung telat. Saya mikirin karena saya malu. Malu karena telat dan malu kalau disuruh nyanyi beneran. Tapi itu tipuan, nada penyampaiannya saja yang serius. Ternyata sampai sana, saya malah dikasih snack pagi dan disediakan kopi.

Banyak juga peserta yang ikut event ini. Dan rata-rata pesertanya sudah diatas 25 tahun. Saya yang termuda, 18 Tahun.

Saya duduk dikursi paling depan. Kebiasaan orang indonesia, duduk paling belakang karena takut ditanya. Tapi saya santai saja, kalau ditanya tinggal dijawab.

Pemberian materi cukup lama sampai waktu zuhur tiba. Setelah itu break dan masuk kembali kemudian langsung ujian. Disesi ini saya keringet dingin, karena memang suasananya dingin. Kedinginan. ACnya kekencengan. Saya jadi sumeng. Kalau saya lebay mungkin saya ngomong keluar asap dari mulut, sayang saya ga lebay.

Sesi pertama saya gagal. Lalu coba lagi sesi kedua, gagal juga tapi nilai yg saya dapat bertambah. Sesi ketiga, saya coba lagi akhirnya lulus. Ini lulus, bukan lolos. Jawaban saya benar semua. Seneng sih, lega sedikit. Setidaknya hari ini tugas saya sudah selesai. Kami semua, peserta training foto bersama.

Dihari pertama ini saya pulang naik kereta lagi. Keluar gedung itu jam 16.00 WIB. Sampai Stasiun Sudirman sekitar pukul 16.20 WIB. Biasanya saya tunggu di peron 2 jurusan Manggarai. Saya tunggu-tunggu kereta yang bolak-balik lewat kok jurusan Bogor. Seperti inilah suasana peron 2 di Stasiun Sudirman.

Akhirnya karena terlalu lama, saya pindah ke peron 1, saya coba naik kereta jurusan Jatinegara. Saya kira kalau naik yang ke arah Jatinegara, keretanya langsung sampai. Ternyata, saya diajak muter-muter lagi. Stasiun Kampung Bandan, Tanah Abang dan Pasar Senen saya lewati. Saya nyesel sendiri. Tahu begitu saya tungguin saja sampai kereta jurusan Manggarai datang lagi.

Pukul 19.00 WIB itu saya baru sampai stasiun transit Jatinegara. Kereta jurusan Bekasi banyak, tapi sekalinya ada penuh dan sesak napas. Perjalanan pulang dari Centennial Tower Gatot Subroto sampai kerumah itu kurang lebih empat jam. Dihitung dari saya keluar gedung, dan sampai dirumah pukul 20.00 WIB.

Dihari kedua perjalanan saya. Saya lebih santai karena sudah paham titik-titik kendalanya. Yang sulit itu ujiannya. Materinya banyak, soalnya juga banyak. Tapi saya masih bisa lulus. Suasananya juga berbeda karena diawal pemberian materi saya perempuan sendiri. Ada rasa canggung juga. Kalau dinginnya ruangan mah masih sama. Sama-sama masih kedinginan.

Perjalanan ini mengajarkan saya, untuk lebih bersyukur. Dari mulai tempat kerja saya yang dekat dengan tempat tinggal. Tidak susah payah untuk dikunjungi. Tidak harus naik kereta. Berebutan dan desak-desakan. Pulang malam karena kelamaan dijalan. Mengajarkan saya untuk bisa beradaptasi dengan banyak orang. Memberikan saya pengalaman baru berkunjung ke gedung tinggi, dimana tidak semua orang berkesempatan sama seperti saya. Dan bagaimana caranya menyelesaikan masalah sendiri.